Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Wakap, Kecamatan Bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Bantarkalong , Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan dari BPBD Kabupaten Tasikmalaya nomor P/01/BC.0404/BPBD/20 tanggal 1 Februari 2021 tentang Permintaan Pemeriksaan Daerah Terkena Bencana Gerakan Tanah, sebagai berikut:

A. KAMPUNG BIRU, DESA WAKAP

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Biru RT 13 RW 06, Desa Wakap, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 7° 31' 42.8" LS dan 108° 5' 00.9" BT. Menurut keterangan warga, gerakan tanah terjadi pada 12 Oktober 2020.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana berada pada lereng perbukitan dengan berada di perbukitan berelief sedang – kasar dengan kemiringan lereng agak curam sampai curam antara 10°- 25°. Lokasi bencana berada pada ketinggian antara 500 - 520 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., P3G, 1986) secara regional batuan penyusun daerah bencana berupa Batuan Formasi Bentang terdiri dari batupasir tufaan, batupasir, batupasir gampingan, breksi gunungapi, tufa, batulempung tufan, breksi tufan, breksi gampingan, batugamping, konglomerat, dan batulempung sisipan lignit (Tmpb). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi dan tuf, dengan tanah pelapukan berupa lempung pasiran dengan ketebalan 1 meter berwarna coklat.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana berada dalam keadaan baik dan melimpah pada saat pemeriksaan. Kebutuhan air warga setempat memberasal dari sumur gali dengan kedalaman mata air tanah 8 meter. Selain itu warga memanfaatkan rembesan air dari tubuh lereng pada musim hujan.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi ini pada lereng bagian atas berupa kebun campuran dan pemukiman Kp. Biru. Sedangkan pada lereng  bagian tengah sampai bawah berupa pemukiman, kebun campuran, dan areal persawahan. Pemukiman yang terkena bencana umumnya terletak di dekat lereng bagian curam, baik di bagian atas maupun bagian bawah lereng curam. Beberapa di antaranya menempel dengan tebing curam.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya bulan Oktober 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Kecamatan Bantarkalong termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3.  Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di lokasi ini merupakan gerakan tanah tipe cepat yaitu longsoran tanah pada tebing setinggi sekitar 4 – 5 meter. Longsoran berarah N 64° E (relatif ke Timur). Material longsor menimpa rumah yang berada di bawahnya dan membuat retak-retak rumah yang berada di atas lereng longsoran tersebut.

Dampak bencana gerakan tanah:

  • 1 (satu) rumah rusak berat di bawah tebing longsoran, pada saat pemeriksaan telah dirobohkan;
  • 1 (satu) rumah rusak ringan di atas tebing longsoran;
  • 4 (empat) rumah terancam, 2 di antaranya berada di atas tebing longsoran dan 2 di bawahnya.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Tanah pelapukan (lapukan breksi) yang bersifat mudah meloloskan air melalui retakan yang terbentuk yang berada di atas batuan yang lebih kedap air. Batas antara keduanya diperkirakan sebagai bidang gelincir.
  • Pembebanan dan penjenuhan serta pelunakan tanah akibat akumulasi air pada pada bagian atas lereng.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik. Aliran air permukaan melimpah terakumulasi pada lokasi bencana menyebabkan tanah jenuh air.
  • Kemiringan lereng yang curam pada tebing yang longsor.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Gerakan tanah  di lokasi ini terjadi akibat berkurangnya nilai kestabilan lereng karena penjenuhan, penambahan bobot massa tanah, dan pelunakan yang dipengaruhi akumulasi air akibat pembuatan kolam pada bagian atas lereng. Curah hujan yang tinggi dan peresapan air yang cepat pada lereng bagian atas dan tengah dikarenakan tidak terdapatnya saluran air, semakin mempercepat proses penjenuhan dan penambahan bobot massa tanah.

Akibat kemiringan lereng yang curam dan bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan di bawahnya, mengakibatkan tanah pada lokasi ini mudah bergerak sehingga terjadi longsoran.

