Laporan Kebencanaan Geologi, 14 Oktober 2021

esdm_kecil

Hari ini, Kamis 14 Oktober 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, tekanan lemah, tinggi sekitar 20 - 50 meter dari puncak. Teramati guguran lava sebanyak 1 kali dengan jarak luncur maksimum 1.200 meter mengarah ke barat daya. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah  utara, timur dan barat. Suhu udara sekitar 14-27°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 132 kali gempa Guguran
  • 30 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Low Frequency
  • 227 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah Sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah Sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak
  2. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. 
  3. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi G. Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi
  4. Penambangan di alur sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan
  5. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari Puncak G.Merapi
  6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Agustus 2021 pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 3568 m di atas permukaan laut atau 600 m di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Erupsi masih terjadi hingga saat ini. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 05 Oktober 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih, kelabu dan hitam dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-600 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah barat, barat laut, barat daya dan timur. Suhu udara sekitar 25-35°C. Teramati lontaran material pijar sejauh lebih kurang 100 meter. Teramati 21 kali letusan disertai gemuruh dan dentuman lemah, sedang dengan tinggi 300 meter dari puncak warna asap putih hingga kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 21 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 130 kali gempa Hembusan
  • 76 kali gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali gempa Tremor Harmonik
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung di sekitar G. Ili Lewotolok agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak gunung api
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat meng akses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya
  6. Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 07 Oktober 2021, pukul 17:23:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2023  m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.  
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah selatan, timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 15-28°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari Puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang tebal agar tidak roboh
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 28 Juli 2021 pukul 13:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 6960 m di atas permukaan laut atau 4500 m di atas puncak.

Gunung Api Sirung (Nusa Tenggara Timur)

Erupsi freatik Gunung api Sirung (862 m dpl) terjadi pada tanggal 21 Juli 2021 mulai pukul 16:44 hingga sekitar pukul 18:00 WITA. Tingkat aktivitasnya dinaikkan menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:00 WITA.
Gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 29-32°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • Tidak terekam gempa

Rekomendasi :

  1. Dalam tingkat aktivitas Level Il (Waspada), masyarakat di sekitar G.Sirung maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak/ kawah G. Sirung
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat sekitar G. Sirung agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Sirung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:05:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2862 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak bergerak ke arah ke utara.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 25 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 21-28°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 11 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu:  radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang Kali Malebuhe
  2. Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiap siagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga kepantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kodewarna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018 pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 2 Mei 2012. Gunung api Semeru (3676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi eksplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan mendung, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-24°C.

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 51 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di Puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya
  2. Agar masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan
  4. Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yang berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 September 2021, pukul 05:24:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4076  m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak..

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2018. Gunung api Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. 
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara dan timur. Suhu udara sekitar 26-31°C. Melalui CCTV jelas teramati  asap putih tipis hingga sedang lebih kurang 25 – 50 meter. Ombak laut tenang.

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa tektonik Lokal
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-15 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020 pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 Juni 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati.
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25 - 50 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 26-30°C.  

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G.Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021 pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Desember 2013. Gunung api Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 200-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara dan selatan. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 49 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 61 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 80 kali gempa Harmonik
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari Kawah Aktif G. Ibu
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 18 September 2021 pukul 11:35:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2325 m di atas permukaan laut atau 1000 m di atas puncak bergerak ke arah barat.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015. Gunung api Gamalama mengalami erupsi pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 25-30°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 12 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari Kawah Puncak G. Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau 10 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 September 2007. Gunung api Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis tekanan lemah tinggi sekitar 100 - 200 meter dari puncak. Cuaca cerah angin lemah ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 16-26°C.  

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 116 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  1. Masyarakat disekitar Gunung api Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada di Puncak Gunung api Kerinci di dalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III)
  2. Sebaiknya jalur penerbangan di sekitar Gunung api Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 13 Juni 2021 pukul 18:05:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 4505 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak bergerak ke arah barat.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 20 Oktober 2016. Gunung api Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 12-22°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar Gunung api Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari Kawah Aktif Gunung api Bromo
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020 pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2829 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak kawah. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 19-31°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2021 tercatat :

  • 3 kali gempa Guguran
  • 5 kali Tremor Harmonik
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari Puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 8809 m di atas permukaan laut atau 7000 m di atas puncak.

 

2. GEMPA BUMI

Pada hari Rabu, tanggal 13 Oktober 2021 terjadi 3 kejadian gempa bumi dengan magnitudo M>=5,0 dan/atau gempa bumi dirasakan dengan intensitas > II MMI (Modified Mercally Intensity), yaitu:

Gempa bumi di Baratlaut Tehoru, Maluku

Gempa bumi terjadi pada tanggal 13 Oktober 2021, pukul: 07:34:38 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di darat pada koordinat 129,42°BT dan 3,32°LS (11 km Baratlaut Tehoru, Maluku) pada kedalaman 10 km dengan kekuatan M3,5 (sumber: BMKG). 

