Laporan Pemeriksaan Kejadian Gerakan Tanah Di Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur

Laporan pemeriksaan Kejadian Gerakan Tanah dan Banjir Bandang di Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai berikut:

A. KECAMATAN ILE APE

1. Lokasi dan waktu kejadian :

Kejadian gerakan tanah disertai banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya terjadi pada alur di lereng G. Lewotolok. Secara detail, lokasi bencana berada di:

  • Sungai Iyowewang, Dusun 2 Rianebak, Desa Waowala, Kec. Ile Ape. Secara geografis berada pada koordinat 8° 16' 17,3" LS dan 123° 27' 34,2" BT.
  • Alur Sungai Kasarua Dusun 2 Pepang Kekay, Desa Tanjungbatu, Kec. Ile Ape. Secara geografis berada pada koordinat 8° 16' 12,8" LS dan 123° 27' 59,6" BT.
  • Alur Sungai Atabutoh di Kp. Lewotolok, Desa Amakaka, Kec. Ile Ape. Secara geografis berada pada koordinat 8° 16' 12,8" LS dan 123° 27' 59,6" BT.
  • Alur musiman yang melintasi Dusun B Hoe Lolon, Desa Lamawara, Kec. Ile Ape. Secara geografis berada pada koordinat 8° 15' 49,2" LS dan 123° 28' 09,8" BT.

Banjir bandang terjadi secara bersamaan pada Hari Minggu, 4 April 2021 sekitar pukul 01.30 WITA ketika siklon tropis Seroja melanda NTT dan sekitarnya.

 

2. Jenis Bencana dan Dampak:

Bencana yang terjadi secara umum berupa aliran bahan rombakan/banjir bandang. Daerah landaan berada di sepanjang alur musiman yang berhulu di lereng G. Lewotolok. Material banjir bandang berasal dari hasil erupsi lama yang tererosi dan longsor ke arah alur sungai. Arah landaan mengikuti alur musiman di sisi barat – baratlaut G. Lewotolok hingga bermuara ke laut.

Aliran bahan rombakan ini mengakibatkan:

  • Kp. Lewotolok, Desa Amakaka, Kec. Ile Ape
    • 29 (dua puluh sembilan) orang meninggal
    • 28 (dua puluh delapan) rumah rusak berat hingga hancur
    • 3 (tiga) unit fasilitas umum rusak
    • 1546 jiwa mengungsi
  • Dusun 2 Pepang Kekay, Desa Tanjungbatu, Kec. Ile Ape
    • 6 (enam) orang meninggal
    • Puluhan rumah rusak berat hingga hancur
  • Dusun 2 Rianebak, Desa Waowala, Kec. Ile Ape
    • 3 (tiga) orang meninggal
    • Puluhan rumah rusak berat hingga hancur
  • Dusun B Hoe Lolon, Desa Lamawara, Kec. Ile Ape
    • 2 (dua) orang luka-luka
    • 412 jiwa/117 KK mengungsi

 

3. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum, morfologi lokasi bencana berupa punggungan vulkanik yang masih menjadi bagian dari kerucut gunungapi Ile Lewotolok serta dataran kipas aluvial pantai. Kemiringan lereng di sekitar pantai antara 5° - 15° dan semakin terjal ke arah kerucut gunung. Terdapat kontras morfologi antara kerucut gunungapi dengan dataran pantai sehingga terbentuk kipas aluvial di tiap-tiap muara alur sungai di sekeliling kerucut gunung. Elevasi daerah bencana antara 5 – 30 m dpl sedangkan sumber material banjir bandang berada di sekitar puncak Gunung Lewotolok yang memiliki ketinggian 1400 m dpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lomblen, Nusa Tenggara Timur skala 1:250.000 (Koesoemadinata dan Noya, 1989), daerah bencana tersusun oleh Batuan Gunungapi Muda yang terdiri dari lava, aglomerat, bom, kerikil, pasir, dan abu gunungapi Lewotolok (Qhvl). Berdasarkan pengamatan lapangan, daerah bencana tersusun dari batuan lava andesitik dan breksi lahar G. Lewotolok. Di beberapa tempat, batuan ini tertutup oleh bongkahan bebatuan yang tersebar di area permukiman.
  • Tata Guna Lahan, Di sekitar kerucut gunung, tata guna lahan masih berupa hutan asli. Kebun campuran dan ladang berada di antara kerucut gunung dengan permukiman yang tersebar di sekitar pantai dan muara sungai.
  • Keairan, Sumber air penduduk berasal dari sumur gali dan mata air di kaki gunung yang ditampung dalam bak besar di tiap-tiap desa. Kedalaman sumur gali bervariasi antara 5 - 15 meter, dengan akifer jenis media rekahan. Sungai-sungai bersifat musiman yang kering saat kemarau dan hanya terisi air jika hujan turun.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Bulan April 2021 (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi), Kec. Ile Ape berada pada wilayah dengan potensi Rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada daerah ini, jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin terjadi terutama pada tebing lembah/alur sungai. Gerakan tanah lama sudah tidak aktif dan lereng telah mantap kembali.

 

4. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang :

  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya bencana.
  • Kemiringan lereng yang curam pada daerah hulu alur lembah sungai kering sehingga batuan yang bersifat lepas mudah bergerak ketika terjadi peningkatan debit air secara signifikan;
  • Material lereng yang tersusun oleh produk gunungapi berupa bongkahan lava dan piroklastik serta lahar tua yang bersifat lepas dan mudah luruh jika terkena air.
  • Kontras morfologi antara hulu dan hilir sehingga material bahan rombakan menyebar ketika memasuki permukiman yang berada di daerah pantai yang lebih landai.

 

5. Mekanisme gerakan tanah dan banjir bandang :

Curah hujan tinggi akibat badai siklon tropis Seroja yang melanda wilayah G. Lewotolok dan sekitarnya membuat debit sungai dan laju erosi permukaan meningkat drastis. Batuan yang bersifat lepas terbawa erosi dan longsor ke arah alur sungai sehingga aliran sungai terhambat. Ketika debit semakin meningkat, material longsor tersebut hanyut dan bercampur dengan air menuruni lembah sungai dan membawa serta bongkah-bongkah bebatuan di sepanjang aliran sungai yang sudah terendapkan sejak lama. Adanya kontras morfologi di bagian hilir membuat material yang dibawa sungai menjadi tersebar membentuk kipas aluvial yang menghancurkan permukiman, kebun dan jalan di sekitarnya hingga bermuara ke pantai.

 

6. Rekomendasi Teknis :

  • Masyarakat di daerah hilir sungai agar selalu waspada apabila di daerah hulu terjadi hujan lebat dengan waktu cukup lama, meskipun di daerah hilir tidak hujan dan masyarakat disarankan mengungsi ke lokasi yang aman dan menjauhi alur kali/sungai, karena lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi banjir bandang susulan;
  • Penduduk yang bermukim di bawah longsoran serta pemukiman yang rusak terlanda banjir bandang/aliran lahar/aliran bahan rombakan dan longsoran sebaiknya tetap mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Segera memperbaiki jalan yang masih terputus agar memudahkan proses evakuasi warga.
  • Pada saat cuaca di sekitar G. Lewotolok cerah, para warga dapat kembali ke rumahnya untuk mengevakuasi barang-barang atau memperbaiki rumahnya namun untuk sementara agar tidak bermalam dulu hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng terjal dan pada jalur air/ alur sungai;
  • Berdasarkan citra satelit dan foto udara banyak dijumpai pemukiman yang berada pada alur sungai, sehingga direkomendasikan agar direlokasi ke tempat yang jauh dari alur sungai yang berhulu di lereng G. Lewotolok.
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

B. KECAMATAN ILE APE TIMUR

 1. Lokasi dan waktu kejadian :

Kejadian gerakan tanah disertai banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, NTT umumnya terjadi pada alur di lereng G. Lewotolok. Secara detail, lokasi bencana berada di:

  • Alur Sungai Jumatpaun yang berada di antara Lamagute dan Napasabok, Kp. Atawatung, Desa Lamagute, Kec. Ile Ape Timur. Secara geografis berada pada koordinat 8° 14' 39,1" LS dan 123° 29' 23,1" BT.
  • Alur musiman di Kp. Waimatan, Desa Waimatan, Kec. Ile Ape Timur. Secara geografis berada pada koordinat 8° 14' 32,4" LS dan 123° 29' 56,3" BT.
  • Alur Sungai Kelar di Kp. Kelar, Desa Waimatan, Kec. Ile Ape Timur. Secara geografis berada pada koordinat 8° 14' 29,0" LS dan 123° 30' 12,7" BT. Lokasi alur sungai ini berada di bagian timur Dusun Waimatan.
  • Sungai Riangtobi, Kp. Riangtobi, Desa Aulesa, Kec. Ile Ape Timur. Secara geografis berada pada koordinat 8° 14' 20,9" S dan 123° 30' 51,5" BT.
  • Alur Sungai Lungu Lewu One dan Sungai Mekume, Kp. Lamawolo, Desa Lamawolo, Kec. Ili Ape Timur. Secara geografis berada pada koordinat 8° 16' 07,3" LS dan 123° 32' 46,9" BT.
  • Alur Sungai Lungu Bele di Kp. Jontona Baupukang, Desa Jontona, Kec. Ile Ape Timur. Secara geografis berada pada koordinat 8° 18' 19,7" LS dan 123° 31' 22,7" BT

Banjir bandang terjadi secara bersamaan pada Hari Minggu, 4 April 2021 sekitar pukul 01.30 WITA ketika siklon tropis Seroja melanda NTT dan sekitarnya.

 

2. Jenis bencana dan dampak :

Bencana yang terjadi secara umum berupa aliran bahan rombakan/banjir bandang/lahar. Daerah landaan berada di sepanjang alur musiman yang berhulu di lereng G. Lewotolok. Di Desa Jontona dan Lamawolo, aliran bahan rombakan berasosiasi dengan aktifitas vulkanik G. Lewotolok sehingga dapat disebut sebagai lahar. Material banjir bandang berasal dari hasil erupsi lama maupun erupsi baru yang terjadi sejak November 2020 lalu. Material tersebut tererosi dan longsor ke arah alur sungai. Arah landaan mengikuti alur musiman di sisi utara, timur dan tenggara G. Lewotolok hingga bermuara ke laut.

Aliran bahan rombakan ini mengakibatkan:

  • Kp. Waimatan, Desa Waimatan
    • 26 (dua puluh enam) orang meninggal
    • 8 (delapan) orang belum ditemukan
    • 26 (dua puluh enam) rumah rusak berat
    • 2 (dua) fasilitas umum rusat berat
    • Jalan utama penghubung Waimatan-Napasabok terputus
  • Kp. Lamawolo, Desa Lamawolo
    • 2 (dua) orang meninggal
    • 124 rumah rusak berat
    • 3 (tiga) fasilitas umum rusak
    • Badan jalan tertimbun material pasir dan kerikil
  • Kp. Jontona Baupukang, Desa Jontona
    • 21 (dua puluh satu) rumah rusak berat
    • Jalan dan jembatan tertimbun material bahan rombakan
  • Kp. Kelar, Desa Waimatan
    • Puluhan rumah dan bangunan lain rusak berat
    • Akses jalan tertimbun material bahan rombakan
  • Kp. Riangtobi, Desa Aulesa
    • 5 (lima) rumah rusak berat
    • Jalan dan jembatan putus akibat diterjang material bahan rombakan
  • Kp. Atawatung, Desa Lamagute
    • 468 jiwa/132 KK mengungsi
    • Jalan utama Waimatan – Napasabok terputus

 

3. Kondisi Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum, morfologi lokasi bencana berupa punggungan yang masih menjadi bagian dari kerucut gunungapi Ile Lewotolok serta dataran kaki gunungapi, setempat berupa dataran kipas aluvial pantai. Kemiringan lereng di sekitar pantai antara 5° - 25° dan semakin terjal ke arah kerucut gunung. Terdapat kontras morfologi antara kerucut gunungapi dengan dataran pantai sehingga terbentuk kipas aluvial di tiap-tiap muara alur sungai di sekeliling kerucut gunung. Elevasi daerah bencana antara 5 – 40 m dpl sedangkan sumber material banjir bandang berada di sekitar puncak Gunung Lewotolok yang memiliki ketinggian 1400 m dpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Lomblen, Nusa Tenggara Timur skala 1:250.000 (Koesoemadinata dan Noya, 1989), daerah bencana tersusun oleh Batuan Gunungapi Muda yang terdiri dari lava, aglomerat, bom, kerikil, pasir, dan abu gunungapi Lewotolok (Qhvl). Berdasarkan pengamatan lapangan, daerah bencana tersusun dari batuan lava andesitik dan breksi lahar G. Lewotolok yang terkekarkan kuat menjadi bongkah-bongkah batuan. Di Desa Jontona dan Lamawolo, terdapat endapan lahar yang menutupi batuan lava dan breksi tersebut.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan di sekitar lereng G. Lewotolok masih berupa hutan asli. Di kaki gunung terdapat permukiman yang tersebar hingga tepi pantai. Kebun campuran tersebar di antara permukiman dengan lereng gunung dan di sekitar area permukiman.
  • Keairan, Untuk kebutuhan sehari-hari, warga menggunakan air dari mata air dan dari sumur gali dengan kedalaman muka air tanah 3 – 30 m yang ditampung ke dalam bak penampungan yang diperuntukkan bagi warga setempat. Sungai bersifat musiman yang kering di saat kemarau dan hanya berair ketika hujan turun.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Bulan April 2021 (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi), Kec. Ile Ape Timur berada pada wilayah dengan potensi Rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada daerah ini, jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin terjadi terutama pada tebing lembah/alur sungai. Gerakan tanah lama sudah tidak aktif dan lereng telah mantap kembali.

 

4. Faktor Penyebab terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang :

  • Curah hujan yang tinggi sebelum dan pada saat terjadinya bencana.
  • Kemiringan lereng yang curam pada daerah hulu alur lembah sungai kering sehingga batuan yang bersifat lepas mudah bergerak ketika terjadi peningkatan debit air secara signifikan;
  • Material lereng yang tersusun oleh produk gunungapi berupa bongkahan lava dan piroklastik serta lahar tua yang bersifat lepas dan mudah luruh jika terkena air.
  • Kontras morfologi antara hulu dan hilir sehingga material bahan rombakan menyebar ketika memasuki permukiman yang berada di daerah pantai yang lebih landai.

 

5. Mekanisme gerakan tanah dan banjir bandang :

Curah hujan tinggi akibat badai siklon tropis Seroja yang melanda wilayah G. Lewotolok dan sekitarnya membuat debit sungai dan laju erosi permukaan meningkat drastis. Batuan yang bersifat lepas terbawa erosi dan longsor ke arah alur sungai sehingga aliran sungai terhambat. Ketika debit semakin meningkat, material longsor tersebut hanyut dan bercampur dengan air menuruni lembah sungai dan membawa serta bongkah-bongkah bebatuan di sepanjang aliran sungai yang sudah terendapkan sejak lama. Adanya kontras morfologi di bagian hilir membuat material yang dibawa sungai menjadi tersebar membentuk kipas aluvial yang menghancurkan permukiman, kebun dan jalan di sekitarnya hingga bermuara ke pantai.

