Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan bencana gerakan tanah di Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat permintaan dari BPBD Kabupaten Sukabumi 362/04/I/Bid.PK, tanggal 4 Januari 2021. Hasil pemerikasaan sebagai berikut:

A. DESA CIJANGKAR, KECAMATAN NYALINDUNG 

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Gerakan tanah terjadi di Kp. Ciherang RT.01,02 dan 03 RW.02, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 07° 00’ 41.82” LS, 106° 58’ 14.38” BT. Berdasarkan informasi setempat, kejadian gerakan tanah ini terjadi pada pertengahan Desember 2020 dan masih terus bergerak sampai saat ini dilakukan pemeriksaan ini.

2. Kondisi Daerah Bencana:

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 20-40° dengan relief sedang hingga tinggi.
  • Geologi, Berdasarkan peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa, (Sukamto, dkk, 1975), merupakan bagian dari Formasi Beser (Tmbv) terdiri atas atas breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, tufa , dan konglomerat dan Anggota Bojonglopang dari Formasi Cimandiri (Tmcb) dominan batugamping. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, breksi berwarna coklat, dengan fragmen kerakal berwarna abu. Tanah pelapukan diatasnya dengan ketebalan 1-3 meter.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa kebun campuran dan sawah pada bagian bawah, sedangkan bagian atas berupa pemukiman.
  • Keairan, Air permukaan di darah ini sangat berlimpah, digunakan untuk mengaliri sawah, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari dari mata air Gunung Beser yang dialirkan ke rumah-rumah penduduk.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2020 di Kabupaten Sukabumi (Badan Geologi), daerah bencana termasuk pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi, artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

3. Situasi dan Dampak Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa rayapan yang berpotensi menjadi longsoran serta longsoran bahan rombakan dibeberepa titik. Retakan dan amblesan di beberapa tempat, panjang retakan ±131 meter, lebar retakan 10-50 cm, kedalaman amblesan 1 - 2 m, arah retakan relatif Barat daya – timur laut. Arah longsoran N 285° E mengarah ke arah lembah dan anak sungai (Barat Laut).

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • 10 rumah rusak berat;
  • 103 rumah terancam;
  • 12 KK, 46 jiwa mengungsi ke Posko;
  • 44 KK, 122 jiwa mengungsi ke saudara terdekat.

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah Kp. Ciherang, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung tersebut adalah:

  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, yang berada di bawahnya yang bersifat lebih kedap air;
  • Sifat material rombakan (tanah pelapukan) yang tebal dan sarang serta mudah luruh jika terkena air;
  • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang melimpas dan meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
  • Tata guna lahan yang didominasi oleh lahan persawahan (lahan basah);
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

5. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan material rombakan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan membuat tanah pelapukan menjadi jenuh air. Demikian juga dengan Retakan yang merupakan media masuknya air permukaan, terutama air hujan kedalam retakan dapat memicu pergerakan tanah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Kondisi tanah bagian bawah yang berupa breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, dengan permeabilitas rendah memiliki potensi untuk menjadi bidang gelincir. Lereng bukit yang agak terjal menyebabkan tanah bagian atas (tanah pelapukan) bergerak dengan perlahan namun berkelanjutan pada bidang gelincir tersebut.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Daerah bencana di Kp. Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi pada saat ini masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa rayapan (retakan dan amblasan) yang berpotensi menjadi longsoran bahan rombakan.
  • Rayapan merupakan jenis gerakan tanah tipe lambat, umumnya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.

Rekomendasi

  • Masyarakat yang bermukim di daerah tersebut harus selalu waspada terhadap potensi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah hujan turun;
  • Merelokasi 129 unit rumah.
  • Untuk memperlambat/menghindari peresapan/penjenuhan air ke tanah dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan :
    • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (ground water drainage) serta pengaliran parit pencegat.
    • Penataan saluran drainase permukaan sekitar jalur jalan dengan konstruksi yang kedap air, dan juga pembuatan dinding penahan lereng pada lereng yang kritis;
    • Mengubah fungsi lahan dari lahan persawahan atau lahan basah menjadi lahan kering serta melakukan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng;
    • Semua aliran air permukaan ditembok atau pemipaan, dialirkan ke arah sungai.
  • Untuk peningkatan kewaspadaan, perlu adanya pemantauan intensitas curah hujan, pemantauan retakan, dan pemantauan kondisi di lereng bagian atas sampai bawah. Pada saat musim hujan jika ada tanda-tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika terjadi perkembangan retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.

 

B. DESA MEKARSARI, KECAMATAN NYALINDUNG 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Jati, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 07° 00’ 45.54” LS, 106° 57’ 9.21” BT Berdasarkan informasi penduduk setempat, gerakan tanah ini mulai terjadi pada 9 Desember 2020 dan puncaknya pada 4 Februari 2021, setelah tehjadinya hujan dengan intensitas tinggi.

