Laporan Dan Rekomendasi Gerakan Tanah Serta Rencana Lokasi Calon Relokasi Di Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap No.360/529/39 tanggal 2 Juni 2021, perihal permohonan kajian tanah, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah dan lokasi calon relokasi dan Rekomendasi di Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, sebagai berikut:

A. Lokasi Longsoran

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Gerakan tanah di Dusun Pagergunung RT 03/ RW 02, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi terletak pada koordinat 108° 51’ 2” BT dan 07° 27’ 13” LS. Menurut keterangan warga, gerakan tanah terjadi sejak November 2020 dan terus berkembang hingga tanggal 19 Mei 2021.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung berada pada lahan dengan morfologi berupa lereng landai dengan kemiringan lereng antara 3° hingga 15° yang diapit dua morfologi bergelombang kasar yaitu disis dengan bukaan morfologi kearah selatan. Mahkota longsor dan tubuh longsoran merupakan bukit dengan kemiringan antara 20° hingga lebih besar dari 35° pada bagian mahkota dan tubuh longsoran. Daerah bencana berada pada ketinggian 117 -  131 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa (Kastowo, 1975), secara regional lokasi gerakan tanah berada pada daerah yang disusun oleh batuan dari Formasi Kumbang dengan penyusun breksi gunungapi andesit, pejal dan tidak berlapis, termasuk beberapa aliran lava dan retas yang bersusunan sama, tufa berwarna abu-abu dan batupasir tufaan mengandung konglomerat dan sisipan lapisan tipis magnetit  (Tmpk, dengan kontak bantuan bersifat jemari dengan batuan sedimen turbidit dari Formasi Halang (Tmph), dengan struktur sedimen yang jelas. Struktur geologi terdekat adalah perlipatan (sinklin) sekitar 2,5 km di sebelah utara Dusun Kucing Ireng. Struktur geologi lainya adalah sesar diperkirakan sekitar 5 km di sebelah barat Dusun Pagergunung. Berdasarkan pengamatan di lokasi bencana, Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung disusun oleh batu lempung-pasir tufa. Pada lembah sungai ,  batulempung tufa yang masih segar berwarna hijau kehitaman dengan sifat fisik batuan, keras,  pecahan concoidal/mengulitbawang, menyerpih yang ditutupi secara tidak selaras  oleh endapan alluvium dengan fragmen lava andesitik  dengan diameter ditemukan berkisar  10 – 30 cm. Pada bagian lereng endapan batulempung – batupasir tufa umumnya telah mengalami pelapukan berwarna putih, rapuh, mudah luruh dengan pecahan concoidal/mengulitbawang yang ditutupi diatasnya oleh tanah pelapukan berwarnah coklat dan merah, dan longsoran bahan rombakan lama bersifat rapuh,  mudah luruh dengan fragmen dari batulempung-batupasir tufa
  • Keairan, Kondisi keairan di sekitar lokasi gerakan tanah terdapat mata air yang meningkat debitnya pada musim penghujan. Terdapat alur-alur air dan sungai kecil pada bagian bawah lereng yang longsor. Sistem pengaliran air permukaan di semua lokasi gerakan tanah umumnya berupa saluran terbuka dan tidak kedap. Terdapat  sumur gali yang dilewati retakan  pada lokasi bencana dengan kedalaman muka air sumur lk. 1,54 m dari permukaan tanah dengan kedalam sumur mencapai 8 meter.  Pada saat kejadian gerakan tanah, air sumur meluap yang menandakan terdapatnya tubuh air bawah permukaan dangkal dengan debit air pada saat kejadian tinggi. Pada bagian lembah mengalir Sungai Pagergunung yang mengalir cukup deras pada saat musim hujan.
  • Tata Guna Lahan, Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa hutan pinus dan lereng tengah berupa kebun campuran dan tegalan. Vegetasi  hutan merupakan hutan pinus yang dimanfaatkan getahnya. Dan pada lereng tengah yang ditemukan umumnya adalah albasia, pohon jati, kelapa, mahoni, dan sedikit rumpun bambu. Sedangkan pada lereng bagian bawah berupa pemukiman, kolam ikan  dan sawah.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah pemeriksaan di Kecamatan Gandrungmangu termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah sampai Tinggi. Artinya daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah hingga tinggi untuk gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah dan Dampaknya

