Laporan Kebencanaan Geologi, 1 Februari 2021

 

Logo_ESDM

Senin, 1 Februari 2021, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:
 

1. GUNIUNG API

 Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Teramati 5 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimum 500 m ke arah barat daya dan teramati Guguran lava 8 kali dengan jarak luncur 300-400 meter ke barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 1 kali Gempa Awan Panas Guguran
  • 84 kali Gempa Guguran
  • 2 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak

Rekomendasi:

  • Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor Selatan – Barat Daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya - upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi G. Merapi yang terjadi saat ini.Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar G. Merapi.
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dr puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09:29:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.168 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 di tas puncak.

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 20 Januari 2021, terekam gempa Tremor Non Harmonik tidak menerus, diikuti oleh Gempa Vulkanik Dalam, disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 21 Januari 2021 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada).
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur dan selatan. Teramati pantulan cahaya api dan terdengar suara gemuruh.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 190 kali Gempa Tremor Non Harmonik

Rekomendasi :

Masyarakat/pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak.

VONA:

 VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Januari 2021, pukul 03:08:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.032 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak.

Gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak 29 November 2020 pukul 13:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. 
Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara. 

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 16 kali Gempa Hembusan
  • 4 kali Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 0.5 mm) 

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah G. Ili Lewotolok dan di dalam area sektoral di arah tenggara sejauh 4 km dari puncak G Ili Lewotolok hingga ke pantai. Desa yang masih berpotensi terlanda ancaman bahaya erupsi G. Ili Lewotolok saat ini adalah Desa Jontona karena masih berada di dalam area 4 km dari puncak/kawah ke arah tenggara.
  • Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada di sekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  • Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun   rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  • Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5.423 m di atas permukaan laut atau sekitar 4.000 m di atas puncak.

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 123 kali Gempa Guguran
  • 7 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Low Frequency
  • 29 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Januari 2021, pukul 18:24:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 8 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.25-3 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. 
Gunung api tertutup kabut. Erupsi masih terjadi tetapi kolom erupsi dan asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah timur laut dan selatan. 

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 52 kali Gempa Letusan/Erupsi
  • 5 kali Gempa Guguran
  • 25 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Dalam status Level II (Waspada) agar masyarakat/pengunjung/wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak G. Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak G. Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.
  • Agar Masyarakat menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.Perlu diwaspadai potensi luncuran di sepanjang lembah  jalur awan panas Besuk Kobokan.
  • Mewaspadai ancaman lahar di alur sungai/lembah yg berhulu di G. Semeru (mengingat banyaknya material vulkanik yg sudah terbentuk).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 22 Januari 2020, pukul 05:23:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.976 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. 
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan selatan. Visual dari cctv lava93 teramati asap putih tipis-sedang tinggi lk. 50-100 meter.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 22 kali Gempa Low Frequency
  • 14 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-34 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA:VONA

terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunung  Api  Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 1 Januari 2021 dengan tinggi kolom erupsi sekitar 600 m dari puncak.
Gunung api tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 1 kali Gempa Tektonik jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 Januari 2021, pukul 15:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m dari puncak.

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 24 Desember 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 800 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 73 kali Gempa Letusan/Erupsi
  • 158 kali Gempa Guguran
  • 52 kali Gempa Hembusan
  • 56 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 07 Januari 2021, pukul 10:55:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 1 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali Gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G. GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 87 kali Gempa Hembusan1 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi :

  • Masyarakat disekitar gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 17 Oktober 2020, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.605 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, timur, barat daya dan barat. Tercium bau belerang ringan di ppga Bromo.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5 – 1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 Desember 2020, pukul 05:50:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.
Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat :

  • 17 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Terasa
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. 
Gunung api jelas hingga  tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 40-50 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Januari 2021 tercatat: 

  • Nihil

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati

 

2. GEMPA BUMI

Laporan Harian Tim Tanggap Darurat PVMBG - BADAN GEOLOGI 

  1. Mengidentifikasi retakan tanah di daerah bagian atas Kelapa Tujuh. Retakan tanah ini cukup panjang, terbentuk karena dipicu guncangan gempabumi, membentuk tapal kuda dan mengarah ke lembah dengan arah N 70o E. Retakan tanah ini merupakan kebun penduduk dan pada bagian lembah tidak ada permukiman penduduk. 
  2. Mengidentifikasi guncangan gempabumi di Bandara Mamuju. Beberapa bagian bangunan dan menara bandara rusak. Tidak terlihat adanya indikasi likuefaksi di lokasi tersebut, dan guncangan gempabumi pada skala IV MMI
  3. Mengidentifikasi guncangan gempabumi di kantor Korem 142 Mamuju. Terdapat kerusakan seperti retakan dinding dan kerusakan pada lantai. Tidak terlihat adanya indikasi likuefaksi di lokasi tersebut, dan guncangan gempabumi pada skala IV MMI
  4. Mengidentifikasi guncangan gempabumi di Desa Sumari, Kec. Simborong. Tidak terlihat adanya bangunan yang mengalami kerusakan dan tersusun oleh batuan rombakan gunungapi berumur Tersier. Guncangan gempabumi pada skala IV MMI
  5. Melakukan pengukuran mikrotremor guna mengetahui karakteristik tanah setempat di Bandara Mamuju; Desa Sumari, Kec. Simborong dan  Kantor Korem 142 Mamuju
  6. Memperlihatkan fenomena lapangan gejala likuefaksi di daerah Rimuku, dan melakukan diskusi secara langsung tentang gempabumi serta likuefaksi kepada Kakanwil BPN Provinsi Sulawesi Barat didampingi oleh Kepala Kantor BPN Kabupaten Mamuju dan pejabat BPN lainnya.

