Laporan Kebencanaan Geologi, 09 Februari 2020

Logo_ESDM

Hari ini, Minggu 9 Februari 2020, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sebagai berikut :

1. Gunungapi

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terkini terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati.

Gunung api tertutup tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah tenggara dan barat laut. Suhu udara sekitar 26-30°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 23 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornilo
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 14 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali gempa Vilkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh
  • 4 kali Tremor menerus, amplituda maks 0,5 - 1 mm dominan 0.5 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. 

 

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terkini terjadi pada tanggal 10 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 5000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 17-25°C

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 Juni 2019, pukul 15:21:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

 

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terkini terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara 21 - 33°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat: Kegempaan Nihil

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Juni 2019, pukul 01:48:00 WITA. Erupsi tidak teramati. 

 

Gunungapi Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 3 Februari 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 400 m. Warna kolom abu teramati putih condong ke arah utara.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah nihil. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut dan timur. Suhu udara 23 - 26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 68 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 9 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • (1). Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • (2). Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 5 Februari 2020, pukul 06:30:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3976 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak. 

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019.

Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut, timur dan barat laut. Suhu udara sekitar 24.5-29.7°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 3 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 2 kali gempa Htbrid/Fase Banyak
  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-16 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah 

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 08 Februari 2020, pukul 18:11:00 WIB. Erupsi tercatat di seismogram dengan gempa tremor yang menerus. Abu vulkanik tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 1000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 20 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga kencang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 15 - 31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 2 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 18 kali gempa Low Frequency
  • 41 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 17 November 2019, pukul 10:54:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 24 Januari 2020 dengan tinggi kolom 800 m.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-200 meter dari puncak. Cuaca cerah, angin lemah ke arah barat daya. Suhu udara sekitar 26 - 32°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat: 1 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-12 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 06 Februari 2020, pukul 17:37:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1589 meter di atas permukaan laut atau sekitar 360 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Cuaca cerah, berawan sampai hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan selatan. Teramati asap berwarna putih - kelabu, intensitas tipis hingga tebal, tekanan lemah hingga sedang dan tinggi 200 - 800 meter dari atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 79 kali gempa Letusan
  • 70 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Guguran
  • 36 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu. 

VONA: VONA terkini terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 03 Desember 2019 pukul 10.31 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara. 

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terkini terjadi pada tanggal 10 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 10 m. Warna kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat daya. Suhu udara sekitar 26-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Harmonik
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 24 Januari 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati kelabu.

Gunung api tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga hujan, angin sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 22.00-23.00°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 44 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-15 mm (dominan 4 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 1 Februari 2020, pukul 18:36:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4105 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. 

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terkini terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur, tenggara, selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 10 - 19°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat: Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo 

VONA: VONA terkini terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang hingga tebal tinggi sekitar 25-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur, selatan dan barat. Suhu udara sekitar 21.8 - 25.4°C.

Melalui rekaman seismograf pada 8 Februari 2020 tercatat:

  • 195 kali gempa Hembusan
  • 4 kali Tremor Menerus, amplitudo 0.5-6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA: VONA terkini terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 28 Januari 2020, pukul 08:10:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3528 m di atas permukaan laut atau sekitar 100 m di atas puncak.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Februari 2020 dibandingkan   Januari 2020 , potensinya tetap tinggi di  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga   di wilaya  Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat dan Lampung, seluruh P Jawa bagian tengah,  Wilaya Kalimantan Tengah bagian Utara, Kalimantan Timur bagian Barat, Kalimantan Selatan, seluruh P.Sulawesi  , Bali, Nusa Tenggara Barat , Nusa Tenggara Timur, Maluku ,  Papua dan Papua barat. Utamanya saat musim di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  • Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.
  • Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.

Penyebab : Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan akibat hujan besar dan berlangsung lama, kemiringan lereng terjal, sehingga lereng menjadi tidak stabil dan  kemiringan lereng talud/turap terjal
Dampak : akses jalan terhambat di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, rumah rusak di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi :

  • Agar Masyarakat yang tinggal disekitar wilayah bencana lebih waspada karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Material longsoran segera dibersihkan.
  • Menata aliran permukaan/drainase pada lereng tersebut dengan saluran yang kedap air serta membangun gorong gorong
  • Tidak mengembangkan bangunan pada lereng yang terjal dan terlalu dekat dengan tebing;
  • Tidak beraktifitas dibawah tebing atau lereng terjal ketika hujan atau setelah turun hujan lebat
  • Tidak melakukan penggundulan hutan 
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

 

3. Gempabumi

Gempa bumi di baratlaut Seram Bagian Timur, Maluku 
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 8 Februari 2020, pukul 13:36:45 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 2,82 °LS dan 129,87°BT, dengan magnituda 5,6  pada kedalaman 12 km, berada di 75 km baratlaut Seram Bagian Timur  Maluku.Menurut GFZ, German pusat gempa bumi berada pada koordinat 2,88o LS dan  129,96o BT, dengan magnitudo 5.4 Mw (moment magnitude) pada kedalaman 10 km.
Kondisi geologi daerah terkena gempabumi: Goncangan gempa bumi diperkirakan terasa di P. Seram. Daerah tersebut disusun oleh endapan Kuarter (endapan pantai dan sungai), batuan Tersier (batugamping dan batuan sedimen). Sebagian batuan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan sedimen Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat, urai, lepas, belum kompak dan bersifat memperkuat efek goncangan, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi. 
Penyebab Gempa Bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas North Seram Thrust di sebelah utara Pulau Seram. 
Dampak Gempa Bumi: Belum ada laporan kerusakan bangunan ataupun korban jiwa yang disebabkan gempa bumi ini. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.