Laporan Kebencanaan Geologi, 31 Maret 2021

Logo_ESDM
Hari ini, Rabu, 31 Maret 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. GUNUNG API

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunung api Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi 200 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, barat dan barat laut. Teramati 33 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 800-1000 m ke arah barat daya. Teramati 1 kali awanpanas guguran dengan estimasi jarak luncur 1500 m ke arah barat daya. Teramati 1 kali guguran lava pijar di kubah tengah.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 174 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi :

  1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan – barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak
  2. Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.
  3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya
  4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi
  5. Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan
  6. Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi
  7. Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Maret 2021 pukul 18:10:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3468 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (1923 m dpl) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan masih terjadi hingga saat ini. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 100-700 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Letusan disertai dentuman/gemuruh lemah, sedang hingga kuat. Lontaran Lava Pijar tinggi 500 m di atas puncak dan sejauh 500 m ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 19 kali gempa Letusan/Erupsi 
  • 41 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Harmonik
  • 43 kali Tremor Non-Harmonik
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 0,5 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok
  2. Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  3. Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan
  4. Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation)
  5. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.[6] Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020 pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak.

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada). 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-2 mm (dominan 0,5 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi kawah puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 Maret 2021 pukul 07:49:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4532 m di atas permukaan laut atau sekitar 1200 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2021 dengan tinggi kolom 1000 meter di atas puncak.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, timur, barat dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 2 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 83 kali gempa Guguran
  • 13 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 15 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  3. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 30 Maret 2021 pukul 10:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak. Namun hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Sejak 9 Februari 2021 tingkat aktivitas G. Karangetang diturunkan menjadi Level II (Waspada).
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  1. Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2,5 km serta sepanjang kali Malebuhe
  2. Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya
  3. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018 pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.
 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Semeru (3676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 22 Maret 2021 dengan tinggi kolom 500 m di atas puncak. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah utara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 31 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi :

  1. Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah di sektor tenggara -  selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  2. Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi
  3. Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan
  4. Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 05:41:00 WIB.  Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4176 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019. Gunung api Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 25-100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut dan barat. Ombak laut tenang, dari visual CCTV Sertung teramati asap putih tipis-tebal tinggi 25-100 m.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 14 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Low Frequency
  • 6 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 43 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020 pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 26 Maret 2021 pukul 08:45:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2029 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 76 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 43 kali gempa Guguran
  • 53 kali gempa Hembusan
  • 14 kali gempa Harmonik

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu
  2. Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 Maret 2021 pukul 18:11:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2325 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir dengan menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 10 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  2. Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Kerinci (3805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 162 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  1. Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III)
  2. Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 06:31:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung api Bromo (2329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-700 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat. Tercium bau belerang ringan hingga sedang di pos pengamatan.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo
  2. Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020 pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Gunung api Soputan (1809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam. 
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • Nihil

Rekomendasi :

  1. Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran
  2. Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu
  3. Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Erupsi terakhirnya terjadi pada 13 Juni 2019. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan, angin lemah ke arah barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Maret 2021 tercatat :

  • Nihil

Rekomendasi :

  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung
  2. Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   Maret   2021 dibandingkan Februari 2021, potensinya tetap tinggi di seluruh Indonesia meliputi Wilayah Jawa terus meluas ke Bali Nusa Tenggara Barat dan Timur , Kalimantan bagian Tengah , Sulawesi , Maluku dan Maluku Utara hingga Papua. Sedangkan Wilayah Sumatera potensi tetap tinggi di wilayah Aceh dan Sumatera Barat namun cenderung meningkat di wilyah Bengkulu dan Lampung bagian barat . Kewaspadaan tetap tinggi bulan Maret 2021 di seluruh wilayah Indonesia dan pada   saat turun hujan utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara
  • Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
  • Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan di antaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang bagus, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak :

  • Tanggal 29 Maret 2021, gerakan tanah berupa longsor sepanjang 13 meter, dengan tinggi kurang lebih 10-12 meter Jalan penghubung antardesa di Kecamatan Siau Timur, Desa Lia putus dan Desa Apelawo, Desa Bukide, Desa Nameng Di Desa Deahe dan Di Kelurahan Bahu banjir bandang material batu besar dan tanah. Akibatnya terjadi kerusakan rumah dan sejumlah akses jalan yang sempat terputus Kecamatan Siau Timur Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) Sulawesi Utara (Sulut)
  • Tanggal 29/3/202110.00 WIB,, gerakan tanah kembali terjadi pasca perbaikan jalan dampak longsor pada pukul 08.00 WIB terjadi pada akses jalan Merangin-Kerinci di Desa Birun, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi
  • Tanggal 29/3/2021 sekitar pukul 20.30 WIB, Hujan dengan intensitas sedang dan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Jambu dan sekitarnya, gerakan tanah sedikitnya di empat wilayah desa dan mengakibatkan15 bangunan rumah mengalami kerusakan mulai dari ringan hingga berat Dusun Wonokasihan, wilayah Desa Bedono; dua titik longsor dan mengakibatkan satu bangunan rumah dan talud jalan ambrol Dusun Gertas, Desa Brongkol; material longsor menutup jalan di Dusun Tempuran Dusun Krajan dan Dusun Tempuran di wilayah Desa Klurahan serta empat rumah warga yang mengalami kerusakan di Dusun Banaran, Desa Gemawang, serta Sebuah mobil terperosok ke saluran air akibat tanah longsor di Dusun Wonokasihan, Desa Bedono di lereng- lereng perbukitan Gunung Kelir, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang Kabupaten Ungaran, Provinsi Jawa Tengah
  • Tanggal 29/3/2021 sore , Gerakan tanah menyebabkan dinding salah satu sekolah ambruk SD Negeri 17 Takengon di Desa Arul Badak, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi

  • Agar masyarakat pengguna jalan dan yang sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor di sekitar lokasi yang longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Penanganan longsoran agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas.
  • Perkuatan pada lereng dengan memperhatikan kaidah-kaidah geologi teknik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.