Laporan Kebencanaan Geologi, 29 Oktober 2021

esdm_kecil

Hari ini, Jumat 29 Oktober 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Awanpanas yang cukup besar terakhir terjadi pada tanggal 25 Juni 2021 pukul 04:41 dengan jarak luncur 3000 m dan tinggi kolom erupsi 1000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 6000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang, tinggi 100m dari puncak. Teramati 3 kali guguran lava pijar ke barat daya dengan jarak luncur maksimum 1000m dan 6 kali guguran lava pijar dengaan jarak maksimum 1700m kearah barat daya. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang kearah barat. Suhu udara sekitar 14-28°C. Kelembaban 71-99%. Tekanan udara 567-718 mmHg.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 159 kali gempa Guguran
  • 21 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tekonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  2. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  3. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  4. Penambangan di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  5. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari puncak Gunung Merapi.
  6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Agustus 2021, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3568  m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan masih terjadi hingga saat ini. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 25 Oktober 2021 dengan tinggi kolom erupsi 2100m.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 50-600 m dari puncak. Terdengar suara gemuruh lemah hingga sedang dan dentuman kuat, teramati sinar api. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 27-35°C.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 13 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 156 kali gempa Hembusan
  • 58 kali gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 4 Tremor Menerus, amplitudo 0.5 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok.
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.
  6. Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Oktober 2021, pukul 11:25:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2423  m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 28 Juli 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi 100-400m dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 17-27°C.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 3 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara dan barat.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 28 Juli 2021, pukul 13:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 6960  m di atas permukaan laut atau sekitar 4500 m di atas puncak.

Gunung Api Sirung (Nusa Tenggara Timur)

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh maka tingkat aktivitas Gunungapi Sirung dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:00 WITA.

Berdasarkan data pemantauan terkini, terdapat potensi bahaya berupa lontaran abu, lumpur dan batu-batu (jika intensitas erupsi meningkat) ke segala arah di dalam radius 1,5 km dari puncak/kawah G.Sirung. Selain itu terdapat potensi ancaman bahaya gas-gas vulkanik beracun seperti CO2, CO, dan SO2 di daerah puncak/kawah. Potensi hujan abu dapat melanda wilayah yang jangkauan dan arah penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih tipis, tinggi 10-50m dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 28-32°C. lewoto

Melalui rekaman seismograf pada 27 Oktober 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Sirung maupun pengunjung/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak/kawah G. Sirung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Juli 2021, pukul 21:05:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2862 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati Merah.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 25 m dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 21-28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 17 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2.5 km serta sepanjang kali Malebuhe.
  2. Mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama kesektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284  m di atas permukaan laut atau sekitar 1726 m di atas puncak.

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Oktober 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 22-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 54 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 9 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  4. Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yg sudah terbentuk).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Oktober 2021, pukul 08:51:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4376 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga sedang, tinggi 25-50m di atas puncak. Cuaca berawan hingga hujan. Angin lemah ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 25-29°C. Kelembaban 47-75%.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 8 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 Tremor Menerus, amplitudo 1-18 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 26 Oktober 2021, pukul 14:13:00 WIB. Tinggi kolom letusan 500m (657 m) di atas puncak.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 Juni 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 18 Juli 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 50-200 m dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 82-83%.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021, pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2029  m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Oktober 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200-800 m dari puncak. Teramati 81 kali letusan dengan tinggi 200-800m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 81 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 88 kali gempa Guguran
  • 16 kali gempa Hembusan
  • 123 kali gempa Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Oktober 2021, pukul 08:38:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1925  m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunungapi Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 26-31°C. Kelembaban 78-90%.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 12 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725  m di atas permukaan laut atau sekitar 1189 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 11 Februari 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m. Warna kolom abu teramati Putih.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi 300-400m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 17-26°C. Kelembaban 60-68%.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • 192 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

  1. Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 15 Oktober 2021, pukul 05:45:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4555  m di atas permukaan laut atau sekitar 750 m di atas puncak.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .

Gunung api terlihat jelas tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 50-300 m dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 13-24°C.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/ pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829  m di atas permukaan laut atau sekitar 2101 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hngga sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 19-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Oktober 2021 tercatat:

  • Nihil

Rekomendasi:

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan direkomendasikan agar membatasi aktivitas di area kawah puncak G. Agung.
  2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G. Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area potensi landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di G. Agung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809  m di atas permukaan laut atau sekitar 8244 m di atas puncak.

 

2. GERAKAN TANAH

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2021 secara umum potensi ancaman gerakan tanah meningkat di Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian utara, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Barat bagian timur laut, Maluku, Maluku Utara daerah Halmahera, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Wilayah Papua, Papua Barat. Potensi gerakan tanah/longsor masih mungkin terjadi karena curah hujan lokal dengan intensitas tinggi khususnya di sebagian kecil wilayah Jawa, Bali, NTB dan NTT. Tetap perlu kewaspadaan tinggi di masa peralihan ini terutama pada saat turun hujan lokal di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan di bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
  3. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

Penyebab:

Penyebab gerakan tanah/ longsor diperkirakan karena kemiringan lereng atau tebing yang terjal, tebing tanpa perkuatan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan gembur, serta intensitas curah hujan yang tinggi yang memicu kejadian gerakan tanah.

Dampak

Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah yang terjadi di area jalan di Jalur alternative Magelang-Temanggung, Dusun Tinjumoyo, Desa Umbulsari, Kecamatan Windusari, Rabu (27/10/2021) mengakibatkan jalur alternative Magelang-Temanggung tertutup material longsor sehingga jalan tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Tebing setinggi 3 hingga 10 meter longsor lantaran tergerus air hujan yang cukup deras. Ketebalan material tanah longsor mencapai 1 hingga 2 meter. Panjang jalan yang tertutup longsor tanah sepanjang sekitar 15 meter.

Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah yang terjadi di jalan penghubung di jalan Kampung Sukagalih-Kampung Rancabelut, Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya, Kamis (28/10/2021) mengakibatkan akses jalan desa terbawa longsor. Kepala Bidang kedaruratan dan logistic, Tanah longsor menyebabkan tembok penahan tebing (TPT) dan sebagian badan jalan terbawa longsor. Material itu menimpa saluran air sekunder Lewi Budah, yang kondisinya sudah tidak terairi selama lima tahun terakhir. "Panjang longsoran 16 meter dan tinggi 3,20 meter.

Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah yang terjadi di area perumahan warga di Kampung Mulyasari, Kelurahan Harjasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kamis pukul 14.30 WIB (28/10/2021) mengakibatkan satu unit rumah warga terancam. Longsor tersebut mengancam satu bangunan rumah warga yang dihuni 1 KK dengan 4 jiwa yang berada tepat di atasnya.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

  1. Masyarakat pengguna jalan harap waspada terhadap potensi longsoran susulan jika curah hujan tinggi;
  2. Mewaspadai potensi longsoran susulan dan melakukan pemantauan terhadap retakan-retakan yang ada jika retakan bertambah lebar sebaiknya menjauhi lokasi tersebut;
  3. Masyarakat yang bermukim di bawah dan pada tebing dan sepadan sungai, serta yang beraktivitas di daerah berlereng dan dimulut lembah sungai atau di meander Sungai harap waspada terhadap banjir bandang dan erosi sungai jika curah hujan tinggi;
  4. Melakukan penataan air limpasan hujan melalui sistem drainase yang kedap air dan tidak dialirkan ke arah lereng terjal.
  5. Perlu dilakukan bioengineering pada bukit yang terjal dengan penanaman pohon berakar kuat dan dalam untuk penahan erosi maupun longsor;
  6. Pemotongan lereng, perkuatan lereng. dan tembok/bangunan penahan tebing atau penahan erosi sungai harus sesuai dengan kaidah keteknisan perkuatan lereng (aspek geoteknik/ geologi teknik).