Laporan Kebencanaan Geologi, 25 Agustus 2021

esdm_kecil

Hari ini, Rabu, 25 Agustus 2021, Bencana Geologi  yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung  Api  Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal  tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung,  angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur dan barat. Suhu udara sekitar 13-27°C. Kelembaban 52-90°C . Tekanan udara 568-709 mmHg.  Terjadi Guguran, namun secara visual  jarak dan arah luncuran tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 213 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah Sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah Sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak
  2. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya
  3. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi G. Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi
  4. Penambangan di alur sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan
  5. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari Puncak G.Merapi
  6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Agustus 2021 pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.568 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api  Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1.923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitude maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Erupsi masih terjadi hingga saat ini. 
Gunung api  terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal  tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung,  angin lemah hingga sedang ke arah barat.  Suhu udara sekitar 20-40°C. Kelembaban 23.6-76.9%.  

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 15 kali gempa Hembusan
  • 9 kali  Harmonik
  • 5 kali  Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali  Tornillo
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tremor Menerus

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung di sekitar G.Ili Lewotolok agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari Puncak G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak gunungapi
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di Puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G.I li Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat meng akses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.[6] Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 22 Agustus 2021, pukul 12:44:00 WITA.  Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.923 m di atas permukaan laut atau sekitar  1500 m di atas puncak bergerak ke arah barat.

Gunung Api  Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejakt anggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunungapi Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.  
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas  tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 16-23°C. 

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 4 kali gempa  Hembusan
  • 1 kali gempa  Low Frequency
  • 9 kali gempa  Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa  Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa  Terasa
  • 2  kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari Puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang tebal agar tidak roboh
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kodewarna RED, terbit pada tanggal 28 Juli 2021, pukul 13:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 6.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 4.500 m di atas puncak.

Gunung Api  Sirung (Nusa Tenggara Timur)

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh maka tingkat aktivitas Gunungapi Sirung dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 21:00 WITA.Berdasarkan data pemantauan terkini, terdapat potensi bahaya berupa lontaran abu, lumpur dan batu-batu (jika intensitas erupsi meningkat) ke segala arah di dalam radius 1,5 km dari puncak/kawah G.Sirung. Selain itu terdapat potensi ancaman bahaya gas-gas vulkanik beracun seperti CO2, CO, dan SO2 di daerah puncak/kawah. Potensi hujan abu dapat melanda wilayah yang jangkauan dan arah penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Gunung  api  terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah timur.  Suhu udara sekitar 26-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Agustus 2021 tercatat :

  • 1 kali Tremor Non-Harmonik

Rekomendasi :

  1. Dalam tingkat aktivitas Level Il (Waspada), masyarakat di sekitar G.Sirung maupun pengunjung/ pendaki/ wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1,5 km dari Puncak/ Kawah G. Sirung
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat sekitar G. Sirung agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Sirung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Juli 2021 pukul 16:44:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.791 m di atas permukaan laut. Abu mengarah ke utara.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunungapi  Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal  tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan,  angin lemah hingga sedang ke arah barat laut. Suhu udara sekitar 24-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 5 kali gempa  Hembusan
  • 1 kali gempa  Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa  Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/ wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu:  radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang Kali Malebuhe
  2. Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiap siagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga kepantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kodewarna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018 pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api  Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 2 Mei 2012. Gunungapi Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.
Gunung api  tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah tenggara, selatan dan barat. Suhu udara sekitar 21-28°C.  Teramati Gempa Letusan,  namun secara visual tinggi letusan dan warna abu tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 42 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 9  kali gempa Hembusan
  • 2  kali Harmonik
  • 1  kali gempa Tektonik Lokal
  • 2  kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat/ pengunjung/ wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari Kawah/ Puncak G. Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang  berhulu di Puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya
  2. Agar masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.[4] Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/ lembah yang berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Agustus 2021, pukul 11:54:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 400 m di atas puncak bergerak vertikal ke atas.

Gunung Api  Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019. Gunungapi Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. 
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara sekitar 25.8-30°C. Kelembaban 46-75%. 

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tremor Menerus

Rekomendasi :

Masyarakat/ wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020 pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api  Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 24 Juni 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Warna kolom abu teramati.
Gunung api  terlihat jelas.  Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal  tinggi  sekitar 100-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 82-83%. 

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G.Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021, pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api  Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Desember 2013. Gunungapi Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. 
Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang  tinggi sekitar  200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah  hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.  Terjadi  Letusan dengan tinggi  200-800 meter dari puncak, kolom abu letusan berwarna putih hingga kelabu. 

