Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Puspahiang , Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan dari BPBD Kabupaten Tasikmalaya nomor P/01/BC.0404/BPBD/20 tanggal 1 Februari 2021 tentang Permintaan Pemeriksaan Daerah Terkena Bencana Gerakan Tanah, sebagai berikut:

A. KAMPUNG BABAKANMANGGU, DESA PUSPAJAYA

1. Lokasi Bencana dan Waktu Kejadian

Bencana gerakan tanah terjadi di Kp. Babakanmanggu RT 15 RW 04, Desa Puspajaya, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 7° 24' 47.12" LS dan 108° 3' 27.36" BT. Menurut keterangan warga, gerakan tanah terjadi pada 21 Januari 2021.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana berada pada lereng perbukitan dengan kemiringan lereng yang landai pada lereng bagian atas (3° – 5°), dan curam pada pinggiran tebing (22° – 32°). Lokasi bencana berada pada ketinggian antara 530 - 570 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (T. Budhitrisna, 1986), daerah bencana disusun oleh batuan dari Formasi Bentang yang terdiri dari batupasir tufaan, batupasir gampingan, konglomerat, breksi gunungapi, tufa, batulempung tufaan, breksi tufaan, breksi gampingan, batugamping, batulepung sisipan lignit (Tmpb) dan Hasil Gunungapi Tua yang terdiri dari breksi gunungapi, breksi aliran, tufa dan lava bersususan andesit dan basal dari G. Cikuray (QTvc). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana berupa batupasir tufan dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat muda dengan ketebalan 50 – 150 cm.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana berada dalam keadaan baik dan melimpah. Untuk keperluan sehari-hari, kebutuhan air berasal dari mata air dan Sungai Cipanojer yang dialirkan melalui pipa-pipa/selang. Pada bagian lembah mengalir sungai kecil dan pada bagian atas lereng terdapat saluran irigasi.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan di lokasi ini umumnya disusun oleh areal persawahan dengan sebgaian kecil rumah-rumah warga yang berada di dalam areal persawahan. Retakan muncul pada areal persawahan tersebut. Kolam-kolam ditemui di beberapa tempat pada bagian atas lereng.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya bulan Januari 2021 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Desa Puspajaya, Kecamatan Puspahiang termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3.  Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di lokasi ini berupa rayapan. Jenis longsoran ini ditandai dengan munculnya retakan pada areal persawahan juga pada pada bangunan. Retakan pada sawah berarah N 214° E (barat daya – timur laut) sedangkan arah longsoran N119° E (arah tenggara). Pada saat pemeriksaan retakan pada sawah bagian atas sudah ditutup namun pada lereng bagian bawah masih dijumpai adanya retakan.

Dampak bencana gerakan tanah:

  • 1 (satu) rumah rusak ringan;
  • 5 (lima) rumah terancam.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Batuan penyusun yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air dan luruh jika terkena air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan yang bersifat lebih kedap dan berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Pembebanan dan penjenuhan serta pelunakan tanah akibat akumulasi air pada kolam-kolam penampungan air dan lahan pertanian basah pada bagian atas lereng.
  • Sistem drainase permukaan (irigasi) yang kurang baik. Aliran air permukaan melimpah terakumulasi pada lokasi bencana menyebabkan tanah jenuh air.
  • Kemiringan lereng yang curam pada tebing yang longsor.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Gerakan tanah di lokasi ini adalah jenis rayapan. Gerakan tanah ini terjadi akibat interaksi kondisi litologi, penjenuhan, pelunakan, dan penambahan bobot massa tanah akibat akumulasi air pada penggunaan lahan, morfologi tebing yang sangat terjal, serta curah hujan yang turun dengan durasi lama sebelum gerakan tanah terjadi. Akibat kemiringan lereng yang landai pada lereng bagian atas sehingga hanya terbentuk retakan, namun hal ini berpotensi terjadi longsoran cepat akibat kemiringan lereng yang curam pada bagian bawah.