Penyebab :

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif 

Dampak :

  • Guncangan gempa bumi terasa di Tehoru yang sebagian besar tersusun oleh aluvium, dan batugamping Tersier yang sebagian terlapukkan pada skala intensitas III MMI (Modified Mercally Intensity)
  • Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi :

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat
  2. Bangunan di Toheru harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi.

Gempa bumi di Selatan Pacitan, Jawa Timur

Gempa bumi terjadi pada tanggal 13 Oktober 2021, pukul: 12:00:47 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 110,97°BT dan 8,87°LS (78 km Selatan Pacitan, Jawa Timur) pada kedalaman 55 km dengan kekuatan M4,8 (sumber: BMKG). 

Penyebab :

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas penunjaman Lempeng Indo Australia ke bawah Lempeng Eurasia di perairan selatan Jawa Timur

Dampak :

  • Guncangan gempa bumi terasa di Pacitan, Trenggalek, Wonogiri yang sebagian besar tersusun oleh aluvium, batuan gunungapi Tersier dan batuan sedimen Tersier yang sebagian terlapukkan pada skala intensitas III MMI (Modified Mercally Intensity).
  •  Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi :

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat
  2. Bangunan di Pacitan, Trenggalek, Wonogiri harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi.

Gempa bumi di Timurlaut Tepa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku

Gempa bumi terjadi pada tanggal 13 Oktober 2021, pukul: 17:51:47 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 130,24°BT dan 7,27°LS (84 km Timurlaut Tepa, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku) pada kedalaman 107 km dengan kekuatan M5,1 (sumber: BMKG). 

Penyebab :

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas subduksi di Laut Banda

Dampak :

  • Guncangan gempa bumi terasa di Tepa dan P. Moa yang sebagian besar tersusun oleh aluvium, dan batuan sedimen Pra Tersier yang sebagian terlapukkan pada skala intensitas III MMI (Modified Mercally Intensity)
  • Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi :

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat
  2. Bangunan di Tepa dan P. Moa harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi

 

3. GERAKAN TANAH

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2021 secara umum potensi ancaman gerakan tanah meningkat di Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian utara, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Barat bagian timur laut, Maluku, Maluku Utara daerah Halmahera, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Wilayah Papua, Papua Barat.  Potensi gerakan tanah/longsor masih mungkin terjadi karena curah hujan lokal dengan intensitas tinggi khususnya di sebagian kecil wilayah Jawa, Bali, NTB dan NTT. Tetap perlu kewaspadaan tinggi di masa peralihan ini terutama pada saat turun hujan lokal di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan di bantaran sungai. 

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah/ longsor diperkirakan karena kemiringan lereng atau tebing yang terjal, tebing tanpa perkuatan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan gembur, sistem drainase yang kurang baik, serta intensitas curah hujan yang tinggi yang memicu kejadian gerakan tanah. 

Dampak

Gerakan tanah terjadi di bantaran sungai tepatnya di Kelurahan Senyerang, Kecamatan senyerang, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi. Gerakan Tanah terjadi pada hari Rabu 13 Oktober 2021 sekitar pukul 03.00 WIB yang mengakibatkan 2 (dua) unit rumah rusak dan 1 (satu) unit mushala rusak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut namun 3 unit bangunan rusat berat dan hanyut ke aliran sungai akibat diterjang material longsor.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id 

Rekomendasi:

  1. Masyarakat yang bermukim  di bawah dan pada tebing dan sepadan sungai, serta yang beraktivitas di daerah berlereng dan dimulut lembah sungai  atau di meander Sungai harap waspada terhadap banjir bandang dan erosi sungai jika curah hujan tinggi;
  2. Mewaspadai potensi longsoran susulan dan melakukan pemantauan terhadap retakan-retakan yang ada jika retakan bertambah lebar sebaiknya menjauhi lokasi tersebut;
  3. Melakukan penataan air limpasan hujan melalui sistem drainase yang kedap air dan tidak dialirkan ke arah lereng terjal.
  4. Perlu dilakukan bioengineering pada bukit yang terjal dengan penanaman pohon berakar kuat dan dalam untuk penahan erosi maupun longsor;
  5. Pemotongan lereng, perkuatan lereng. dan tembok/bangunan penahan tebing atau penahan erosi sungai harus sesuai dengan kaidah keteknisan perkuatan lereng (aspek geoteknik/ geologi teknik);
  6. Tidak membangun pemukiman dibawah atau pada tebing atau lereng terjal.