Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kampung Curug, Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Lokasi Gerakan tanah berada di Kp Curug, Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Kabupaten Bogor Jawa Barat, secara geografis terletak pada 106° 54’17,7” BT dan 6° 37’ 27,6” LS (Gambar 1). Gerakan tanah terjadi pada  terjadi pada 14 September 2022 pukul 11.00 WIB setelah hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Daerah bencana berapa pada morfologi berupa cekungan tapal kuda yang menjadi zona akumulasi air. Kemiringan lereng berkisar 10° – 25° yang berubah melandai ke arah utara. Daerah bencana berada pada elevasi 650 – 750 mdpl dengan mahkota longsor pada elevasi 700 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, dijumpai singkapan batulempung hitam dengan jurus/kemiringan lapisan N 280° E/30° yang relatif searah dengan kemiringan lereng. Batulempung berwarna abu-abu kehitaman, karakter batulempung relatif melunak saat berinteraksi dengan air. Singkapan batulempung yang dijumpai menjadi jalur tempat rembesan air. Di beberapa tempat dijumpai batuan vulkanik yang diatas batulempung hitam namun sudah teralterasi menjadi lempung berwarna kemerahan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (A.C. Effendi, dkk., 2011) (Gambar 2) batuan penyusun daerah bencana berupa batuan Formasi Jatiluhur (Tmj) dan Breksi dan Lava G. Kencana dan G. Limo (Qvk). Formasi Jatiluhur terdiri dari napal dan batulempung, dengan sisipan batupasir gampingan sedangkan satuan Qvk terdiri dari bongkah andesit dan breksi andesit.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan daerah terdampak bencana secara umum berupa kebun campuran, jalur jalan, dan pemukiman. Di bagian atas terdapat perubahan alih fungsi lahan menjadi lahan terbuka.
  • Keairan, Keairan di lokasi bencana dijumpai rembesan mata air tanah baru di bagian bawah mahkota longsoran. Rembesan air mengalir liar bergabung ke Sungai Cikeruh. Rembesan tersebut merupakan zona jalur air yang merupakan bagian dari sub-das Sungai Cikeruh. Sub-das tersebut merupakan zona akumulasi air/jalur air pada cekungan/topografi di daerah bencana, Selain itu pada jalur jalan pada lokasi bencana tidak terdapat saluran air yang memadai. Sehingga saat hujan intensitas tinggi terjadi, air terakumulasi di tengah dan mengalir mengikuti topografi cekungan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor Bulan September 2022 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) (Gambar 3) masuk pada potensi gerakan tanah Tinggi. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dan baru masih aktif bergerak akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Kondisi Gerakan Tanah dan Dampak Gerakan Tanah: 

Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Curug adalah gerakan tanah jenis rayapan (creeping) yaitu gerakan tanah yang bergerak dengan kecepatan lambat (Varnes, 1978). Rayapan pada umumnya terjadi karena adanya lapisan batulempung atau serpih di bawah permukaan yang bersifat lunak dan mudah bergerak. Ketika batulempung ini bergerak (dipicu oleh curah hujan tinggi) maka material di atasnya seperti tanah, jalan, dan bangunan akan ikut bergerak. Gerakan tanah yang terjadi bersifat lambat mengikuti kemiringan lapisan lunak dan juga topografi yang relatif tidak begitu terjal.

Pada kejadian di Kampung Curug dijumpai lapisan batulempung hitam yang bersifat lunak dengan kemiringan lapisan searah dengan lereng. Faktor geologi ditambah karakter topografi dan saluran drainase yang buruk menjadikan air menjenuhi tanah karena batulempung bersifat tidak meloloskan air. Kontak antara tanah dan batulempung hitam menjadi bidang gelincir tempat material bergerak.

Berdasarkan pengamatan foto udara (Gambar 4), zona rayapan dapat dipetakan berdasarkan sebaran retakan dan nendatan serta batas sub-das Cikeureuh. Zona rayapan yang terpetakan mencapai luas hingga 37,54 ha. Zona rayapan atau pergerakan tanah tersebut berada pada zona sub-das Sungai Cikeruh. Hal ini menjelaskan pada zona tersebut memang merupakan zona jalur air/akumulasi air. Faktor – faktor tersebut saling mendukung dan mempengaruhi terjadinya gerakan tanah ketika curah hujan tinggi/infiltrasi air terlalu tinggi sehingga tanah menjadi sangat jenuh air.