2. Kondisi Daerah Bencana:

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 15-30° dengan relief rendah hingga sedang.
  • Geologi, Berdasarkan peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa, (Sukamto, dkk, 1975), merupakan bagian dari endapan Formasi Cimandiri Satuan ini terdiri atas tiga satuan antara lain : Satuan Batulempung (Anggota Nyalindung), Satuan Batugamping (Anggota Bojonglopang), dan Satuan Batupasir. Bagian utama formasi ini adalah batupasir, dengan perselingan dengan konglomerat, batulempung dan batugamping. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, berupa breksi berwarna coklat, dengan tanah pelapukan berupa batupasir lempungan berwarna coklat.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa kebun campuran dan sawah, sedangkan bagian atas berupa pemukiman.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah terdapat aliran anak sungai Cipetir di sebelah Barat dari pemukiman. Untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat menggunakan air dari mata air yang dialirkan kerumah penduduk.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2020 di Kabupaten Sukabumi (Badan Geologi), daerah bencana termasuk pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi, artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali. 

3. Situasi dan Dampak Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa rayapan yang berpotensi untuk berkembang menjadi longsoran. Retakan dan amblesan di beberapa tempat, membentuk tapal kuda dengan arah retakan pada bagian mahkota relatif barat-timur dan pada sayap longsoran relatif utara-selatan. panjang retakan ±5-40 meter, lebar retakan 5-70 cm, kedalaman amblesan 0.5-1 m, arah retakan relatif Utara-Selatan. Terdapat longsoran-longsoran kecil yang mengarah ke sungai.

Dampak dari longsoran menyebabkan:

  • 10 unit rumah rusak
  • 1 bangunan PAUD rusak
  • 13 KK yang terdiri dari 42 jiwa mengungsi.

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah Kp. Jati, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, adalah:

  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan batupasir tufaan dan lempung yang berada di bawahnya yang bersifat lebih kedap air;
  • Sifat material rombakan (tanah pelapukan) yang tebal dan sarang serta mudah luruh jika terkena air;
  • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
  • Tata guna lahan yang didominasi oleh lahan persawahan (lahan basah);
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama dapat memicu terjadinya gerakan tanah.

5. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan material rombakan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Air permukaan yang mengalir pada saluran yang tidak kedap mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan membuat tanah pelapukan menjadi jenuh air. Demikian juga dengan Retakan yang merupakan media masuknya air permukaan, terutama air hujan kedalam retakan dapat memicu pergerakan tanah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Kondisi tanah bagian bawah yang berupa lapisan batupasir tufaan dan lempung (pelapukan dari tuf) dengan permeabilitas rendah memiliki potensi untuk menjadi bidang gelincir. Lereng bukit dengan kemiringan yang agak terjal - terjal menyebabkan tanah bagian atas (tanah pelapukan) bergerak dengan perlahan namun berkelanjutan pada bidang gelincir tersebut dan berpotensi menjadi longsoran.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Daerah bencana di Kp. Jati, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi pada saat ini masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa rayapan (retakan dan amblasan) yang berpotensi menjadi longsoran tipe cepat.
  • Rayapan merupakan jenis gerakan tanah tipe lambat, umumnya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.

Rekomendasi

  • Masyarakat yang bermukim di daerah tersebut harus selalu waspada terhadap potensi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah hujan turun;
  • Merelokasi 11 unit bangunan yang terdampak;
  • Untuk memperlambat/menghindari peresapan/penjenuhan air ke tanah dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan :
    • Penataan saluran drainase permukaan sekitar jalur jalan dengan konstruksi yang kedap air, dan juga pembuatan dinding penahan lereng pada lereng yang kritis;
    • Mengubah fungsi lahan dari lahan persawahan atau lahan basah menjadi lahan kering serta melakukan penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng;
    • Semua aliran air permukaan ditembok atau pemipaan, dialirkan ke arah sungai.
  • Untuk peningkatan kewaspadaan, perlu adanya pemantauan intensitas curah hujan, pemantauan retakan, dan pemantauan kondisi di lereng bagian atas sampai bawah. Pada saat musim hujan jika ada tanda-tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika terjadi perkembangan retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang.
  • Jenis bangunan yang cocok untuk wilayah dengan indikasi pergerakan tanah tipe rayapan yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan seperti rumah kayu/panggung sehingga tidak memberi beban terlalu besar terhadap lahan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.

 

C. DESA CISITU, KECAMATAN NYALINDUNG 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Gunungsari RT.01/RW.02, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 07° 02’ 48.61” LS, 106° 55’ 49.02” BT. Berdasarkan informasi setempat, kejadian gerakan tanah ini terjadi pada pertengahan Desember 2020.

2. Kondisi Daerah Bencana:

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan lembah perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 20-40° dengan relief sedang hingga tinggi.
  • Geologi, Berdasarkan peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa, (Sukamto, dkk, 1975), merupakan bagian dari endapan Formasi Beser terdiri atas 2 satuan antara lain : Satuan Klastika gunungapi dan Satuan Lava. Bagian utama dari formasi ini terdiri atas breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, tufa, dan konglomerat. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, berupa tuf coklat kekuningan dan tanah pelapukan diatasnya dengan ketebalan 1-3 meter.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa kebun teh pada bagian atas, pemukiman dan jalan pada bagian tengah dan tanah kosong yang direncanakan akan dibangun peternakan ayam pada bagian bawah.
  • Keairan, Air permukaan di darah ini sangat berlimpah, digunakan untuk mengaliri sawah dan kebun. Terdapat sungai kecil yang mengalir di sebelah barat lokasi bencana. Kedalaman muka air tanah 10m. Untuk kebutuhan sehari-hari penduduk terdapat air dari mata air Gunung yang dialirkan ke rumah-rumah penduduk.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2020 di Kabupaten Sukabumi (Badan Geologi), daerah bencana termasuk pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi, artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi/di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

3. Situasi dan Dampak Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa rayapan yang berpotensi menjadi longsoran. Retakan pada lereng bawah kebun teh di sebelah jalan aspal memiliki lebar 40 – 50 cm dengan kedalaman 1 – 1,5 m, arah retakan relatif Utara-Selatan. Arah longsoran N 265° E mengarah ke arah lembah. Menurut informasi warga, terjadi pemotongan lereng yang terjal dengan ketinggian lereng setinggi 12 m. Pada saat pemeriksaan, sudah dilakukan pelandaian lereng sehinnga kemiringan lereng saat ini 5-10°.

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • 2 bangunan rusak berat dan sudah direlokasi;
  • 50 m jalan amblas dan rusak

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah Kp. Jati, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, adalah:

  • Pemotongan lereng yang terlalu curam;
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan batupasir tufaan yang berada di bawahnya yang bersifat lebih kedap air;
  • Sifat material rombakan (tanah pelapukan) yang tebal dan sarang serta mudah luruh jika terkena air;
  • Buruknya sistem drainase mengakibatkan banyaknya air permukaan (air hujan) yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dan retakan
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama dapat memicu terjadinya gerakan tanah.

5. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan material rombakan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Air permukaan yang mengalir mengakibatkan tanah pelapukan di bagian bawah jenuh air dan mudah luruh. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan membuat tanah pelapukan menjadi jenuh air terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Pemotongan lereng yang terjal menyebabkan tanah bagian atas (tanah pelapukan) bergerak dengan perlahan menjadi retakan dan amblasan namun berkelanjutan pada bidang gelincir tersebut dan berpotensi menjadi longsoran.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Daerah bencana di Kp. Gunungsari, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi pada saat ini masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa rayapan (retakan dan amblasan) yang berpotensi menjadi longsoran tipe cepat.

Rekomendasi

  • Jika muncul retakan dan amblesan baru segera diinformasikan ke Pemerintah Daerah Setempat dan segera menutup retakan di tanah dengan bahan kedap air, agar air tidak masuk kedalam retakan dan menambah beban tanah;
  • Mengatur air permukaan agar tidak masuk ke daerah ini;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan kemiringan yang terjal;
  • Membuat dinding penahan lereng (DPT) atau perkuatan lereng pada tebing sesuai dengan kaidah geologi teknik dan penataan saluran drainase permukaan sekitar jalur jalan dengan konstruksi yang kedap air;
  • Melestarikan vegetasi berakar kuat dan dalam untuk memperkuat kestabilan lereng;
  • Memasang rambu rawan longsor disekitar jalan yang amblas;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.

 

D. DESA NYALINDUNG, KECAMATAN NYALINDUNG 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Potensi gerakan tanah terjadi di Kp. Cikupa RT 01/RW 06, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 07° 01’ 49.43” LS, 106° 57’ 17.08” BT.

