Laporan Pemeriksaan Kejadian Gerakan Tanah Di Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur

Laporan pemeriksaan gerakan tanah dan banjir badang di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai berikut:

A. Kecamatan Adonara Timur, Kab. Flores Timur

1. Lokasi dan waktu kejadian:

Banjir bandang terjadi alur Sungai Way Belle yang melewati Desa Waiwerang, Desa Waiburak, Desa Saosina dan Sungai Wai Belen yang melintasi Desa Bloto, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 123° 09’ 43,9” BT dan 08° 22’ 48,4” LS. Banjir bandang terjadi pada hari Minggu dini hari, 4 April 2021 sekitar pukul 02.00 WITA setelah hujan turun selama 3 hari berturut-turut.

 

2. Jenis bencana:

Bencana yang terjadi berupa banjir bandang/aliran bahan rombakan yang materialnya menimbun dan menyapu pemukiman. Pada bagian hulu sungai terdapat longsoran-longsoran.

 

3. Dampak gerakan tanah dan banjir bandang:

Berdasarkan update data dari Posko Terpadu Penanggulangan Bencana BNPB tanggal 14 April 2021, sebagai berikut:

  • Desa Waiwerang
    • 5 (lima) orang meninggal dunia
    • 174 KK atau 820 jiwa mengungsi
    • Puluhan rumah rusak
  • Desa Waiburak
    • 8 (delapan) orang meninggal dunia
    • 139 KK atau 518 jiwa mengungsi
    • Puluhan rumah rusak
  • Desa Saosina
    • 1 (satu) orang meninggal dunia
    • 13 KK atau 58 jiwa mengungsi
    • Beberapa rumah rusak
  • Desa Bloto
    • 44 KK atau 132 jiwa mengungsi
    • Beberapa rumah rusak
  • Desa Terong
    • 4 KK atau 20 jiwa mengungsi
    • Beberapa rumah rusak

 

4. Kondisi daerah bencana
  • Morfologi, Geomorfologi lokasi bencana berada pada daerah aliran Sungai Wai Belle dan Wai Belen dan merupakan kipas alluvial dengan area terdampak parah berada di sekitar muara sungai Wai Belle di dekat pantai. Elevasi berada pada ketinggian 28 mpdl di bagian hilir. Kipas alluvial adalah endapan sedimen berbentuk kipas (berisi bebatuan, kayu, kerikil, dan lumpur) yang terbentuk dari perubahan dasar aliran sungai yang curam menjadi datar. Perubahan dasar sungai yang curam ke dasar sungai yang datar jika terjadi hujan yang ekstreem di hulu akan terjadi banjir bandang/aliran bahan rombakan pada mulut lembah sungai yang datar.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lomblen (Koesoemadinata dan Noya, 1989), daerah hulu sungai termasuk dalam Formasi Kiro yang terdiri atas Breksi, lava, dan tufa sedangkan daerah hilir (landaan bencana) termasuk dalam Endapan Aluvium. Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan yang dijumpai di sekitar lokasi bencana merupakan batuan aluvial yang dicirikan dengan adanya fragmen batuan mengambang berukuran kerikil – bongkah, fragmen batuan beberapa diantaranya adalah fragmen batugamping dan andesit, matriks berupa pasir halus dengan kondisi sebagian lepas – lepas. Diduga batuan tersebut merupakan endapan sungai yang terdahulu. Berdasarkan kenampakan di lapangan, daerah bencana secara umum berada pada dataran banjir sungai Wai Belle dan sungai Wai Belen.
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada bagian hulu berupa hutan sedangkan pada bagian hilir berupa pemukiman.
  • Keairan, Lokasi bencana berada pada aliran sungai yang mengalir sepanjang musim. Pada saat pemeriksaan aliran Sungai Wai Belle dan Sungai Wai Belen cukup deras.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2021, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Adonara Timur memiliki potensi gerakan tanah Menengah, artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang

  • Perubahan dasar sungai yang curam ke dasar sungai yang datar jika terjadi hujan yang ekstreem di hulu akan terjadi banjir bandang/aliran bahan rombakan pada mulut lembah sungai yang datar dengan membawa material (pasir, boulder, batang pohon).
  • Longsoran dan erosi dasar Sungai Wai Belle dan Wai Belen dalam perjalanannya mengangkut bolder dan batang kayu sehingga menimpa pemukiman di sepadan Sungai
  • Curah hujan yang tinggi akibat Badai Siklon Tropis Seroja (3 hari) yang menyebabkan debit air meningkat tajam pada jalur aliran tersebut.