 

3. GERAKAN TANAH

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   Febuari  2021 dibandingkan Januari 2021, potensinya  tetap tinggi dan mengalami peningkatan di seluruh Indonesia  meliputi Wilayah Jawa terus meluas ke Bali Nusa Tenggara Barat dan Timur  , Kalimantan bagian Tengah  , Sulawesi , Maluku dan Maluku Utara  hingga  Papua. Sedangkan Wilayah Sumatera potensi tetap tinggi hanya cenderung menurun  mulai    wilayah sisi Barat mulai Aceh, Sumatera Utara hingga Lampung.  Kewaspadaan tetap tinggi bulan Februari 2021 di seluruh wilayah Indonesia dan pada   saat turun hujan  utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi  Maluku Utara
  2. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta
  4. Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
  5. Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
  6. Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  7. Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  8. Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
  9. Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  10. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  11. Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penyebab :  Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang curam, kondisi material lereng yang sudah tidak stabil akibat longsor sebelumnya, erosi aliran sungai di bawah lereng, dan dipicu oleh curah hujan tinggi


Dampak : 

  1. Tanggal 30 Januari 2021 dini hari, herakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing jalan mengakibatkan akses jalan antar desa terputus  di jalan Desa Podimor Padange, Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara 
  2. Tanggal 30 Januari 2021 sekitar pukul 11.00 WIB, gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing setinggi 5 meter yang berada di tepi jalan mengakibatkan akses jalan tertutup di Kampung Panengteung RT 02 RW 16, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat 
  3. Tanggal 30 Januari 2021 sekitar pukul 05.00 WIB ,Gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing sepanjang 15 meter dengan tinggi 6 meter, di bagian atas terdapat rekahan selebar 30 cm mengakibatkan 1 rumah rusak berat.di Dusun Sendang RT 05 RW 02, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta
  4. anggal 31 Januari 2021 sekitar pukul 04.00 WITA ,gerakan tanah mengakibatkan 1 pura merajan rusak berat dan 1 rumah terancam di Banjar Dinas Babakan, Desa Peringsari, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
  5. Tanggal 31 Januari 2021 sekitar pukul 10.30 WIB, gerakan tanah berupa longsoran tanah pada senderan pembatas rumah dengan sungai setinggi 4 meter dan lebar 15 meter  mengakibatkan 1 rumah rusak berat di RT 08 RW 02 Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
  6. Tanggal 29 Januari 2021, gerakan tanah merupakan longsoran susulan dari kejadian tanggal 9 Januari 2021, berupa longsoran tanah pada tebing yang berada di bawah rumah mengakibatkan 3 rumah rusak berat dan 5 rumah terancam di Kampung Golo Bilas, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  7. Tanggal 30 Januari 2021,gerakan tanah merupakan longsoran tanah pada tebing sepanjang 20 meter mengakibatkan 7 rumah dan 1 sekolah PAUD terancam di RT 05 dan RT 03, RW 02 Kelurahan Mantasi, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  8. Tanggal 31 Januari 2021,gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing setinggi 15 meter dan panjang 100 meter. mengakibatkan 1 rumah terancam dan akses jalan tertimbun di Dusun Sangubanyu, Desa Sangubanyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
  9. Tanggal 31 Januari 2021 ,gerakan tanah merupakan longsoran tanah pada tebing di atas permukiman mengakibatkan 2 rumah hancur tertimbun  di Kampung Barra Barra, Desa Ulusaddang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  10. Tanggal 28 Januari 2021 ,gerakan tanah berupa longsoran tanah dengan panjang landaan 400 meter dan lebar 150 meter pada tebing yang berjarak 100 meter dari permukiman mengakibatkan 2 hektar lahan pertanian tertimbun di Kampung Wantal, Desa Compang Mekar, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  11. Tanggal 28 Januari 2021,gerakan tanah berupa longsoran tanah dan disertai retakan pada lereng salah satu rumah warga mengakibatkan 1 rumah rusak ringan di Dusun Kake, Desa Golo Lajang Barat, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur 

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi

  • Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutup jalan agar akses warga kembali pulih. Proses pembersihan dan perbaikan agar selalu mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap longsor susulan. Hentikan pengerjaan jika hujan deras turun
  • Penghuni rumah yang terdampak agar meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan deras turun. Jika retakan pada tanah meluas dan berkembang secara cepat agar segera mengungsi dan melapor kepada petugas berwenang
  • Penghuni rumah yang terdampak agar mengungsi sementara hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat
  • Melakukan pemantauan perkembangan longsoran di permukiman. Jika muncul retakan yang meluas dan berkembang secara cepat, segera menjauh dan melapor kepada petugas berwenang
  • Permukiman dengan kondisi lereng yang serupa dengan lokasi bencana agar selalu waspada. Ruang kamar dan tempat berkumpul agar berada pada bagian rumah yang paling jauh dari lereng terjal
  • Menutup rekahan yang ada dengan material kedap dan dipadatkan untuk mengurangi resapan air ke dalam rekahan yang dapat memicu terjadinya longsor susulan
  • Jika ada alternatif jalan, agar pengguna jalan mengutamakan lewat jalan alternatif tersebut dan tidak memaksakan diri lewat jalur yang terdampak bencana
  • Membuat tembok penahan erosi, bronjong atau penenang arus pada tepian sungai untuk mengurangi laju erosi aliran sungai
  • Tidak berhenti atau memarkir kendaraan di bawah lereng yang terjal terutama ketika hujan deras turun dan sesaat sesudahnya
  • Melakukan pelandaian lereng, membuat lereng berjenjang atau membangun perkuatan pada lereng terjal yang berada dekat dengan permukiman warga
  • Melestarikan vegetasi berakar kuat dan dalam di daerah berlereng terjal
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.