Laporan Pemeriksaan Calon Lahan Relokasi Desa Pagerwangi, Kec.banjarwangi, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan calon lahan relokasi berdasarkan surat permintaan Dinas Perumahan dan Permukiman bernomor : 593/179/Disperkim Perihal Permohonan Kajian Bencana Pergerakan Tanah tertanggal 27 Mei 2021, sebagai berikut:

 1. Lokasi

Bencana gerakan tanah terjadi di Kp. Cisadap RT 004 / 006 Desa Banjarwangi Hari Jum’at Pukul 20.30 WIB tanggal 10 April 2020 yang didahului hujan deras sepanjang siang hari. Akibatnya Sepanjang 75 meter tanah retak diatas perbukitan, 11 Unit Rumah Terdampak, 11 Kepala Keluarga diungsikan. Warga terdampak bencana gerakan tanah akan direnscanakan akan di relokasi di sebelah baratdaya yang berjarak + 1 km dari lokasi kejadian, sehingga perlu kajian geologi terhadap rencana tempat relokasi yang akan dibangun.

Calon lahan relokasi berada pada  Blok 1 dan Blok 2 berada di Kp Pasirpogoer RT/RW 02/06, Desa Pagerwangi, Kec. Banjarwangi, Kabupaten Garut yang secara geografis terletak pada koordinat 07° 25” 35” LS dan 107° 53” 34” BT dengan ketinggian 940,7 meter dpal.

 

2. Kondisi Rencana Tempat Relokasi
  • Morfologi, Secara umum calon lahan relokasi berada pada punggungan perbukitan bergelombang menengah-tinggi dengan lereng punggungan bukit landai – curam dengan kemiringan sekitar 3-19,7°, dengan perbedaan tinggi 5-75 m. Beberapa area menunjukan kemiringan lereng yang curam (>20°) pada sisi timur dari calon lahan relokasi , Pada sisi barat lahan calon relokasi dibatasi oleh jalan Desa pada punggungan bukit.  Bentuk lereng beragam, kekasaran lereng kasar, dengan panjang lereng yang pendek (15-50m).
  • Litologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (Alzwar drr., P3G, 1992), daerah gerakan tanah tersusun dari Batuan Gunungapi tak teruraikan yang tersusun oleh breksi, tuff, dan lava (Qtv) (Gambar 2) dan patahan yang memotong satuan batuan ini. Hasil pengamatan lapangan, batuan pada calon lahan relokasi yang dijumpai berupa tanah pelapukan dari  endapan produk  gunungapi/vukanik. Secara umum merupakan berupa breksi vulkaniki / endapan piroklastika, dan setempat masih terlihat layer/lapisan tephra (jatuhan piroklastik) 30-40 cm dengan kemiringan dip 20o. Tanah pelapukan dari endapan vulkanik/piroklastika pada  area calon lokasi relokasi tebal 1 – 2 meter  meter dengan profil tanah menunjukan dari humus, horizon A (top soil) dengan Daya tekan  < 1 Kg/cm2, horizon B (sub soil) dengan Daya tekan =< 3 Kg/cm2. Tanah pelapukan bersifat urai terutama pada batas tebing terbuka, dan kering  serta  mudah diinfiltasi oleh akar tumbuhan.  Dan  ketebalan lebih dari  2 meter untuk lapisan  horizon C (pelapukan batuan) yang memiliki Daya tekan  > 5 Kg/cm2.  Karakteristik  pelapukannya bersifat  kedap air. Sementara batuan vulkanik fresh (masih belum lapuk) tidak ditemukan di area lokasi (Tabel1). Karakter fisik daya tekan menunjukan tingkat kekerasan perlapisan endapan vulkanik cenderung semakin  keras ke lapisan  dibawahnya.
  • Keairan, Pola pengairan alur sungai dengan jenis dendritik (penciri daerah vulkanik) dengan bentuk lembah / alur terbuka kasar berbentuk V. Jenis erosional jika terjadi hujan yang lama menunjukan erosi alur dan parit yang kuat, sehingga perlu dilakukan penataan baik dari aliran permukaan maupun dari pembuangan limbah permukiman. Untuk kebutuhan air bersih di lokasi gerakan tanah, penduduk memanfaatkan mata air dari perbukitan yang disalurkan melalui pipa dan selang. Sumber mataair dangkal berada  di lembah lereng sisi timur pada tataguna lahan persawahan dengan koordinat 07° 25” 34” LS dan 107° 53” 34” BT, dan 07° 25” 29,98” LS dan 107° 53” 36,7” BT. Sumber mata air tersebut bersifat dangkal dan menurut informasi penduduk saat kemarau selama 6 bulan kedalaman  menurun mencapai kedalaman 3 meter. Sumber air juga ditemukan  di permukiman di lembah dibawah calon lokasi relokasi yang salah satunya  berada di  koordinat  07° 25,563” LS dan 107° 53,638”  BT. Sumber air  sumur tersebut berkisar pada kedalaman 8-12 meter. Sedangkan untuk calon lokasi relokasi, kebutuhan air  harus menggunakan sumur bor dengan kedalaman >50m.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah calon lahan relokasi secara umum merupakan kebun/ladang campuran yang dibatasi oleh jalan Desa selebar. Bagian atas calon lahan Blok 1 merupakan lahan campuran ilalang, dan Blok 2 merupakan kebun campuran dengan tanaman produktif. Disisi lereng timur dari  Blok  Calon relokasi yang dibatasi dibatasi oleh vegetasi / tanaman produktif  merupakan  permukiman , persawahan dan kolam ikan
  • Kondisi Umum
  1. Calon lahan relokasi  terdiri dari : 
  •  
    • Luas Blok 1 = 1450 m² dan  Blok  2 = 933 m dengan status lahan  adalah Milik Perorangan dengan Hak Milik.
    • Pencapaian lokasi rencana calon relokasi berjarak 3 km dari jalan utama melalui jalan desa dengan  lebar + 3-4 m, kondisi jalan berupa tanah dan aspal.
    • Fasilitas   : Listrik  dan Air sumur Bor; Sarana  Olahraga dan Sekolah SMK
    • Kejadian Gerakan tanah lama ; Hasil pengamatan lapangan dan informasi warga, di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun baru.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Garut,  Provinsi Jawa Barat (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah rencana lahan relokasi masuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya pada lokasi ini berpotensi menengah terjadi pergerakan tanah, pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Potensi Gerakan Tanah di Masa Depan

Calon lahan relokasi berada pada punggungan bukit. Namun  dekat dengan tebing landai-curam dengan kemiringan kisaran 3-20°. Sementara di bawah lereng  timur terdapat permukiman warga  lama. Berdasarkan peta ZKGT menunjukkan bahwa daerah tersebut berada pada ZKGT Menengah. Artinya kerentanan Gerakan tanah pada daerah tersebut termasuk kategori menengah. Longsor dapat terjadi bila kestabilan lereng terganggu.

 

4. Kesimpulan
  • Batuan pada calon lahan relokasi adalah tanah pelapukan dan pelapukan batuan vulkanik.  Dengan kontak keduanya merupakan wilayah berpotensi terbentuknya bidang gelincir dan memicu longsor dimasa depan
  • Tidak ditemukan adanya retakan baru dan diinformasikan belum pernah terjadi pergerakan tanah di lokasi calon lahan relokasi tersebut,
  • Potensi kerentanan tanah menengah (Peta ZKGT) dan  berdasarkan pengamatan lapangan dan foto udara (gambar 6), daerah calon lahan relokasi berada dekat dengan pinggir tebing. Dengan membuka lahan  terbuka dan pemekaran pemukiman  di atas perbukitan berpotensi mengganggu dan menurunkan tingkat   kestabilan lereng.
  • Calon lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan relokasi pada Blok 2 karena kemiringan yang tidak curam dan tidak di dekat bibir lereng yang berpotensi terjadi gerakan tanah di masa yang akan datang.