 

6. Mekanisme terjadinya banjir bandang

Badai Siklon Tropis Seroja mengakibatkan curah hujan intensitas tinggi. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut menyebabkan longsoran di bagian hulu (catchment area). Karena daerah tangkapan air cukup luas menyebabkan akumulasi  dan debit air sungai meningkat sehingga terbentuk aliran bahan rombakan yang menggerus dan membawa material berupa bongkah batu dan batang pohon. Aliran tersebut mengalir sepanjang aliran sungai yang berkembang menjadi kipas alluvial di bagian muka lembah. Pemukiman yang berada dekat dengan bantaran sungai tersapu oleh aliran sehingga menimbulkan korban jiwa.

 

7. Rekomendasi Teknis

  • Pemukiman di sepadan Sungai Wai Belle yang terlanda banjir bandang/aliran bahan rombakan dan longsoran sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Daerah terlanda merupakan daerah Kipas Alluvial yang padat pemukiman dan banyak fasilitas umum yang penting sehingga perlu dilakukan rekayasa engineering pada Sungai Wai Bele (series Sabo Dam) untuk mengurangi kecepatan aliran dan menahan boulder maupun batang pohon jika terjadi hujan lebat
  • Normalisasi aliran sungai Wai Belle (Waiwerang) dengan mengembalikan fungsi sungai seperti semula (tidak melakukan penyempitan sungai)
  • Tidak mengembangkan permukiman pada alur/ sepadan sungai dan pada lereng terjal;
  • Masyarakat yang tinggal di sepadan/bantaran sungai agar mewaspadai potensi banjir bandang/aliran bahan rombakan jika curah hujan tinggi;
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD, Dinas ESDM setempat.

 

 B. Kecamatan Ili Boleng, Kab. Flores Timur

 1. Lokasi dan waktu kejadian :

Lokasi pemeriksaan bencana aliran bahan rombakan/banjir bandang terjadi pada alur sungai yang melewati Dusun Puka Onah, Desa Nele Blolong; Desa Nele Lamadike; Dusun Nobu, Desa Nobogayak, Kecamatan Ili Boleng, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 123° 16’ 31,3” BT dan 08° 22’ 06.0” LS. Bencana banjir bandang terjadi pada hari Minggu dini hari, 4 April 2021. Berdasarkan hasil rekaman seismograf kejadian pertama terjadi pada jam 00:38:43 – pkl. 00:59:10 dan yang kedua (yang terbesar) terjadi pukul 01:50:00 – pkl. 02:18:37 selama sekitar 28 menit.

 

2. Jenis bencana :

Bencana yang terjadi berupa aliran bahan rombakan/banjir bandang yang materialnya menimbun dan menyapu pemukiman.

 

3. Dampak gerakan tanah dan banjir bandang :

Berdasarkan data Posko Terpadu Penanggulangan Bencana BNPB:

  • 55 orang meninggal dunia (Desa Nele Lamadike)
  • 1 orang belum  ditemukan
  • 40 orang luka-luka
  • Ratusan rumah rusak
  • Jalan menuju Dusun Puka Ona terputus

 