Gerakan tanah di Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung adalah rayapan yang bergerak lambat. Arah relatif ke barat antara N275°E hingga N280°E. Pada lereng bagian atas muncul retakan dan amblasan sepanjang 60 – 75 m dengan kedalaman amblasan dapat mencapai ± 2 meter. Arah retakan pada pada lereng bagian atas relatif ke arah timur laut – barat daya dengan kisaran N 200°E - N 220°E sedangkan di sisi utara beberapa retakan menunjukan pola N 100°E  - N 120°E yang mengarah sungai. Pada areal kebun campuran dan pada permukiman lereng bagian bawah, retakan pada bagian rumah mempunyai pola N 200° E – N 220° E.

Luas area pergerakan tanah lebih kurang 12,5 Ha

Pada saat dilakukan pemeriksaan, gerakan tanah masih berpotensi untuk berkembang terutama pada saat musim hujan.

Gerakan tanah di lokasi ini mengakibatkan (Informasi berdasarkan laporan Ketua RT 03/01):

  • 9 (sembilan) rumah rusak / retak-retak
  • 1 (satu) masjid rusak / retak-retak
  • 14 rumah rusak ringan

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah adalah:

  • Kemiringan lereng yang terjal pada lereng bagian atas mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air,
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.
  • Bidang lemah berupa kontak antara material porous dari tanah pelapukan dan material bahan rombakan serta longsoran lama dengan lapisan lempung tufa di bawahnya yang bersifat lebih kedap air,
  • Keberadaan tubuh air pada kedalaman 2 - 8 meter menjadi pemicu dari pergerakan tanah lambat
  • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan sehingga meningkatkan beban pada lereng dan lereng menjadi tidak stabil.
  • Lahan persawahan dan permukiman   pada  tanah pelapukan dan hasil rombakan/longsoran lama yang mudah membentuk retakan tanah, dan menyerap/menyimpan  air dangkal serta rentan bergerak

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Air permukaan yang meresap pada unit  batulempung - batu pasir  tufa yang terkekarkan, tanah pelapukan dan  bahan rombakan  jenuh air dan mudah luruh, mengakibatkan  peningkatan tekanan air pori, bobot massa tanah, dan berkurangnya daya ikat tanah. Air terakumulasi pada kontak antara tanah penutup yang bersifat porous dengan batuan di bawahnya yang lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir. Kemiringan lereng yang sangat curam mengakibatkan terjadinya runtuhan dan longsoran pada lereng atas. Infiltrasi air dan pergerakan tubuh air bawah tanah pada sudut lereng rendah mengakibatkan fenomena gerakan tanah lambat tipe  rayapan dan terbentuknya retakan dan amblesan. Dampak pergerakan tanah lambat serta erosi lateral oleh aliran sungai pada kaki lereng mengakibatkan tanah yang telah jenuh dan berat semakin mudah untuk bergerak ke luar lereng pada bidang gelincir dan di beberapa lokasi terjadi longsoran ditebing sungai .

