Laporan Pemeriksaan Banjir Bandang Di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

Hasil pemeriksaan Tanggap Darurat kejadian banjir bandang/aliran bahan rombakan yang melanda tiga wilayah kecamatan di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur:

 

1. Lokasi Bencana dan Waktu Kejadian

Bencana banjir bandang melanda 3 (tiga) kecamatan di wilayah Kota Batu pada hari Kamis, 4 November 2021 sekitar pukul 14.00 WIB. Di Kecamatan Bumiaji, wilayah yang terdampak di Desa Sumberbrantas, Desa Bulukerto, Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo, Desa Giripurno dan Desa Punten. Di Kecamatan Batu Kota, wilayah terdampak di Desa Sidomulyo dan Kelurahan Temas. Sedangkan di Kecamatan Junrejo wilayah terdampak di Desa Pendem. Sebagian besar wilayah terdampak merupakan pemukiman di sempadan Kali Brantas. Wilayah yang cukup banyak terdampak pemukiman di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.

Pemeriksaan difokuskan pada alur aliran sungai yang bermuara di Kali Brantas. Tidak ditemukan aliran bahan rombakan baru di alur sungai yang berhulu di G. Anjasmoro (Coban Talun). Berdasarkan informasi dari BPBD Kota Batu, pada tahun 2004 pernah terjadi banjir bandang yang cukup besar di Kota Batu, dengan sumber dari Hulu Kali Brantas di G. Anjasmoro.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum wilayah Kota Batu yang terlanda aliran banjir bandang adalah pedataran hingga perbukitan bergelombang. Daerah pedataran merupakan daerah genangan sedangkan perbukitan landai hingga agak curam merupakan alur alir (flow track) aliran banjir bandang. Sumber longsoran dan batang kayu berasal dari bagian hulu merupakan daerah dengan morfologi perbukitan curam hingga sangat curam. Longsoran terjadi pada lereng dengan kemiringan lebih dari 60°.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang, Jawa (S. Santosa dan T. Suwarti, 1992) batuan penyusun daerah bencana berupa Batuan Gunungapi Arjuno Welirang (Qvaw), yang terdiri dari breksi gunungapi, lava, breksi tufan dan tuf; Tuf Malang (Qvtm) yang terdiri dari tuf batuapung, tuf pasiran, tuf breksi, tuf halus dan lapili; Batuan Gunungapi Kuarter Tengah (Qpkb) yang terdiri dari breksi gunungapi, tuf, lava, aglomerat dan lahar; Batuan Gunungapi Kuarter Atas (Qvp) yang terdiri dari breksi gunungapi, tuf, lava, breksi tufan, aglomerat dan lahar dan Batuan Gunungapi Anjasmarata Tua (Qpat), yang terdiri dari breksi gunungapi, breksi tuf, tuf dan lava. Di lokasi bencana, batuan dominan dari hulu ke hilir merupakan bagian dari formasi Batuan Gunungapi Arjuno Welirang (Qvaw), yang terdiri dari breksi gunungapi, lava, breksi tufan dan tuf.
  • Keairan, Kondisi keairan di  lokasi bencana cukup melimpah.  Kebutuhan air masyarakat untuk rumah tangga dan kebun/pertanian berasal dari mata air yang berhulu di G. Arjuno Welirang dan PAM. Berdasarkan informasi setempat, sebelum kejadian banjir bandang, aliran air di alur anak sungai yang bermuara ke Kali Brantas debitnya kecil kadang juga kering. Setelah kejadian banjir bandang, aliran air di anak sungai ini mengalir normal.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas berupa lahan hutan milik perhutani berupa pohon campuran. Pada lereng tengah umumnya kebun campuran dan sebagian pemukiman warga serta pada lereng bagian bawah berupa pemukiman.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kota Batu dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur bulan November 2021 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah - tinggi artinya daerah tersebut mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Sedangkan, Menurut Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kota Batu dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur Daerah Bencana Termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng dan gerakan tanah berdimensi kecil dapat terjadi terutama pada tebing lembah (alur) sungai.

 

3.  Situasi dan Dampak Banjir Bandang

Banjir yang melanda wilayah Kota Batu dikontrol oleh luapan air akibat peningkatan volume air saat curah hujan tinggi dan adanya pembendungan di bagian hulu dari material bahan rombakan berupa kayu, boulder batu dan material longsoran. Luapan terjadi karena suplai air dari alur-alur air dan jeram-jeram di bagian hulu yang tinggi dan mengalir dan bermuara di lembah-lembah. Selain itu, ditemukan juga beberapa titik gerakan tanah di bagian hulu yang dapat menjadi penyebab terjadinya luapan air.

Material rombakan berupa lumpur, bongkah batu, dan batang-batang pohon terbentuk karena erosi lateral sepanjang alur alir air yang volumenya meningkat dan longsoran-longsoran pada perbukitan di sepanjang alur air sungai.

