Laporan Da Rekomendasi Banjir Bndang Di Desa Beringin Gayo, Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh

Laporan hasil pemeriksaan kejadian Banjir Bandang di Desa Lawe Beringin Gayo, Kecamatan Semadam , Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

1. Lokasi dan waktu kejadian :

Kawasan Banjir Bandang berada pada alur sugai Beringin Gayo di Kawasan Aceh Aceh Tenggara pada koordinat 3.397577° N dan 97.90146” E. Banjir bandang  terjadi pada hari Kamis, 14 April 2022 pukul 20:00 WIB. Kejadian banjir bandang atau aliran bahan rombakan akibat meningkatnya debit air sungai di Desa Lawe Beringin Gayo,

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Geomorfologi, Kawasan alur banjir bandang pada alur sungai masuk dalam 3 katagori kawasan morfologi (van Zuidam, 1985). Yang pertama adalah kawasan morfologi curam-terjal dengan lembah sungai berbentuk V dan kemiringan lereng > 16°. Morfologi mulut lembah sungainya merupakan batas morfologi curam dengan morfologi landai di bawahnya.. Selanjutnya, morfologi agak curam - landai dengan kemiringan lereng bervariasi antara 4° – 16°. Dan terakhir unit morfologi perbukitan landai-datar dengan kemiringan lereng < 8°. Pada Kawasan morfologi landai – datar inilah terjadi dampak kerusakan pemukiman dan jembatan di jalan nasional Aceh – Sumatera Utara (Gambar 6)
  • Geologi, Material banjir bandang / aliran bahan rombakan merupakan pencampuran material batuan berbagai ukuran dari yang berukuran lempung, pasir , kerikil kerakal hingga boulder berupa batuan beku dengan jenis batuan beku riolitik – granit, dan batang kayu lama berdiameter 1 meter (gambar 7). Sumber utama material banjir bandang berasal dari kawasan perbukitan curam yang merupakan kawasan perbukitan vulkanik dan endapan material banjir bandang lama yang tersebar disepanjang alur sungai.Berdasarkan Peta Geologi Lembar Medan (Cameron dkk, 1982), secara regional satuan batuan ini termasuk dalam satuan intrusi microdiorit berumur Miocen Tengah /Tersier yang dipotong oleh sesar (Gambar 2).
  • Keairan, Kawasan Bencana merupakan jalur sungai (Gambar 6) dengan sumber air berasal dari kawasan perbukitan curam - terjal di sisi timur (bagian dari perbukitan barisan - Sumatera) bergerak mengalir deras ke arah barat melintasi jalan nasional Aceh – Sumatera Utara
  • Tata Guna Lahan, Kawasan hulu sungai merupakan kawasan hutan . yang terlihat masih lestari. Lahan di kawasan morfologi perbukitan landai merupakan lahan terbuka disempadan sungai serta kawasan permukiman dan perkebunan campuran yang mendekati jalan Nasional Aceh – Medan. Dan morfologi landai - datar disisi hilir jembatan merupakan kawasan permukiman dan kawasan persawahan.(Gambar 1). Belum adanya pengaturan tata guna lahan di kawasan alur bencana banjir bandang yang berulang terjadi di sungai. Perlunya pengaturan ini untuk unruk antisipasi /meminimalkan dampak banjir bandang yang berpotensi terjadi kembali.
  • Potensi Terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah dan banjir bandang pada Bulan April 2021 (PVMBG-Badan Geologi) di Kecamatan Sempadan, Kabupaten Aceh Tenggara , daerah bencana termasuk kawasan alur sungai dengan bagian hulunya merupakan zona prakiraan Menengah. Yang artinya daerah yang mempunyai potensi menengah terjadinya gerakan tanah. Pada zona ini dapat berpotensi terjadi gerakan tanah, jika curah hujan diatas normal terutama daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir , tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.Sedangkan kawasan terdampak banjir bandang berada dikawasan zona berwarna hijau merupakan kawasan landai dengan potensi rendah terjadinya gerakan tanah kecuali di alur sungai (Gambar 3)

 

3. Jenis dan Dampak Banjir Bandang

Kawasan bencana merupakan kawasan terlanda bencana banjir bandang berulang kali.Dari informasi penduduk setempat setidaknya terjadi banjir bandang di tahun 1967, 1976 dan 2005.. Kejadian terakhir peristiwa Banjir Bandang/Aliran Bahan Rombakan, saat hujan di 14 April 2022. Material banjir bandang/aliran rombalkan terdiri dari material batuan berukuran beragam dan material kayu. Banjir bandang memutus jalur jembatan dan menghancurkan sebagian permukiman yang berada di hilir jembatan jembatan.(Gambar 4 )

Dampak gerakan tanah berdasarkan informasi dari BPBD Kab. Aceh Tenggara Tercatat: 37 unit  rumah penduduk Kute Lawe Beringin Gayo Kecamatan Semadam, rusak berat (hancur), 11 Unit rumah rusak sedang dan 33 rumah warga alami rusak ringan. Fasilitas umum yang terkena dampak, 1 unit TPA  rusak berat ( Hancur).