 

6.  Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • 1 (satu) rumah rusak berat agar direlokasi.
  • 1 (satu) rumah rusak ringan dan 4 (empat) rumah terancam masih cukup aman untuk ditempati saat ini (lihat Peta Situasi). Hal tersebut sebaiknya dengan mengikuti beberapa teknis rekomendasi di bawah.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harap melakukan pemantauan terhadap potensi longsoran susulan terutama pada saat dan setelah hujan deras, jika terjadi perkembangan intensif agar segera laporkan ke pihak berwenang, dan warga yang bermukim segera mengungsi.
  • Sebelum dilaksanaan penanganan teknis, warga yang tinggal di rumah-rumah terancam agar mengungsi pada saat dan setelah hujan.
  • Mengatur kembali aliran air permukaan/drainase di sekitar pemukiman (limpasan air hujan dan limbah rumah tangga) dengan membuat saluran berkonstruksi kedap air. Konstruksi kedap tersebut harus diteruskan sampai ke akhir pembuangannya yaitu sungai/lembah/kaki lereng.
  • Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Agar dibuatkan perkuatan lereng pada tebing-tebing curam yang menopang pemukiman berupa dinding/tembok penahan (retaining wall) yang kokoh dan memenuhi syarat teknis.
  • Segala penanganan longsoran agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Untuk ke depannya agar menanam vegetasi berakar kuat dan dalam pada tebing-tebing curam yang tidak dibuatkan dinding penahan.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat dalam penangana gerakan tanah.

 

 B. KAMPUNG RAHONG, DESA WAKAP

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Rahong RT 08 RW 04, Dusun Singkur, Desa Wakap, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 7° 31' 23.2" LS dan 108° 5 08.5" BT. Menurut keterangan warga, gerakan tanah terjadi pada 12 Oktober 2020.

 

2. Kondisi Daerah Bencana
  • Morfologi, Secara umum daerah bencana berada pada daerah perbukitan berelief halus – kasar, dengan kemiringan lereng yang landai (4° – 8°), namun pada pinggiran tebing mencapai 31°. Daerah bencana berada pada ketinggian antara 455 - 475 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., P3G, 1986) secara regional batuan penyusun daerah bencana berupa Batuan Formasi Bentang terdiri dari batupasir tufaan, batupasir, batupasir gampingan, breksi gunungapi, tufa, batulempung tufan, breksi tufan, breksi gampingan, batugamping, konglomerat, dan batulempung sisipan lignit (Tmpb). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana berupa tuf. Tanah pelapukan berupa lempungan berwarna coklat kemerahan.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana berada dalam keadaan baik dan melimpah. Untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan air berasal dari mata air yang dialirkan melalui pipa-pipa. Di beberapa rumah terdapat kolam-kolam air.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas dan tengah didominasi oleh pemukiman dan kebun campuran. Pada lereng bagian bawah terdapat pesawahan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya bulan Oktober 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Kecamatan Bantarkalong termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3.    Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di lokasi ini merupakan gerakan tanah tipe cepat yaitu longsoran tanah pada tebing setinggi sekitar 25 meter. Terdapat 2 (dua) titik longsoran. Longsoran 1 (di Selatan Peta Situasi) berarah N 80° E (relatif ke Timur). Longsoran 2 (di Utara Peta Situasi) berarah N 45° E (relatif ke Timur Laut).

Dampak bencana gerakan tanah:

  • Longsoran 1 mengancam jalur jalan di atasnya, merusak jalan setapak yang berada di bagian bawah tubuh longsoran serta menimbun sebagian kecil area pesawahan;
  • Longsoran 2 mengancam 4 (empat) rumah yang berada di atas longsoran;

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah: 

  • Tanah pelapukan (lapukan tuf) yang bersifat mudah meloloskan air melalui retakan yang terbentuk yang berada di atas batuan yang lebih kedap air. Batas antara keduanya diperkirakan sebagai bidang gelincir.
  • Pembebanan dan penjenuhan serta pelunakan tanah akibat akumulasi air pada pada bagian atas lereng.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik. Aliran air permukaan melimpah terakumulasi pada lokasi bencana menyebabkan tanah jenuh air.
  • Kemiringan lereng yang curam pada tebing yang longsor.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Gerakan tanah  di lokasi ini terjadi akibat berkurangnya nilai kestabilan lereng karena penjenuhan, penambahan bobot massa tanah, dan pelunakan yang dipengaruhi akumulasi air akibat pembuatan kolam pada bagian atas lereng. Curah hujan yang tinggi dan peresapan air yang cepat pada lereng bagian atas dan tengah dikarenakan tidak terdapatnya saluran air, semakin mempercepat proses penjenuhan dan penambahan bobot massa tanah.