 

6. Rekomendasi Teknis :

  • Masyarakat di daerah hilir sungai agar selalu waspada apabila di daerah hulu terjadi hujan lebat dengan waktu cukup lama, meskipun di daerah hilir tidak hujan dan masyarakat disarankan mengungsi ke lokasi yang aman dan menjauhi alur kali/sungai, karena lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi banjir bandang susulan;
  • Penduduk yang bermukim di bawah longsoran serta pemukiman yang rusak terlanda banjir bandang/aliran lahar/aliran bahan rombakan dan longsoran sebaiknya tetap mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Segera memperbaiki jalan yang masih terputus agar memudahkan proses evakuasi warga.
  • Pada saat cuaca di sekitar G. Lewotolok cerah, para warga dapat kembali ke rumahnya untuk mengevakuasi barang-barang atau memperbaiki rumahnya namun untuk sementara agar tidak bermalam dulu hingga ada arahan lebih lanjut dari pemerintah setempat.
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng terjal dan pada jalur air/ alur sungai;
  • Berdasarkan citra satelit dan foto udara banyak dijumpai pemukiman yang berada pada alur sungai, sehingga direkomendasikan agar direlokasi ke tempat yang jauh dari alur sungai yang berhulu di lereng G. Lewotolok.
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

NTT 1 (230421)

Gambar 1. Peta Lokasi pemeriksaan Bencana Gerakan Tanah dan Banjir Bandang di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

NTT 2 (230421)

Gambar 2. Peta geologi Kec. Ili Ape dan Kec. Ili Ape Timur dan Sekitarnya, Kab. Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

NTT 3 (230421)

Gambar 3. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada bulan April 2021.

 

NTT 4 (230421)

Gambar 4 Peta situasi aliran banjir bandang di Kec. Ili Ape dan Kec. Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT.

 

NTT 5 (230421)

Gambar 5. Peta situasi aliran bahan rombakan di Desa Amakaka, Kec. Ile Ape, Kab. Lembata, NTT. Tampak bahwa aliran bahan rombakan terjadi pada alur yang berhulu di sekitar bagian barat kerucut G. Lewotolok.

 

NTT 6 (230421)

Gambar 6. Peta situasi aliran bahan rombakan di Desa Waimatan, Kec. Ile Ape Timur, Kab. Lembata, NTT. Tampak bahwa aliran bahan rombakan terjadi pada alur yang berhulu di sekitar bagian utara kerucut G. Lewotolok.

 

LAMPIRAN FOTO LAPANGAN

1. Desa Waowala, Kec. Ili Ape

NTT 7 (230421)

Foto 1 dan 2. Foto Drone Aliran Banjir Bandang Sungai Iyowewang yang melanda Kampung Waowala, Desa Waowala, Kecamatan Ile Ape, Kab. Lembata.

 

NTT 8 (230421)

Foto 3. Kondisi Hulu Sungai Iyowewang, Foto 4. Pemukiman warga yang terdampak banjir bandang di Kampung Waowala, Desa Waowala, Kecamatan Ile Ape, Kab. Lembata.

 

2. Desa Tanjung Batu, Kec. Ili Ape

NTT 9 (230421)

Foto 5 dan 6. Foto Drone Aliran Banjir Bandang Sungai Pepang Kekay yang melanda Desa Tanjung Batu, Kecamatan Ile Ape, Kab. Lembata.

 

NTT 10 (230421)

Foto 7 . Longsoran yang terdapat di lereng bagian Barat G. Lewotolok yang merupakan bagian hulu Sungai Pepang Kekay, Foto 8. Jalan terputus akibat banjir bandang yang menghancurkan jembatan di Desa Tanjung Batu, Kecamatan Ile Ape, Kab. Lembata.

 

3. Desa Amakaka, Kec. Ili Ape

NTT 11 (230421)

Foto 9. Kondisi di bagian hulu Sungai Lungun Belen, Desa Amakaka. Terlihat beberapa gawir longsoran di sekitar alur sungai dan lereng G. Lewotolok (puncak tertutup awan).

 

NTT 12 (230421)

Foto 10. Kondisi alur bahan rombakan di Dusun Lewotolok, Desa Amakaka, Kec.

