Laporan Kebencanaan Geologi, 12 Oktober 2021

esdm_kecil

Hari ini, Selasa  12 Oktober 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, tekanan lemah, tinggi sekitar 50 - 100 meter dari puncak. Teramati guguran lava sebanyak 14 kali dengan jarak luncur maksimum 2000 meter mengarah ke barat daya. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah  utara, timur dan barat. Suhu udara sekitar 13-26°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 236 kali gempa Guguran
  • 42 kali gempa Hembusan
  • 24 kali gempa Low Frequency
  • 253 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah Sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah Sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak
  2. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya
  3. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi G. Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi
  4. Penambangan di alur sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan
  5. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari Puncak G.Merapi
  6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Agustus 2021 pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 3568 m di atas permukaan laut atau 600 m di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Erupsi masih terjadi hingga saat ini. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 05 Oktober 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih, kelabu dan hitam dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah barat, barat laut, barat daya dan timur. Suhu udara sekitar 25-33°C. Teramati lontaran material pijar sejauh lebih kurang 300 meter. Letusan disertai gemuruh dan dentuman lemah hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 15 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 82 kali gempa Hembusan
  • 119 kali gempa Tremor Non-Harmonik
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung di sekitar G. Ili Lewotolok agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak gunung api
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat meng akses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation)
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya
  6. Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 07 Oktober 2021, pukul 17:23:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2023  m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.  
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 16-28°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari Puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang tebal agar tidak roboh
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 28 Juli 2021 pukul 13:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 6960 m di atas permukaan laut atau 4500 m di atas puncak.

Gunung Api Sirung (Nusa Tenggara Timur)

Erupsi freatik Gunung api Sirung (862 m dpl) terjadi pada tanggal 21 Juli 2021 mulai pukul 16:44 hingga sekitar pukul 18:00 WITA. Tingkat aktivitasnya dinaikkan menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:00 WITA.
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 10 - 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 29-32°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Dalam tingkat aktivitas Level Il (Waspada), masyarakat di sekitar G.Sirung maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak/ kawah G. Sirung
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat sekitar G. Sirung agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Sirung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:05:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2862 m di atas permukaan laut atau 2000 m di atas puncak bergerak ke arah ke utara.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca berawan, angin lemah ke arah timur dan timur laut. Suhu udara sekitar 25-32°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 12 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu:  radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang Kali Malebuhe
  2. Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiap siagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga kepantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kodewarna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018 pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 2 Mei 2012. Gunung api Semeru (3676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi eksplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 22-27°C. Teramati erupsi sebanyak 3 kali dengan warna asap putih tebal hingga kelabu, tinggi sekitar 200 - 600 meter dari puncak, condong ke arah barat dan barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 54 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 9 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di Puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya
  2. Agar masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.[4] Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yang berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 September 2021, pukul 05:24:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4076  m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak..

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2018. Gunung api Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. 
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 26-30°C. Melalui CCTV jelas teramati  asap putih tipis hingga sedang lebih kurang 25 – 50 meter. Ombak laut tenang.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • Tremor Menerus, amplitudo 1-20 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020 pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 Juni 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati.
Gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 26-30°C.  

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G.Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021 pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Desember 2013. Gunung api Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 200-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan utara. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 41 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 76 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 192 kali gempa Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari Kawah Aktif G. Ibu
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 18 September 2021 pukul 11:35:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2325 m di atas permukaan laut atau 1000 m di atas puncak bergerak ke arah barat.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015. Gunung api Gamalama mengalami erupsi pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis tekanan lemah tinggi sekitar 25 - 50 dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 26-31°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Low Frequensi
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 16 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari Kawah Puncak G. Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau 10 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 September 2007. Gunung api Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis tekanan lemah tinggi sekitar 150 - 200 meter dari puncak. Cuaca cerah angin lemah hingga kencang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 16-26°C.  