 

4. Faktor penyebab

Terjadinya banjir bandang diperkirakan sebagai dampak dari lepasnya energi arus sungai secara tiba tiba yang dipengaruhi faktor sebagai berikut :

  1. Pasca kejadian banjir bandang terakhir di tahun.2005., proses proses sedimentasi disepanjang alur sungai terus berlanjut
  2. Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama sebelum kejadian banjir bandang di daerah hulu sungai. (Gambar 6)
  3. Terjadi pelepasan energi besar saat ke luar mulut lembah akibat perubahan lembah alur sungai dari sumber alur lembah sungai terjal berbentuk (V) dikawasan tangkapan hujan di hulu sungai, bergerak menyusuri alur lembah sungai lebar terbuka dan landai (berbentuk U) (Gambar 6)
  4. Terdapatnya penahan lajunya air meningkatkan daya dorong air pada tanggul di alur sungai (Gambar.7) yang berjarak dekat dengan mulut lembah sungai curam- terjal (lk 400 m) dan jembatan (berubah fungsi menjadi tanggul juga) di jalan Nasional di Desa Lawe Beringin Gayo (Gambar 8)
  5. Besarnya jumlah material dengan ukuran bervariasi dari sumber perbukitan (vulkanik dan sesar) dan juga dari endapan banjir bandang lama serta besarnya jumlah kayu lama berukuran besar mempercepat proses penyumbatan di sisi timur jembatan di jalur jalan Nasional (Gambar 7)
  6. Keberadaan dan jebolnya jembatan penghubung jalan nasional menyebabkan terjadinya pelepasan energi besar alur banjir bandang bergerak lurus ke timur selaras alur lembah sungai diatasnya dan tidak mengikuti pola alur lembah sungai normal yang berbelok ke utara dari titik jembatan   (Gambar 8)

 

5. Mekanisme Banjir Bandang

Mekanisme peningkatan energi dobrak air yang menyebabkan banjir bandang melalui tahapan sebagai berikut :

  • Tahap pertama : Sedimentasi terus berjalan pasca kejadian banjir bandang terakhir (2005), selaras proses pendangkalan dan penyumbatan tanggul sungai dan jembatan jalan Nasional Aceh – Medan terus terjadi
  • Tahap kedua: terjadi peningkatan curah hujan di wilayah tangkapan hujan di bagian hulu sungai. Debit arus sungai meningkat cepat dan bergerak dari mulut lembah terjal menuju alur lembah terbuka dan landai di bawahnya
  • Tahap ke tiga : Debit air tinggi dari mulut lembah langsung tertahan energinya dan terakumulasi dengan cepat oleh keberadaan tanggul buatan di lembah sungai dibawahnya. Tanggul sungai tidak mampu menahan tekanan air dan material akhirnya runtuh . Air debit tinggi beserta material banjir bandang terus bergerak ke sisi hilir .
  • Tahap ke empat : Kembali terjadi penyumbatan di bawah kolong jembatan di jalan nasional Aceh – Medan. Tingginya debit air dan material banjir bandang tidak mampu ditahan oleh jembatan dan kemudian jembatan hancur/jebol. Banjir bandang terus menerjang lurus ke timur dan tidak mengikuti alur sungai lama yang berbelok. ke arah utara
  • Tahap ke lima : Dengan turunnya intensitas hujan dan jebolnya tanggul dan jembatan , energi air berkurang dan alur air sungai kembali normal

 

6. Kesimpulan
  1. Kawasan berulang terjadinya bencana banjir bandang
  2. Kawasan banjir bandang bandang merupakan kawasan yang dibangun oleh perbukitan intrusi/terobosan yang terpotong sesar/patahan serta kejadian longsor dan sedimentasi sepanjang sejarah pembentukan kawasan
  3. Peningatan debit air dan tingginya energi dobrak merupakan perpaduan intensitas curah hujan tinggi di wilayah tangkapan hujan di hulu, keberadaan  tanggul sungai non permanen dan jembatan melintang jalur sungai (Gambar 6 dan 8)
  4. Besarnya dampak banjir bandang di sisi hilir sungai akibat jembatan yang jebol dipandang perlu untu dievaluasi dan di tata ulang fungsi jembatan dalam mengantisipasi ancaman banjir bandang di masa depan. Sekaligus fungsi vital ekonomi sebagai jalur jalan Nasional transportasi lintas Aceh – Sumatera Utara .(Gambar 8)

 

7. Rekomendasi Teknis

Sebagai jalur ekonomi vital Nasional penghubung kawasan Aceh dengan Sumatera Utara serta dekatnya dengan kawasan perbukitan serta adanya potensi banjir bandang berulang jalur banjir bandang yang berpotensi berulang, maka perlunya dilakukan tindakan antisipasi permanen berkelanjutan dengan rekomendasi sebagai berikut :