 

5. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, Calon lahan Blok 2 cukup aman dari potensi bencana gerakan tanah,  sehingga daerah tersebut masih dapat dimanfaatkan  untuk pemukiman. Mengingat wilayah ini berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah yang masih berpotensi terjadinya gerakan tanah jika terdapat  gangguan kestabilan lereng, maka direkomendasikan sebagai berikut:

  • Pengembangan pemukiman  harus disesuaikan dengan rencana tata ruang dan wilayah Kabupaten Garut,
  • Perlu  diantisipasi  potensi gerakan tanah dengan  membatasi  mendirikan bangunan atau fasilitas umum yang berdekatan dengan bukit dan punggungan serta di lembah alur sungai kecil disebelah barat rencana tempat relokasi,
  • Bangunan yang sesuai disarankan dengan bangunan semi permanen dan menjauhi lereng yang agak curam pada sebelah Timur,
  • Pemanfaat lahan relokasi  agar memperhatikan proses cut/fill tanah untuk keperluan tempat relokasi, undakan dan pemotongan lereng jangan terlalu terjal
  • Tidak membuat pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 150 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter,
  • Jika dilakukan pemotongan tinggi lereng kurang dari 2 meter dengan perbandingan tinggi vertikal : jarak horizontal adalah 1 : 2
  • Penataan alur air dan drainase permukiman ;
  1.  
    • Membangun drainase perumahan menjauhi lereng timur  dengan tidak diarahkan langsung  ke lereng Timur lahan relokasi  serta dialirkan menuju wilayah yang lebih landai
    • Mengingat wilayah calaon lahan relokasi untuk pemukiman berada di bawah  badan jalan, perlunya membangun saluran  drainase yang mampu menampung limpasan air dari jalan Desa dan tidak menggerus badan jalan pada saat hujan
    • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan mengikuti kelerengan punggungan berarah utara selatan  ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah)
    • Pada  alur -alur /Jalur air  yang berada pada persawahan/kolam dibagian timur supaya dibuat saluran pengaliran air yang kedap untuk menghindari erosi pada tebing jalur air
  • Membangun zona vegetasi atau buffer zone pada batas blok 2 pada atas lereng dengan pemukiman dibawah,
  • Menjaga kelestarian vegetasi yang ada utamanya pada lahan relokasi yang berbatasan langsung dengan  permukiman lama  yang berada dibawahnya pada lereng timur,
  • Ladang campuran di bagian timur lahan relokasi/ dibawahnya (sempadan/batas pemukiman dibawahnya) sebaiknya ditanami tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng,
  • Tidak mencetak kolam dan sawah pada/sekitar lahan relokasi,
  • Pengembangan lahan untuk lokasi relokasi tidak disarankan, untuk  mengurangi beban tanah,
  • Masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama,
  • Koordinasi berkelanjutan dengan aparat Desa dan Kecamatan Banjarwangi Serta BPDB Kab. Garut.

 

LAMPIRAN

Garut 1 (060921)

Gambar 1. Peta Lokasi calon lahan relokasi di Desa Pagerwangi, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Garut 2 (060921)

Gambar 2. Peta geologi regional calon lahan relokasi Desa Pagerwangi, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Garut 3 (060921)

Gambar 3. Peta ZKGT Area Desa Pagerwangi, Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Garut 4 (060921)

Gambar 4. Peta Situasi Calon Lahan Relokasi Desa Pagerwangi, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Garut 5 (060921)

Gambar 5. Penampang Calon Lahan Relokasi, Desa Pagerwangi, Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Garut 6 (060921)

Gambar 6. Penampang Calon Lahan Relokasi berarah utara -selatan, Desa Pagerwangi, Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Garut 7 (060921)

 

Foto-Foto Lapangan

Garut 8 (060921)

Foto 1. Kenampakan calon lahan relokasi dari udara (kotak merah) yang berhimpitan dengan bibir lereng dan di bagian bawah terdapat sekolah

 

Garut 9 (060921)

Foto 2. Kenampakan batas lahan relokasi yang berdekatan dengan lereng terjal

 

Garut 10 (060921)

Foto 3. Batuan di sekitar lahan relokasi Desa Pagerwangi berupa pelapukan dari Material vulkanik

 

Garut 11 (060921)

Foto 4. Soil / tanah pelapukan merupakan tanah pelapukan ( insitu), dari endapan vulkanik tua, bersifat gradual, bersifat urai saat kering, dan kedap saat jenuh air. Terdapat potensi longsor jika berada  ditebing terbuka dan tanpa vegetasi. Daya (tekan (< 1 kg/cm2), ketebalan lk 2 meter

 

Garut 12 (060921)

Foto 5. Permukiman, Sawah dan Kolam yang berada di bawah lereng dari calon lahan relokasi