Laporan Kebencanaan Geologi, 02 April 2021

Logo_ESDM

Hari ini, Jumat, 02 April 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 27 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi 500 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50 - 100 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur dan barat. Terjadi awan panas guguran namun secara visual jarak dan arah luncuran tidak teramati. Terjadi guguran namun secara visual jarak dan arah luncuran tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 4 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 209 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan – barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.
  • Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Maret 2021 pukul 18:10:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3468 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 di atas puncak.

 

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan masih terjadi hingga saat ini.

Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Cuaca berwan hingga hujan , angin lemah hingga kencang ke arah timur dan barat. Terjadi letusan namun secara visual tinggi letusan dan warna abu tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 46 kali gempa Hembusan
  • 35 kali Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-2 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok.
  • Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  • Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.
  • Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  • Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020 pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang tinggi sekitar 50-500 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 14 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-7 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi kawah puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 Maret 2021 pukul 07:49:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4532 m di atas permukaan laut atau sekitar 1200 m di atas puncak.

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2021 dengan tinggi kolom 1000 meter di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-300 meter di atas puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, timur dan tenggara. teramati letusan dengan tinggi 500 meter di atas puncak dan warna asap kelabu. Teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 1500 meter ke arah timur dan tenggara. Teramati guguran lava dengan jarak luncur 1000 meter dari puncak dengan arah luncuran ke timur hingga tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 53 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 30 Maret 2021 pukul 03:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Sejak 9 Februari 2021 tingkat aktivitas G. Karangetang diturunkan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah utama bertekanan sedang hingga kuat teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100 meter di atas puncak. Asap kawah dua putih tebal tekanan sedang tinggi 50 meter di atas kawah. Cuaca berawan, mendung hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 7 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Terasa skala II MMI
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang kali Malebuhe.
  • Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018 pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Semeru (3676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 22 Maret 2021 dengan tinggi kolom 500 m di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara, timur laut dan selatan. Terjadi letusan, namun secara visual tinggi letusan dan warna abu tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 28 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 9 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  • Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  • Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  • Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 05:41:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4176 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019. Gunung api Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 25 - 100 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tremor Harmonik
  • 12 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 11 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-27 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020 pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-200 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah tenggara. Teramati 2 kali letusan/erupsi dengan tinggi 100-200 meter di atas puncak dan warna asap putih dan kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 26 Maret 2021 pukul 08:45:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 200-800 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur dan barat. Teramati letusan/erupsi dengan tinggi 200 - 800 meter di atas puncak dan warna asap putih hingga kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 81 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 54 kali gempa Guguran
  • 56 kali gempa Hembusan
  • 21 kali gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 31 Maret 2021 pukul 09:54:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2325 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api jelas hingga kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intesitas sedang dan tinggi 15 - 25 meter di atas puncak. Cuaca berawan, mendung an hujan , angin lemah hingga kencang ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 13 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 92 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 06:31:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-700 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020 pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Gunung api Soputan (1809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Terjadi guguran namun secara visual, jarak dan arah luncuran tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Erupsi terakhirnya terjadi pada 13 Juni 2019. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 30 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 01 April 2021 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   April   2021 dibandingkan Maret 2021, potensinya mulai memasuki masa transisi /peralihan tahunan terkait penurunan potensi ancaman gerakan tanah tanah khususnya di wilayah Jawa serta sebagian besar wilayah Sumatera. Beberapa wilayah yang masih berpotensi tinggi meliputi Wilayah Aceh di Sumatera , Wilaya Kalimantan bagian Tengah-Utara , Sulawesi Bagian Tengah, Gorontalo , Wilayah Papua, Maluku seperti P. Buruh, Maluku Utara bagian Timur serta sebagian wilayah Nusa Tenggara. Tetap perlu kewaspadaan   tinggi dimasa peralihan ini terutama pada   saat turun hujan di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
  • Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  • Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  • Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan tebing yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

Dampak :

  • Tanggal 31/03/2021 sore, sebelum kejadian hujan deras mengguyur, gerakan tanah mengakibatkan sebuah rumah ambruk rata dengan tanah. Longsorannya berupa tebing dibagian bawah rumah dan sejak awal pergerakan tanah dan rumah tersebut terancam, pemilik rumah langsung dievakuasi, di Kampung Sindanglangu, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
  • Tanggal 31/03/2021 pukul 16.30 WIB, setelah turun hujan yang disertai angin, gerakan tanah mengakibatkan satu rumah rusak dan satu orang mengalami luka berat serta satu keluarga dievakuasi di area pemukiman warga di RT 24 RW 12 di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsari,. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  • Tanggal 31/03/2021 pukul23.30 WIB, hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut , gerakan tanah terjadi pada ada empat titik longsor yaitu di Cimapag dan Cisarakan dua titik longsor titik longsor yaitu di Cimapag dua titik dan Cisarakan dua titik longsor mengakibatkan tertimbunnya jalan nasional di area jalan Nasional di Kampung Cimapag dan Kampung Cisarakan, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  • 4.            Tanggal 31/03/2021 pukul 18.15 WIB,   gerakan tanah mengakibatkan sebuah tanggul tertimpa material longsoran dan tanggul penyangga tanah yang terbuat dari material semen dan batu kali ikut roboh akibat tidak kuat menyangga tanah di area sebuah tanggul di Gg. Jayaginti Babakan Jampang RT 03 RW 10, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  • Tanggal 01/04/2021 pukul 14.30 WIB , Gerakan tanah mengakibatkan jembatan Kali Gintung putus dan menyebabkan arus lalulintas dari Jejeg-Batuagung atau sebaliknya lumpuh total di area jembatan Kali Gintung, Desa Batuagung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
  • Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
  • Pemilik rumah yang terkena longsor mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan, untuk menghindari gerakan tanah susulan.
  • Tidak melakukan pemotongan tebing yang terlalu tegak dan menata aliran air disekitar tebing agar tidak menggerus tebing.
  • Membangun rambu rambu rawan longsor pada bagian jalan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat agar terjadi penguatan tanah.
  • Membuat penahan tebing dengan pondasi yang mengikuti kaidah geologi teknik, pada bagian tebing yang rawan longsor.
  • Tidak melakukan pemotongan tebing yang terlalu tegak dan menata aliran air disekitar tebing agar tidak menggerus tebing.
  • Menata drainase dan memperkuat kestabilan tebing dengan pembuatan penahan tebing dengan fondasi yang mengikuti kaidah – kaidah geologi teknik.
  • Tidak mendirikan bangunan disekitar tebing yang terjal dan tidak melakukan pemotongan tebing yang tegak karena dapat menimbulkan longsor.
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/ BPBD setempat.