Laporan Kebencanaan Geologi, 18 November 2020

Logo_ESDM

Hari ini, Rabu 18 November 2020, Bencana Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunung Api

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12:00 WIB. Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, barat dan barat laut. Terdengar 1 kali suara guguran dari PGM Kaliurang pada pukul 04:26 wib dengan intensitas sedang. Guguran teramati 1 kali ke K.Trising,Senowo jarak 500 meter. Suara guguran terdengar sedang 2 kali dari Babadan,Nihil, suara guguran terdengar 3 kali lemah hingga keras. Suhu udara sekitar 15 – 30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 60 kali gempa Guguran
  • 42 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 275 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 38 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Prakiraan daerah bahaya meliputi:
    • Provinsi DIY
      • Kab. Sleman. Kec. Cangkringan: Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor); Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem); Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari).
    • Provinsi Jawa Tengah
      • Kab. Magelang. Kecamatan Dukun: Desa Ngargomulyo (Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar); Desa Krinjing (Dusun Trayem, Pugeran, Trono); Desa Paten (Babadan 1, Babadan 2)
      • Kab. Boyolali. Kecamatan Selo: Desa Tlogolele (Dusun Stabelan, Takeran, Belang); Desa Klakah (Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur); Desa Jrakah (Dusun Jarak, Sepi)
      • Kab. Klaten. Kec. Kemalang: Desa Tegal Mulyo (Dusun Pajekan, Canguk, Sumur); Desa Sidorejo (Dusun Petung, Kembangan, Deles); Desa Balerante (Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang).
  • Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di G. Merapi dalam KRB III direkomendasikan untuk dihentikan.
  • Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III G. Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak G. Merapi.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan G. Merapi yang bisa terjadi setiap saat.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

 VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 21 Juni 2020, pukul 16:16:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

 

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas diturunkan menjadi Level III (Siaga) sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB. Gunung Api Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 16 – 26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 24 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 November 2020, pukul 16:50:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4460 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak. Abu vulkanik teramati terbawa angin ke arah timur-tenggara. Luncuran awan panas teramati sejauh 2500 m ke arah tenggara 

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunung api Karangetang (1784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Asap kawah dua putih sedang-tebal, tinggi 50m. Suara gemuruh terdengar lemah-sedang. Asap kawah dua putih sedang, tinggi  50m. Suhu udara 25–31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 10 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tremor Non Harmonik
  • 4 kali gempa Tremor menerus Amaks 0.5-3 mm, (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. 

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 16 Juli 2020, jumlah Gempa Hembusan yang terekam pada G. Raung mengalami kenaikkan, diikuti oleh kemunculan jenis gempa vulkanik lainnya (Tremor dan Letusan), dan disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 17 Juli 2020 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 11 Agustus 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. 

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara dan selatan. Suhu udara 21–40°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat/pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 Km dari kawah puncak. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Juli 2020, pukul 15:49:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3532  m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung, angin lemah ke arah selatan. Letusan asap,hembusan asap secara visual tidak teramati karena gunung kebanyakan tertutup kabut. Suhu udara 23–27°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 73 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 12 November 2020, pukul 09:21:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3976 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak dan terbawa angin ke arah selatan.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat laut. Visual dari cctv lava93 jelas, teramati asap putih tipis-tebal tinggi 25-100m. Ombak laut tenang. Suhu udara sekitar 24–28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-5 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 4 November 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 400 m. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat. Aktifitas kawah teramati pagi hari asap mengarah ke barat daya. Suhu udara sekitar 26–32°C.
Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 November 2020, pukul 08:03:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak dan terbawa angin ke arah selatan.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 200-800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 60 kali gempa Letusan
  • 31 kali gempa Guguran
  • 52 kali gempa Hembusan
  • 33 kali gempa Tremor Harmonik
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 November 2020, pukul 09:40:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak dan terbawa angin ke arah selatan.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat laut. Suhu udara 25–31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Tremor Harmonik
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 17 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci  (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 19–26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 20 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Terasa

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 16 Oktober 2020, pukul 03:40:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4492 m di atas permukaan laut atau sekitar 687 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur laut.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 9–20°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5 – 1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo.
  • Masyarakat di sekitar G. Bromo, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Bromo agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba - tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 19 – 32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 18 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tremor Harmonik
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 23–29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 November 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gempabumi

Gempa bumi di Perairan Barat Kep. Mentawai, Sumatera Barat

I. Informasi Gempa bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 17 November 2020, pukul 08:44 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,07° BT dan 2,87° LS (112 km baratdaya Tuapejat, Kep. Mentawai) dengan magnitudo M6,3 pada kedalaman 10 km. GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 99,33° BT dan 2,84° LS dengan kekuatan M5,9 dan kedalaman 10 km. The United States Geological Survey (USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,307° BT dan 2,702° LS, dengan magnitudo M5,8 pada kedalaman 10 km.

II. Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di perairan barat Kepulauan Mentawai. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Wilayah yang berdekatan dengan sumber gempa bumi adalah Kepulauan Mentawai yang disusun oleh batuan bancuh berumur Pra-Tersier dan batuan sedimen berumur Tersier. Guncangan gempa kemungkinan juga dirasakan di wilayah Sumatera Barat yang dominan disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan Kuarter serta batuan Vulkanik Kuarter. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

III. Penyebab gempa bumi

Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Gempa bumi ini merupakan gempa bumi interface yang terjadi pada bidang gesek antara kedua lempeng tersebut.

IV. Dampak gempa bumi

Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan G. Talang (Kec. Lembang Jaya, Kab. Batu Bajanjang, Sumatera Barat), guncangan gempa bumi dirasakan di lokasi tersebut dengan intensitas II MMI (Modified Mercalli Intensity). Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Padang, Painan, dan Sipora (Kep. Mentawai) dengan intensitas III-IV MMI, di Padang Panjang, Bukittinggi, Pariaman, dan Kepahiang sebesar III-IV MMI, serta di Pasaman, Kerinci, Payakumbuh, dan Solok Selatan sebesar I-II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi terkait kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

V. Rekomendasi

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

 

3. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan   November  2020 dibandingkan Oktober 2020, potensinya  tetap tinggi di wilayah Indonesia a.n   Sumatera   wilayah sisi Barat mulai Aceh, Sumatera Utara hingga Lampung, Wilayah  Maluku serta   Papua. Sedangkan Jawa meningkat dengan sebaran potensi tinggi dari Banten , Jawa Barat , Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bali – Nusa Tenggara, Sulawesi Bagian Tengah meluas hingga ke Sulawesi Tenggara. Pada saat turun hujan  perlu  kewaspadaan  utamanya di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
  • Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat
  • Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat
  • Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  • Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah

Dampak :

  • Tanggal 17 November 2020 sekitar pukul 03.00 WIB , gerakan tanah mengakibatkan tebing tanah dengan ketinggian sekitar 50 meter menimbun dua rumah warga. 3 orang penghuni rumah ditemukan meninggal dunia dan 1 orang masih dalam pencarian  4 KK yang diungsikan sementara ke daerah yang aman karena berdekatan dengan lokasi bencana di Dukuh Kalicawang, Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh,  Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  • Tanggal 16 November 2020 malam hari hingga Selasa 17 November 2020 dini hari,gerakan tanah mengakibatkan beberapa bangunan rusak akibat tertimbun material longsor di 9 Desa dalam 2 Kecamatan. Kecamatan Cimanggu terjadi di Desa Panimbangan sedangkan Kecamatan Karangpucung terjadi di Desa Karangpucung, Sindangbarang, Gunungtelu, Tayem Timur, Ciporos, Tayem, Bengbulang, Pangawaren dan Cidadap, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah
  • 17 November 2020 sekitar pukul 05.30 WIB , gerakan tanah mengakibatkan sawah dan kebun longsor sehingga menimbun Jalan Gadog penghubung Desa Puspamukti dan Jayapura di Kampung Gadog, Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang,Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
  • Tanggal 17 November 2020, gerakan tanah mengakibatkan areal pesawahan  milik 8 orang warga mengalami longsor di Blok Sawah Peuteuy, Dusun Citarunggang, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat
  • Tanggal 17 November 2020, gerakan tanah mengakibatkan tebing jalan longsor dan mengganggu akses kendaraan bermotor yang melintas karena sebagian badan jalan tertutup material longsoran di Jalan Priagung di tempat Wisata Lembah Pajamben, Dusun Priagung, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat
  • Tanggal 17 November 2020 sekitar pukul 04.00 WIB, gerakan tanah pada 8 titik longsor  mengakibatkan 2 rumah rusak berat, 14 rumah rusak ringan, 5 rumah terancam longsor dan 12 warga diungsikan sementara di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
  • Tanggal 17 November 2020 sekitar pukul 02.00 WIB, gerakan tanah mengakibatkan akses jalan tidak bisa dilewati kendaraan bermotor karena tertutup material longsoran sebanyak 11 titik di Jalan Provinsi yang menghubungkan Kabupaten Kebumen dengan Banjarnegara  di Desa Sampang, Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;

  • Pemilik rumah yang mengalami kerusakan dan masyarakat sekitar yang lokasi bangunannya berada di lokasi bencana sebaiknya mengungsi ketempat yang lebih aman karena berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Membersihkan material longsoran dan pencarian korban yang diduga masih tertimbun material longsoran, harap mengutamakan faktor keselamatan karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing;
  • Tidak membangun bangunan dengan jarak berdekatan dengan tebing yang curam/terjal;
  • Tidak memotong lereng untuk mendirikan bangunan
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah disepanjang jalur yang berpotensi terjadinya longsor untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Dalam pemasangan pipa air untuk saluran irigasi di lokasi bencana harap memperhatikan factor keselamatan terutama pada saat turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran susulan;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah disepanjang jalur yang berpotensi terjadinya longsor untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.