Laporan Kebencanaan Geologi, 10 Agustus 2020

Logo_ESDM

Hari ini, Senin, 10 Agustus 2020, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sebagai berikut:

1. Gunungapi

Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10:00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). Gunungapi Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 8 Agustus 2020, berupa letusan freatik menghasilkan tinggi kolom erupsi 1000 meter di atas puncak. Warna kolom erupsi teramati kelabu hingga coklat.

Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 39 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Low Frekwensi
  • 1 kali gempa Tornilo
  • 1 kali gempa Tremor Menerus amplitudo 2-25 mm dominan 2mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 8 Agustus 2020, pukul 17:18 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). Gunungapi Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 meter di atas puncak.

Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah nihil. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Guguran
  • 8 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Jybrid/Fase Banyak
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.25-0.5 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunung Api Raung (Jawa Timur)

Sejak tanggal 16 Juli 2020, jumlah Gempa Hembusan yang terekam pada G. Raung mengalami kenaikkan, diikuti oleh kemunculan jenis gempa vulkanik lainnya (Tremor dan Letusan), dan disertai adanya perubahan pada tinggi kolom hembusan gas/abu dan warna kolom hembusan. Maka sejak tanggal 17 Juli 2020 tingkat aktivitas G. Raung dinaikan menjadi Level II (Waspada). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 01 Agustus 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 100-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 38 kali gempa Hembusan
  • 193 kali gempa Tremor Non-Harmonik
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat/pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 Km dari kawah puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 16 Juli 2020, pukul 15:49 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3532 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak, bergerak ke utara.

 

Gunung Api Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Agustus 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah utara, timur laut dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 45 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1kali gempa Harmonik
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 8 Agustus 2020, pukul 06:18 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3976 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak bergerak ke barat.

 

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah utara, timur laut dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 1-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 April 2020, pukul 17:51 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunungapi Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 meter di atas puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah timur, barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 9 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekwensi
  • 14 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonil Lokal

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 21 Juni 2020, pukul 16:16 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 07 Agustus 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 400 m dari puncak. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • (1)Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • (2)Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 09 Agustus 2020, pukul 10:34 WIT. Ketinggian maksimum Abu vulkanik 400 meter dari puncak, mengarah ke barat.

 

Gunung Api Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 05 Agustus 2020 dengan tinggi kolom erupsi maksimum 800 meter dari puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 800 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan selatan.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 83 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 58 kali gempa Guguran
  • 177 kali gempa Hembusan
  • 42 kali gempa Harmonik
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/ wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 5 Agustus 2020, pukul 17:50 WIT. Abu vulkanik teramati setinggi 500 meter dari puncak bergerak ke arah utara.

 

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunungapi Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018, yang merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna cokelat dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 300-600 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin sedang hingga kencang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 79 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 9 Agustus 2020, pukul 04:40 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4405 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, bergerak ke arah timur dan timur laut.

 

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunung Api Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 290 kali gempa Hembusan
  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 28 Januari 2020, pukul 08:10 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3528 m di atas permukaan laut atau sekitar 100 m di atas puncak.

 

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 meter di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 22 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 15 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

 

Gunung Api Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 30 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat.

Melalui rekaman seismograf pada 09 Agustus 2020 tercatat:

  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

2. Gempabumi

Gempa bumi di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT

Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Minggu tanggal 9 Agustus pukul 11:52:52 WIB. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 118,94° BT dan 9,82° LS, dengan magnitudo (M5,0) pada kedalaman 10 km dan berjarak sekitar 53,6 km barat daya Kota Tambolaka (ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur). Menurut data The United States Geological Survey (USGS) lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 118,890° BT dan 9,704° LS, dengan magnitudo (M4,9) pada kedalaman 10 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ) lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 118,72° BT dan 9,96° LS, dengan magnitudo (M5,0) pada kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Lokasi pusat gempa bumi terletak di perairan selatan Kabupaten Sumba Barat Daya. Wilayah tersebut pada umumnya disusun oleh batuan berumur Tersier yang terdiri-dari batuan sedimen, batugamping dan batuan rombakan gunung api serta endapan Kuarter yang terdiri-dari endapan pantai dan endapan aluvial. Sebagian batuan berumur Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan tersebut pada umumnya bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan akan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi: Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GFZ Jerman, maka serangkaian kejadian gempa bumi tersebut berasosiasi dengan aktivitas sesar normal. Sebelumnya pada tanggal 5 Agustus 2020 dan 8 Agustus 2020 terjadi gempa bumi di sekitar lokasi pusat gempa bumi tanggal 9 Agustus 2020 yang juga diakibatkan oleh sesar normal. Sesar normal tersebut diperkirakan terbentuk akibat proses penunjaman antara lempeng Indo-Australia dan mikro kontinen pada akhir Jaman Kapur di selatan Pulau Sumba.

Dampak gempa bumi: Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada laporan tentang kerusakan bangunan dan korban jiwa akibat kejadian gempa bumi ini. Menurut BMKG guncangan gempa bumi di daerah pantai selatan Kabupaten Sumba Barat Daya diperkirakan pada skala III – IV MMI (Modified Mercally Intensity). Kejadian gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami karena meskipun pusat gempa bumi terletak di laut, namun tidak memicu deformasi pada morfologi laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPPD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak jelas sumbernya mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan dengan kekuatan lebih kecil.