Material aliran bahan rombakan mengalir melalui lembah yang terdapat alur anak sungai dan meluap ke sisi kiri serta kanannya dan menimpa pemukiman dan badan jalan serta jembatan di bawahnya.

Berdasarkan penelusuran dan informasi dari BPBD Kota Batu, dampak bencana banjir bandang:

  • 7 (tujuh) orang meninggal dunia;
  • 124 KK terdampak
  • 29 unit rumah rusak ringan
  • 7 unit rumah rusak sedang
  • 17 unit rumah rusak berat

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Banjir Bandang

Secara umum faktor penyebab terjadinya banjir bandang di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Adanya beberapa titik pembendungan di sepanjang lembah anak sungai Kali Brantas di bagian hulu oleh material longsoran dan batang pohon;
  • Kondisi morfologi di bagian hulu dengan kemiringan lereng yang curam sampai sangat curam sehingga material mudah longsor dan air permukaan mengalir dengan deras;
  • Sifat tanah pelapukan pada bagian hulu berupa endapan vulkanik dibagian tebing atau kiri kanan sungai mudah tererosi jika terkena air sungai yang deras;
  • Volume air pada alur-alur di bagian hulu yang meningkat dan bermuara secara bersamaan ke sungai-sungai besar sehingga meluap;
  • Berdasarkan informasi, pernah terjadi kebakaran di bagian hulu sungai pada tahun 2019 sehingga banyak terdapat batang pohon yang kering dan mudah tumbang terakumulasi di lembah sungai;
  • Erosi lateral oleh aliran air sungai yang meluap sehingga material berupa lumpur, bongkah-bongkah batu, dan pohon yang terbawa bercampur dengan luapan air;
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dengan akumulasi  80,3 milimeter dan terjadi sekitar dua jam, yakni dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB (Sumber: BMKG) sebelum dan pada saat terjadi gerakan tanah dan banjir bandang menjadi pemicu utama terjadinya bencana.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Banjir bandang yang terjadi di wilayah Kota Batu dikontrol oleh interaksi kondisi morfologi dan sistem aliran sungai yang mengalami peningkatan volume akibat curah hujan yang tinggi dan menimbulkan beberapa longsoran tebing. Material longsoran tebing ditambah material bahan rombakan berupa pepohonan/kayu, menutup dan membendung aliran sungai pada beberapa lokasi di bagian hulu sungai, sehingga membuat genangan air yang makin lama volumenya makin besar. Karena volume air terus bertambah sehingga tanggul genangan tidak kuat menahan dan terjadilah banjir bandang dengan volume cukup besar. Sepanjang perjalanan pada alur alirnya terjadi pengerosian secara lateral dan menumbangkan pohon di sisi tebing sungai sehingga material rombakan dan pepohonan bercampur dengan air sungai.

Suplai air yang tinggi dari alur-alur air dan jeram-jeram di bagian hulu dengan morfologi curam-sangat curam mengalir dengan deras ke bagian hilir melalui alur-alur air (flow track) yang ada.

Aliran air yang telah bercampur dengan lumpur, batu, dan pepohonan yang cepat ini, kemudian secara bersamaan bermuara di sungai-sungai besar di wilayah Kecamatan Bumiaji dan Batu sehingga terjadi luapan. Karena morfologi yang semakin melandai, menyebabkan air tergenang pada lembah dan pedataran sehingga merendam permukiman serta sarana lainnya.

 

6.  Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya banjir bandang susulan dan mengurangi dampak akibat bencana banjir bandang, maka direkomendasikan:

  • Pengelolaan DAS menyeluruh dari bagian hulu sampai ke hilir serta pengelolaan pada alur sungai atau sempadan sungai menjadi bagian terpenting dalam mengurangi atau mencegah bajir bandang/ aliran bahan rombakan;
  • Membangun sabo dam untuk menahan atau mengurangi kecepatan aliran dan menangkap/ menahan material longsor atau batang kayu agar tidak sapai ke bagian bawah
  • Dalam rangka pembangunan ke depan, tidak disarankan membangun rumah atau tempat berkumpul warga di sekitar aliran sungai atau alur sungai terutama yang berhulu di daerah perbukitan yang rawan longsor;
  • Kegiatan susur sungai menjelang musim hujan perlu rutin dilakukan terutama untuk melihat atau mengpntrol pembendungan aliran pada daerah yang hulunya rawan longsor dan pernah mengalami kebakaran hutan,
  • Meskipun tidak ditemukan aliran bahan rombakan baru di alur sungai yang berhulu di G. Anjasmoro (Coban Talun), karena daerah ini pernah mengalami banjir bandang dan hulunya merupakan daerah rawan longsor sebaiknya daerah sepanjang alur atau sepadan alur ini tidak dikembangkan untuk pemukiman.
  • Melakukan normalisasi sungai untuk menghindari pelebaran badan sungai dan terancamnya bangunan lain akibat erosi;
  • Merelokasi 17 unit rumah rusak berat (jumlah unit berdasarkan data dari BPBD Kota Batu);
  • Masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana dan pada alur sungai agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama untuk mengantisipasi terjadinya gerakan tanah susulan yang berkembang kembali menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang;
  • Perlu ditanam vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menahan lereng di bagian hulu serta menahan laju longsoran/erosi yang dapat masuk serta membendung alur sungai agar dapat mengurangi potensi aliran banjir bandang/aliran bahan rombakan di masa yang akan datang;
  • Melakukan pemantauan mandiri pada aliran sungai yang melibatkan peran serta masyarakat terhadap material longsor/batang pohon/kayu yang menghambat aliran sungai, segera dilancarkan aliran sungai tersebut agar tidak terjadi pembendungan yang bisa berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang saat debit sungai meningkat;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Batu 1 (241121)