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 75 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 65 kali gempa Guguran
  • 36 kali gempa Hembusan
  • 13 kali  Tremor Harmonik

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak  3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari Kawah Aktif G.Ibu
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 18 Agustus 2021, pukul 08:10:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, bergerak ke arah barat.

Gunung Api  Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015. Gunungapi Gamalama mengalami erupsi pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.
Gunung api  terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati  asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang  tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak.  Cuaca cerah  hingga hujan,  angin lemah hingga kencang  ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 25-30°C. Kelembaban 83-90%. 

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1  kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G.G amalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari Kawah Puncak G.Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunung Api  Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 September 2007. Gunungapi Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api  terlihat jelas hingga tertutup kabut.  Teramati  asap kawah  utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 150-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 16-23°C. Kelembaban 63-70%. 

Melalui rekaman seismograf pada  24 Agustus 2021 tercatat :

  • 143 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  1. Masyarakat disekitar Gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada di Puncak Gunungapi Kerinci di dalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III)
  2. Sebaiknya jalur penerbangan di sekitar Gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 13 Juni 2021 pukul 18:05 WIB. Abu vulkanik ke arah barat dengan ketinggian 589 meter di atas puncak.

Gunung Api  Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 20 Oktober 2016. Gunungapi Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat  daya, barat dan barat laut  Suhu udara sekitar 12-18°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tremor Menerus,  amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar Gunungapi Bromo dan pengunjung/ wisatawan/ pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari Kawah Aktif Gunungapi Bromo
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020 pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api  Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak. Warna kolom  abu teramati kelabu hingga hitam. 
Gunung api  terlihat jelas hingga tertutup kabut.  Teramati asap kawah utama  berwarna putih dengan  intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang  ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 19-30°C. Terjadi Guguran, namun secara  visual  jarak dan arah luncuran tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 32  kali gempa Guguran
  • 4  kali gempa Hembusan
  • 11 kali Harmonik
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari Puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.     
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

Gunung Api  Agung (Bali)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak16 Juli 2020.  Gunungapi Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Erupsi terakhirnya terjadi pada 13 Juni 2019. 
Gunungapi  Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-27°C. Kelembaban 72-94%. 

Melalui rekaman seismograf pada 24 Agustus 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal 
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh 

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/ pengunjung/ wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu; di dalam area Kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung
  2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G. Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. GEMPA BUMI

Pada hari Selasa, tanggal 24 Agustus 2021 terjadi dua kejadian gempa bumi dengan magnitudo M>=5,0 dan/atau gempa bumi dirasakan dengan intensitas > II MMI (Modified Mercally Intensity), yaitu:

Gempa bumi di Perairan Barat Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara

Gempa bumi terjadi pada tanggal 24 Agustus 2021, pukul 03:59:53 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 98,45°BT dan 1,85°LU (38 km baratlaut Sibolga) pada kedalaman 67 km dengan kekuatan M4,9 (sumber: BMKG).

Penyebab :

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas zona penunjaman di barat Pulau Sumatera.

Dampak :

  • Guncangan gempa bumi dirasakan di Samosir yang tersusun oleh batuan sedimen dan batuan rombakan gunungapi berumur Kwarter, dengan intensitas II - III MMI (Modified Mercally Intensity). Guncangan gempa bumi juga diperkirakan dirasakan di wilayah Tapanuli Tengah yang tersusun oleh batuan sedimen berumur Kwarter
  • Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi :

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat
  2. Bangunan di bagian barat Sumatera Utara harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi.

Gempa bumi di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat

Gempa bumi terjadi pada tanggal 24 Agustus 2021, pukul 12:05:52 WIB. Lokasi pusat gempa bumi terletak di darat pada koordinat 134,01°BT dan 1,48°LS (18 km baratlaut Ransiki, Manokwari) pada kedalaman 40 km dengan kekuatan M4,0 (sumber: BMKG).

Penyebab :

Kejadian gempa bumi ini disebabkan oleh aktivitas zona penunjaman di utara Papua.

Dampak :

  • Guncangan gempa bumi dirasakan di Kota Manokwari (tersusun oleh batuan karbonat berumur Kuarter) dan di Kota Ransiki (tersusun oleh batuan sedimen berumur Kwarter), dengan intensitas II - III MMI (Modified Mercally Intensity). 
  • Tidak ada korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini
  • Tidak menyebabkan tsunami dan bahaya ikutan.

Rekomendasi :

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempa bumi, serta tetap mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat
  2. Bangunan di Kabupaten Manokwari harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dan dilengkapi jalur serta tempat evakuasi.