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 93 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat disekitar Gunung api Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada di Puncak Gunung api Kerinci di dalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III)
  2. Sebaiknya jalur penerbangan di sekitar Gunung api Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 13 Juni 2021 pukul 18:05:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 4505 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak bergerak ke arah barat.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 20 Oktober 2016. Gunung api Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 9-19°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar Gunung api Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari Kawah Aktif Gunung api Bromo
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020 pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 2829 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak kawah. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 19-30°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 11 Oktober 2021 tercatat :

  • 8 kali gempa Guguran
  • 3 kali Tremor Harmonik
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari Puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian sekitar 8809 m di atas permukaan laut atau 7000 m di atas puncak.

 

2. GERAKAN TANAH

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2021 secara umum potensi ancaman gerakan tanah meningkat di Wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian utara, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Barat bagian timur laut, Maluku, Maluku Utara daerah Halmahera, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Wilayah Papua, Papua Barat.  Potensi gerakan tanah/longsor masih mungkin terjadi karena curah hujan lokal dengan intensitas tinggi khususnya di sebagian kecil wilayah Jawa, Bali, NTB dan NTT. Tetap perlu kewaspadaan tinggi di masa peralihan ini terutama pada saat turun hujan lokal di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan di bantaran sungai. 

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat
  2. Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah
  3. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
  5. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah/ longsor diperkirakan karena kemiringan lereng atau tebing yang terjal, tebing tanpa perkuatan lereng, tanah pelapukan yang tebal dan gembur, sistem drainase yang kurang baik, serta intensitas curah hujan yang tinggi yang memicu kejadian gerakan tanah. 

Dampak

Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat

Gerakan tanah terjadi di Dusun Sikakap Barat, Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat. Gerakan tanah terjadi pada tebing yang menimpa 1 (satu) rumah di bawahnya..

Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah

Gerakan tanah terjadi di jalan Trans Palu-Kulawi tepatnya di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Gerakan tanah terjadi hari Minggu malam, 10 Oktober 2021. Material gerakan tanah menimbun jalan penghubung Kota Palu dan sejumlah kecamatan di Kabupaten Sigi itu di delapan titik dan mengakibatkan akses darat terputus sama sekali.

Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah terjadi di Kampung Panyusuhan, RT 21/05, Desa Cihanyawar, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 10 Oktober 2021, sekitar pukul 17.00 WIB. Gerakan tanah tersebut mengakibatkan 1 (satu) rumah warga rusak dan serta mengancam 1 (satu) rumah lainnya dan jalan kampung.

Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi

Gerakan tanah terjadi di wilayah perkebunan kopi daerah Talang, Desa Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu, 9 Oktober 2021, sekitar pukul 21.00 WIB. Gerakan tanah terjadi pada tebing yang material longsorannya menimpa pondok dan menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dunia.

Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

Gerakan tanah terjadi di Jalan Gotong Royong, Desa Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu malam, 9 Oktober 2021. Gerakan tanah terjadi pada tebing yang material longsorannya menimpa Pondok Pesantren Al Jaelani.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id 

Rekomendasi:

  1. Bangunan yang rusak akibat gerakan tanah/ longsor sebaiknya tidak dihuni dahulu dan warga terdampak diungsingkan ke tempat yang aman untuk antisipasi risiko longsoran susulan;
  2. Mewaspadai potensi longsoran susulan dan melakukan pemantauan terhadap retakan-retakan yang ada jika retakan bertambah lebar sebaiknya menjauhi lokasi tersebut;
  3. Masyarakat pengguna jalan harap waspada  terhadap potensi longsoran susulan jika curah hujan tinggi;
  4. Masyarakat yang bermukim  di bawah dan pada tebing dan sepadan sungai, serta yang beraktivitas di daerah berlereng dan dimulut lembah sungai  atau di meander Sungai harap waspada terhadap banjir bandang dan erosi sungai jika curah hujan tinggi;
  5. Melakukan penataan air limpasan hujan melalui sistem drainase yang kedap air dan tidak dialirkan ke arah lereng terjal.
  6. Perlu dilakukan bioengineering pada bukit yang terjal dengan penanaman pohon berakar kuat dan dalam untuk penahan erosi maupun longsor;
  7. Pemotongan lereng, perkuatan lereng. dan tembok/bangunan penahan tebing atau penahan erosi sungai harus sesuai dengan kaidah keteknisan perkuatan lereng (aspek geoteknik/ geologi teknik);
  8. Tidak membangun pemukiman dibawah atau pada tebing atau lereng terjal