 

6.  Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Apabila lahan persawahan basah tetap dipertahankan, maka 1 (satu) rumah rusak ringan dan 5 (lima) rumah terancam harus direlokasi ke tempat  yang aman.
  • Jika pemukiman di lokasi ini tetap dipertahankan, sebaiknya dengan mengikuti beberapa teknis rekomendasi di bawah;
    • Jenis bangunan yang cocok untuk wilayah dengan indikasi pergerakan tanah tipe rayapan yaitu bangunan yang mempunyai kontruksi ringan seperti rumah kayu/panggung.
    • Sebelum dilaksanakan penanganan teknis, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harap melakukan pemantauan terhadap potensi longsoran susulan terutama pada saat dan setelah hujan deras, jika terjadi perkembangan intensif agar segera laporkan ke pihak berwenang, dan warga yang bermukim segera mengungsi.
    • Jika muncul retakan baru segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng. Kegiatan ini dilakukan secara merata jika retakan muncul di lereng bagian atas, tengah, maupun lereng bawah, baik di lahan pesawahan, kebun, maupun dekat pemukiman.
    • Penataan saluran drainase permukaan dan saluran irigasi di lahan pesawahan. Semua aliran air permukaan tersebut melalui pemipaan atau ditembok/disemen (bagian dinding dan dasar irigasinya). Konstruksi kedap tersebut harus diteruskan sampai ke akhir pembuangannya yaitu sungai/lembah/kaki lereng.
    • Sebaiknya pada lahan pesawahan dibuat perselingan dengan tanaman akar kuat dan dalam, untuk memperkuat lereng dan tanah tidak mudah bergerak. Terutama pada bagian yang dekat dengan lereng curam.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah.

 

B. KAMPUNG CIPARIA, DESA PUSPARAHAYU

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Bencana gerakan tanah terjadi pada jalur jalan penghubung Desa Pusparahayu – Desa Luyubakti, tepatnya di Kampung Ciparia RT 05 RW 01, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Secara geografi terletak pada koordinat 7° 36' 12.21" LS dan 108° 07' 20.1" BT. Menurut keterangan warga, gerakan tanah terjadi pada Januari 2021.

 

2. Kondisi Daerah Bencana
  • Morfologi, Secara umum daerah bencana berada pada daerah perbukitan berelief sedang – kasar, dengan kemiringan lereng yang landai (4° – 8°), namun pada pinggiran tebing mencapai 25°. Daerah bencana berada pada ketinggian 570 - 575 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., P3G, 1986) secara regional batuan penyusun daerah bencana berupa Batuan Formasi Bentang terdiri dari batupasir tufaan, batupasir, batupasir gampingan, breksi gunungapi, tufa, batulempung tufan, breksi tufan, breksi gampingan, batugamping, konglomerat, dan batulempung sisipan lignit (Tmpb). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi dan batupasir tufaan yang sudah melapuk. Tanah pelapukan pasiran berupa berwarna coklat - coklat kemerahan, dengan ketebalan 1 – 2 meter.
  • Keairan, Kondisi keairan di daerah bencana berada dalam keadaan baik pada saat pemeriksaan di musim hujan. Kebutuhan air penduduk sekitar didapat dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 20 – 60 meter. Pada badan jalan, air permukaan mengalir liar, tidak terdapat saluran drainase jalan yang kedap air.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada lereng bagian atas badan jalan berupa tebing curam yang sudah melandai akibat longsoran lama. Pada saat pemeriksaan telah rimbun kembali oleh tumbuhan.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3.    Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di lokasi ini berupa rayapan yang ditandai dengan amblasan pada jalur jalan sepanjang ± 30 meter, kedalaman mencapai 1 meter. Arah pergerakan N 40° E, relatif ke Timur Laut. Terdapat longsoran lama pada tebing di  atas badan jalan yang amblas.