Jangka pendek :
  1. Menangani longsoran dan banjir bandang, perawatan jalur sungai untuk mempelancar aliran air maupun aktifitas rehabilitasi agar memperhatikan cuaca, dengan tetap memperhatikan kondisi curah hujan di hulu.
  2. Menghindari penyumbatan sungai dan menjaga aliran air sungai terus mengalir lancar dengan melakukan :
    1. i.    Sementara menghindari penyumbatan dengan tidak membangun tanggul sungai yang tidak permanen, di sepanjang alur sungai utamanya antara mulut lembah curam dan jembatan di jalur nasional
    2. ii.    Segera merencanakan jalur sempadan sungai dan jalur buffer vegetasi berakar kuat disepanjang batas alur sempadan sungai dengan pemukiman
    3. iii.    Memanfaatkan material sedimen banjir bandang sebagai bahan fondasi sempadan sungai yang difungsikan sebagai jalur kendaraan untuk jalur inspeksi, jalur evakuasi material sedimentasi dan monitoring
    4. iv.    Rutin membersihkan material longsoran yang menimbun daerah aliran sungai

Jangka Panjang

  • Menjaga tetap lestari hutan dan vegetasi di kawasan hutan perbukitan di hulu sungai dan sepanjang alur lembah sungai
  • Membangun tanggul sungai permanen seperti konstruksi “ Sabo Dam” yang berfungsi untuk melancarkan alur air dengan mengendalikan penumpukan sedimentasi . Tanggul sungai sebaiknya di bangun minimal 2 titik di alur sungai pada bagian sisi hulu /sisi timur  jembatan dan satu titik lainnya sisi hilir sungai / sisi barat jembatan
  • Membangun tanggul sungai sekaligus membangun jalur sempadan sungai sepanjang alur sungai yang berfungsi untuk kegiatan evakuasi material sedimentasi, jalur inspeksi sekaligus monitoring
  • Mengurangi potensi dampak kerugian yang lebih besar, dapat dilakukan upaya sebagai berikut:
  1. Jarak sempadan sungai dengan pinggir sungai minimal 2 x lebar sungai, perlu kajian lebih lanjut untuk penentuan zona sempadan sungai
  2. Memindahkan kawasan permukiman terdampak banjir bandang ke lokasi lebih aman dan menjauhi alur sungai serta sempadan sungai
  3. Mengendalikan perluasan permukiman di wilayah terdampak sungai, di sepanjang alur sungai dan di seputaran jembatan jalan nasional.
  4. Tidak mengembangkan pemukiman kawasan hulu (sisi Timur) jembatan jalur jalan nasional untuk menjaga keamanan dan kestabilan kawasan.
  5. Perlu kajian lebih lanjut, penguatan fondasi konstruksi jembatan sesuai kaidah geotekteknik yang mampu beradaptasi meminimalkan ancaman banjir bandang
  6. Menjadikan Kawasan buffer /penyangga (antara sempadan sungai dan pemukiman ) dengan vegetasi berakar kuat dan dalam ,
  7. Membangun Jalur Nasional alternatif permanen menjauhi perbukitan dan jembatan untuk mengantispasi jika kejadian banjir bandang berulang
  • Peningkatan kewaspadaan beraktifitas di jalur jalan sebagai berikut:
  1. Peningkatan kewaspadaan selama berlangsungnya aktifitas manusia disekitar lokasi bencana terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya banjir bandang;
  2. Kewaspadaan tinggi saat hujan dan berhati hati saat berhenti di sepanjang jalur jalan berlereng terjal dan alur lembah lereng yang berpotensi menjadi jalur air utamanya
  3. Perlunya rambu rawan banjir bandang dan menempatkan pos pemantau sedimentasi dan tinggi air jika telah dibangun tanggul sungai permen.
  4. Tetap menyiagakan kendaraan pengendali sedimentasi material banjir bandang , jika sewaktu waktu dibutuhkan.
  • Peningkatan sosialisasi bagi seluruh aktifitas di sekitar lokasi bencana.
  • Seluruh kegiatan di lokasi bencana dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat

 

LAMPIRAN

Aceh 1 (100822)

Gambar 1. Peta Lokasi Banjir Bandang di Desa Beringin Gayo, Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

 

Aceh 2 (100822)

 

Aceh 3 (100822)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan April 2022, Kabupaten Aceh Tenggara. Lokasi Terdampak pada kecamatan Semadam di Zona Hijau aliran sungai bersumber di zona kuning perbukitan sisi timur. berwarna kuning di perbukitan sisi timur ,sebagai hulu sungai

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI ACEH

BULAN APRIL 2022

Aceh 4 (100822)

Keterangan :

Aceh 5 (100822)

 

Aceh 6 (100822)

 

Aceh 7 (100822)

Gambar 5 : Penampang A – B menunjukan sumber material banjir bandang berasal dari batuan teroboson /batuan vulkanik Formasi Mikrodiorit Siga gala (Tmig) yang berumur Tersier dan terpotong sesar/patahan (lihat gambar 2)

 

Aceh 8 (100822)

Aceh 9 (100822)

Aceh 10 (100822)

Aceh 11 (100822)