4. Kondisi daerah bencana : 
  1. Geomorfologi lokasi bencana merupakan kaki G. Ile Boleng sebelah tenggara. Titik inisiasi aliran bahan rombakan berada sekitar 500 m ke tenggara dari Puncak G. Ileboleng pada elevasi sekitar 1224 mpdl. Aliran bahan rombakan mengalir pada sebuah sungai intermitten (tak bernama). Sedangkan lokasi terdampak (Desa Nele Lamadike) 400 mpdl.
  2. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lomblen (Koesoemadinata dan Noya, 1989), daerah bencana termasuk dalam Batuan Gunungapi Muda G. Ili Boleng yang tersusun oleh Lava, Aglomerat, lahar, Bomb dan abu gunung api. Berdasarkan pengamatan lapangan, secara umum batuan penyusun di lokasi bencana adalah lava andesit dan material rombakan lava dengan fragmen andesit. Andesit berwarna abu – abu hingga kehitaman dengan tekstur afanitik, beberapa kristal plagioklas masih teramati dengan ukuran 1 – 2 mm. Fragmen batuan berukuran bongkah hingga 2 m dijumpai di sekitar daerah landaan di Desa Nele Lamadike.
  3. Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana G. Ile Boleng, daerah bencana termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana I (KRB I) (Taufiqurrohman, 2010), dimana pada kawasan tersebut berpotensi terlanda aliran lahar. Bencana banjir bandang Ile Boleng dapat dikatakan berada dalam kawasan aliran tersebut. Secara teknis istilah lahar merupakan terminologi yang menyebutkan aliran bahan rombakan dengan komponen batuan vulkaniklastik. Sehingga bencana aliran bahan rombakan (banjir bandang) Ile Boleng masih relevan menggunakan peta KRB tersebut.
  4. Tata guna lahan di lokasi bencana pada bagian hulu berupa hutan dan ladang sedangkan pada bagian tengah dan hilir berupa pemukiman.

5. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor dan banjir bandang diperkirakan karena : 

  • Kemiringan dasar sungai yang curam yang merupakan alur lembah sungai kering mengakibatkan batuan yang bersifat lepas mudah bergerak;
    • Material penyusun berupa produk gunungapi berupa bongkahan lava dan piroklastik serta lahar tua yang bersifat lepas-lepas pada bagian atas/permukaan dan lava andesit sebagai batuan dasar yang berperan sebagai bidang gelincir.
    • Curah hujan yang tinggi akibat Badai Siklon Tropis Seroja yang menyebabkan debit air meningkat tajam pada jalur aliran tersebut.

 

6. Mekanisme

Jalur sungai yang mengalir ke Desa Nele Lamadike adalah sungai kering yang berair Ketika hujan turun (jalur air). Jalur ini terisi oleh fragmen material rombakan/lahar dari lava andesit yang menjadi batuan dasar di lereng tenggara G. Ileboleng. Material rombakan tersebut bersifat lepas-lepas dengan matriks berupa pasir kasar. Saat badai siklon Seroja tiba, badai tersebut menyebabkan curah hujan meningkat tajam dengan intensitas tinggi. Akibatnya terjadi peningkatan debit sungai secara cepat yang menggerus/meluruhkan material rombakan pada alur sungai tersebut. Akumulasi tersebut berkembang menjadi aliran bahan rombakan yang membawa material berukuran bongkah bongkah hingga aliran pecah menjadi kipas alluvial di Desa Nele Lamadike. Kipas alluvial terbentuk di Desa Nele Lamadike karena perubahan morfologi dasar sungai yang berubah mendatar di Desa tersebut. Desa Nele Lamadike menjadi penyaring batuan berukuran besar atau bongkah. Pemukiman Desa Nele Lamadike  yang dilewati alur tersebut menjadi tergerus, rusak, hingga hanyut. Aliran masih mengalir ke arah hilir hingga mencapai Dusun Nobu, Desa Nobogayak. Namun aliran di dusun ini materialnya lebih berukuran halus yang didominasi pasir dan lumpur dengan sedikit fragmen batuan berukuran kerakal.

 

7. Rekomendasi Teknis :

  • Penduduk yang bermukim di sekitar alur sungai serta pemukiman yang rusak terlanda banjir bandang/aliran lahar/aliran bahan rombakan sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Masyarakat yang tinggal di sepadan/bantaran sungai agar mewaspadai potensi banjir bandang/lahar/aliran bahan rombakan;
  • Pemukiman rusak yang berada di jalur aliran bahan rombakan atau KRB 1 (lahar) G. Ileboleng di Desa Nele Lamadike harus di relokasi ke lokasi yang aman.
  • Normalisasi jalur sungai dan tidak mengembangkan permukiman di jalur air/ alur sungai, dan kipas aluvial;
  • Membuat Sabo DAM pada jalur sungai berpotensi aliran bahan rombakan/lahar (KRB I) khususnya pada jalur sungai yang mengarah ke wilayah Desa yang padat pemukiman.
  • Membuat jembatan penghubung yang menuju Dusun Puka Ona
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

