Laporan Kejadian Gerakan Tanah Di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara

Laporan hasil pemeriksaan kejadian gerakan tanah di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara.

1. Lokasi dan waktu kejadian :

Gerakan tanah terjadi di Kawasan proyek pembangunan PLTA Batang Toru Jalan R17 K4+100 Brigade 6, Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Secara geografis lokasi bencana terletak pada koordinat 1° 31’ 12” N dan 99° 8’ 13.2” E. Gerakan tanah ini terjadi pada hari Kamis, 29 April 2021 sekitar pukul 18.20 WIB.

 

2. Kondisi daerah bencana :
  • Geomorfologi, Secara umum morfologi di daerah bencana berada di jalur pegunungan Bukit Barisan yang merupakan kawasan hutan lindung. Kawasan tersebut umumnya bergelombang kuat dan berlereng terjal dan berbukit (kemiringan 15% - 40%).
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Padangsidempuan dan Sibolga, Sumatera (Aspden JA, dkk, 1982), secara regional satuan batuan ini termasuk dalam satuan Komplek Granit Uluhalanagondang, Diorit dan Granit. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, batuan penyusun merupakan batuan beku Diorit berwarna abu-abu dengan retakan beararah umum N35°E dengan bidang  kemiringan retakan berkisar antara  60° hingga tegak . Sebagian batuan tersebut mengalami pelapukan dan alterasi hingga menjadi lempung berwarna kuning hingga coklat kemerahan. Material lempung ini diperkirakan berperan sebagai bidang gelincir longsor. Pada bagian tengah, sebagian pelapukan batuan diorite ditutupi secara tidak selaras satuan batuan dari  longsor vulkanik tua  dengan material batuan beku andesitik berwarna abu dengan diameter dapat mencapai 2 meter. Serta dijumpai endapan alluvium sungai konglomeratan serta material lepas hasil pemapasan tebing jalan.
  • Keairan, Pada daerah terdampak longsor berada pada tekukan lereng dan merupakan wilayah alur alir dengan sumber mata air  melimpah yang bermuara di sungai Batang Toru. Pasca kejadian longsor,  rembesan  air  masih  terus mengalir di samping endapan longsor .
  • Tata Guna Lahan, Lereng perbukitan, dimanfaatkan  untuk kegiatan akses jalan bagia kegiatan penambangan Batu dan Pembangunan PLTA Batang Toru.   Kawasan lereng atas yang dibatasi oleh jalur jalan  merupakan  kawasan hutan dan semak belukar pada tebing jalan. Kawasan lereng tengah   diapit dua jalan   dan  dimanfaatkan warga sebagai kawasan kebun campur (seperti pisang dan sawit) serta satu bangunan rumah dengan  warung. Dan kawasan lereng bawah yang berada pada  batas jalan dengan tebing terjal  sungai Batang Toru.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2021 (PVMBG-Badan Geologi) di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, daerah bencana termasuk dalam daerah Potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi. Artinya pada daerah ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Jenis  dan Dampak gerakan tanah :

Bencana gerakan tanah yang terjadi merupakan jenis longsoran bahan rombakan pada tebing setinggi 50 meter. Material longsoran menutup jalur akses Kawasan dan menimbun rumah  beserta  warung yang tepat berada di bawah lereng. Material longsoran sebagian menimbun aliran Sungai Batang Toru yang berada di bawahnya.

Panjang aliran longsor mencapai sekitar 320 m hingga Sungai Batangtoru dengan arah longsoran N 96° E. Sedangkan lebar longsor sekitar 95 m dengan tinggi sekitar 250 m. Luas area longsor sekitar 28849,1 m2. Sedangkan untuk Volume material longsoran lebih kurang 86,547.3 m3.

