Laporan Dan Rekomendasi Gerakan Tanah Di Desa Cidadap, Kec. Campaka, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan kajian gerakan tanah  berdasarkan surat permintaan BPBD Kabupaten Cianjur bernomor : 362/82/KL/BPBD/2021, sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 26 September 2021 pukul 23.00 WIB setelah turun hujan lebat sejak Minggu pagi .  Kajian dilakukan meliputi 2 lokasi di Desa Cidadap (gambar 1), yaitu :

  • Gerakan tanah berupa rayapan dan longsoran di Kampung Cikekep RT 06/RW03, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur dengan koordinat 7° 1' 15.6" LS dan 107° 8' 9.6" BT
  • Gerakan tanah berupa longsoran di Kampung Ciranca RT 05/RW04, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur dengan koordinat 7° 1' 26.4" LS dan 107° 8' 6" BT

 

2. Kondisi umum

  • Morfologi, Kawasan Wilayah Bencana Utama, merupakan morfologi punggungan  yang berada pada kaki Lereng G. Beser. Pemukiman terdampak bencana di Cikekep berada pada batas  jalan dan lembah sungai Cijengkol  yang berkemiringan landai. Lokasi Bencana merupakan jalur jalan provinsi dengan sisi baratnya berbatasan dengan Sungai Cijengkol dengan kemiringan terjal diatas 30° dengan tinggi 3 m serta sisi timurnya merupakan tebing dengan kemiringan > 30° dengan tinggi 3 m. Sedangkan di Kampung Ciranca, lokasi gerakan tanah pada lereng terjal > 30° dan tinggi sekitar 10 m yang berbatasan dengan satu rumah warga dan jalan kampung dengan lebar jalan 1 m.
  • Litologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang, Jawa (Koesmono drr., 1996), daerah gerakan tanah termasuk dalam Formasi Cimandiri yang terdiri atas perselingan batulempung dan lanau (Gambar 2). Hasil pengamatan lapangan, batuan di daerah bencana utamanya tersusun oleh unit batuan  perselingan lanau dan lempung tufaan berwarna putih keabuabuan dengan tanah pelapukannya berwarna kemerahan setebal hingga 2 – 3 m yang bersifat. Rapuh dan lolos air dengan kecepatan penyerapan air pada tanahnya  di lahan terbuka  sebesar rata rata 24,5 ml/detik. Pada  bagian atas unit batuan diatas ditutupi tidak selaras oleh endapan alluvium dan boulder  breksi vulkanik dari G. Beser (material rombakan).
  • Keairan, Sumber air berasal dari sungai Cijengkol yang juga  berperan sebagai drainase dan irigasi, mata air, dan sumur. Rembesan mata air dijumpai pada lereng dengan batuan lempung, tanah, dan aluvium. Selain itu berdasarkan informasi masyarakat, data pengukuran sumur yang berada di lembah dan dibatas  persawahan S. Cijengkol memiliki kedalaman sumur rata-rata  5 m.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana secara umum yaitu pemukiman, jalur jalan provinsi, persawahan, kebun campuran, dan hutan (G. Beser). Area gerakan tanah terjadi pada daerah pemukiman.
  • Potensi Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah Kab. Cianjur Bulan September 2021 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana  termasuk ke dalam Zona Potensi Gerakan Tanah Menengah – Tinggi (Gambar 3). Potensi gerakan tanah menengah - tinggi berarti daerah tersebut mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan serta gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi Gerakan tanah dan Dampak Bencana

a. Kampung Cikekep

Gerakan tanah bertipe lambat (nendatan, amblasan, longsoran dan rayapan). Amblesan dan nendatan terjadi turun 50 cm hingga 1 membentuk tapal kuda dengan Panjang mencapai sekitar 75 m dengan luas lk. 193 m2 . Akibat amblesan membentuk beberapa retakan tarikan yang mengarah ke lembah sungai Cijengkol di bagian barat laut -utara  serta mengancam rumah dan masjid dibelakangnya. Selain itu juga terdapat rayapan yang dijumpai di area persawahan. Beberapa longsor kecil dengan dimensi 1 – 2 m terjadi di batas lembah persawahan sungai Cijengkol dengan tebing (2 – 3 m) di sekitarnya di pemukiman dekat persawahan di bagian utara.

Dampak gerakan tanah berdasarkan assessment BPBD kabupaten Cianjur :

  • 3 rumah dan 1 pabrik padi rusak
  • 6 unit rumah terancam
  • 2 KK (7 jiwa) mengungsi ke kerabat terdekat

b. Kampung Ciranca

Gerakan tanah berupa longsoran pada tebing terjal yang berada di belakang  rumah warga. Longsoran terjadi pada jalan kampung (lebar sekitar 1 m) yang dipergunakan warga untuk melintas setiap hari. Longsoran yang terjadi mempunyai panjang mahkota sekitar 20 m dengan jarak landaan mencapai sekitar 25 – 30 m dengan luasan lk. 108 m2.

