Laporan Kebencanaan Geologi, 2 Februari 2021

Logo_ESDM

Hari ini, Selasa, 2 Februari 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara. Teramati 2 kali guguran lava dengan jarak luncur maksimum 800 m ke arah baratdaya dan teramati guguran lava 8 kali dengan jarak luncur 500 meter ke baratdaya.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 50 kali Gempa Guguran
  • 9 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor Selatan – Barat Daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.
  • Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09:29:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.168 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 diatas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada).

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dengan intensitas sedang tinggi sekitar 500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, timur dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 31 kali Gempa Tremor Non Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonil Lokal
  • 3 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 1-18 mm, dominan 5 mm

Rekomendasi: Masyarakat/pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 1 Februari 2021, pukul 13.50 WIB, terkait hembusan gas menerus dengan abu vulkanik, dengan ketinggian 3.832 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus.

Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 2 kali Gempa Erupsi/Letusan
  • 64 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok dan di dalam area sektoral di arah tenggara sejauh 4 km dari puncak G Ili Lewotolok hingga ke pantai. Desa yang masih berpotensi terlanda ancaman bahaya erupsi G. Ili Lewotolok saat ini adalah Desa Jontona karena masih berada di dalam area 4 km dari puncak/kawah ke arah tenggara.
  • Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada di sekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  • Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun   rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  • Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5.423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4.000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan, barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 143 kali Gempa Guguran
  • 29 kali Gempa Hembusan
  • 22 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Januari 2021, pukul 18:24:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur, selatan dan barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

Gunung api tertutup kabut sebagian hingga keseluruhan tubuh gunungapi. Erupsi masih terjadi tetapi kolom erupsi dan asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur laut, selatan dan barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 47 kali Gempa Letusan/Erupsi
  • 4 kali Gempa Guguran
  • 29 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Gempa Getaran banjir

Rekomendasi:

  • Dalam status Level II (Waspada) agar masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  • Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.
  • Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah jalur awan panas Besuk Kobokan.
  • Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yg sudah terbentuk).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 22 Januari 2020, pukul 05:23:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.976 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 25-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 21 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-34 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 1 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi sekitar 600 m dari puncak.

Gunung apiterlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 200-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Januari 2021, pukul 15:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m dari puncak.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 24 Desember 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, hingga sedang sekitar 200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 76 kali Gempa Letusan/Erupsi
  • 102 kali Gempa Guguran
  • 56 kali Gempa Hembusan
  • 12 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 07 Januari 2021, pukul 10:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 15-35 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 12kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 56 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 17 Oktober 2020, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.605 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, dan timur. Tercium bau belerang ringan di Pos PGA Bromo.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5 – 1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 13:50:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.832 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak bergerak ke arah timur.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 26 kali Gempa Guguran
  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api tertutup kabut sebagian hingga seluruhnya. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Februari 2021 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gempabumi

Laporan Harian Tim Tanggap Darurat Pvmbg - Badan Geologi Hari Senin, 1 Februari 2021

  • Melakukan koordinasi dan diskusi dengan Kakanwil BPN Provinsi Sulawesi Barat, Sekretaris Dinas DKP Provinsi Sulawesi Barat dan Kabid Geologi Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat terkait rencana pelaksanaan webinar tentang kegempaan di Sulawesi Barat. Menyerahkan peta Kawasan Rawan Bencana Gempabumi Provinsi Sulawesi Barat dan peta Kawasan Rawan Bencana Tsunami Kabupaten Majene Kakanwil BPN Provinsi Sulawesi Barat.
  • Mengisi kegiatan webinar tentang kegempaan di Sulawesi Barat yang dilaksanakan oleh Kanwil BPN Provinsi Sulawesi Barat.
  • Mengidentifikasi guncangan gempabumi lokasi di Jalan Enny Saelan, Kota Mamuju. Terlihat ruko lantai 3 dan 4 serta 2 rumah penduduk rusak berat. Lokasi tersebut dibangun pada endapan aluvial (aluvial pantai). Tidak terlihat adanya indikasi likuefaksi di lokasi ini, dan guncangan gempabumi pada skala VII MMI.
  • Mengidentifikasi guncangan gempabumi di Kompleks Perumahan Graha Nusa 3, Kelurahan Simboro, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju. Terlihat berapa bangunan lantai 1 mengalami kerusakan berat dan disampingnya terdapat bangunan roboh. Lokasi tersebut dibangun pada endapan aluvial rawa. Menurut informasi penduduk setempat terlihat adanya indikasi likuefaksi di lokasi ini dicirikan lantai rumah retak dan keluar semburan lumpur. Guncangan gempabumi pada skala VII MMI.

 

3. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   Febuari 2020 dibandingkan Januari 2021, potensinya tetap tinggi dan mengalami peningkatan di seluruh Indonesia meliputi Wilayah Jawa terus meluas ke Bali Nusa Tenggara Barat dan Timur , Kalimantan bagian Tengah , Sulawesi , Maluku dan Maluku Utara hingga Papua. Sedangkan Wilayah Sumatera potensi tetap tinggi hanya cenderung menurun mulai   wilayah sisi Barat mulai Aceh, Sumatera Utara hingga Lampung. Kewaspadaan tetap tinggi bulan Februari 2021 di seluruh wilayah Indonesia dan pada   saat turun hujan utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  • Kabupaten Serang, Provinsi Banten
  • Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi NTT
  • Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat
  • Kota Kupang, Provinsi NTT

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, sistem drainase yang kurang bagus, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak :

  • Tanggal 1 Februari 2021 gerakan tanah berupa longsoran yang materialnya menimpa bangunan yang ada di bawahnya menyebabkan 1 rumah rusak dengan kerugian materiil mencapai 8 juta rupiah di Dusun Gamping, Desa Selur, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.
  • Tanggal 1 Februari 2021 gerakan tanah mengakibatkan tiga rumah warga roboh dan empat rumah lainya retak-retak di Kampung Kedalingan, Cipare, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
  • Tanggal 1 Februari 2020   gerakan tanah berupa longsoran pada tebing setinggi 4 meter mengakibatkan 20 lapak milik pedagang tertimpa material longsoran di Pasar Paninggaran, Gudang, Paninggaran, Pekalongan, Kabupaten Jawa Tengah.
  • Tanggal 31 Januari 2021, gerakan tanah mengakibatkan belasan ribu tanaman porang tertimbun material longsoran di Kampung Rana Kulan, Desa Rana Kulan, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
  • Tanggal 1 Februari 2021, gerakan tanah berupa longsoran pada tebing setinggi 10 meter yang materialnya menimbun badan jalan di Dusun Cibodas, Desa Kersaratu, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat.
  • Tanggal 1 Februari 2021, gerakan tanah mengakibatkan 1 rumah rusak di Kelurahan Mantasi, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Kabupaten Nusa Tenggara Timur.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi

  • Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana harus lebih waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutupi badan jalan agar dapat dilalui kembali. Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas;
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor di daerah jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Tidak melakukan aktifitas dibawah lereng yang terjal;
  • membuat perkuatan lereng dengan memperhatikan kaidah-kaidah geologi teknik;
  • Warga yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada arahan dari pemeritah daerah setempat;
  • Tidak mendirikan dan/atau mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan lereng yang terjal;
  • Membuat saluran drainase yang kedap air;
  • menanam tanaman dengan akar yang kuat;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.