G. Raung - Sejarah Letusan

SEJARAH LETUSAN

Sejarah kegiatan G. Raung yang pertama kali diketahui terjadi pada tahun 1586, berupa letusan dahsyat melanda beberapa daerah dan terdapat korban manusia, berikutnya ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Tahun letusan 

Keterangan
1586 Terjadi letusan dahsyat dan diketahui adanya korban manusia (Verbeek dan Fennema, 1896)
1597 Letusan yang serupa dalam letusan 1586 dan dicatat adanya korban manusia
1638 Terjadi letusan dahsyat, kemudian diikuti dengan banjir besar dan aliran lahar yang melanda daerah antara K. Stail dan K. Klatak. Korban manusia mencapai ribuan orang. Saat itu berdiri Kerajaan Macan Putih di bawah Pangeran Tawangulun (Brouwer, 1913, p. 60-65)
1730 Letusan abu yang dibarengi dengan lahar yang melanda wilayah yang cukup luas dan dilaporkan banyak korban manusia
1787 - 1799 Letusan terjadi pada waktu pemerintah Residen Harris, tidak diketahui adanya keterangan lebih lanjut.
1800 - 1808 Letusan terjadi pada waktu pemerintahan Residen Malleod, tidak diketahui adanya keterangan lebih lanjut.
1812 - 1814 Letusan disertai suara gemuruh dan hujan abu.
1815 Terjadi hujan abu di Besuki dan Probolinggo antara tanggal 4 - 12 April. Neumann van Padang (1951) menyangsikan terjadinya letusan tersebut, diduga hujan abu ini berasal dari letusan G. Tambora di Sumbawa.
1817 Tanah rusak dan korban manusia
1838 Tanah rusak
1859 Tanggal 14 Desember 1941, tidak ada keterangan lebih lanjut
1860 Letusan yang terjadi pada tahun ini tidak diketahui dengan pasti, diduga terjadi pada bulan September (?)
1864 terdengar suara gemuruh dan di siang hari gelap, yang terjadi mulai tanggal 6 Juli, diduga mungkin disebabkan oleh hujan abu
1881 Gumpalan asap disertai suara gemuruh, terjadi hujan abu tipis di sekitar Banyuwangi (Ottolander, 1881)
1885 Diduga terjadi letusan pada bulan Juni, tidak ada keterangan lebih lanjut
1890 Terjadi letusan sejak Juli, Agustus sampai pertengahan September. Letusan paroksimal terjadi pada tanggal 13 September
1896 Terjadi gempa di Kayumas (Besuki), suara gemuruh yang diikuti dengan hujan abu pada bulan Agustus
1902 Munculnya kerucut pusat pada 16 Februari
1903 - 1904 Terdengar suara gemuruh dan bara api di bagian puncak pada tanggal 28 November - 2 Desember
1913 Tampak adanya gumpalan asap pada 10 Mei sampai Desember
1915 Terdengar suara gemuruh dan diikuti dengan gumpalan asap
1916 Terdengar suara gemuruh dan diikuti dengan gumpalan asap (November, Desember)
1917 Terdengar suara gemuruh dan diikuti gumpalan asap
1921 Adanya aliran lava di dalam kaldera bulan Februari - April
1924 Pelemparan eflata di sekitar kaldera dan leleran lava, sebelum Februari
1927 Letusan asap cendawan dan diiringi oleh hujan abu sampai sejauh 30 km. Terdengar dentuman bom yang dilontarkan sejauh 500 m, 2 Agustus sampai Oktober
1928 Tampak adanya celah merah di dasar kaldera yang mengeluarkan lava, Maret dan November
1929 Di antara bulan Maret dan Juni, sama dengan yang pernah terjadi dalam tahun 1928
1933 21 November-6 Desember
1936 22-31 Agustus, 18 September, November-11 Desember
1937 27-31 Oktober dan 21-27 November
1938 13 Agustus-September dan 14 November-28 Desember
1939 10 Januari
1940 diragukan
1941 13 Desember
1943 18 Januari
1944 30 Januari-30 November. Kemungkinan aliran lava dalam kaldera
1945 20 Januari dan 19 April
1953 Terjadi letusan asap tanggal 31 Januari. Asap membara dengan guguran hingga 18 Maret. Tinggi awan letusan mencapai ± 6 km di atas puncak dan sebaran abu mencapai radius ± 200 km
1956 Terjadi kegiatan letusan antara 13-19 Februari dan letusan paroksimal terjadi pada tanggal 19 Februari. Tinggi tiang asap letusan diduga ± 12 km. Suara dentuman berlangsung sekitar 4 jam terdengar jauh hingga ke Surabaya dan Malang. Hujan abu menyebar dan turun hingga Bali dan Surabaya.
1961 Kenaikan kegiatan pada tanggal 26 April
1973 Dikabarkan kegiatan meningkat sejak akhir 1972. Hadian (1973) mengunjungi puncak, tetapi keadaan sudah normal kembali. Hampir seluruh permukaan dasar kawah tertutup oleh aliran lava yang keluar dari kerucut yang terletak di tengah dasar kawah. Seluruh permukaan kerucut sinder tertutup oleh belerang, demikian pula halnya di bagian utara dasar kawah. Rekahan berbentuk busur menghadap ke tengah terdapat pada bagian timurlaut. Tembusan fumarola terdapat pada puncak kerucut sinder, pada rekahan tersebut di atas, dan di bagian tubuh lava sebelah barat
1989 Letusan abu

 

Karakter Letusan  

Pusat kegiatan G. Raung saat ini berada pada dasar kaldera. Bulan Februari 1902, pada dasar kaldera muncul kerucut pusat setinggi ± 90 m.

Karakter letusan G. Raung bersifat eksplosif seperti yang terjadi pada tahun 1586, 1597, 1638, 1890, 1953, dan 1956, menghasilkan abu yang dilontarkan ke udara dan pernah terjadi awan panas yang meluncur menyelimuti sebagian tubuh gunungapinya pada tahun 1953. Bahaya utama letusan G. Raung atau bahaya primer adalah bahaya akibat langsung dari letusan seperti luncuran awan panas dan lontaran piroklastik.

Perioda Letusan. Berdasarkan sejarah kegiatannya periode erupsi terpendek antara 2 letusan adalah 1 tahun dan terpanjang 90 tahun.

 

2

Asap keluar dari kawah G. Raung (Pendakianonline.blogspot)