 

NTT 14 (230421)

Foto 11, 12 dan 13. Daerah yang terdampak di Kampung Lewotolok, Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape

 

4. Desa Lamawara Kec. Ili Ape

NTT 15 (230421)

Foto 14. Alur musiman yang terpecah di bagian hilirnya yang berdampak pada permukiman Dusun B Hoe Lolon, Desa Lamawara, Kec. Ile Ape

 

NTT 16 (230421)

Foto 15. Pemukiman yang terdampak banjir bandang di Desa Lamawara, Kec. Ili Ape

 

5. Desa Lamagute Kec. Ili Ape Timur

NTT 17 (230421)

Foto 16. Kampung Atawatung dan jalan penghubung Lamagute-Napasabok, Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur, Kab. Lembata di aliran alur

 

NTT 18 (230421)

Foto 17. Banjir bandang yang sempat memutus jalan penghubung antara Kec. Ili Ape Timur dan Kec. Ili Ape

 

6. Desa Waimatan, Kec. Ili Ape Timur

NTT 19 (230421)

Foto 18, 18 dan 20. Pemukiman di Kampung Waimatan, Desa Waimatan yang tepat berada di muka lembah alur sungai yang berdampak 26 orang meninggal dan 26 rumah rusak berat

 

NTT 20 (230421)

Foto 21, 22 dan 23 Foto udara lokasi aliran bahan rombakan yang terjadi di Kp. Kelar, Desa Waimatan Kecamatan Ile Ape Timur yang merupakan lereng G. Ili Lewotolok bagian utara.

 

7. Desa Aulesa, Kec. Ili Ape Timur

NTT 21 (230421)

Foto 24. Areal yang terdampak aliran bahan rombakan di Kp. Riangtobi, Desa Aulesa, Kec. Ile Ape Timur yang merupakan bagian hilir Sungai Riangtobi, dampaknya hanya beberapa bangunan yang rusak namun jalan utama sempat terputus akibat tertutup material yang didominasi batu berukuran bongkah.

 

NTT 22 (230421)

Foto 25. Foto udara Sungai Riangtobi dibagian hulu terdapat pertemuan dua sungai dengan lembah berbentuk V atau sangat dalam.

 

NTT 23 (230421)

Foto 26. Material aliran bahan rombakan yang didominasi oleh batuan berukuran bongkah (atas) sempat menutup akses jalan dan tidak bisa dilalui kendaraan (Bawah).

 

8. Desa Lamawolo, Kec. Ili Ape Timur

NTT 24 (230421)

Foto 27. Areal pemukiman yang terdampak aliran bahan rombakan di Desa Lamawolo, Kecamatan Ile Ape Timur, akibat kejadian tersebut 2 (dua) orang meninggal dunia dan ratusan rumah warga rusak berat.

 

NTT 25 (230421)

Foto 28. Beberapa banguan rumah warga yang rusak di Desa Lamawolo akibat diterjang material aliran bahan rombakan sehingga sudah tidak layak dihuni dan harus direlokasi.

 

NTT 26 (230421)

Foto 29. Hulu Sungai Lungu Lewu One di Desa Lamawolo, Kecamatan Ile Ape Timur yang berada di lereng bagian Timur Gunung Ili Lewotolok.

 

9. Desa Jontana, Kec. Ili Ape Timur

NTT 27 (230421)

Foto 30. Areal yang terdampak alirah bahan rombakan areal kebun warga di Desa Jontona Kecamatan Ile Ape Timur di bagian hilir Sungai yang membentuk seperti kipas aluvial.

 

NTT 28 (230421)

Foto 31. Hamparan batuan berukuran bongkah di Desa Jontona Kecamatan Ile Ape Timur yang merupakan material yang terbawa aliran bahan rombakan/banjir bandang.

 

NTT 29 (230421)

Foto 32. Koordinasi Tim Badan Geologi dan BASARNAS di Posko Bencana Basarnas Kec. Ile Ape Timur

 

NTT 30 (230421)

Foto 33. Koordinasi Tim BNPB dan Tim Badan Geologi di Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok