Laporan Kebencanaan Geologi, 30 November 2020

Logo_ESDM

 Hari ini, Senin, 30 November 2020, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 7 Oktober 2017 pukul 20:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya peningkatan kegempaan signifikan terutama gempa Tektonik Lokal (TL), Vulkanik Dalam (VA), dan Vulkanik Dangkal (VB) sejak pertengahan September 2017.

Gunung Api Ili Lewotolok (1.018 m dpl) mengalami erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus. Dan pada tanggal 29 November 2020 pukul 13:00 WITA tingkat aktivitas Gunungapi Ili Lewotolok dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Hasil pemantauan sehari terakhir, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-4000 meter dari puncak. Teramati 7 kali letusan dengan tinggi kolom abu 1400-4000 meter di atas puncak berwarna kelabu disertai lontaran material pijar diatas puncak. Pada malam hari teramati sinar api di area puncak. Terdengar suara dentuman dan gemuruh serta tercium bau belerang yang menyengat di Pos PGA Ili Lewotolok. Cuaca cerah, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara 25.3-28.1 °C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 7 kali Letusan/Erupsi
  • 9 kali Tremor Harmonik
  • 6 kali Tremor Non-Harmonik
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 9 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 2-25 mm (dominan 7 mm)

dan pada 30 November 2020 pukul 06:00 WITA tercatat:

  • 7 kali Letusan/Erupsi
  • 25 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 3-13 mm (dominan 6 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 4 km dari kawah puncak.
  • Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada di sekitar G. Ili Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit.
  • Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun   rekomendasi G. Ili Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).
  • Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Ili Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 10:00:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 5423  m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 13.5-25.9°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 49 kali gempa Guguran
  • 37 kali gempa Hembusan
  • 269 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 37 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Prakiraan daerah bahaya meliputi:
    • Provinsi DIY
      • Kab. Sleman. Kec. Cangkringan: Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor); Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem); Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari).
    • Provinsi Jawa Tengah
      • Kab. Magelang. Kecamatan Dukun: Desa Ngargomulyo (Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar); Desa Krinjing (Dusun Trayem, Pugeran, Trono); Desa Paten (Babadan 1, Babadan 2)
      • Kab. Boyolali. Kecamatan Selo: Desa Tlogolele (Dusun Stabelan, Takeran, Belang); Desa Klakah (Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur); Desa Jrakah (Dusun Jarak, Sepi)
      • Kab. Klaten. Kec. Kemalang: Desa Tegal Mulyo (Dusun Pajekan, Canguk, Sumur); Desa Sidorejo (Dusun Petung, Kembangan, Deles); Desa Balerante (Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang).
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III G. Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak G. Merapi.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan G. Merapi yang bisa terjadi setiap saat.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 21 Juni 2020, pukul 16:16:00 WIB. Erupsi tidak teramati. 

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur dan barat. Suhu udara sekitar 15.8-26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 77 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Harmonik
  • 21 kali gempa Low Frequency
  • 17 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 29 November 2020, pukul 18:11:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2860 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara, selatan dan barat daya. Suhu udara sekitar 25-28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 17 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara. Suhu udara sekitar 22-23°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 1 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 30 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 18 November 2020, pukul 06:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3876  m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga hujan, angin sedang hingga kencang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 24.3-25.2°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Low Frequency
  • 4 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-25 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati. 

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 4 November 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 400 m. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 26-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km. 

kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 28 November 2020, pukul 08:45:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 62 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 101 kali gempa Guguran
  • 41 kali gempa Hembusan
  • 38 kali gempa Harmonik
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu. 

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 November 2020, pukul 18:19:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara. Suhu udara sekitar 25-29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 22-23°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 26 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 17 Oktober 2020, pukul 06:09:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4605 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-400 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 10-18°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5 – 1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52:00 WIB. Erupsi tidak teramati. 

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 20-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 10 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 23-27°C.

Melalui rekaman seismograf pada 29 November 2020 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gempabumi

Gempa bumi di perairan barat Bengkulu

I. Informasi Gempa bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 29 November 2020, pukul 21:48 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,93° BT dan 4,97° LS (50 km baratdaya Kaur) dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 10 km. GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 102,94° BT dan 5,08° LS dengan kekuatan M4,9 dan kedalaman 60 km. The United States Geological Survey (USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 102,938° BT dan 4,973° LS, dengan magnitudo M4,7 pada kedalaman 58,3 km

II. Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Kegempaan di Pulau Sumatera sangat dipengaruhi oleh penunjaman Sunda di sebelah Barat P. Sumatera, Sesar mentawai, dan sesar Besar Sumatera. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa adalah pesisir barat Bengkulu. Secara litologi wilayah pesisir barat Bengkulu pada umumnya tersusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter dan Formasi Bintunan yang terdiri dari konglomerat aneka bahan, breksi, batugamping terumbu, batulempung tufan, berbatuapung, kayu terkersikkan berumur Pliatosen. Guncangan gempa bumi pada umumnya akan dirasakan lebih kuat pada wilayah yg disusun oleh batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.

III. Penyebab gempa bumi

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, sumber gempa bumi berada pada Lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Gempa bumi yang terjadi disebut juga gempa bumi intraslab.

IV. Dampak gempa bumi

Berdasarkan informasi dari BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Kaur dengan intensitas IV MMI (Modified Mercalli intensity), di Seluma dan Bengkulu dengan intensitas III - IV  MMI, di Kepahiang, Liwa dan Krui sebesar II - III MMI, serta di Sekincau sebesar I - II MMI. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi terkait kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

V. Rekomendasi

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

 

3. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   November  2020 dibandingkan Oktober 2020, potensinya  tetap tinggi di wilayah Indonesia a.n   Sumatera   wilayah sisi Barat mulai Aceh, Sumatera Utara hingga Lampung, Wilayah  Maluku serta   Papua. Sedangkan Jawa meningkat dengan sebaran potensi tinggi dari Banten , Jawa Barat , Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bali – Nusa Tenggara, Sulawesi Bagian Tengah meluas hingga ke Sulawesi Tenggara. Pada saat turun hujan  perlu  kewaspadaan  utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
  • Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak :

  • Tanggal 28/11/2020 jam 18.00 WITA,  gerakan tanah berupa longsoran pada tebing yang materialnya menimbun badan jalan mengakibatkan dua pengguna jalan yang tengah berboncengan dengan menggunakan sepeda motor menjadi korban tewas di tempat akibat tertimpa batu dari atas tebing di jalur jalan lintas Dompu- Sumbawa, di tanjakan nanga tumpu, Desa Nanga tumpu, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • Tanggal27/11/2020 jam 05.00 WIB, gerakan tanah berupa longsor bukit setinggi 4 meter mengakibatkan , bagian dapur disanggah kayu  ambruk yang terbawa longsor di Desa Blimbing, Kecamatan Pakuniran dan menimbun menimbun bagian dapur rumah Dusun Pucaksari, Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur.
  • Tanggal 28/11/2020) jam 14.40 WIB,  setelah hujan deras sejak pukul 13.00 WIB, gerakan tanah berupa  ambruknya tebing tangga setinggi 9 meter yang dibuat tangga untuk menuju rumah salah seorang warga ambruk mengakibatkan  material longsoran menimpa rumah warga lainnya yang berada di bawah tangga tersebut di Dusun Jatisari RT 4 RW 1, Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.
  • Tanggal 28/11/2020 petang hari hingga 29/11/2020 dini hari , gerakan tanah mengakibatkan akses jalan menuju desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkulu Selatan  longsor hingga memutus akses jalan masuk ke Desa Suban dan des terancam terancam terisolir di Desa Suban, Kecamatan Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu..

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana harus lebih waspada, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran, pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsoran susulan yang bisa menimpa petugas;
  • Tidak mendirikan dan/atau mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan lereng yang terjal;
  • Perkuatan pada lereng dengan memperhatikan kaidah-kaidah geologi teknik;
  • Agar masyarakat yang beraktivitas dan pengguna jalan di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor di daerah jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.