Laporan Kebencanaan Geologi, 03 November 2021

esdm_kecil

Hari ini, Rabu 03 November 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Awan panas yang cukup besar terakhir terjadi pada tanggal 25 Juni 2021 pukul 04:41 WIB dengan jarak luncur 3.000 m dan tinggi kolom erupsi 1.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 6.000 m. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 16-29°C. Kelembaban 74-98%. Tekanan udara 566-917 mmHg. Teramati guguran lava pijar 15 kali dengan jarak luncur maksimum 2.000 m ke arah barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 226 kali gempa Guguran
  • 23 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Hybrid
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  2. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  3. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  4. Penambangan di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  5. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari puncak Gunung Merapi.
  6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Agustus 2021, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.568 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1.923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan masih terjadi hingga saat ini.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal, tinggi sekitar 50-500 m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, Angin bertiup lemah ke arah tenggara, barat, dan barat laut. Suhu udara sekitar 24,7-36,2°C dan kelembaban udara 55,7-74,9 %. Teramati lontaran material lava pijar sejauh 200 m dari puncak dan letusan disertai gemuruh lemah.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 9 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 109 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Harmonik
  • 20 kali gempa Tremor Non-Harmonik
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-21 mm (dominan 10 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok.
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.
  6. Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Oktober 2021, pukul 11:25:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.423 m di atas permukaan laut atau sekitar 1.000 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 28 Juli 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi 50-200 m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, tenggara, barat, dan barat laut. Suhu udara sekitar 15-25°C.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Terasa
  • 44 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara dan barat.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 28 Juli 2021, pukul 13:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 6.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 4.500 m di atas puncak.

Gunung Api Sirung (Nusa Tenggara Timur)

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh maka tingkat aktivitas Gunungapi Sirung dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:00 WITA.

Berdasarkan data pemantauan terkini, terdapat potensi bahaya berupa lontaran abu, lumpur dan batu-batu (jika intensitas erupsi meningkat) ke segala arah di dalam radius 1,5 km dari puncak/kawah G.Sirung. Selain itu terdapat potensi ancaman bahaya gas-gas vulkanik beracun seperti CO2, CO, dan SO2 di daerah puncak/kawah. Potensi hujan abu dapat melanda wilayah yang jangkauan dan arah penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 20-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 28-33°C.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Sirung maupun pengunjung/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak/kawah G. Sirung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Juli 2021, pukul 21:05:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.862 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunung api Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukkan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Warna kolom abu teramati merah.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 500 m dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 24-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 11 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 Tremor Menerus, amplitudo 0,25-2 mm (dominan 0,25 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang kali Malebuhe.
  2. Mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama kesektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 1.726 m di atas puncak.

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-25°C. Teramati 1 kali letusan dengan ketinggian asap sekitar 300 m dengan warna asap putih kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2021 tercatat:

  • 63 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  4. Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yg sudah terbentuk).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 31 Oktober 2021, pukul 05:57:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.076 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 26 Oktober 2021 dengan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan. Angin lemah hingga sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 26-29°C. Kelembaban 46-51%.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2021 tercatat:

  • 15 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 Tremor Menerus, amplitudo 1-8 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 26 Oktober 2021, pukul 14:13:00 WIB. Tinggi kolom letusan 657 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 Juni 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 18 Juli 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 25-100 m di atas puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 24-30°C. Kelembaban 82-91%.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2021 tercatat:

  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 0,5 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021, pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 02 November 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, tinggi sekitar 200-800 m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 62 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 96 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 150 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 02 November 2021, pukul 08:47:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015. Gunung api Gamalama mengalami erupsi pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 50-150 m di atas puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 25-31°C. Kelembaban 77-90%.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 1.189 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 11 Februari 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m. Warna kolom abu teramati berwarna putih.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 19-23°C. Kelembaban 66-71%.

Melalui rekaman seismograf pada 02 November 2021 tercatat:

  • 153 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat disekitar Gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak Gunungapi Kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar Gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 15 Oktober 2021, pukul 05:45:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.555 m di atas permukaan laut atau sekitar 750 m di atas puncak.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 50-400 m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin bertiup lemah ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 12-19°C.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2021 tercatat:

  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 0,5 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/ pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.101 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 19-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 01 November 2021 tercatat:

  • 21 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Harmonik
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 8.244 m di atas puncak.

 

2. GERAKAN TANAH

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2021 secara umum meningkat sehingga potensi ancaman gerakan tanah meningkat di Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, di Pulau jawa, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian utara, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Barat bagian timur laut, Maluku, Maluku Utara daerah Halmahera, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Wilayah Papua, Papua Barat. Potensi gerakan tanah/longsor masih mungkin terjadi karena curah hujan lokal dengan intensitas tinggi terutama pada saat turun hujan lokal di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan di bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kota Bandung, Jawa Barat
  2. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
  3. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
  4. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah/ longsor diperkirakan karena kemiringan lereng atau tebing yang terjal, tebing tanpa perkuatan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan gembur, serta intensitas curah hujan yang tinggi yang memicu kejadian gerakan tanah.

Dampak

Kota Bandung, Jawa Barat

Bencana tanah longsor terjadi di Jalan Ir. H. Djuanda, tepatnya di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 2 November 2021 sekira pukul 01.00 WIB dini hari.Longsor tebing bambu setinggi 6 meter dengan panjang longsoran 8 meter tersebut menimbun dua rumah warga di RT 3 RW 1. Lokasi tepatnya berada di setelah Terminal Dago menuju persimpangan Dago Giri.

Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Gerakan tanah terjadi di tiga titik yaitu di Dusun Pedan Barat, Desa Kajoran, Dusun Tanjungsari, Desa Pandansari dan juga di Dusun Bangsri, Desa Bangsri Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah pada hari minggu, 31-10-2021. Tanah longsor yang terjadi di Dusun Tanjungsari, Desa Pandansari berdampak pada satu rumah yang dihuni dua kepala keluarga. Meskipun demikian, rumah itu tidak mengalami kerusakan. Sementara itu, tanah longsor yang terjadi di Dusun Bangsri, Desa Bangsri sempat menutup akses jalan alternatif antar kecamatan yakni Kecamatan Kajoran dengan Kecamatan Salaman.

Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Gerakan tanah terjadi di akses jalan utama penghubung di kampong Leuwibunder Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Gerakan Tanah terjadi pada Senin, 1 November 2021. Bencana longsor yang menutup akses jalan utama penghubung Kecamatan Sukanagara dengan Kadupandak itu terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi terjadi sejak siang hingga malam hari, tidak ada korban dalam bencana tanah longsor itu namun, akses jalan utama penghubung dua kecamatan terputus.

Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.

Gerakan tanah terjadi di RT.03 RW.09 Desa Singasari Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah, Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 31-10-2021, Mengakibatkan dua rumah terdampak longsor.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

  1. Masyarakat pengguna jalan harap waspada terhadap potensi longsoran susulan jika curah hujan tinggi;
  2. Masyarakat yang rumahnya rusak atau terdampak longsor agar waspada dan mengungsi terutama jika turun hujan serta mewawpadai potensi logsoran susulan;
  3. Mewaspadai potensi longsoran susulan dan melakukan pemantauan terhadap retakan-retakan yang ada jika retakan bertambah lebar sebaiknya menjauhi lokasi tersebut;
  4. Masyarakat yang bermukim di bawah dan pada tebing dan sepadan sungai, serta yang beraktivitas di daerah berlereng dan dimulut lembah sungai atau di meander Sungai harap waspada terhadap banjir bandang dan erosi sungai jika curah hujan tinggi;
  5. Melakukan penataan air limpasan hujan melalui sistem drainase yang kedap air dan tidak dialirkan ke arah lereng terjal.
  6. Perlu dilakukan bioengineering pada bukit yang terjal dengan penanaman pohon berakar kuat dan dalam untuk penahan erosi maupun longsor;
  7. Pemotongan lereng, perkuatan lereng. dan tembok/bangunan penahan tebing atau penahan erosi sungai harus sesuai dengan kaidah keteknisan perkuatan lereng (aspek geoteknik/ geologi teknik).
  8. Perlu dilakukan sosialisasi di daerah rawah longsor untuk mengenali tanda tada awal longsoran

 

3. GEMPA BUMI

Pada hari Selasa, tanggal 2 November 2021 terjadi dua kejadian gempa bumi dengan magnitudo M>=5,0 dan/atau gempa bumi dirasakan dengan intensitas > II MMI (Modified Mercally Intensity), yaitu:

Gempa bumi di Baratdaya Nias Barat, Sumatera Utara

Gempa bumi terjadi pada tanggal 2 November 2021, pukul: 00:04:16 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 96,55°BT dan 0,16°LU (139 km Baratdaya Kota Lahomi, ibukota Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara) pada kedalaman 18 km dengan kekuatan M5,9 (sumber: BMKG (hasil pemutakhiran)). Gempabumi ini diikuti oleh gempabumi susulan sebanyak 19 kali dengan kekuatan M4.9 sampai dengan M3,7.

Penyebab:

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas sesar di zona outer rise Lempeng Indo-Australia, dengan mekanisme pergerakan sesar normal yang memiliki kedudukan Strike N 345o E, Dip 55o, dan Rake -95o (sumber: GFZ)

Dampak:

  • Guncangan gempa bumi terasa di Pulau Nias, Mentawai, dan Aceh Singkil yang sebagian besar tersusun oleh aluvium, batuan Kuarter, dan batuan sedimen Tersier, serta batuan Pra Tersier yang sebagian terlapukkan pada skala intensitas III-IV MMI (Modified Mercally Intensity).
  • Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini.
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi:

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat.
  2. Bangunan di Pulau Nias, Mentawai, Gunung Sitoli, dan Aceh Singkil harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi.

Gempa bumi di Baratlaut Saumlaki, Maluku

Gempa bumi terjadi pada tanggal 2 November 2021, pukul: 23:43:53 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 130,60°BT dan 6,98°LS (137 km Baratlaut Kota Saumlaki, ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku) pada kedalaman 118 km dengan kekuatan M5,9 (sumber: BMKG (hasil pemutakhiran)).

Penyebab:

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas penunjaman di Laut Banda dengan mekanisme pergerakan sesar oblique yang memiliki kedudukan Strike N 343o E, Dip 64o, dan Rake 156o (sumber: GFZ)

Dampak:

  • Guncangan gempa bumi terasa di Saumlaki dan Tual yang sebagian besar tersusun oleh aluvium dan batugamping yang berumur Kuarter-Tersier yang sebagian terlapukkan pada skala intensitas II-III MMI (Modified Mercally Intensity).
  • Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini.
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi:

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat.
  2. Bangunan di Saumlaki dan Tual harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi.