Laporan Kebencanaan Geologi, 22 Maret 2021

Logo_ESDM

Hari ini, Senin, 22 Maret 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi 200 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut dan timur. Visual lainnya : Teramati 14 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur sekitar 1.200 m ke arah barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 125 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Hybrid/Fase Banyak

Rekomendasi:

  • Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor Selatan – Barat Daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.
  • Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09:29:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.168 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 diatas puncak.

 

Gunung Api Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 14 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Visual lainnya : Letusan disertai gemuruh lemah, teramati lontaran material pijar sekitar 200 m dari puncak ke arah timur, Letusan disertai gemuruh lemah dan teramati sinar api sekitar 100 m dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 14 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 73 kali gempa Hembusan
  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok. Masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah G. Ili Lewotolok.
  • Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  • Mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling G. Ili Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Ili Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.
  • Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  • Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 300-900 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur dan selatan. Visual lainnya : Asap/abu mengarah ke timur, Asap/abu tidak menerus ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-5 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat erupsi kawah puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 Maret 2021, pukul 19:22:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3832 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 44 kali gempa Guguran
  • 15 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Low Frequency
  • 10 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 21 Maret 2021, pukul 22:52:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 meter di atas puncak. Namun, hasil rekaman seismik menunjukan adanya penurunan aktivitas kegempaan sejak Desember 2020. Sejak 9 Februari 2021 tingkat aktivitas G. Karangetang diturunkan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal, tinggi sekitar 50-150 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung , angin lemah ke arah barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 62 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.25-5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2.5 km serta sepanjang kali Malebuhe.
  • Masyarakat mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material hasil erupsi yang belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan baratdaya.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Maret 2021 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 45 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 9 kali gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 5 Km arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  • Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  • Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  • Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yang sudah terbentuk).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 18 Maret 2021, pukul 06:12:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019.

Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 25-100 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah timur. Visual lainnya : Visual CCTV jelas, teramati asap putih tipis hingga sedang   tinggi sekitar 25-100 m. Ombak laut tenang.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 8 kali gempa Hembusan
  • 18 kali gempa Harmonik
  • 11 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 56 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 1-10mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 14 Maret 2021, pukul 13:05:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 14 Maret 2021 menghasilkan tinggi kolom erupsi 700 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal, tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 65 kali gempa Letusan
  • 53 kali gempa Guguran
  • 22 kali gempa Hembusan
  • 71 kali Harmonik
  • 1 kali gempa Terasa
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 12 Maret 2021, pukul 08:24:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2325 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunungapi Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah tenggara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 11 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Terasa
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 150-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Visual lainnya : terjadi hujan gerimis hingga deras.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 87 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 Oktober 2020, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4605 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur, selatan, barat daya dan barat. Visual lainnya : Tercium bau belerang ringan hingga sedang di sekitar Pos pengamatan Bromo.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 09:17:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak kawah. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 12 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada).

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 21 Maret 2021 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   Maret   2021 dibandingkan Februari 2021, potensinya tetap tinggi di seluruh Indonesia meliputi Wilayah Jawa terus meluas ke Bali Nusa Tenggara Barat dan Timur , Kalimantan bagian Tengah , Sulawesi , Maluku dan Maluku Utara hingga Papua. Sedangkan Wilayah Sumatera potensi tetap tinggi di wilayah Aceh dan Sumatera Barat namun cenderung meningkat di wilyah Bengkulu dan Lampung bagian barat . Kewaspadaan tetap tinggi bulan Maret 2021 di seluruh wilayah Indonesia dan pada   saat turun hujan utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.
  • Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Penyebab: Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat tanah pelapukan yang tebal dan labil, kemiringan lereng serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak :

  • Tanggal 21 Maret 2021 di waktu dini hari , Gerakan tanah mengakibatkan 4 rumah warga rusak berat akibat diterjang longsor, dimana dua diantaranya mengalami rusak berat, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian materi mencapai ratusan juta rupiah di Dusun Limbong Kanan Desa Sareale Kecamatan Tikala Kabupaten Toraja Utara Provinsi Sulawesi Selatan,
  • Tanggal 19 Maret 2021 sore hari , hujan deras dengan intensitas lebih dari dua jam melanda Kawasan, Gerakan tanah mengakibatkan material longsor menutup ruas jalan Desa dan jalan antar kampong serta dua rumah warga rusak berat akibat tertimpa material longsor tebing setinggi 12 meter, tidak ada korban jiwa namun kerugian ditaksir lebih dari lima ratus juta rupiah di Kampung Pasirmanis, Desa Sukajembar, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi

  • Agar Masyarakat yang beraktifitas disekitar wilayah bencana lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Material longsoran segera dibersihkan dan pembersihan material longsoran harap memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras;
  • Agar Masyarakat yang berada disekitar wilayah bencana lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat
  • Tidak melakukan penggundulan hutan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.