Laporan Kebencanaan Geologi, 25 Oktober 2021

esdm_kecil

Hari ini, Senin 25 Oktober 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)
Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Awanpanas yang cukup besar terakhir terjadi pada tanggal 25 Juni 2021 pukul 04:41 dengan jarak luncur 3000 m dan tinggi kolom erupsi 1000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 6000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 14-29°C. Kelembaban 59-97%. Tekanan udara 627-720 mmHg. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 208 kali gempa Guguran
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak
  2. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya
  3. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi
  4. Penambangan di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan
  5. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari puncak Gunung Merapi
  6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Agustus 2021, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3568  m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan masih terjadi hingga saat ini. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 23 Oktober 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 350 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100-500 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 27.1-34.8°C. Kelembaban 60.3-77%. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 11 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 170 kali gempa Hembusan
  • 94 kali gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation)
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya
  6. Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Oktober 2021, pukul 06:19:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2423  m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 28 Juli 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 16-25°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 2 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara dan barat
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 28 Juli 2021, pukul 13:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 6960  m di atas permukaan laut atau sekitar 4500 m di atas puncak.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati Merah. Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 24-29°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021  tercatat :

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2.5 km serta sepanjang kali Malebuhe
  2. Mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama kesektor selatan, tenggara, barat dan barat daya
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284  m di atas permukaan laut atau sekitar 1726 m di atas puncak

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 22 Oktober 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 23-34°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 57 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 13 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Terasa
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara -  selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi
  3. Perlu diwaspadai  potensi luncuran di sepanjang lembah  jalur awan panas Besuk Kobokan.4. Mewaspadai ancaman lahar di  alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yg sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Oktober 2021, pukul 08:53:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3876  m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .
Gunung api tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan, angin lemah ke arah timur laut, selatan dan barat laut. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 45-67%. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 14 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus, amplitudo 2-15 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 Juni 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 18 Juli 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 82-83%. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. )Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021, pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2029  m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah.
Belum ada laporan 24 Jam yang masuk.

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

Belum ada laporan 24 Jam yang masuk.

Rekomendasi :

Belum ada laporan 24 Jam yang masuk.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Oktober 2021, pukul 08:38:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1925  m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunungapi Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api tertutup Kabut 0-I hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 24-29°C. Kelembaban 76-90%. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725  m di atas permukaan laut atau sekitar 1189 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 11 Februari 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m. Warna kolom abu teramati Putih.
Gunung api tertutup Kabut 0-II hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 18-26°C. Kelembaban 64-70%. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 167 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi :

  1. Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III)
  2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 15 Oktober 2021, pukul 05:45:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4555  m di atas permukaan laut atau sekitar 750 m di atas puncak.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati .
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 12-26°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Terasa
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/ pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829  m di atas permukaan laut atau sekitar 2101 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu hingga Hitam.
Gunung api tertutup Kabut 0-I hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 19-30°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 22 Oktober 2021 tercatat :

  • 4 kali gempa Guguran

Rekomendasi :

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809  m di atas permukaan laut atau sekitar 8244 m di atas puncak.