C. Kecamatan Wotan Ulu Mado, Kab. Flores Timur

1. Lokasi dan waktu kejadian:

Banjir bandang terjadi alur Sungai Wai Kukak yang melewati Dusun Kwuko, Desa Oyan Baran, Kecatan Wotan Ulumado, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Secara geografi terletak pada koordinat 123° 03’ 42,1” BT dan 08° 23’ 44,1” LS. Banjir bandang terjadi pada hari Minggu dini hari, 4 April 2021 sekitar pukul 02.00 WITA setelah hujan turun selama 3 hari berturut-turut.

 

2. Jenis bencana:

Bencana yang terjadi berupa bajir bandang/aliran bahan rombakan yang materialnya menimbun dan menyapu pemukiman. Pada bagian hulu sungai terdapat longsoran-longsoran.

 

3. Dampak gerakan tanah dan banjir bandang:

Berdasarkan update data dari Posko Terpadu Penanggulangan Bencana BNPB tanggal 14 April 2021, sebagai berikut:

  • 3 orang meninggal dunia
  • Puluhan rumah rusak

 

4. Kondisi daerah bencana
  • Morfologi, Geomorfologi lokasi bencana berada pada daerah aliran sungai dengan area terdampak parah berada di sekitar muara sungai di dekat pantai. Elevasi berada pada ketinggian 57 mpdl di bagian hilir.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lomblen (Koesoemadinata dan Noya, 1989), daerah hulu sungai termasuk dalam Formasi Kiro yang terdiri atas Breksi, lava, dan tufa sedangkan daerah hilir (landaan bencana) termasuk dalam Endapan Aluvium. Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan yang dijumpai di sekitar lokasi bencana merupakan batuan aluvial yang dicirikan dengan adanya fragmen batuan mengambang berukuran kerikil – bongkah, fragmen batuan beberapa diantaranya adalah fragmen batugamping dan andesit, matriks berupa pasir halus dengan kondisi sebagian lepas – lepas. Diduga batuan tersebut merupakan endapan sungai yang terdahulu. Berdasarkan kenampakan di lapangan, daerah bencana secara umum berada pada dataran banjir sungai Wai Wukak dan Sungai Lungu Ikaburak.
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada bagian hulu berupa hutan sedangkan pada bagian hilir berupa pemukiman.
  • Keairan, Lokasi bencana berada pada aliran sungai yang mengalir sepanjang musim.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan April 2021, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Wotan Ulul Mado memiliki potensi gerakan tanah Menengah, artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

  

5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah dan Banjir Bandang

  • Perubahan dasar sungai yang curam ke dasar sungai yang datar jika terjadi hujan yang ekstreem di hulu akan terjadi banjir bandang/aliran bahan rombakan pada mulut lembah sungai yang datar dengan membawa material (pasir, boulder, batang pohon).
  • Longsoran dan erosi dasar Sungai Wai Wukak dan Wai Lungu Ikaburak dalam perjalanannya mengangkut bolder dan batang kayu sehingga menimpa pemukiman di sepadan sungai
  • Curah hujan yang tinggi akibat Badai Siklon Tropis Seroja yang menyebabkan debit air meningkat tajam pada jalur aliran tersebut.

 

6. Mekanisme terjadinya banjir bandang

Badai Siklon Tropis Seroja mengakibatkan curah hujan intensitas tinggi. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut menyebabkan longsoran di bagian hulu (catchment area). Karena daerah tangkapan air cukup luas menyebabkan akumulasi  dan debit air sungai meningkat sehingga terbentuk aliran bahan rombakan yang menggerus dan membawa material berupa bongkah batu dan batang pohon. Aliran tersebut mengalir sepanjang aliran sungai yang berkembang menjadi kipas alluvial di bagian muka lembah. Pemukiman yang berada dekat dengan bantaran sungai tersapu oleh aliran sehingga menimbulkan korban jiwa.

