Laporan Kebencanaan Geologi, 25 Februari 2020

Logo_ESDM

Hari ini, Selasa, 25 Februari 2020, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sebagai berikut :

1. Gunungapi

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terkini terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati putih.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat daya. Suhu udara sekitar 26-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 4 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,25-0,5 mm (dominan 0,5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (Kawah Selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah barat laut-utara sejauh 4 km. Dan dari Kawah Utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13.32.00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 dan tingkat aktivitasnya sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB adalah Level III (Siaga). Letusan terkini terjadi pada tanggal 10 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m. Warna kolom abu teramati hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah timur, barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 16-28°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Low Frequency
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik, mengamankan sarana air bersih, serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 Juni 2019, pukul 15.21.00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 19-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat: 2 kali Gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01.48.00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 14 Februari 2020 dengan tinggi kolom tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah nihil. Cuaca mendung hingga hujan, angin lemah ke arah utara, timur laut, selatan, dan barat. Suhu udara sekitar 23-24°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 5 kali Gempa Letusan
  • 13 kali Gempa Guguran
  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 7 Februari 2020, pukul 05.12.00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.076 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terkini terjadi pada tanggal 11 Februari 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur, selatan, barat laut, dan barat. Suhu udara sekitar 25.9-30,5°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat: 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0,5-4 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 11 Februari 2020, pukul 10.06.00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Februari 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 30-150 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara sekitar 15-29°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 5 kali Gempa Guguran
  • 3 kali Gempa Low Frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awan panas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274)514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twitter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Februari 2020, pukul 05.43.00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.968 m di atas permukaan laut atau sekitar 2.000 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Februari 2020 dengan tinggi kolom 300 m.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arahselatan dan barat. Suhu udara sekitar 26-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Februari 2020, pukul 21.01.00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Cuaca cerah, berawan sampai hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan selatan. Teramati asap berwarna putih - kelabu, intensitas tipis hingga tebal, tekanan lemah hingga sedang dan tinggi 200 - 800 meter dari atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 70 kali Gempa Letusan
  • 90 kali Gempa Hembusan
  • 48 kali Gempa Guguran
  • 7 kali Gempa Low Frequency
  • 9 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA: VONA terkini terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Februari 2020 pukul 11.13 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terkini terjadi pada tanggal 10 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 10 m. Warna kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara. Suhu udara sekitar 26-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19.26.00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 24 Januari 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 150-300 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin sedang hingga kencang ke arah barat daya. Suhu udara sekitar 21-23°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 85 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada di puncak G. Kerinci dalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas di dalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan di sekitar G. Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 17 Februari 2020, pukul 11.53 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4.205 meter di atas permukaan laut atau sekitar 400 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah utara, timur laut, dan timur. Suhu udara sekitar 10-20°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18.52.00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah selatan. Suhu udara sekitar 22,9-24,6°C.

Melalui rekaman seismograf pada 24 Februari 2020 tercatat:

  • 193 kali Gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-4 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 28 Januari 2020, pukul 08.10.00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.528 m di atas permukaan laut atau sekitar 100 m di atas puncak.

 

2. Gempabumi

Gempa bumi di Kep. Mentawai, Sumatera Barat

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 25 Februari 2020, pukul 03:59 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,92° BT dan 1,90° LS, dengan magnitudo M5,1 pada kedalaman 10 km, dengan lokasi berjarak 39 km timurlaut Tua Pejat, Kepulauan Mentawai. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 99,85° BT dan 2,06° LS dengan kekuatan M4,8 dan kedalaman 38 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,872° BT dan 1,969° LS, dengan magnitudo M4,8 pada kedalaman 36,5 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di perairan timur Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Gempa bumi ini merupakan gempa bumi interface yang terjadi pada bidang gesek antara kedua lempeng tersebut.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Tua Pejat, Siberut, dan Padang dengan intensitas III MMI serta di Pesisir Selatan, Bukittinggi dan padang Panjang dengan intensitas II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi terkait kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

 

3. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Februari 2020 dibandingkan   Januari 2020 , potensinya tetap tinggi di wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga   di wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat dan Lampung, seluruh P Jawa bagian tengah, Wilaya Kalimantan Tengah bagian Utara, Kalimantan Timur bagian Barat, Kalimantan Selatan, seluruh P.Sulawesi , Bali, Nusa Tenggara Barat , Nusa Tenggara Timur, Maluku , Papua dan Papua barat. Utamanya saat musim di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
  2. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

Penyebab : Penyebab terjadinya gerakan tanah tersebut diperkirakan karena tanah pelapukan yang gembur dan sarang, kemiringan lereng yang terjal serta curah hujan yang tinggi sebagai pemicu terjadinya longsor.

Dampak : satu orang meninggal dunia di Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan; Jalan Desa terputus tanah ambles dan satu unit rumah terkena material longsor, ti Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Segera membersihkan material longsoran dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan jiwa.
  • Menjaga Fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air dengan mengikuti kaidah geologi teknik
  • Memasang rambu-rambu peringatan rawan gerakan tanah.
  • Tidak mendirikan pemukiman di atas, di bawah dan pada lereng yang terjal
  • masyarakat yang berada/ bermukim di dekat dari lokasi bencana selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.