Dampak Gerakan tanah menyebabkan sebanyak 278 KK atau 1.020 jiwa terdampak (Tidak ada korban jiwa).

 

4. Hasil Pengukuran Geolistrik

Metode resistivity (atau biasa disebut geolistrik) merupakan metode geofisika yang menggunakan medan potensial listrik bawah permukaan sebagai objek pengamatan utamanya. Kontras resistivititas pada batuan akan mengubah potensial listrik bawah permukaan tersebut sehingga bisa didapatkan suatu bentuk anomali pada daerah yang dikaji.

Pengukuran geolistrik dilakukan dengan membuat 2 lintasan (Gambar 4. Peta Situasi) untuk mengetahui kondisi bawah permukaan di daerah terdampak gerakan tanah. Konfigurasi yang digunakan pada survey ini adalah Konfigurasi Wenner-Schlumberger. Konfigurasi tersebut tidak terlalu sensitif terhadap perubahan horisontal namun memiliki penetrasi arus yang dalam, sehingga baik digunakan untuk survey kedalaman dan dapat digunakan untuk mengetahui bidang gelincir (Telford dkk., 1990).

  • Lintasan 1, Lintasan pertama ini berarah Selatan – Utara, menggunakan 48 elektroda dengan jarak antar elektroda sebesar 10 meter sehingga total panjang lintasan sebesar 480 meter. Dari hasil penampang bawah permukaan lintasan pertama, terlihat adanya lapisan yang jenuh air mulai dari kedalaman 10 meter di bawah permukaan tanah (Gambar 5a). Nilai resistivitas yang rendah pada lapisan ini mengindikasikan wilayah ini mayoritas tersusun oleh batulempung dengan nilai resistivitas antara 1-100 Ωm. Pada lapisan atas terdapat batuan dengan nilai resistivitas cukup tinggi hingga diatas 100 Ωm, yang mengindikasikan lapisan ini tersusun oleh batuan yang cukup keras. Dari penampang bawah permukaan di atas dapat diperkirakan bidang gelincir berada mulai pada kedalaman 5-10 meter.

  • Lintasan 2, Lintasan kedua berada di sebelah selatan lintasan pertama dan berarah Barat-Timur. Lintasan ini menggunakan 48 elektroda dengan jarak antar elektroda sebesar 5 meter, sehingga total panjang lintasan ini 240 meter. Pada gambar penampang bawah permukaan lintasan kedua terlihat adanya lapisan jenuh air di bagian sebelah barat hingga meter ke 100 dengan kedalaman 10-15 meter (Gambar 5b). Bagian ini berada tepat di bagian mahkota longsoran. Lapisan paling atas di lintasan ini merupakan batuan vulkanik, hal ini terlihat dari nilai resistivitasnya yang cukup tinggi. Kontak antara lapisan keras dengan lapisan yang jenuh air ini mengindikasikan bidang gelincirnya, sehingga dapat diperkirakan bidang gelincirnya berada pada kedalaman 10-15 meter.

 

5. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

  • Topografi berupa cekungan sehingga air terakumulasi terpusat di bagian tengah yang menjadi zona rayapan
  • Karakter batuan/geologi di mana dijumpai batulempung hitam yang bersifat lunak di bawah permukaan. Hasil geolistrik menunjukkan adanya suatu zona perlapisan jenuh air pada kedalaman sekitar 10 m yang disinyalir merupakan perlapisan batulempung hitam.
  • Bidang gelincir berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan lempung yang lebih kedap.
  • Perubahan alih fungsi lahan menjadi lahan terbuka menambah jumlah air yang menginfiltrasi lereng tanpa adanya penahan.
  • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan, mengakibatkan meningkatnya beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama dapat memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Karakter geologi dicirikan dengan keberadaan lapisan batulempung hitam yang bersifat lunak ketika bertemu dengan air dengan kemiringan lapisan searah lereng. Topografi sekitar merupakan cekungan yang menjadi tempat akumulasi air permukaan (catchment area). Saat hujan intensitas tinggi terjadi, air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan lereng menjadi sangat jenuh air. Ketika lereng menjadi sangat jenuh air, lapisan batulempung yang berinteraksi dengan air sehingga menjadi lunak. Akibat kemiringan batuan yang searah dengan lereng maka lapisan tersebut bergerak mengikuti arah lereng. Akibatnya terjadi pergerakan tanah yang bersifat lambat yang mengarah relatif ke utara.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis 

a. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

  • Gerakan tanah yang terjadi pada Kp Curug, Bojongkoneng, Babakan Madang merupakan gerakan tanah tipe lambat atau rayapan (creeping)
  • Hasil survei lapangan dan foto udara memetakan area yang retak sehingga didapatkan suatu zona rayapan dengan luas mencapai 37,54 ha.
  • Zona rayapan berapa pada sub-das Sungai Cikeruh.
  • Hasil geolistrik menunjukkan bidang gelincir terdapat di lapisan jenuh air yang diperkirakan adalah batulempung pada kedalaman 5 – 15 m

