Gerakan Tanah Indonesia : 2021 Dan 2022

2021 , rentetan kejadian bencana gerakan tanah atau yang dikenal umum sebagai tanah longsor melanda kawasan Indonesia dan tercatat minimal 1056 kejadian yang menelan korban jiwa sebanyak 340, 1349 rumah rusak dan 5903 jiwa mengungsi. Dampak ini belum mencangkup kerugian ekonomi masyarakat seperti kehilangan harta benda, terputusnya jalur ekonomi. Dengan sebaran kejadian gerakan tanah sekitar 60 % di Pulau Jawa.

Gertan-1

Gambar 1 : Sebaran kejadian Gerakan Tanah tahun 2021 yang dioverlay pada Pada Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT , Indonesia) , Jawa mendominasi sekitar 60 % kejadian gerakan tanah di tahun 2021

 

Gertan-2

Gambar 2 : Periode perulangan kejadian gerakan tanah tahun 2021

Terdapat pola umum potensi gerakan tanah pada tiga periode yaitu periode potensi tinggi Januari – April, periode potensi rendah Mei – September dan periode tinggi pada Oktober - Desember. Pola umum potensi gerakan tanah selaras dengan periode umum curah hujan di Indonesia yang dikeluarkan oleh BMKG dan peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang (Badan Geologi). Kejadian gerakan tanah juga dipicuh oleh aktifitas manusia dan gempa-bumi maupun kombinasi antara ke 3 nya. Conto kasus , gerakan tanah/longsor di tahun 2021 sebagai dampak Gempa Bumi di Majene - Mamuju dan di Trunyan Bali. Kewaspadaan terhadap titik – titik longsor dampak gempa bumi yang dapat berkembang menjadi aliran bahan rombakan / Banjir Bandang saat turun hujan.

 

Gertan-3

Gambar 3 : Salah satu conto Gerakan Tanah di Sumedang pada tangggal 9 Januari 2021 yang menelan korban Jiwa

Pola permanen ancaman tahunan yang dikontrol parameter tetap dari variasi kondisi geologi lokal dengan karakter batuan dan pelapukannya, variasi topografi lokal, alur lembah, dan adanya pergantian musim panas dan hujan, di tambah penduduk tumbuh pada luasan Kawasan Indonesia yang tidak berubah berimplikasi pada pemanfaatan lahan pada Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah – Tinggi. Dan probabilitas terjadinya ancaman gerakan tanah akan semakin tinggi juga.

2022, dari analisis prediksi tahunan curah hujan dari BMKG dan responnya terhadap kondisi geologi (Peta Prakiraan terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang 2022 (Badan Geologi)), diperkirakan potensinya terjadinya Gerakan tanah relatif lebih rendah dari tahun 2021. Secara Umum, potensi rendah kemungkinan akan berlangsung hingga akhir tahun 2022. Namun demikian diperkirakan puncak Gerakan Tanah berpeluang di Januari dan Februari 2022 dan bertahap menurun menjelang Bulan Mei 2022. Sebagai kawasan dengan iklim tropis, masyarakat di Kawasan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah -Tinggi tetap harus waspada jika turun hujan lokal atau jika ada anomali curah hujan lokal yang dapat memicuh terjadinya gerakan tanah.

 

Gertan-4

Pembelajaran penting 2021 bahwa dengan pola ancaman permanen gerakan tanah Indonesia , perlu upaya mitigasi berkesinambungan dengan diintegrasikan Produk Mitigasi Gerakan Tanah ( Badan Geologi) dalam arahan Penataan Kawasan (UU no 26 tahun 2007) maupun Rencana Penanggulangan Bencana (UU no 24 tahun 200& dengan membumikan perencanaan kontijensi dinamis (membangun kolaborasi stakeholder "PENTAHELIX"), serta implementasi menerus literasi kebencanaan pada masyarakat terancam di Kawasan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi, di wilayah alur sungai, di wilayah tebing Jalan dan wilayah terbangun lainnya. Diharapkan dapat terwujudnya solusi permanen kemampuan adaptasi ancaman gerakan tanah .