Evaluasi Aktivitas G. Tangkubanparahu Pada Level I (normal)

Evaluasi tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu, Jawa Barat berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental pada periode 30 Januari 2022 hingga 13 Februari 2022 sebagai berikut:

I. Pengamatan Visual

Berdasarkan hasil pengamatan visual pada periode 30 Januari 2022 hingga 13 Februari 2022 menunjukkan asap kawah Ratu berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi umumnya tidak teramati. Angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, tenggara, dan selatan. Pada tanggal 12 Februari 2022 sejak pukul 11:43 WIB teramati hembusan asap berwarna putih dari Kawah Ecoma dengan intensitas tipis hingga kuat dengan tinggi mencapai 100 meter dari dasar kawah, sedangkan pada tanggal 13 Februari 2022 teramati asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi asap 20 – 60 meter dari dasar kawah.

II. Pengamatan Instrumental

  • Kegempaan G. Tangkubanparahu didominasi oleh Gempa Hembusan yang berkaitan dengan aktivitas permukaan. Seismograf merekam juga getaran menerus yang diakibatkan oleh hembusan gas maupun angin/noise. Energi seismik yang diestimasi berdasarkan perata-rataan nilai amplitudo seismic (Real time Seismic Amplitude Measurements/RSAM) menunjukkan fluktuasi tetapi belum teramati adanya peningkatan yang signifikan. Berdasarkan estimasi nilai koherensi seismik Stasiun RTU, pada bulan Februari 2022 menunjukkan adanya penurunan nilai koherensi yang terjadi akibat peningkatan tekanan pada tubuh. G. Tangkubanparahu. Hal ini mengakibatkan perubahan pada medium seperti terbentuknya rekahan sehingga hembusan asap keluar di Kawah Ecoma. Pola ini juga teramati sebelum erupsi Juli 2019, saat itu disertai peningkatan kegempaan vulkanik yang signifikan namun pada Februari 2022 ini tidak teramati adanya peningkatan kegempaan. Data pemantauan seismik mengindikasikan belum adanya intrusi magma yang signifikan, peningkatan yang terjadi masih bersifat transien (sementara).
  • Hasil pengukuran deformasi dengan metode EDM (Electronic Distance Measurement) menunjukkan pola relatif memendek (deflasi) pada jarak miring antara PARK - LRNG, sedangkan pada jarak miring PARK - UPAS datar atau tidak ada perubahan. Hasil pengukuran deformasi dengan metode tiltmeter berfluktuasi namun relatif mendatar yang mengindikasikan belum adanya perubahan aktivitas yang signifikan. Data pemantauan deformasi mengindikasikan belum adanya akumulasi tekanan yang signifikan.
  • Hasil pengukuran temperatur di lereng Kawah Ratu mengalami peningkatan pada tanggal 12 Februari 2022 dan hasil pengukuran suhu tanggal 13 Februari 2022, temperatur kawah kembali menurun. Peningkatan temperatur yang terjadi pada 12 Februari 2022 masih bersifat transien (sementara).
  • Hasil pengukuran konsentasi gas CO2 relatif stabil, sedangkan konsentrasi gas H2S relatif menurun. Rasio gas C/S pada tanggal 12 Februari 2022 mengalami peningkatan. Hasil pengukuran konsentrasi gas H2S pada tanggal 13 Februari 2022 mulai menunjukkan peningkatan dan rasio gas C/S menurun jika dibandingkan dengan rasio gas C/S tanggal 12 Februari 2022. Data pemantauan geokimia menunjukkan adanya peningkatan temperatur (sementara) pada sistem bawah permukaan G. Tangkubanparahu, namun peningkatan yang terjadi belum menerus. Hal ini mengindikasikan bahwa kontribusi fluida magmatik dalam aktivitas kali ini belum signifikan.

III. Evaluasi dan Rekomendasi

  1. Pengamatan visual dan instrumental mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Tangkubanparahu belum mengalami peningkatan yang signifikan. Hembusan yang terjadi di Kawah Ecoma diduga akibat adanya dinamika air bawah permukaan atau air yang meresap ke bawah permukaan, yang kemudian terpanaskan dan membentuk akumulasi uap air (steam) bertekanan tinggi, sehingga terjadi overpressure sementara (transien) dan gas keluar berupa hembusan yang cukup kuat melalui zona lemah (rekahan). Hembusan berwarna putih mengindikasikan bahwa aktivitas ini didominasi oleh uap air.
  2. Mengacu pada hasil pemantauan visual dan instrumental dan estimasi potensi ancaman bahaya terkini maka tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu masih berada pada Level I (Normal).
  3. Pada Level I (Normal) kami rekomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, dan pendaki:
  • tidak turun ke dasar Kawah Ratu dan Kawah Upas, serta tidak diperbolehkan menginap/berlama-lama berada di dalam kawasan kawahkawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Tangkubanparahu.
  • mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas-gas vulkanik yang dapat terjadi secara tiba-tiba, yaitu dengan tidak berlama-lama berada di sekitar area kawah aktif G. Tangkubanparahu agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.
  • mewaspadai terjadinya letusan freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala peningkatan vulkanik yang jelas.

         4. Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G.                     Tangkubanparahu, tetap memperhatikan perkembangan kegiatan G. Tangkubanparahu yang dikeluarkan oleh BPBD setempat dan               selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

         5. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Provinsi Jabar)               dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang.

 

LAMPIRAN 1

Gambar Pemantauan visual hembusan asap dari Kawah Ecoma pada 13 Februari 2022 pukul 06:52 WIB

parahu-1

parahu-2

parahu-3

parahu-4

parahu-5

parahu-6

parahu-7

LAMPIRAN 7

PETA KAWASAN RAWAN BENCANA G. TANGKUBANPARAHU

 

Laporan Evaluasi Aktivitas G. Tangkubanparahu pada Level I (Normal) dapat diunduh disini