 

b. Rekomendasi Teknis 

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Pemukiman yang berada pada zona rayapan sebaiknya direlokasi ke daerah yang aman mengingat potensi kejadian berulang di masa yang akan datang. Namun jika tidak relokasi bangunan harus menyesuaikan dengan karakter batuan setempat karena jika bangunan permanen berpotensi rusak kembali karena potensi rayapan di masa datang.
  • Tidak mengembangkan pemukiman pada zona rayapan.
  • Zona rayapan dikembangkan sebagai zona hijau
  • Rayapan masih berpotensi untuk bergerak dan kerusakan dapat meluas mengingat curah hujan tinggi yang sering terjadi.
  • Memperbaiki aliran air permukaan/drainase (limpasan air hujan, rembesan mata air, dan limbah rumah tangga) dengan membuat saluran berkonstruksi kedap air. Konstruksi kedap tersebut harus diteruskan sampai ke akhir pembuangannya yaitu ke kaki lereng/sungai langsung agar tidak meresap dan menjenuhi tanah.
  • Memasang rambu peringatan/tanda bahaya pada zona rayapan
  • Perlu dilakukan kajian lebih lanjut dalam perbaikan jalur jalan agar menyesuaikan dengan karakter geologi setempat dengan mempertimbangkan tonase/beban kendaraan yang melintas.
  • Pada area perkebunan yang terdapat retakan agar ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan untuk mencegah air masuk ke dalam area retakan dan menjenuhi lereng.
  • Menanam tanaman berakar kuat dan dalam pada zona rayapan, guna mempertahankan kestabilan lereng.
  • Tidak membuat kolam yang tidak kedap atau lahan basah lainnya di sekitar zona rayapan dan pemukiman.
  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat serta memantau secara berkala perkembangan gerakan tanah, jika terjadi perkembangan yang intensif agar segera laporkan ke pihak berwenang.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Bogor 1 (300922)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Bojong Koneng, Kec. Babakan Madang, Kab. Bogor.

 

Bogor 2 (300922)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Bojong Koneng dan sekitarnya, Kec. Babakan Madang, Kab. Bogor

 

Bogor 3 (300922)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kab. Bogor pada Bulan September 2022.

 

Bogor 4 (300922)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah

 

Bogor 5 (300922)

Gambar 5. Hasil Pengukuran Geolistrik. (a) Jalur A-A’ utara - selatan (atas).

(b) Jalur B – B’ timur barat (bawah)

 

LAMPIRAN FOTO LAPANGAN

Bogor 6 (300922)

Foto 1. Kondisi jalan rusak akibat pergerakan tanah (rayapan) di Kampung Curug

 

Bogor 7 (300922)

Foto 2. Survey lapangan peninjauan lokasi bencana

 

Bogor 8 (300922)

Foto 3. Kondisi geomorfologi daerah bencana yang merupakan bagian sub-das S. Cikereuh (Garis kuning merupakan zona rayapan).

 

Bogor 9 (300922)

Foto 4. Kenampakan lapisan baulempung hitam (Tmj) yang bersifat lunak bila berinteraksi dengan air

 

Bogor 10 (300922)

Foto 5. Litostratigrafi daerah bencana yang tersusun dibawah oleh Formasi Jatiluhur dengan perlapisan batulempung berwarna hitam. Di atasnya terendapkan breksi vulkanik anggota Breksi dan Lava G. Kencana dan G. Limo (Qvk)

 

Bogor 11 (300922)

Foto 6. Mata air keluar merembes pada kontak tanah dan batuan vulkanik dengan batulempung hitam dan bergerak liar tanpa saluran drainase

 

Bogor 12 (300922)

Foto 7. Mahkota longsoran di bagian atas/awal pergerakan tanah (atas). Retakan massif akibat rayapan (bawah)

 

Bogor 13 (300922)

Foto 8. Pengambilan data Geolistrik