Gambar 1. Peta lokasi banjir bandang di wilayah Kota Batu, Jawa Timur

 

Batu 2 (241121)

Gambar 2. Peta geologi regional Kota Batu dan Sekitarnya, Jawa Timur

 

Batu 3 (241121)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Kota Batu, Jawa Timur pada Bulan November 2021

 

TABEL WILAYAH POTENSI TERJADI GERAKAN TANAH

DI KOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR

 BULAN NOVEMBER 2021

Batu 4 (241121)

Keterangan :

Batu 5 (241121)

 

Batu 6 (241121)

Gambar 4. Peta Situasi Aliran bahan Romabakan/Banjir Bandang di Kec. Bumiaji dan Sekitarnya, Kota. Batu, Prov. Jawa Timur

 

Batu 7 (241121)

Gambar 5. Peta Situasi Aliran bahan Romabakan/Banjir Bandang (Bagian Hulu Sungai) di Kec. Bumiaji dan Sekitarnya, Kota. Batu, Prov. Jawa Timur

 

Batu 8 (241121)

Gambar 6. Penampang Situasi Aliran bahan Romabakan/Banjir Bandang (Bagian Hulu Sungai) di Kec. Bumiaji dan Sekitarnya, Kota. Batu, Prov. Jawa Timur

 

Batu 9 (241121)

Gambar 7. Peta Situasi Aliran bahan Romabakan/Banjir Bandang (Bagian Hilir Sungai) di Kec. Bumiaji dan Sekitarnya, Kota. Batu, Prov. Jawa Timur

 

Batu 10 (241121)

Gambar 8. Penampang Situasi Aliran bahan Romabakan/Banjir Bandang (Bagian Hilir Sungai) di Kec. Bumiaji dan Sekitarnya, Kota. Batu, Prov. Jawa Timur

 

LAMPIRAN FOTO

Batu 11 (241121)

Foto 1. Beberapa Titik Longsor di bagian hulu yang materialnya masuk ke lembah pada bagian Hulu Anak Sungai Brantas

 

Batu 12 (241121)

Foto 2. Pemukiman dan jalan yang terdampak aliran banjir bandang di Sambong, Desa Bulukerto.

 

Batu 13 (241121)

Foto 3. Pertemuan antara anak sungai Brantas yang terdampak banjir bandang dengan Sungai Brantas yang Berhulu di G. Anjasmoro (Panah Merah: Anak Sungai Brantas)

 

Batu 14 (241121)

Foto 4. Batuan berupa breksi gunungapi dan tuf di aliran sungai yang bermuara di Kali Brantas

 

Batu 15 (241121)

Foto 5. Salah satu daerah terdampak di Beru, Desa Bulukerto, ketinggian luapan air mencapai 3-5 meter

 

Batu 16 (241121)

Foto 6-7. Pemukiman terdampak di Sambong, Desa Bulukerto, tampak material rombakan berupa bongkah lava dan kayu yang terendapkan.

 

Batu 17 (241121)

Foto 8. Pemukiman terdampak di pinggiran aliran sungai di Desa Bulukerto (sumber: BPBD Kota Batu)

 

Batu 18 (241121)

Foto 9. Salah satu jembatan terdampak di Desa Sumbergondo

 

Batu 19 (241121)

Foto 10. Areal perkebunan yang terdampak di Desa Sumbergondo

 

Batu 20 (241121)

Foto 11. Limpasan material aliran bahan rombakan berupa lumpur dan kerikil di Desa Sumbergondo

 

Batu 21 (241121)

Foto 12. Kondisi sungai yang berhuludi G. Anjasmoro merupakan lokasi yang pernah terjadi banjir bandang 2004 di Coban Talun, tidak nampak ada bekas banjir bandang yang bersamaan dengan kejadian di sekitar Bulukerto dan Sumbergondo

 

Batu 22 (241121)

Foto 13-14. Koordinasi dengan BNPB, BPBD Kota Batu, dan Wakil Walikota Kota Batu sebagai Incident Commander (IC) bencana banjir bandang di Kota Batu, Jawa Timur