 

6.  Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan dan curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, dapat disimpulkan bahwa:

  • Gerakan tanah masih berpotensi untuk berkembang, mengingat kemiringan lereng yang curam – landai yang bermuara di lembah sungai, dan masih terdapatnya material bahan rombakan yang belum turun seluruhnya.
  • Telah terbentuknya retakan retakan di mahkota longsor di lereng ,  sepanjang wilayah pemukiman dan persawahan yang mudah air terifiltrasi cepat dan berpotensi kembali terjadinya gerakan tanah

Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, secara umum direkomendasikan di dalam area pergerakan tanah sebagai berikut :

  • Wilayah yang berada dalam area pergerakan tanah   dan telah mengalami retakan bangunan dan yang terdiri dari 23 rumah dan 1 mesjid yang berada di Dusun Pagergunung sebaiknya di relokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Penduduk yang tinggal di sekitar lokasi retakan, nendatan, dan longsoran agar lebih meningkatkan kewaspadaan terutama saat hujan deras turun dalam waktu lama;
  • Untuk memperlambat/menghindari peresapan/penjenuhan air ke tanah dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan:
    • Penutupan retakan dan dipadatkan.
    • Pengendalian air permukaan (surface drainage) dengan cara mengatur saluran permukaan, pengendalian air rembesan (ground water drainage) serta pengaliran parit pencegat.
    • Penataan drainase (air permukaan maupun limbah rumah tangga) dengan saluran yang kedap air atau pemipaan dan dialirkan langsung ke arah sungai atau alur air terdekat.
    • Tidak membuat kolam, tampungan air atau lahan basah (sawah) di bagian atas dan kaki lereng untuk menghindari penjenuhan dan pembebanan. Rembesan pada pada retakan kolam akan memicu gerakan tanah lebih intensif
    • Pemeliharaan dan penanaman tanaman keras berakar kuat, cepat tumbuh dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
  • Peningkatan kewaspadaan saat dan sesudah terjadinya hujan dan dilakukan pemantauan intensitas curah hujan, pemantauan retakan, dan pemantauan kondisi di lereng bagian atas sampai bawah.
  • Jika terjadi perkembangan retakan yang semakin lebar dan tanda-tanda awal gerakan tanah agar dilaporkan ke pihak berwenang dan segera mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah melalui alur evakuasi di area pergerakan tanah;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat ,untuk ;
  1.  
    1. lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya seperti timbulnya retakan, munculnya mata air baru, atau perubahan fisik air pada mata air (menjadi keruh) sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
    2. tidak mengembangkan permukiman dan sarana umum yang berada di zona pergerakan tanah
    3. memahami dan  mematuhi arahan alur evakuasi sesuai wilayah yang berada di dalam zona pergerakan tanah (lampiran)
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

B. Lokasi Calon Relokasi

1. Lokasi Calon Relokasi

Lahan untuk relokasi berada di Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografi terletak pada koordinat 108° 51’ 45” BT dan 07° 27’ 30,9” LS dengan ketinggian 114 mdpl. Status kepemilikan tanah adalah milik kepala desa/pribadi. Lahan ini disediakan untuk merelokasi 23 rumah dan 1 mesjid.

 

2. Kondisi daerah lahan relokasi
  • Morfologi, Secara umum, morfologi Dusun Pagergunung berupa perbukitan bergelombang dengan kemiringan landai – terjal. Khusus untuk lahan relokasi berada pada daerah pedataran, namun pada bagian tengah lokasi calon relokasi terdapat lereng yang sangat terjal – hampir tegak akibat pemotongan lereng.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Majenang, Jawa (Kastowo, 1975), secara regional daerah calon relokasi disusun oleh batuan dari Formasi Kumbang dengan penyusun breksi gunungapi andesit, pejal dan tidak berlapis, termasuk beberapa aliran lava dan retas yang bersusunan sama, tufa berwarna abu-abu dan batupasir tufaan mengandung konglomerat dan sisipan lapisan tipis magnetit  (Tmpk). Di bagian bawah terendapkan batuan yang lebih tua, yaitu batuan sedimen turbidit dari Formasi Halang (Tmph) yang terdiri dari batupasir andesit, konglomerat tufaan dan napal yang bersisipan batupasir. Berdasarkan pengamatan di lokasi calon relokasi, morfologi lokasi tersebut dibangun oleh  unit batuan batu pasir – batu lempung tufa  yang ditutupi oleh tanah pelapukan berwarna kuning -merah hasil pelapukan batu pasir - batulempung tufa menyerpih  setebal 6 meter. Tanah pelapukan bersifat lunak, mudah luruh dan rentan  longsor. Tanah pelapukan secara gradasi menutupi  perlapisan batu lempung tufa setebal 4 meter  berwarna kuning – putih yang tertanam  fragmen batuan beku , batu pasir dengan cangkang molusca serta banyak ditemukan retakan pada tubuh unit batuan ini dan rentan longsor. Dan pada bagian  dasar unit batuan merupakan batu pasir tufa, abu -abu  kehijauan , sebagian mengandung mollusca , dengan ketebalan lebih dari 4 meter. Batu pasir bersifat padu dan keras.
  • Keairan, Sumber air pada lahan relokasi berasal dari mata air yang cukup banyak dan juga dari sumur galian.
  • Tataguna Lahan, Tata guna lahan pada daerah calon relokasi berupa kebun campuran dan tegalan. Terdapat jalan aspal sebagai akses utama dan pemukiman warga.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Cilacap (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah calon relokasi berada pada daerah potensi gerakan tanah rendah. Artinya, daerah ini mempunyai mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terkena gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng, dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing jalan, lembah, dan alur sungai.

 

3. Potensi Bencana

Berdasarkan informasi penduduk tidak pernah terjadi gerakan tanah di sekitar lahan relokasi. Namun, berdasarkan pengamat lapangan, terdapat longsoran-longsoran kecil pada tebing lereng yang sangat curam akibat pemotongan bukit dan pada tebing jalan yang mengakibatkan kerusakan tembok penahan jalan .

 

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan lapangan, kondisi geologi, morfologi, lahan calon relokasi berada pada zona kerentanan  gerakan tanah rendah , disimpulkan bahwa lahan relokasi yang berada di Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap dapat dimanfaatkan untuk pemukiman dengan memperhatikan persyaratan dan rekomendasi yang diberikan.

 

Rekomendasi

Untuk menghindari terjadinya gerakan tanah dan mengurangi ancaman longsor  akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Lokasi lahan yang akan dijadikan pemukiman agar :
  1.  
    1. Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng/tebing dan alur air baik sungai maupun alur-alur air lainnya.
    2. agar terletak pada pedataran yang kemiringannya <10°. Dan hindari tebing tegak dengan tanah bersifat lunak dan mudah longsor
    3. Lereng yang terjal akibat pemotongan pada bagian tengah lokasi calon relokasi agar dilandaikan/dikupas/ diratakan.
    4. Lereng yang terbentuk akibat pengupasan/pengurugan agar diperkuat dengan dinding penahan (retaining wall) yang kokoh dan memenuhi syarat teknis kestabilan lereng.
    5. Agar dibangun zona hijau/vegetasi antara Pemukiman dan Tebing dan harus dipertimbangkan jarak antara rumah beserta sarana penunjangnya, jangan terlalu dekat dan terlalu padat
    6. Dinding penahan disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan parit atau selokan kedap air untuk aliran air permukaan.
    7. Untuk mengetahui nilai faktor keamanan dalam desain lereng, perlu dilakukan pemodelan atau analisis kestabilan lereng berdasarkan sifat keteknikan tanah hasil pengujian sampel tanah di laboratorium mekanika tanah.
    8. Lahan dan undakan (tanah terbuka) akibat pengupasan/pengurugan agar ditanami dengan rerumputan/pepohonan agar terhindar dari cuaca (panas matahari dan hujan)  sehingga tidak mudah lapuk dan tidak memicu longsor. Tetap melestraikan  vegetasi yang sudah ada pada lahan yang tidak digunakan untuk permukiman.
    9. Harus diperhatikan juga kesesuaian jumlah unit bangunan yang akan dibangun dengan luas lahan yang tersedia, hal ini untuk mengurangi pembebanan lereng dan pengembangan permukiman yang mendekat ke arah lereng.
    10. Tidak mengembangkan lahan basah, kolam penampungan air di sekitar permukiman untuk menghindari pelunakan dan pembebanan yang dapat memicu gerakan tanah.
  • Penataan drainase (sistem aliran air permukaan dan buangan air limbah rumah tangga) :
  1.  
    1. Bersifat terpadu antar bangunan dan harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan.
    2. Pembuangan sebaiknya dilakukan dengan sistem Pembuangan Limbah Komunal atau diarahkan langsung ke sungai (jika memungkinkan), untuk mengurangi laju erosi permukaan dan menghindari peresapan air ke tanah yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Menjaga kelestarian lingkungan pada lereng atas dan dilakukan penanaman vegetasi berupa pohon berakar dalam dan kuat untuk meningkatkan daya ikat tanah dan menahan laju erosi pada lahan terbuka.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Gandrung 1 (230621)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah dan Lokasi Calon Relokasi di Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

 

Gandrung 2 (230621)

Gambar 2. Peta Geologi Kecamatan Gandrungmangu dan sekitarnya, Kabupaten Cilacap

 

Gandrung 3 (230621)

Gambar 3. Peta Potensi Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Mei 2021 di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH

 BULAN MEI 2021

Gandrung 4 (230621)

Keterangan :

Gandrung 5 (230621)

 

Gandrung 6 (230621)

Gambar 4. Peta Zona Kerentanan Gerakan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

 

Gandrung 7 (230621)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

 

Gandrung 8 (230621)

Gambar 6. Penampang situasi gerakan tanah di Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

 

Gandrung 9 (230621)

Gambar 7. Peta situasi lokasi calon relokasi di Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

 

Gandrung 10 (230621)

Gambar 8. Penampang situasi calon relokasi di Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah

 

Gandrung 11 (230621)

Gambar 9. Morfologi dan lahan pada Karakter batu lempung – batupasir tufa  Formasi Kumbang yang menjadi salah satu pengontrol kejadian gerakan tanah (Gambar Kiri)  . Pada bagian dasar merupakan unit batuan lempung – batupasir tufa yang ditutupi oleh tanah pelapukan berwarna orange/kuning , bahan rombakan /longsor berupa campuran anatara tanah pelapukan dan fragmen batu lempung – pasir tufa pada lereng dan di bagian sungai ditutupi secra tidak selaras oleh endapan alluvium berfragmen batuan beku

 

Gandrung 12 (230621)

 

Gandrung 13 (230621)

Gambar 12. Retakan berarah umum N 210 – 220 E dampak gerakan tanah tipe lambat  merusak  pemukiman yang berada di lereng bagian bawah Dusun Pagergunung RT 03/ RW 02, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap

 

Gandrung 14 (230621)

Gambar 13. Tataguna lahan di lokasi bencana berupa hutan pinus,  kebun campuran, tegalan, sawah, pemukiman. Juga dijumpai beberapa kolam ikan di lokasi tersebut

 

Gandrung 15 (230621)

Gambar 14. Pemukiman  warga yang rusak  dampak  gerakan tanah lambat  di Dusun Pagergunung RT 03/ RW 02, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap. Terlihat pada bagian lantai dan tembok muncul retakan berarah umum N 210 E.

 

Gandrung 16 (230621)

 

Gandrung 17 (230621)

 

Gandrung 18 (230621)

Gambar 17. Lokasi calon relokasi di Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap. Nampak tebing lereng yang tegak akibat pemotongan yang harus di buat pelandaian/dikupas.

 

Gandrung 19 (230621)

Gambar 18. Akses jalan menuju lokasi calon relokasi yang sudah  diaspal

 

Gandrung 20 (230621)

Gambar 19. Koordinasi antara tim dari PVMBG, BPBD Kab. Cilacap, Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Daerah dan warga setempat terkait pemeriksaan lokasi gerakan tanah dan lokasi calon relokasi di Dusun Pagergunung, Desa Karanggintung, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap