Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Bojongsari, Kecamatan Gunung Tanjung Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan dari BPBD Kabupaten Tasikmalaya nomor P/01/BC.0404/BPBD/20 tanggal 1 Februari 2021 tentang Permintaan Pemeriksaan Daerah Terkena Bencana Gerakan Tanah, sebagai berikut:

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Munjul RT/RW 03/01, Desa Bojongsari, Kecamatan Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis berada pada koordinat 108° 18’ 59,8” BT, 07° 24’ 11” LS. Menurut keterangan warga setempat, gerakan tanah terjadi awalnya pada awal 2018, kemudian mulai membesar pada Januari 2021 setelah hujan berintensitas tinggi.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana ini berada di perbukitan berelief sedang – kasar dengan kemiringan lereng landai sampai curam antara 5°- 25°, di pinggiran tebing  yang longsor mencapai lebih dari 30°. Lokasi ini berada pada ketinggian sekitar 420 - 475 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., P3G, 1986) secara regional batuan penyusun daerah bencana berupa Batuan Formasi Bentang terdiri dari batupasir tufaan, batupasir, batupasir gampingan, breksi gunungapi, tufa, batulempung tufan, breksi tufan, breksi gampingan, batugamping, konglomerat, dan batulempung sisipan lignit (Tmpb). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan penyusun yang tersingkap di sekitar lokasi bencana merupakan batupasir tufan, breksi, dan batulempung, pelapukannya berupa pasir lempungan berwarna coklat muda hingga kemerahan, dengan ketebalan > 2 meter, bersifat sarang, gembur dan tidak kompak.
  • Keairan, Kondisi keairan di sekitar lokasi gerakan tanah ini cukup baik dan melimpah pada musim hujan. Masyarakat Kp. Munjul memanfaatkan air dari mata air Jabrig untuk keperluan rumah tangga, mengairi pesawahan, dan kebun di sekitar pemukiman. Selain itu warga juga memanfaatkan air sumur galian dengan kedalaman rata-rata 17 meter.
  • Tata Guna Lahan, Secara umum tata guna lahan di Kp. Munjul ini pada lereng atas sampai lereng bagian bawah merupakan kebun campuran yang didominasi salak, rempah-rempah, sebagian kecil pohon albasiah dan bambu. Pemukiman Kp. Munjul berada di lereng bagian tengah, bagian Barat pemukiman terdapat lahan pesawahan yang cukup luas.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya bulan Januari 2021 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Desa Bojongsari, Kec. Gunung Tanjung termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi, artinya Daerah ini mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3.  Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa longsoran tanah di lereng atas pada wilayah kebun campuran, dengan mahkota longsoran (bagian atas longsoran) berbentuk tapal kuda/melengkung. Lebar mahkota longsoran 54 meter dengan arah N 322° E, relatif ke Utara. Retakan-retakan ditemukan juga pada lereng atas yang didominasi oleh kebun salak.  Retakan-retakan di pemukiman merusak bangunan-bangunan warga, dengan arah retakan relatif ke Utara.

Dampak gerakan tanah ini :

  • 18 rumah dan 1 bangunan masjid rusak berat,
  • 3 rumah rusak ringan.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Tanah pelapukan (lapukan batupasir, breksi) yang bersifat mudah meloloskan air melalui retakan yang terbentuk yang berada di atas batuan yang lebih kedap air (batulempung). Batas antara keduanya diperkirakan sebagai bidang gelincir.
  • Kemiringan lereng yang curam di lereng bagian atas pemukiman mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik. Aliran air permukaan melimpah terakumulasi pada lokasi bencana menyebabkan tanah jenuh air.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan membuat tanah pelapukan menjadi jenuh air. Ditambah dengan kemiringan lereng yang curam, mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan dan bergerak mencari kesetimbangan baru, maka terjadilah gerakan tanah.

 

6.  Rekomendasi

Pada saat ini Pemerintah Daerah melalui BPBD Kabupaten Tasikmalaya telah melaksanakan dan merespon dengan baik untuk mengantisipasi potensi longsor dan pengurangan dampak bencana dengan menyiapkan tempat pengungsian. Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • 18 rumah rusak berat dan 3 rumah rusak ringan agar direlokasi.
  • Sebelum diadakan relokasi, maka disarankan agar:
    • Masyarakat tidak beraktivitas pada saat dan setelah hujan di sekitar area longsoran di lereng atas;
    • Masyarakat beserta aparat setempat agar melakukan pemantauan perkembangan retakan di sekitar lereng atas, lahan perkebunan salak, dan sekitar pemukiman, jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah;
    • Jika ditemukan retakan baru pada tanah agar segera ditutup dengan tanah liat/lempung/material kedap dan dipadatkan;
    • Untuk memperlambat peresapan/penjenuhan air ke tanah agar dilakukan penataan drainase (air hujan, buangan air limbah rumah tangga, mata air) di sekitar pemukiman dengan saluran kedap air. Aliran air langsung dialirkan ke arah lembah/kaki lereng/sungai.
    • Penataan drainase di area perkebunan yang longsor, terutama di atas mahkota longsoran agar dibuat jalur air hujan dengan alat kedap air sementara, misal terpal untuk mengurangi peresapan/penjenuhan air pada lereng. Hal ini agar tidak terjadi longsor susulan.
  • Retakan yang terdapat di perkebunan salak agar segera segera ditutup dengan tanah liat/lempung/material kedap dan dipadatkan.
  • Untuk ke depannya agar daerah perkebunan salak sebaiknya dialih fungsi lahan menjadi jenis vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menahan lereng pada area bekas longsor.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat dalam penangana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

GunungTanjung 1 (220321)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kp. Munjul, Desa Bojongsari, Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat

 

GunungTanjung 2 (220321)

Gambar 2. Peta Geologi di Desa Bojongsari dan sekitarnya, Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya.

 

GunungTanjung 3 (220321)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Desa Bojongsari dan sekitarnya, Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya pada Bulan Januari 2021.

 

GunungTanjung 4 (220321)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Munjul, Desa Bojongsari, Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya.

 

GunungTanjung 5 (220321)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Munjul, Desa Bojongsari, Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya.

 

GunungTanjung 6 (220321)

Foto 1. Kenampakan bangunan warga di Kp. Munjul, Desa Bojongsari, Kec. Gunung Tanjung yang rusak akibat gerakan tanah.

 

GunungTanjung 7 (220321)

Foto 2. Bagian mahkota longsoran, agar masyarakat menjauhi dan tidak beraktivitas pada saat dan setelah hujan di sekitar area longsoran tersebut.

 

GunungTanjung 8 (220321)

Foto 3. Jalur air hujan yang telah dibuat warga dan aparat setempat yang terletak di atas mahkota longsoran agar untuk sementara dibuat kedap air, misal dengan terpal untuk mengurangi penjenuhan air pada lereng. Hal ini agar tidak  memicu longsor susulan.

 

GunungTanjung 9 (220321)

Foto 4. Retakan yang terdapat di perkebunan salak agar segera segera ditutup dengan tanah liat/lempung/material kedap dan dipadatkan.

 

GunungTanjung 10 (220321)

Foto 5. Kegiatan pemeriksaan, koordinasi, dan sosialisasi bencana gerakan tanah dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Tasikmalaya, masyarakat, aparat desa dan kecamatan setempat di Kec. Gunung Tanjung, Kab. Tasikmalaya.