Laporan Kebencanaan Geologi, 24 Maret 2021

Logo_ESDM

Hari ini, Rabu, 24 Maret 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi 200 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Visual lainnya : Teramati 9 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur sejauh 1.000 m ke barat daya. Teramati 10 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 900 m ke arah barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 2 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 148 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak

Rekomendasi:

  • Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor Selatan – Barat Daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.
  • Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09:29:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.168 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 diatas puncak.

 

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 14 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 200-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Visual lainnya : Letusan disertai gemuruh lemah hingga sedang dan teramati lontaran lava pijar sejauh 500 m diatas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 11 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 41 kali gempa Hembusan
  • 1 kali Harmonik
  • 1 kali Tremor non-Harmonik
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok.
  • Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  • Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.
  • Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  • Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dengan intensitas sedang, tinggi sekitar 500-1200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur dan selatan. Visual lainnya : Asap/abu mengarah ke timur.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-6 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi kawah puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 Maret 2021, pukul 19:22:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3832 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 100-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 59 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 10 kali gempa Low Frequency
  • 43 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 11 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 23 Maret 2021, pukul 15:32:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 meter di atas puncak. Namun, hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Sejak 9 Februari 2021 tingkat aktivitas G. Karangetang diturunkan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Visual lainnya : Asap kawah dua berwarna putih sedang , tinggi sekitar 50 m dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 22 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.25-1 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2.5 km serta sepanjang kali Malebuhe.
  • Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, mendung hingga hujan, angin lemah ke arah utara. Visual lainnya : Gunung api dominan tertutup kabut.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 35 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 16 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  • Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  • Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  • Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Maret 2021, pukul 05:46:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4176 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019.

Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 25-100 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut. Visual lainnya : Visual dari CCTV jelas, teramati asap putih tipis hingga tebal tinggi sekitar 25-100 m. Ombak laut tenang.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 31 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 1-28 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Visual lainnya : Gunung api tertutup kabut dari pagi hingga malam.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Maret 2021, pukul 07:56:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 14 Maret 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 700 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, selatan dan Barat.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 67 kali gempa Letusan
  • 116 kali gempa Guguran
  • 11 kali gempa Hembusan
  • 51 kali Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Terasa
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Maret 2021, pukul 08:20:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunungapi Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 10-30 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Terasa
  • 13 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 107 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna Yellow, terbit pada tanggal 21 Maret 2021, pukul 06:15:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur laut dan timur. Visual lainnya : Tercium bau belerang ringan di Pos pengamatan Bromo.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • 7 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada).

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 23 Maret 2021 tercatat:

  • Kegempaan nihil

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   Maret   2021 dibandingkan Februari 2021, potensinya tetap tinggi di seluruh Indonesia meliputi Wilayah Jawa terus meluas ke Bali Nusa Tenggara Barat dan Timur , Kalimantan bagian Tengah , Sulawesi , Maluku dan Maluku Utara hingga Papua. Sedangkan Wilayah Sumatera potensi tetap tinggi di wilayah Aceh dan Sumatera Barat namun cenderung meningkat di wilyah Bengkulu dan Lampung bagian barat . Kewaspadaan tetap tinggi bulan Maret 2021 di seluruh wilayah Indonesia dan pada   saat turun hujan utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
  • Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  • Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Penyebab: penyebab diperkirakan: Kemiringan lereng yang curam hingga sangat curam; Tanah pelapukan yang bersifat porous dan mudah meloloskan air; Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan yang bersifat mudah meloloskan air dengan bagian bawahnya yang lebih kedap air; Kurangnya tanaman besar dengan akar dalam dan kuat; Sistem drainase pada lahan di atas permukiman yang kurang baik; Sistem aliran air permuaan pada tebing bagian atas rumah yang tidak tertata dengan baik; Erosi lateral oleh aliran air akbat luapan sungai, aktivitas penambangan; Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

Dampak :

  • Tanggal   22/3/2021 , gerakan tanah dengan ketinggian tebing longsor kurang lebih 100 meter mengakibatkan akses jalan tertutup sehingga warga setempat terisolasi karena ketebalan material longsor sangat tebal di Jalan Desa Bangbayang, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
  • Tanggal   22/3/2021 waktu kunjungan wakil bupati , gerakan tanah berupa longsor terjadi di dua titik pada sepanjang jalan dan saluran irigasi menuju Bendung Wae Laku yang terjadi beberapa waktu lalu saat hujan deras. Longsor pertama sepanjang sekitar 70 meter menutup akses jalan sehingga perjalanan menuju Bendungan Wae Laku harus ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah berjalan beberapa meter, timbunan material longsor juga ditemukan di atas saluran irigasi dan menutupi sebagian badan jalan di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  • Tanggal 22/3/2021) sekira pukul 13.30 WIB, tebing muncul sumber air sehingga membuat kontur tanah menjadi labil, gerakan tanah kembali terjadi di Kabupaten Kudus mengakibatkan satu rumah warga rusak berat karena runtuhan tanah longsor langsung menimpa rumah korban di Desa Dukuh Kambangan, RT 02/05, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah
  • Tanggal 21 Maret 2021, gerakan tanah yang sudah lama terjadi , berupa tebing longsor yang merupakan tebing bekas penambangan mengakibatkan kondisi akses jalan yang menghubungkan Kelurahan Gending menuju Desa Ngargosari terputus, kafe dibongkar, longsor terbaru bahkan membuat salah satu dapur rumah penjaga makam ambles dan juru kunci makam diungsikan di Gunung Petukangan, Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi

  • Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan potensi longsor susulan, masyarakat yang tinggal di dekat lokasi gerakan tanah agar meningkatkan kewaspadaan terutama ketika turun hujan untuk mengantisipasi terjadinya gerakan tanah susulan.
  • Memasang rambu peringatan rawan gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan bagi pengguna jalan.
  • Dilakukan perbaikan sistem aliran air permukaan (drainase).
  • Seluruh aktivitas (pembersihan material longsoran) agar dilakukan dengan selalu memperhatikan cuaca dan keselamatan jiwa. Jika turun hujan seluruh aktivitas agar dihentikan.
  • Segera dilakukan pembersihan material longsoran agar dilakukan dengan selalu memperhatikan cuaca dan keselamatan jiwa. Jika turun hujan seluruh aktivitas agar dihentikan.
  • Dibuatkan perkuatan lereng pada tebing sesuai dengan kaidah geologi teknik.
  • Penambangan harus dievaluasi ulang dan dilakukan reklamasi pada area penambangan
  • Penambangan harus sesuia dengan kaidah penambangan agar tidak menimbulkan bencana
  • Pemotongan lereng harus memperhatikan kaidah ketekniksan tanah dan batuan serta memperhatikan aspek geologi teknik
  • Masyarakat yang tinggal dan melintas di sekitar lokasi bencana harus lebih waspada, terutama pada saat dan setelah hujan;
  • Diperlukan penguatan lereng pada tebing rawan longsor dan rekayasa engineering terhadap longsoran di alur-alur sungai dengan pondasi menumpu pada tanah/ batuan keras
  • Pemotongan lereng agar tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor di daerah jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu waspada mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.