Dampak Gerakan tanah berdasarkan assesment BPBD Kabupaten Cianjur :

  • Jalan Lingkungan RT 05/04 amblas/putus
  • 1 rumah rerancam

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah
  • Faktor penyebab gerakan tanah secara umum adalah interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh curah hujan tinggi.
  • Kemiringan lereng terjal pada batas pemukiman dengan persawahan (Cikekep) dan kebun (Ciranca)
  • Material penyusun lereng dan fondasi pemukiman yang bersifat lunak mudah menyerap air dan berada di atas batuan yang kedap air, sehingga menjadi mudah runtuh,
  • Tebalnya  tanah pelapukan yang lunak dan  bersifat poros dengan batuan di bawahnya yang  lebih kedap air. Kontak antara keduanya berpotensi menjadi bidang gelincir gerakan tanah.
  • Minimnya struktur perkuatan lereng atau tanaman kuat berakar dalam pada lereng pada perbatasan pemukiman dengan kebun (Kp Ciranca), dan pemukiman dengan persawahan (Kampung Cikekep)
  • Beban bangunan dan jalan pada tanah lunak yang berbatasan pada lereng terjal meningkatkan faktor ketidakstabilan lereng.
  • Pada Lokasi Kampung Cikekep, kontrol tubuh jalan provinsi relatif datar dan drainase jalan yang tidak berfungsi serta tidak kedap air, berdampak air yang tidak dapat terevakuasi cepat/tergenang saat hujan turun dan menyebabkan infiltrasi air tinggi ke dalam tanah yang bergerak mengarah ke lembah sungai.
  • Pada lokasi Kampung Ciranca, alur air dari talang pemukiman rumah langsung jatuh ke tubuh jalan kampung yang longsor dan  menyebabkan percepatan erosi pada tubuh jalan yang memicu longsor.
  • Curah hujan tinggi sebelumnya sebagai  pemicu utama gerakan tanah.

 

5. Mekanisme terjadinya Gerakan Tanah

Pada lokasi Kampung Cikekep, akumulasi air pada jalan provinsi saat curah hujan tinggi menyebabkan air tidak mampu terevakuasi dengan cepat menyebabkan infiltrasi ke tubuh jalan dan pemukiman sehingga membuat material lereng jenuh air dan menurunkan kuat gesernya. Kemiringan lereng pada batas permukiman dengan persawahan yang terjal, sifat material lereng yang rapuh/mudah menyerap air membuat kestabilan lereng terganggu. Akibatnya material lereng semakin mudah bergerak ke luar lereng sehingga membentuk retakan yang kian bertambah besar saat hujan turun dan berkembang menjadi gerakan tanah.

Pada lokasi Kampung Ciranca, jarak tebing dengan jalan dan pemukiman terlalu dekat (1 m). Limbah air dari rumah langsung menginfiltasi tubuh tenbing tanah yang kontak dengan lempung dibawahnya. Serta tidak adanya saluran drainase yang kedap air serta tidak ada perkuatan lereng pada bahu jalan. Saat curah hujan tinggi, terjadi peningkatan infiltasi pada lereng ditambah buangan air  dari pemukiman yang langsung mengarah ke tebing. Kemiringan lereng yang terjal, sifat tanah yang mudah luruh, dan beban lalu lintas jalan, membuat tanah cepat jenuh dan tidak stabil. Sehingga, saat hujan deras  memicuh longsor  dan menyebabkan jalur jalan amblas.

 

6. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan

  • Lokasi bencana pada bulan September 2021 berada pada Zona  Potensi Menengah – Tinggi terjadinya gerakan tanah.
  • Gerakan tanah di Kampung Cikekep berupa rayapan dan longsoran tebing jalan, lereng tanah urugan, dan undakan permukiman, serta di Kampung Ciranca berupa  longsoran pada lereng alami,
  • Gerakan tanah berpotensi berulang. 

Rekomendasi

  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng terjal, mengingat karakter tanah yang mudah jenuh air dan mudah tererosi. Juga tidak membangun pemukiman di areal pesawahan yang berlereng dan dilewati alur sungai, karena tanah persawan bersifat lunak dan berpotensi terjadi gerakan tanah.
  • Tidak beraktifitas di sekitar zona gerakan tanah dan daerah retakan, terutama pada saat curah hujan tinggi sebagai antisipasi longsor susulan.
  • Membangun zona vegetasi berakar kuat /buffer zone pada lokasi pemukiman yang berbatasan dengan tebing tanah  dan sungai untuk menjaga kestabilan lereng.
  • Retakan agar ditutup dengan material kedap air untuk mencegah resapan air ke dalam retakan yang dapat mempercepat pergerakan tanah.
  • Drainase dibuat kedap air dan alur air dari pemukiman/rumah tidak langsung diarahkan ke lereng terjal.
  • Menempatkan area berkumpul keluarga atau kamar tidur pada bagian rumah yang paling jauh dari lereng terjal dan zona retakan.
  • Melestarikan pepohonan berakar kuat dan dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Di Kampung Cikekep :
  • Rumah-rumah yang hancur, rusak dan retak yang berbatasan dengan gawir tanah dan sungai Cijengkol, sebaiknya tidak ditempati  karena berpotensi bergerak kembali.
  • Pada permukiman terancam  dan berdekatan dengan lereng dan sungai agar dilakukan perkuatan lereng  dengan pondasi mencapai batuan dasar, serta dibangun dengan konstruksi ringan untuk mengurangi tekanan terhadap tubuh tanah di lereng.
  • Pada undakan permukiman agar dilakukan pelandaian atau perkuatan lereng atau membuat zona penyangga/buffer area antara lereng undakan dengan rumah terdekat.
  • Membangun atau memperbaiki sistem drainase dibatas pemukiman terdampak dengan jalur jalan  provinsi dengan konstruksi kedap air dan dialirkan menjauhi lereng dan permukiman terdampak.
  • Untuk saluran sungai Cijengkol yang berbatasan dengan pesantren agar hutan di bagian hulu dilestarikan serta dipantau jika terjadi sumbat di alur sungainya. Hal ini untuk menghindari potensi terjadinya gerakan tanah/banjir bandang di wilayah lembah persawahan.
  • Kedepannya, tidak mengembangkan pemukiman di depan mulut  alur lembah  Sungai Cijengkol yang hulunya  berbatasan dengan pesantren, untuk antisipasi ancaman gerakan tanah, luapan air  dan banjir bandang
  • Dibuat sistem alur talang air dari genteng permukiman berbatasan dengan tebing jalan kampung yang longsor serta  dialirkan menjauhi lereng terjal yang longsor.
  • Untuk menjaga kestabilan lereng, dibangun sengkedan/undak dari mulai dasar tebing yang dapat dilakukan melalui sengkedan dengan fondasi menembus batuan keras atau membuat undakan sementara dengan membuat sengkedan dari terucuk bambu.
  • Di Kampung Ciranca :
  • Meningkatkan kewaspadaan masyarakat dengan melakukan pemantauan mandiri saat dan setelah curah hujan tinggi dan perkembangan retakan lanjutan.
  • Melaporkan ke Pemerintah Daerah setempat bila terjadi perkembangan retakan/longsor lanjutan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Cianjur 1 (211021)

Gambar 1. Peta Lokasi Bencana di Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Cianjur 2 (211021)

Gambar 2. Peta geologi regional lokasi bencana di Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat

 

Cianjur 3 (211021)

Gambar 3. Peta Prakiraan Gerakan Tanah di Desa Cidadap, Kecamatan Campaka

 

Cianjur 4 (211021)

Gambar 4. Peta Situasi Bencana Dusun Cikekep Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur

 

Cianjur 5 (211021)

Gambar 5. Penampang Gerakan Tanah di Dusun Cikekep, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka

 

Cianjur 6 (211021)

Gambar 6. Peta Situasi Gerakan Tanah di Dusun Ciranca, Desa Cidadap Kecamatan, Campaka, Kabupaten Cianjur

 

Cianjur 7 (211021)

Gambar 7. Penampang gerakan tanah di Dusun Ciranca, Desa Cidadap, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur

 

Foto – Foto Lapangan

Cianjur 8 (211021)

Foto 1. Amblesan yang terjadi di Dusun Cikekep (atas) Kenampakan amblasan dari drone (bawah)

 

Cianjur 9 (211021)

Foto 2. Rumah rusak dan retak-retak akibat tarikan amblesan di Dusun Cikekep

 

Cianjur 10 (211021)

Foto 3. Morfologi di sekitar area bencana dengan tata guna lahan berupa persawahan, pemukiman, kebun, serta di bagian atas berupa hutan (G. Beser) (foto kanan)

 

Cianjur 11 (211021)

Foto 4. Stratigrafi perlapisan unit perlapisan batulempung batulanau

 

Cianjur 12 (211021)

Cianjur 13 (211021)

Foto 5. Rembesan air di batas lereng dengan batulempung (kiri). Sungai yang menjadi jalur drainase (kanan) Drainase di jalan tidak berfungsi (panah merah) yang berdampak terbentuknya genagan dan menjadi salah satu faktor penyebab air limpasan yang menyebabkan amblesan (foto bawah).

 

Cianjur 14 (211021)

Foto 6. Gerakan tanah berupa longsoran di Dusun Ciranca (kiri). Tanah pelapukan dari perselingan batulanau – lempung di Ciranca (kanan)

 

Cianjur 15 (211021)

Foto 7. Koordinasi bersama BPBD Cianjur (Kiri). Koordinasi bersama Camat dan Kapolsek Campaka beserta Kepala Desa Cidadap (Kanan).