Dampak gerakan tanah berdasarkan informasi dari BPBD Kab. Tapanuli Selatan tercatat  :

  1. 13 korban hilang dengan 10 orang telah diketemukan meninggal dan 3 belum ditemukan
  2. Satu 1 (satu) unit rumah beserta  warung tertimbun.
  3. Ruas jalan terputus pada lereng atas  lk   122 m

 

4. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena :

  • Perbukitan dengan kemiringan terjal
  • Material penyusun lereng yang mudah longsor dari batuan beku diorit yang retak massif, serta material pembentuk lereng bersifat  lepas berupa  tanah pelapukan, material longsoran lama terdiri dari boulder batuan vulkanik andesitik,  alluvium dan matrial lepas hasil pemotongan lereng
  • Terbangunnya bidang gelincir berupa  kontak batuan keras dengan tanah  pelapukan  yang  bersifat luruh dan  lepas
  • Tereksposnya kontak batuan keras dan lunak akibat pemotong lereng atas jalan, memicuh percepatan infiltrasi air pada  bidang kontak dan retakan batuan serta  tanah pelapukannya
  • Terdapat  alur air permukaan pada tekuk lereng atas dan  tengah pada wilayah bencana memicuh percepatan longsor  saat  meluncur ke sungai utama Batang Toru
  • Drainase air sepanjang alur jalan yang tidak berfungsi dengan baik mengakibatkan air bergerak liar ke arah lereng terjal
  • Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama yang turun sebelum kejadian gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Gerakan Tanah

Pemotongan lereng atas untuk kebutuhan pembangunan akses jalan  mengakibatkan tereksposnya zona lemah batuan berupa  kontak hasil pelapukan  batuan beku diorite  dan tanah pelapukannya. Kondisi ini  menyebabkan air mudah terinfiltrasi ke dalam kontak batuan dan tanah pelapukan.  Hujan lebat mengguyur Kawasan PLTA memicuh  terjadi percepatan resapan air pada kontak tubuh batuan diorite  dan pelapukannya  pada lereng. Dan peningkatan debit air pada  alur mata air bawah permukaan, pada kontak tanah pelapukan dengan batuan dasar (lava) yang kedap yang berlangsung terus menerus   membuat lereng mudah menjadi  jenuh. Percepatan   menerus bobot masa tanah di atas lereng   dan kuat gesernya menurun, tubuh tanah menjadi cepat menjadi tidak  stabil. Akibatnya terjadilah longsoran bada lereng atas hingga memotong jalur jalan dengan  material bergerak turun dengan cepat bercampur dengan boulder batuan beku andesitik

 

6. Rekomendasi Teknis : 

Mengingat wilayah ini merupakan telah terbangun kawasan jalur jalan berlereng terjal yang telah longsor dan berpotensi terjadinya longsor susulan, maka sebaiknya;

  • Segala penanganan longsoran agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, dan kewaspadaan tinggi tetap harus dijaga  selama masa pemabngunan PLTA.
  • Membersihkan material longsoran yang menimbun daerah jalan dan aliran sungai. Hal ini untuk menghindari terjadinya penyumbatan aliran sungai yang bisa menyebabkan banjir bandang.
  • Selama masa pembangunan PLTA maupun pertambangan batu, sebaiknya wilayah ini dihindari untuk dijadikan kawasan bermukim masyarakat dan selalu tetap diupayakan tidak adanya aktifitas bermukim secara permanen di sepanjang jalur jalan
  • Jalur jalur jalan terputus pada tebing terjal longsor sebaiknya dipindah ke lokasi alternatif lain. Namun jika perbaikan jalan akan tetap dilakukan, perlu dilakukan secara berhati hati dan beradaptasi dengan kondisi geologi setempat dan melakukan kajian geologi teknik lebih detail.
  • Pembuangan material longsoran maupun hasil pemotongan lereng diupayakan tidak langsung dibuang pada sisi lereng terjal karena memicu gangguan kestabilan lereng  secara cepat
  • Upaya mitigasi untuk mengurangi gangguan kestabilan lereng melalui :
  1.  
    1. Menjaga alur air permukaan pada jalur   tidak langsung mengarah ke lereng terjal.
    2. Tidak melakukan pemotongan secara tegak dan dibuat landai , diupayakan dibuat undakan, serta pemotongan dan penanganan lereng harus beradaptasi kondisi geologi setempat dengan memperhatikan  kaidah – kaidah  geologi teknik.
    3. Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta mampu tumbuh cepat.
    4. Saat ini telah telah diupayakan menjaga lereng tetap stabil dengan antara lain membangun tembok penahan tebing,  membuat jaring pengaman lereng pada  tebing jalan tanpa vegetasi. Upaya ini agar tetap terus di tingkatkan utamanya  di tebing jalan tanpa vegetasi
  • Peningkatan  kewaspadaan beraktifitas di jalur jalan sebagai berikut:
  1.  
    1. Peningkatan kewaspadaan  selama berlangsungnya aktifitas manusia  disekitar lokasi bencana terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya gerakan tanah susulan;
    2. Kewaspadaan tinggi  saat hujan dan berhati hati saat berhenti  di sepanjang jalur jalan berlereng terjal dan alur lembah lereng yang berpotensi menjadi  jalur air  utamanya
    3. Perlunya memberikan police line dan rambu  rawan longsor
    4. Pemantauan  titik potensi longsor  prioritas pada  tebing jalur jalan tanpa vegetasi berakar kuat  dan wilayah lembah alur air pada tekung lereng dan pemantauan curah hujan lokal
    5. Getaran kendaraan berat dapat memicuh terjadi gerakan tanah di jalur jalan rawan , diupayakan pengaturan jumlah kendaraan berat dalam satu kesatuan waktu saat melintas
    6. Tetap menyiagakan kendaraan pembersih material longsor, jika sewaktu waktu dibutuhkan.
  • Peningkatan sosialisasi bagi seluruh aktifitas  di sekitar lokasi bencana.
  • Seluruh kegiatan di lokasi bencana dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

BatangToru 1 (060621)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

 

BatangToru 2 (060621)

Gambar 2. Peta Geologi Kecamatan Marancar dan sekitarnya, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Ut. 

Batuan beku diorit dengan tanah pelapukannya berwarna kuning  kontak dengan alluvium dan longsoran vulkanik

 

BatangToru 3 (060621)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan April 2020, Kabupaten Tapanuli Selatan

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN

 BULAN APRIL 2021

BatangToru 4 (060621)

Keterangan :

BatangToru 5 (060621)

 

BatangToru 6 (060621)

Gambar 4. Gerakan tanah yang terjadi di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara

 

BatangToru 7 (060621)

Gambar 5. Morfologi longsoran yang memotong jalur jalan dan bergerak menuju sungai Batang Toru (kiri) dilihat menggunakan drone

 

BatangToru 8 (060621)

Gambar 6. Mahkota longsor. Batuan penyusun lereng berupa  batuan beku diorit berwarna abu abu dengan retakan masif dan lapukannya berwarna kuning kecoklatan,

 

BatangToru 9 (060621)

BatangToru 10 (060621)

Gambar 7. Perubahan tata guna lahan berdampak pada ganguan kestabilan lereng: (a) Menipisnya lahan hutan bagian lereng atas atas, ( b) pemanfaatan lahan akses jalan, untuk kebun campuran seperti pisang dan sawit yang berakar serabut, yang dibatasi pada bagian bawah lembah sungai terjal Batang Toru (lihat Gambar 5)

 

BatangToru 11 (060621)

BatangToru 12 (060621)

Gambar 8 :. Material longsor dan rembesan aliran air yang masih mengalir. Nampak pelapukan batuan menjadi lempung berwarna kecoklatan.

 

BatangToru 13 (060621)

BatangToru 14 (060621)

Gambar 9. Material Longsoran berupa tanah pelapukan, lumpur , boulder batuan menimbun jalan dan rumah yang dibangun tepat di bawah lereng

 

BatangToru 15 (060621)

BatangToru 16 (060621)

Gambar 10  Contoh kasus  : Memotong  lereng dengan upaya Mitigasi  (a. Jaring penahan tebing) dan  tanpa upaya Mitigasi  (b. memotong tegak pada lereng dengan tanah pelapukan lunak dan c. membuang material lepas ke lereng terjal)

 

BatangToru 17 (060621)

Gambar 11. Koordinasi dengan BPBD Provinsi Sumatra Utara dan BPBD Kab. Tapanuli Selatan