Laporan Kebencanaan Geologi, 27 November 2020

Logo_ESDM

Hari ini, Jumat 27 November 2020, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) sejak 7 Oktober 2017 pukul 20:00 WITA. Peningkatan status tingkat aktivitas ini dilatarbelakangi oleh adanya peningkatan kegempaan signifikan terutama gempa Tektonik Lokal (TL), Vulkanik Dalam (VA), dan Vulkanik Dangkal (VB) sejak pertengahan September 2017.

Gunung Api Ili Lewotolok (1.018 m dpl) mengalami erupsi pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dengan durasi erupsi tidak teramati jelas karena diikuti tremor menerus.

Hasil pemantauan sehari terakhir, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama umumnya berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 20 meter dari puncak. Teramati Cuaca cerah, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat daya. Suhu udara 29-33 °C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

  • 6 kali gempa Vulkanik Dalam

dan pada 27 November 2020 pukul 06:00 WITA tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 27 November 2020, pukul 05:57:00 WIB. Erupsi menerus berupa hembusan asap tebal kehitaman. Kolom abu bergerak ke arah barat. Aktivitas seismik ditandai dengan rekaman tremor menerus.

 

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 20-250 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 14-25°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      44 kali gempa Guguran

•      120 kali gempa Hembusan

•      309 kali gempa Hybrid/Fase Banyak

•      33 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

•          Prakiraan daerah bahaya meliputi:

  • Provinsi DIY
    • Kab. Sleman. Kec. Cangkringan: Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor); Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem); Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari).
  • Provinsi Jawa Tengah
    • Kab. Magelang. Kecamatan Dukun: Desa Ngargomulyo (Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar); Desa Krinjing (Dusun Trayem, Pugeran, Trono); Desa Paten (Babadan 1, Babadan 2)
    • Kab. Boyolali. Kecamatan Selo: Desa Tlogolele (Dusun Stabelan, Takeran, Belang); Desa Klakah (Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur); Desa Jrakah (Dusun Jarak, Sepi)
    • Kab. Klaten. Kec. Kemalang: Desa Tegal Mulyo (Dusun Pajekan, Canguk, Sumur); Desa Sidorejo (Dusun Petung, Kembangan, Deles); Desa Balerante (Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang).

•          Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.

•          Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III G. Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak G. Merapi.

•          Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan G. Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

•          Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 21 Juni 2020, pukul 16:16:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 17-27°C. Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      53 kali gempa Guguran

•      7 kali gempa Hembusan

•      24 kali gempa Low Frequency

•      1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak

•      2 kali gempa Vulkanik Dalam

•      3 kali gempa Tektonik Jauh

•      1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

•      Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

•      Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.

•      Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2020, pukul 17:43:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah tenggara, barat daya dan selatan. Suhu udara sekitar 25-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      86 kali gempa Hembusan

•      Tremor Menerus, amplitudo 0.25-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

•      Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.

•      Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

•      Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 16 Juli 2020, jumlah Gempa Hembusan yang terekam pada G. Raung mengalami kenaikkan, diikuti oleh kemunculan jenis gempa vulkanik lainnya (Tremor dan Letusan), dan disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 17 Juli 2020 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 11 Agustus 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara dan selatan. Suhu udara sekitar 21-35°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      1 kali gempa Tektonik Lokal

•      8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat/pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 Km dari kawah puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Juli 2020, pukul 15:49:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3532  m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut.  Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur. Suhu udara sekitar 21-28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      2 kali gempa Guguran

•      3 kali gempa Hembusan

•      1 kali gempa Vulkanik Dangkal

•      1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

•      Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.

•      Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 18 November 2020, pukul 06:34:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3876  m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 25-100 meter dari puncak. Cuaca mendung hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 24.1-25.9°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      5 kali gempa Low Frequency

•      Tremor Menerus, amplitudo 1-19 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 4 November 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 400 m. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah  ke arah timur. Suhu udara sekitar 26-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      1 kali gempa Tektonik Jauh

•      Tremor Menerus, amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2020, pukul 12:32:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1629  m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      63 kali gempa Letusan/Erupsi

•      124 kali gempa Guguran

•      60 kali gempa Hembusan

•      50 kali gempa Harmonik

•      1 kali gempa Vulkanik Dalam

•      1 kali gempa Terasa

•      5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 November 2020, pukul 07:25:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2125  m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 25-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      4 kali gempa Hembusan

•      1 kali gempa Harmonik

•      5 kali gempa Vulkanik Dalam

•      3 kali gempa Tektonik Lokal

•      1 kali gempa Terasa

•      7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

•      Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama

•      Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 22-23°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      85 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

•      Masyarakat disekitar gunungapi Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).

•      Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 16 Oktober 2020, pukul 03:40:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4492 m di atas permukaan laut atau sekitar 687 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur laut.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah selatan, barat daya dan barat laut. Suhu udara sekitar 10-20°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      Tremor Menerus, amplitudo 0.5 – 1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

•      Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.

•      Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 19-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      23 kali gempa Guguran

Rekomendasi:

•      Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.

•      Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu.

•      Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 22–29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 26 November 2020 tercatat:

•      Kegempaan nihil

Rekomendasi:

•      Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.

•      Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   November  2020 dibandingkan Oktober 2020, potensinya  tetap tinggi di wilayah Indonesia a.n   Sumatera   wilayah sisi Barat mulai Aceh, Sumatera Utara hingga Lampung, Wilayah  Maluku serta   Papua. Sedangkan Jawa meningkat dengan sebaran potensi tinggi dari Banten , Jawa Barat , Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bali – Nusa Tenggara, Sulawesi Bagian Tengah meluas hingga ke Sulawesi Tenggara. Pada saat turun hujan  perlu  kewaspadaan  utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

•      Kabupaten Agam, Provinsi  Sumatera Barat

•      Kabupaten Bangli, Provinsi Bali

•      Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

•      Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat

•      Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

•      Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi  Sumatera Barat

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga karena kemiringan lereng yang terjal, serta dipicu oleh curah hujan tinggi. Saat ini material longsor sudah dibersihkan dan arus lalu lintas mulai beranjak normal.

Dampak :

•      Tanggal 26 November 2020 sekitar pukul 04:00 WIB, Gerakan tanah berupa longsoran tanah yang terjadi di tebing jalan mengakibatkan badan jalan tertimbun material longsoran setinggi 2 meterdi Jalan Lingkar Sumatera (Jalinsum) Bukittinggi-Lubuk Sikaping KM 05 dan KM 12, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi  Sumatera Barat

•      Tanggal 25 November 2020 sekitar pukul 14:00 WITA,  gerakan tanah Gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan yang terjadi di lereng jalan sepanjang 8 meter dengan tinggi 5 meter mengakibatkan  akses jalan terancam putus dan bahu jalan longsor di Jalan Umum Penelokan-Kintamani, Banjar Taksu, Desa Batur Selatan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali

•      Tanggal 26 November 2020 sekitar pukul 05:30 WIB, gerakan tanah tanah berupa longsoran tanah pada tebing jalan sehingga badan jalan sepanjang 10 meter tertimbun material longsoran setinggi 1 meter mengakibatkan badan jalan tertimbun sehingga akses kedua arah terputus di Jalan Lingkar Sumatera (Jalinsum) Bukittinggi-Medan KM 07 ruas Padang Hijau, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

•      Tanggal 25 November 2020, gerakan tanah berupa longsoran tanah pada lereng jalan, mengakibatkan bahu jalan amblas dan akses lintas kabupaten terancam di Jalan Lintas Pontianak-Putussibau, Desa Sulang, Kecamatan Pengkadan, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat

•      Tanggal 25 November 2020 sore hari, gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing jalan sehingga badan jalan sepanjang 15 meter (Desa Bugel) dan 10 meter (Desa Cipondoh) tertimbun material longsoran mengakibatkan akses jalan terputus di Kampung Cipulus, Desa Bugel dan Kampung Margasari, Desa Cipondoh, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

•      Tanggal 25 November 2020 malam hari, gerakan tanah berupa longsoran tanah pada tebing di permukiman mengakibatkan 3 rumah rusak berat  di Korong Duku, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi  Sumatera Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

•      Masyarakat yang beraktivitas dan para pengguna jalan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.

•      Tidak berhenti atau memarkir kendaraan di bawah lereng terjal terutama pada lokasi yang pernah terjadi longsor.

•      Membuat buffer antara jalan dengan lereng terjal atau membangun tembok penahan tebing/talud pada lereng terjal di sepanjang jalan, terutama pada lokasi yang pernah longsor.

•      Memasang garis pengaman dan segera melakukan perbaikan bahu jalan. Proses perbaikan jalan agar mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap gerakan tanah susulan. Hentikan pengerjaan jika hujan deras turun.

•      Membangun tembok penahan tebing atau perkuatan lereng lainnya agar gerakan tanah susulan dapat dicegah dan gerakan tanah tidak berkembang lebih jauh.

•      Menghindari aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng seperti pemotongan lereng terlalu tegak tanpa kaidah keteknikan, melakukan penebangan pohon di lereng terjal atau membuat lahan basah di lereng terjal.

•      Warga yang terdampak agar mengungsi sementara hingga ada penanganan dan dinyatakan aman oleh pemerintah daerah setempat.

•      Proses evakuasi korban dan pembersihan material longsoran agar selalu mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap longsor susulan. Hentikan kegiatan saat hujan deras turun.

•      Membuat buffer antara permukiman dengan lereng terjal. Kamar tidur diupayakan agar berada pada bagian rumah yang paling jauh dari lereng terjal.

•      Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.

•      Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.