Akibat kemiringan lereng yang curam dan bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan di bawahnya, mengakibatkan tanah pada lokasi ini mudah bergerak sehingga terjadi longsoran.

 

6. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • 4 (empat) rumah terancam yang di Longsoran 2 (bagian Utara Peta Situasi) masih cukup aman untuk ditempati saat ini.
  • Masyarakat di sekitar longsoran agar selalu meningkatkan kewaspadaannya terutama pada saat dan setelah hujan.
  • Mengatur kembali aliran air permukaan/drainase di sekitar pemukiman (limpasan air hujan dan limbah rumah tangga) dengan membuat saluran berkonstruksi kedap air. Konstruksi kedap tersebut harus diteruskan sampai ke akhir pembuangannya yaitu sungai.
  • Pada area bekas longsoran agar ditanami vegetasi yang berakar kuat dan dalam untuk menjaga stabilitas lereng.
  • Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
  • Agar dibuatkan perkuatan lereng pada tebing-tebing curam yang menopang pemukiman berupa dinding/tembok penahan (retaining wall) yang kokoh dan memenuhi syarat teknis.
  • Segera memperbaiki konstruksi jalur jalan, terutama sistem drainase di kanan dan kiri jalan agar sesuai syarat teknis yang baik.
  • Kolam-kolam air yang ada di sekitar pemukiman agar dikurangi dimensinya dan dibuat kedap air baik pada dindingnya maupun dasarnya.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat dalam penangana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Bantarkalong 1 (220321)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Kp. Biru dan Kp. Rahong, Desa Wakap, Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat.

 

Bantarkalong 2 (220321)

Gambar 2. Peta geologi regional Kecamatan Bantarkalong dan sekitarnya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

 

Bantarkalong 3 (220321)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Desa Wakap dan sekitarnya, Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya pada Bulan Oktober 2020.

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN OKTOBER 2020

Bantarkalong 4 (220321)

 

Bantarkalong 5 (220321)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Biru, Desa Wakap, Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya.

 

Bantarkalong 6 (220321)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Biru, Desa Wakap, Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya.

 

Bantarkalong 7 (220321)

Gambar 6. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Rahong, Desa Wakap, Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya.

 

Bantarkalong 8 (220321)

Gambar 7. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Rahong, Desa Wakap, Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya.

 

Bantarkalong 9 (220321)

Foto 1. (A) Longsoran di Kp. Biru akibatnya 1 rumah rusak berat, pada saat pemeriksaan telah dirobohkan; (B) Foto udara lokasi longsoran; (C) Rumah yang rusak di atas mahkota longsoran; (D) 2 rumah terancam yang berada di bawah tubuh tebing longsoran.

 

Bantarkalong 10 (220321)

Foto 2. Beberapa posisi rumah di Kp. Biru yang menempel pada tebing curam, agar dibuatkan perkuatan lereng yang kokoh dan memenuhi syarat teknis

 

Bantarkalong 11 (220321)

Foto 3. Jalur jalan di Kp. Rahong yang terancam berada di atas tebing yang longsor.

 

Bantarkalong 12 (220321)

Foto 4. Mahkota dan tubuh longsoran di Kp. Rahong yang berada di bawah badan jalan (Longsoran 1 di bagian Selatan Peta Situasi).

 

Bantarkalong 13 (220321)

Foto 5. Longsoran di Kp. Rahong yang mengancam 4 (empat) rumah yang berada di atasnya (Longsoran 2 di bagian Utara Peta Situasi). 

 

Bantarkalong 14 (220321)

Foto 6. Kolam-kolam air yang ada di sekitar pemukiman agar dikurangi dimensinya dan dibuat kedap air baik pada dindingnya maupun dasarnya.

 

Bantarkalong 15 (220321)

Foto 7. Kegiatan pemeriksaan, koordinasi, dan sosialisasi bencana gerakan tanah dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Tasikmalaya, masyarakat, aparat desa dan kecamatan setempat di Kec. Bantarkalong, Kab. Tasikmalaya.