Laporan Kebencanaan Geologi 19 Juni 2021

esdm_kecil

Hari ini, Sabtu, 19 Juni 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 27 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi 500 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 100-400 meter dari puncak. Teramati 16 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur 900 m ke arah barat daya. Teramati 1 kali awan panas guguran jarak luncur 1.100 meter dan 30 kali guguran lava pijar jarak luncur maksimal 2.000 meter ke arah baratdaya. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur, tenggara dan barat. Suhu udara sekitar 13-28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 5 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 235 kali gempa Guguran
  • 15 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Hybrid/Fase Banyak

Rekomendasi :

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan – barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak
  2. Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini
  3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya
  4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi
  5. Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan
  6. Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi
  7. Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Maret 2021 pukul 18:10:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3468 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan masih terjadi hingga saat ini. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Gemuruh lemah, Erupsi disertai dentuman/gemuruh lemah hingga sedang, Erupsi disertai gemuruh lemah hingga sedang, Erupsi disertai lontaran lava pijar dan gemuruh lemah hingga sedang. Jangkauan lontaran lava pijar sejauh 300-400 m dari kawah ke segala arah. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 24.6-32.2°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 23 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 45 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Harmonik
  • 47 kali gempa Tremor NonHarmonik
  • Gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-2.5 mm (dominan 1.5 mm).

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung di sekitar Gunung Ili Lewotolok agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak Gunung Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak Gunung
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar Gunung Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling Gunung Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi Gunung Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya
  6. Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Juni 2021 pukul 12:23 WITA. Abu vulkanik teramati bergerak ke barat dengan ketinggian 1000 meter diatas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.  
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, tenggara dan barat. Suhu udara sekitar 17-27°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Low Frequency
  • 26 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 6 Juni 2021, pukul 23:42:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak tanggal 21 Januari 2021, diawali oleh rekaman gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan pada tangga 20 Januari 2021. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 100-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara dan selatan. Suhu udara sekitar 18-23°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 126 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-6 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat dan wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi kawah puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 Maret 2021 pukul 07:49:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4532 m di atas permukaan laut atau sekitar 1200 m di atas puncak.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 Februari 2021. Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan tinggi 100 m di atas puncak kawah. Asap kawah dua putih sedang dengan tinggi 50m. Cuaca berawan. Angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara 25-31 °C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang kali Malebuhe
  2. Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018 pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 2 Mei 2012. Gunung Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.  
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Letusan, hembusan asap secra visual tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Cuaca cerah, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 22-26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 51 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.[4] Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Juni 2021, pukul 06:50 WIB. Abu vulkanik teramati kearah selatan dengan ketinggian 4176 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019. Gunung api Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Visual CCTV Sertung teramati asap putih tipis-tebal tinggi 25-100 m.Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat laut. Suhu udara sekitar 25-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 16 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-20 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020 pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 15 Juni 2008. G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi 15 Mei 2021. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2029  m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 27-29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  2. Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 15 Mei 2021, pukul 06:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Desember 2013. Gunung api Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 200-800 m di atas puncak kawah. Teramati 63 kali letusan dengan tinggi 200-800 m dan warna asap putih dan kelabu. Cuaca cerah, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 63 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 53 kali gempa Guguran
  • 46 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Harmonik
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 Mei 2021 pukul 10:39:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2073 m di atas permukaan laut atau sekitar 748 m di atas puncak, dan bergerak ke arah utara.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 10 Maret 2015. Gunung api Gamalama mengalami erupsi pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara. Suhu udara sekitar 27-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 9 September 2007. Gunung api Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 15-29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 98 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi :

  1. Masyarakat disekitar Gunung api Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak Gunung api Kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar Gunung api Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 13 Juni 2021 pukul 18:05 WIB. Abu vulkanik kearah barat dengan ketinggian 589 meter diatas puncak.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 20 Oktober 2016. Gunung api Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-600 meter dari puncak. Tercium Bau Belerang Ringan Hingga Sedang di sekitar PPGA Bromo. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 10-16°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar Gunung Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif Gunung Bromo
  2. Masyarakat di sekitar Gunung Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020 pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 8 Oktober 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 19-33°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 8 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 34 kali gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

Gunung Api Agung (Bali)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak16 Juli 2020.  Gunung api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Erupsi terakhirnya terjadi pada 13 Juni 2019. 
Gunungapi Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 22-29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 18 Juni 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung
  2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. GERAKAN TANAH

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2021 dibandingkan Mei 2021, potensinya mulai memasuki masa transisi /peralihan musim hujan ke musim kemarau, secara umum potensi ancaman gerakan tanah masih terjadi khususnya di sebagian kecil wilayah Jawa serta sebagian kecil wilayah Sumatera, serta sebagian kecil Kalimantan Utara. Beberapa wilayah yang masih berpotensi tinggi meliputi Wilayah Aceh, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara bagian Timur serta sebagian wilayah Nusa Tenggara. Tetap perlu kewaspadaan tinggi di masa peralihan ini terutama pada saat turun hujan lokal di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan di bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Karangasem, Bali

Penyebab:

Penyebab longsor diperkirakan  tebing terlalu terjal tanpa perkuatan lereng, kondisi geologi dan tanah yang jenuh air, sistem drainase yamg kurang baik serta limpasan air permukaan turut memicu kejadian gerakan tanah selain curah hujan yang tinggi sebelum terjadinya gerakan tanah.  

Dampak : 

Gerakan tanah terjadi di Banjar Batu Gede, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis, 17 Juni 2021. Gerakan tanah mengakibatkan jalur jalan penghubung Desa Duda Timur (Kecamatan Selat) dan Desa Antiga (Kecamatan Manggis) tertutup material longsoran setinggi 2 meter dengan panjang 10 meter sehingga mengakibatkan 1.987 kepala keluarga (KK) terisolasi. Selain itu, ada juga empat unit rumah tertimbun longsor hingga 2 orang penghuninya dilaporkan terluka.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

  1. Masyarakat yang bermukim di bawah tebing, di sepadan sungai dan dimulut lembah sungai harap waspada  jika curah hujan tinggi
  2. Pembangunan pemukiman sebaiknya  memperhatikan kawasan sepadan tebing
  3. Pemotongan lereng maupun perkuatan lereng atau TPT harap memperhatikan potensi longsor dan memperhatikan aspek keteknikan (aspek geoteknik/ geologi teknik)
  4. Memperbaiki saluran drainase dengan saluran kedap air dan dialiri menjauh dari lokasi longsor.
  5. Masyarakat yang berada disekitar lokasi bencana harus waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan serta agar mewaspadai potensi longsoran susulan dan mengungsi ketempat aman jika longsoran terus berkembang;
  6. f.Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.