Laporan Kebencanaan Geologi, 18 Februari 2020

Logo_ESDM

Hari ini, Selasa,18 Februari 2020, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sebagai berikut :

1. Gunungapi

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terkini terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan, angin lemah ke arah barat daya. Suhu udara sekitar 28-32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 8 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25-1 mm (dominan 0.5 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terkini terjadi pada tanggal 10 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 16-26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 Juni 2019, pukul 15:21:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 19-25°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 14 Februari 2020 dengan tinggi kolom tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 23-24°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 6 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 7 Februari 2020, pukul 05:12:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4076 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terkini terjadi pada tanggal 11 Februari 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat daya. Suhu udara sekitar 25-28.5°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 5 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 11 Februari 2020, pukul 10:06:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Februari 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 10 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, tenggara dan selatan. Suhu udara sekitar 14-30.8°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 4 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Februari 2020, pukul 05:43:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4968 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Februari 2020 dengan tinggi kolom 300 m.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya. Suhu udara sekitar 20-40°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-8 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Februari 2020, pukul 21:01:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Cuaca cerah, berawan sampai hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan selatan. Teramati asap berwarna putih - kelabu, intensitas tipis hingga tebal, tekanan lemah hingga sedang dan tinggi 200 - 800 meter dari atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 85 kali gempa Letusan
  • 65 kali gempa Hembusan
  • 9 kali gempa Guguran
  • 32 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA: VONA terkini terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Februari 2020 pukul 20:19 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terkini terjadi pada tanggal 10 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 10 m. Warna kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 10-25 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan. Suhu udara sekitar 25-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 24 Januari 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna cokelat dengan intensitas tebal tinggi sekitar 400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang hingga kencang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 21-23°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 40 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-2 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 17 Februari 2020, pukul 11:53 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4205 meter di atas permukaan laut atau sekitar 400 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah tenggara, selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 9-19°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat: Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 22-25.9°C.

Melalui rekaman seismograf pada 17 Februari 2020 tercatat:

  • 149 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-5 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 28 Januari 2020, pukul 08:10:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3528 m di atas permukaan laut atau sekitar 100 m di atas puncak

 

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Februari 2020 dibandingkan   Januari 2020 , potensinya tetap tinggi di wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga   di wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat dan Lampung, seluruh P Jawa bagian tengah, Wilaya Kalimantan Tengah bagian Utara, Kalimantan Timur bagian Barat, Kalimantan Selatan, seluruh P.Sulawesi , Bali, Nusa Tenggara Barat , Nusa Tenggara Timur, Maluku , Papua dan Papua barat. Utamanya saat musim di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
  2. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
  5. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  6. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah.

Dampak : tiga rumah terdampak longsor di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; 2 ruangan SDN 2 Gunung Bentang, rusak di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat; akses jalan terhambat di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat; 5 rumah dan satu masjid terancam di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat; akses jalan terhambat di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah dan di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur; tembok rumah rusak di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi :

  • Pemilik rumah yang rumahnya rusak dan masih terancam harap mengungsi sementara kete tempat yang lebih aman dari bencana gerakan tanah/tanah longsor.
  • 2 (dua) unti ruangan sekolah yang mengalami kerusakan sebaiknya sementara waktu tidak difungsikan sebelum dinyatakan benar-benar aman;
  • Untuk seluruh civitas akademik terutama para siswa/i agar lebih berhati-hati dan selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
  • Masyarakat di sekitar lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya Gerakan tanah susulan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Mengatur drainase atau aliran permukaan dengan baik;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat..