Laporan Kebencanaan Geologi, 8 Februari 2021

Logo_ESDM

Hari ini, Senin, 8 Februari 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

 1. Gunung Api

 Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur.

Teramati guguran dan guguran lava pijar 10 kali dengan jarak luncur maksimum 1000 meter ke Barat Daya (hulu K.Krasak dan Boyong),Nihil, Teramati guguran lava pijar 6 kali dengan jarak luncur maksimum 1000 meter ke Barat Daya (hulu K.Krasak dan Boyong)

 Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

79 kali Gempa Guguran

1 kali Gempa Hembusan

8 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak

2 kali Gempa Tektonik Jauh

 Rekomendasi:

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor Selatan – Barat Daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.

Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.

Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.

Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.

Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi.

Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG 

 VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09:29:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.168 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 diatas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

 Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada).

 Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 1200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur dan selatan. Asap/Abu mengarah ke tenggara-timur. Terlihat pantulan cahaya api. Terdengar suara gemuruh Terjadi hujan abu tipis di pos PGA Raung.

 Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

4 kali Gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 3-22 mm, dominan 6 mm

 Rekomendasi:

Masyarakat/pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak.

 VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 7 Februari 2021, pukul 20.37 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.532 m di atas permukaan laut atau sekitar 1.200 m di atas puncak.

 

Gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus.

 Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 700 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur.

Sinar api di puncak sekitar 100 - 300 m di atas pucak. Letusan disertai gemuruh lemah hingga sedang disertai lontaran lava pijar sejauh sekitar 500 m dari puncak ke arah tenggara.

 Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

13 kali Gempa Erupsi/Letusan

70 kali Gempa Hembusan

8 kali Tremor Non-Harmonik

2 kali Gempa Tektonik Jauh

4 kali GempaTremor Menerus, amplitudo 0.5-1.5 mm (dominan 0.5 mm)

 Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok dan di dalam area sektoral di arah tenggara sejauh 4 km dari puncak G Ili Lewotolok hingga ke pantai. Desa yang masih berpotensi terlanda ancaman bahaya erupsi G. Ili Lewotolok saat ini adalah Desa Jontona karena masih berada di dalam area 4 km dari puncak/kawah ke arah tenggara.

Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada di sekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.

Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun   rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).

Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.

 VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5.423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4.000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

 Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.

 Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-700 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur dan tenggara.

Teramati 1 kali Awan Panas Guguran dengan jarak luncur tidak teramati dikarenakan tertutup kabut pada bagian lereng.

 Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

1 kali Gempa Awan Panas Guguran

182 kali Gempa Guguran

17 kali Gempa Hembusan

26 kali Gempa Low Frekwensi

9 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak

1 kali Gempa Vulkanik Dalam

1 kali Gempa Tektonik Lokal

1 kali Gempa Tektonik Jauh

 Rekomendasi:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.

Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

 VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Januari 2021, pukul 18:24:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

 Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.

 Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat daya dan barat laut.

 Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

1 kali Gempa Hybrid/fase Banyak

7 kali Gempa Vulkanik Dangkal

2 kali Gempa Vulkanik Dalam

8 kali Gempa Tektonik Jauh

1 kali Gempa Terasi skala II MMI

1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.25 - 1 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.

Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

 VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

 Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, selatan dan barat daya.

Letusan dan hembusan asap secara visual tidak teramati karena gunung sering tertutup kabut,

 Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

85 kali Gempa Letusan/Erupsi

9 kali Gempa Hembusan

7 kali Gempa Harmonik

1 kali Gempa Tektonik Lokal

1 kali Gempa Tektonik Jauh

1 kali Gempa Getaran banjir

Rekomendasi:

Dalam status Level II (Waspada) agar masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.

Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.

Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yg sudah terbentuk).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 2 Februari 2020, pukul 06:36:00 WIB. Tinggi abu vulkanik tidak teramati, namun abu vulkanik bergerak ke arah timurlaut.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah selatan. Visual CCTV Lava 93 teramati asap putih tipis tinggi lk. 25-50 m Ombak laut tenang-sedang.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

2 kali Gempa Hembusan

11 kali Gempa Low Frequency

1 kali Gempa Vulkanik Dangkal

2 kali Gempa Vulkanik Dalam

1 kali Gempa Tremor Menerus, amplitudo 1-38 mm (dominan 4 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 1 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi sekitar 600 m dari puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

1 kali Gempa Letusan/Erupsi

3 kali Gempa Tektonik Jauh

1 kali Gempa Tremor Menerus, amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 4 Februari 2021, pukul 07:53:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m dari puncak.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 24 Desember 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah bertekanan lemah hingga sedang berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 200-800 m di atas puncak kawah. Cuaca cerah, mendung,hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

115 kali Gempa Letusan/Erupsi

98 kali Gempa Guguran

58 kali Gempa Hembusan

11 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 07 Januari 2021, pukul 10:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 30-50 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

1 kali Gempa Vulkanik Dalam

10 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingg tertutup kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

58 kali Gempa Hembusan

2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat disekitar gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).

Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 17 Oktober 2020, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.605 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

1 kali Gempa Tremor Menerus, amplitudo 0.5 – 1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.

Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 13:50:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.832 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak bergerak ke arah timur.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

23 kali Gempa Guguran

2 kali Gempa Hembusan

3 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.

Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf pada 7 Februari 2021 tercatat:

1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah 

 
Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   Februari  2021 dibandingkan Januari 2021, potensinya  tetap tinggi dan mengalami peningkatan di seluruh Indonesia  meliputi Wilayah Jawa terus meluas ke Bali Nusa Tenggara Barat dan Timur  , Kalimantan b4gian Tengah  , Sulawesi , Maluku dan Maluku Utara  hingga  Papua. Sedangkan Wilayah Sumatera potensi tetap tinggi di wilayah Aceh dan Sumatera Barat namun cenderung  menurun  mulai    wilayah sisi Barat Sumatera Barat hingga Lampung.  Kewaspadaan tetap tinggi bulan Februari 2021 di seluruh wilayah Indonesia dan pada   saat turun hujan  utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.


Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

2. Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

3. Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

4. Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

5. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur

6. Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo


Penyebab : 

 Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan tebing yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.


Dampak : 

 1. Tanggal  06/02/2021, Semarang hujan lebat merata total sekitar 3-5 jam, Sejak Sabtu pukul 01.00 WIB sampai 06.00 WIB,  gerakan tanah mengakibatkan talud longsor dan menimpa rumah dan rumahnya mengalami rusak berat sedangkan satu rumah lagi terancam di pemukiman warga di RT 07 RW 01 Jalan Sriwidodo Utara Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah

2. Tanggal  06/02/2021, diguyur hujan sejak jumat (05/02/2021) malam hingga Sabtu dini , gerakan tanah berupa  longsoran berupa tanah bercampur batu dari  tanggul bukit di belakang rumah dengan ketinggian sekitar tujuh meter mengakibatkan tertimpanya rumah oleh material longsoran  dan 2 orang mengalami luka ringan di area perumahan warga di Dusun Ngulakan, Desa Sumberjatipohon, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah

3. Tanggal  06/02/2021, gerakan tanah mengakibatkan badan jalan di lokasi tersebut ada yang longsor ke dasar tebing di jalur wisata sebanyak tiga titik di Desa Sengigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

4. Tanggal  06/02/2021, gerakan tanah dengan pohon tumbang dan tanah longsor menutup seluruh badan jalan dan mengakibatkan kemacetan di jalan penghubung Jember – Banyuwangi, di Gumitir KM 31 , Desa Silo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur

5. Tanggal  07/02/2021 pukul 02.00 WIB, gerakan tanah mengakibatkan material longsoran dan pohon menutupi badan jalan dan memutus akses kendaraan roda empat maupun roda dua dan saat ini sudah kembali normal di Jalan raya Bungkal – Ngrayun di Desa Pelem, Kecamatan Bungkal , Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur

6. Tanggal  06/02/2021, gerakan tanah mengakibatkan akses jalan penghubung desa tersebut tertutup tanah longsor di akses jalan penghubung di Km 19 Desa Tangga Jaya, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id


Rekomendasi

• Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.

• Pemasangan rambu rambu yang rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan bagi para pengguna jalan.

• Menanam vegetasi yang berakar dalam dan kuat untuk menahan tanah agar tidak terjadi longsor.

• Pemotongan tebing yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah kaidah geologi teknik

• Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.

• Membangun talud untuk penahan longsor dengan mengikuti kaidah kaidah geologi teknik• Menata drainase pada lahan pemukiman agar air tidak tergenang dan dapat mengalir dengan lancar dengan mengikuti kaidah kaidah geologi teknik.

• Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat.

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.