Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Banjarwaringin, Kecamatan Salopa,kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan dari BPBD Kabupaten Tasikmalaya nomor P/01/BC.0404/BPBD/20 tanggal 1 Februari 2021 tentang Permintaan Pemeriksaan Daerah Terkena Bencana Gerakan Tanah, sebagai berikut:

1. Lokasi Bencana dan Waktu Kejadian

Bencana gerakan tanah terjadi di Kampung Panyiraman RT/RW 04/03, Desa Banjarwaringin, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis berada pada koordinat 108° 13’ 43,7” BT dan 07° 29’ 39,6” LS. Menurut keterangan warga setempat, gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, tanggal 17 Januari 2021 setelah hujan berintensitas tinggi.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Secara umum morfologi lokasi bencana ini berada di perbukitan berelief halus – kasar dengan kemiringan lereng landai sampai curam antara 5°- 16°, di pinggiran tebing  yang longsor mencapai lebih dari 20°. Lokasi ini berada pada ketinggian sekitar 300 - 330 mdpl.
  • Geologi, Peta Geologi Lembar Tasikmalaya, Jawa (Budhitrisna, dkk., P3G, 1986) secara regional batuan penyusun daerah bencana berupa Batuan Formasi Jampang terdiri dari batuan breksi gunungapi, lava, dan tufa dengan batupasir tufaan bersisipan batupasir, batulanau, batulempung, dan batugamping (Tomj). Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan penyusun yang tersingkap di sekitar lokasi bencana merupakan breksi, tuf, dan batulempung menyerpih, pelapukannya berupa pasir lempungan berwarna coklat muda hingga kemerahan, dengan ketebalan > 1 meter, bersifat sarang, gembur dan tidak kompak.
  • Keairan, Kondisi keairan di sekitar lokasi gerakan tanah ini cukup baik dan melimpah pada musim hujan. Masyarakat Kp. Panyiraman memanfaatkan air dari mata air untuk keperluan rumah tangga, mengairi pesawahan, dan kebun di sekitar pemukiman. Selain itu warga juga memanfaatkan air sumur galian dengan kedalaman rata-rata 10 meter.
  • Tata Guna Lahan, Secara umum tata guna lahan di Kp. Panyiraman ini pada lereng atas sampai lereng bagian bawah merupakan kebun campuran. Pemukiman Kp. Panyiraman umumnya berada di lereng bagian atas dan setempat-setempat di bagian lereng tengah dan bawah.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Tasikmalaya bulan Januari 2021 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah Desa Banjarwaringin, Kec. Salopa termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3.  Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa berupa amblasan dan retakan pada beberapa titik di tanah perkebunan yang mengancam pemukiman warga Kp. Panyiraman yang berada di antara perkebunan tersebut. Arah pergerakan utama N 212° E, relatif ke Barat Daya. Tanah turun antara 1 – 3 meter. Lebar retakan sekitar 30 – 40 cm, arah retakan N 170° E relatif ke Selatan.

Dampak gerakan tanah ini :

  • 9 (Sembilan) rumah terancam, dua di antaranya sudah dirubuhkan.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Tanah pelapukan (lapukan breksi) yang bersifat mudah meloloskan air melalui retakan yang terbentuk yang berada di atas batuan yang lebih kedap air (batulempung). Batas antara keduanya diperkirakan sebagai bidang gelincir.
  • Kemiringan lereng yang curam mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik. Aliran air permukaan melimpah terakumulasi pada lokasi bencana menyebabkan tanah jenuh air.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan membuat tanah pelapukan menjadi jenuh air. Ditambah dengan kemiringan yang curam, mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan dan bergerak mencari kesetimbangan baru, maka terjadilah gerakan tanah.

 

6.  Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • 9 (Sembilan) rumah terancam agar direlokasi (lihat Peta Situasi).
  • Sebelum diadakan relokasi, maka disarankan agar:
    • Masyarakat tidak beraktivitas pada saat dan setelah hujan di sekitar area longsoran di lereng atas;
    • Masyarakat agar memantau perkembangan retakan di sekitar pemukiman, jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah;
    • Jika ditemukan retakan baru pada tanah agar segera ditutup dengan tanah liat/lempung/material kedap dan dipadatkan;
    • Untuk memperlambat peresapan/penjenuhan air ke tanah agar dilakukan penataan drainase (air hujan, buangan air limbah rumah tangga, mata air) di sekitar pemukiman dengan saluran kedap air. Aliran air langsung dialirkan ke arah lembah/kaki lereng/sungai.
    • Penataan drainase di area perkebunan yang longsor, terutama di atas mahkota longsoran agar dibuat jalur air hujan dengan alat kedap air sementara, misal terpal untuk mengurangi peresapan/penjenuhan air pada lereng. Hal ini agar tidak terjadi longsor susulan.
  • Ke depannya pada area bekas longsor agar ditanami jenis vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menahan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.

 

LAMPIRAN

Sapola 1 (220321)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Kp. Panyiraman, Desa Banjarwaringin, Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat.

 

Sapola 2 (220321)

Gambar 2. Peta Geologi di Desa Banjarwaringin dan sekitarnya, Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya

 

Sapola 3 (220321)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Desa Banjarwaringin dan sekitarnya, Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya pada Bulan Januari 2021.

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN JANUARI 2021

Sapola 4 (220321)

 

Sapola 5 (220321)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Panyiraman, Desa Banjarwaringin, Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya.

 

Sapola 6 (220321)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Panyiraman, Desa Banjarwaringin, Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya.

 

Sapola 7 (220321)

Foto 1. Gerakan tanah jenis amblasan dan retakan di area perkebunan yang mengancam pemukiman di Kp. Panyiraman, Desa Banjarwaringin, Kec. Salopa.

 

Sapola 8 (220321)

Foto 2. Beberapa rumah warga di Kp. Panyiraman, Desa Banjarwaringin yang terancam gerakan tanah. Rumah-rumah tersebut umumnya berupa non permanen/panggung.

 

Sapola 9 (220321)

Foto 3. Kegiatan Sosialisasi bencana gerakan tanah dilakukan petugas Badan Geologi bekerja sama dengan pihak BPBD Tasikmalaya, masyarakat terdampak dan aparat desa setempat di Kec. Salopa, Kab. Tasikmalaya.