 

7. Rekomendasi Teknis

  • Pemukiman di sepadan Sungai Wai Kukak yang terlanda banjir bandang/aliran bahan rombakan dan longsoran sebaiknya direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Daerah terlanda merupakan daerah Kipas Alluvial yang padat pemukiman dan banyak fasilitas umum yang penting sehingga perlu dilakukan rekayasa engineering pada Sungai Wai Wukak (series Sabo Dam) untuk mengurangi kecepatan aliran dan menahan boulder maupun batang pohon jika terjadi hujan lebat
  • Tidak mengembangkan permukiman pada alur/ sepadan sungai dan pada lereng terjal;
  • Masyarakat yang tinggal di sepadan/bantaran sungai agar mewaspadai potensi banjir bandang/aliran bahan rombakan jika curah hujan tinggi;
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD, Dinas ESDM setempat.

 

LAMPIRAN

 

Adonara 1 (260421)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah dan banjir bandang di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

Adonara 2 (260421)

Gambar 2. Peta geologi Kabupaten Flores Timur dan sekitarnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

Adonara 3 (260421)

Gambar xx. Peta situasi aliran bahan rombakan di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT

 

Adonara 4 (260421)

Gambar xx. Peta situasi aliran bahan rombakan Sungai Wai Belle, Waiwerang Kota, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT

 

Adonara 5 (260421)

Gambar 3. Peta Situasi Bencana Aliran Bahan Rombakan Ileboleng 4 April 2021

 

LAMPIRAN FOTO LAPANGAN

Kecamatan Adonara Timur

Adonara 6 (260421)

Foto 1. Kenampakan aliran bahan rombakan/banjir bandang yang terjadi di aliran Sungai Wai Belle, Kecamatan Adonara Timur, NTT

 

Adonara 7 (260421)

Foto 2. Dampak gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Adonara Timur. Tampak pemukiman dan jembatan yang hancur.

 

Adonara 8 (260421)

Foto 3. Memperlihatkan pemukiman yang sejajar dengan arus Sungai Wai Belle pada bagian hilir

 

Adonara 9 (260421)

Foto 4. Kenampakan batuan penyusun di dekat lokasi bencana banjir bandang di Waiwerang. Batuan merupakan batuan alluvial (endapan sungai tua).

 

Adonara 10 (260421)

Foto 5. Jalan terputus

 

Kecamatan Ili Boleng

Adonara 11 (260421)

Foto 6. Memperlihat hulu sungai yang diduga sebagai titik awal banjir bandang

 

Adonara 12 (260421)

Foto 7. Batuan dasar berupa lava hasil produk Gunung Ili Boleng di sepanjang aliran sungai

 

Adonara 13 (260421)

Foto 8. Tim menyusuri sungai untuk melakukan kajian banjir bandang Ili Boleng

 

Adonara 14 (260421)

Foto 9. Kenampakan Desa Nele Lamadike yang terdampak parah akibat banjir bandang

 

Adonara 15 (260421)

Foto 10. Bongkah batu yang menimpa pemukiman di Desa Nele Lamadike

 

Adonara 16 (260421)

Foto 11. Daerah terdampak di Dusun Nobu. Material yang menimpa berukuran lebih kecil hingga lumpur

 

Kecamatan Wotan Ulu Mado

Adonara 17 (260421)

Foto 12. Kenampakan erosi aliran sungai yang membentuk kipas aluvial

 

Adonara 18 (260421)

Foto 13. Kenampakan beberapa longsor di dekat aliran sungai Wai Wukak

 

Adonara 19 (260421)

Foto 14. Kenampakan aliran bahan rombakan/banjir bandang yang terjadi di aliran Sungai Wai Kukak, Kecamatan Wotan Ulu Mado, NTT

 

Adonara 20 (260421)

Foto 15. Memperlihatkan pemukiman yang terdampak di bagian hilir

 

Adonara 21 (260421)

Foto 16. Kenampakan Batuan Aluvial yang menyusun lokasi bencana di Desa Oyang Barang

 

Adonara 22 (260421)

Foto 17. Koordinasi di Posko Tanggap Darurat Bencana Adonara