Dampak bencana gerakan tanah:

  • Arus lalu lintas dari Desa Pusparahayu menuju Desa Luyubakti, Kecamatan Puspahiang dan sebaliknya terganggu, tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah: 

  • Tanah pelapukan yang bersifat mudah meloloskan air melalui retakan yang terbentuk yang berada di atas batuan yang lebih kedap air. Batas antara keduanya diperkirakan sebagai bidang gelincir.
  • Penjenuhan, penambahan bobot massa tanah, dan pelunakan akibat akumulasi air pada pada bagian atas lereng dan pada badan jalan.
  • Sistem drainase permukaan jalur jalan yang kurang baik. Aliran air permukaan melimpah terakumulasi pada lokasi bencana menyebabkan tanah jenuh air.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Gerakan tanah  di lokasi ini terjadi akibat berkurangnya nilai kestabilan lereng karena penjenuhan, penambahan bobot massa tanah, dan pelunakan yang dipengaruhi akumulasi air pada bagian atas lereng dan pada badan jalan. Curah hujan yang tinggi dan peresapan air yang cepat dikarenakan tidak terdapatnya saluran air yang baik di sekitar jalur jalan, semakin mempercepat proses penjenuhan tanah. Akibat kemiringan lereng yang curam dan bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan di bawahnya, mengakibatkan tanah pada lokasi ini mudah bergerak ke luar lereng pada bidang gelincir secara lambat membentuk amblasan.

 

6.  Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Pada area bekas longsoran lama di lereng atas jalan agar ditanami vegetasi yang berakar kuat dan dalam untuk menjaga stabilitas lereng. Dan pada kaki lerengnya dibuat tembok penahan lereng.
  • Jika muncul retakan baru segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng. Kegiatan ini dilakukan secara merata jika retakan muncul di terutama lereng bagian atas, tengah, maupun lereng bawah dari badan jalan.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor pada wilayah jalur jalan yang berpotensi terjadinya longsor.
  • Segera memperbaiki konstruksi jalur jalan, baik dari pondasi (timbunannya), gorong-gorong, maupun sistem drainase di kanan dan kiri jalan agar sesuai syarat teknis yang baik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Puspahiang 1 (220321)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Puspajaya dan Desa Pusparahayu, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat

 

Puspahiang 2 (220321)

Gambar 2. Peta geologi regional Kecamatan Puspahiang dan sekitarnya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

 

Puspahiang 3 (220321)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Desa Puspajaya dan sekitarnya, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya pada Bulan Januari 2021.

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN JANUARI 2021

Sapola 4 (220321)

 

Puspahiang 5 (220321)

Gambar 4. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Desa Pusparahayu dan sekitarnya, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya.

 

Puspahiang 6 (220321)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Babakanmanggu, Desa Puspajaya, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya.

 

Puspahiang 7 (220321)

Gambar 6. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Babakanmanggu, Desa Puspajaya, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya.

 

Puspahiang 8 (220321)

Gambar 7. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Ciparia, Desa Pusparahayu, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya.

 

Puspahiang 9 (220321)

Gambar 8. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Ciparia, Desa Pusparahayu, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya.

 

Puspahiang 10 (220321)

Foto 1. Beberapa titik gerakan tanah pada area lahan pesawahan di Kp. Babakanmanggu, Desa Puspajaya, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat.

 

Puspahiang 11 (220321)

Foto 2. Saluran irigasi agar diperbaiki dengan konstruki kedap air, tidak hanya di pinggirannya tapi juga di bagian dasarnya.

 

Puspahiang 12 (220321)

Foto 3. Kondisi rumah warga yang rusak ringan dan terancam berada di antara lahan pesawahan yang longsor di Kp. Babakanmanggu, Desa Puspajaya.

 

Puspahiang 13 (220321)

Foto 4. Badan jalan di Kp. Ciparia, Desa Pusparahayu, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya yang amblas.