2. Kondisi Daerah Bencana:

  • Morfologi, Morfologi daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 5-15° dengan relief rendah hingga sedang.
  • Geologi, Berdasarkan peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa, (Sukamto, dkk, 1975), merupakan bagian dari endapan Formasi Beser terdiri atas 2 satuan antara lain : Satuan Klastika gunungapi dan Satuan Lava. Bagian utama dari formasi ini terdiri atas breksi gunungapi, breksi lahar, breksi tufa, tufa, dan konglomerat. Diperkirakan Formasi Beser ini menindih secara tak selaras Satuan Batugamping (Anggota Bojonglopang dari Formasi Cimandiri). Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, berupa breksi dan tufa berwarna coklat, dengan tanah pelapukan berupa batupasir tufaan.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah penyelidikan berupa sawah pada bagian bawah, kebun campuran dan pemukiman pada bagian atas.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah sumur dengan kedalaman 40m. Dimana ketika membuat sumur bor di bagian puncak bukit, selalu gagal di kedalaman 6m.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi (Badan Geologi), daerah bencana termasuk pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

3. Situasi dan Dampak Gerakan Tanah :

Jenis gerakan tanah yang berpotensi terjadi di lokasi ini berupa rayapan yang berpotensi untuk berkembang menjadi longsoran. Retakan di beberapa tembok bangunan, dengan arah retakan barat timur dan lebar retakan 1-5 cm. .

Dampak dari longsoran menyebabkan:

  • 2 unit rumah retak

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah di Kp. Cikupa, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, adalah:

  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lapisan batupasir tufaan yang berada di bawahnya yang bersifat lebih kedap air;
  • Sifat material rombakan (tanah pelapukan) yang tebal dan sarang serta mudah luruh jika terkena air;
  • Tata guna lahan pemukiman yang berada dekat tebing yang curam;
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama dapat memicu terjadinya gerakan tanah.

5. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan material rombakan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Curah hujan yang tinggi dan aliran air permukaan meresap dan membuat tanah pelapukan menjadi jenuh air. Demikian juga dengan retakan yang merupakan media masuknya air permukaan, terutama air hujan ke dalam retakan dapat memicu pergerakan tanah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Kondisi tanah bagian bawah yang berupa lapisan pasir tufaan dengan permeabilitas rendah memiliki potensi untuk menjadi bidang gelincir. Lereng bukit dengan kemiringan yang agak terjal - terjal menyebabkan tanah bagian atas (tanah pelapukan) bergerak dengan perlahan namun berkelanjutan pada bidang gelincir tersebut dan berpotensi menjadi longsoran.

6. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Daerah penyelidikan di Kp. Cikupa, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi pada saat ini berpotensi terjadi pergerakan tanah berupa rayapan yang berpotensi menjadi longsoran tipe cepat.
  • Rayapan merupakan jenis gerakan tanah tipe lambat, umumnya jarang menimbulkan korban jiwa, namun demikian seringkali menyebabkan rusaknya bangunan, sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.

Rekomendasi

  • Masyarakat yang bermukim di daerah tersebut harus selalu waspada terhadap potensi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah hujan turun;
  • Tidak membangun bangunan dan pemukiman dekat dengan tebing
  • Bangunan yang termasuk kedalam area terancam harus lebih meningkatkan kewaspadaanya;
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe lambat, maka untuk memperbaiki rumah yang rusak sebaiknya berupa rumah dengan konstruksi ringan seperti rumah panggung dengan konstruksi kayu akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen
  • Membuat dinding penahan tebing (DPT) atau perkuatan lereng pada tebing sesuai dengan kaidah geologi teknik
  • Melestarikan vegetasi berakar kuat dan dalam di daerah berlereng terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat dalam penanganan gerakan tanah atau tanah longsor.

 

LAMPIRAN

Nyalindung 1 (140321)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 

Nyalindung 2 (140321)

Gambar 2. Peta Geologi Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 

Nyalindung 3 (140321)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan Desember 2020 untuk Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN DESEMBER 2020

Nyalindung 4 (140321)

Keterangan:

Nyalindung 5 (140321)

 

Nyalindung 6 (140321)

Gambar 4. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung dan sekitarnya, Kabupaten Sukabumi

 

Nyalindung 7 (140321)

Gambar 5. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Ciherang, Desa Cijangkar, Kec. Nyalindung, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 

Nyalindung 8 (140321)

Gambar 6. Penampang A-B gerakan tanah di Kp. Ciherang, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

 

Nyalindung 9 (140321)

Gambar 7. Peta situasi gerakan tanah di Kp. Jati, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Nyalindung 10 (140321)

Gambar 8. Penampang A-B gerakan tanah di Kp. Jati, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Nyalindung 11 (140321)

Gambar 9. Peta situasi gerakan tanah di Kp.Gunungsari, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Nyalindung 12 (140321)

Gambar 10. Penampang A-B gerakan tanah di Kp. Gunungsari, Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Nyalindung 13 (140321)

Gambar 11. Peta situasi gerakan tanah di Kp.Cikupa, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

Nyalindung 14 (140321)

Gambar 12. Penampang A-B gerakan tanah di Kp. Cikupa, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kab. Sukabumi

 

FOTO-FOTO:

DESA CIJANGKAR
Nyalindung 15 (140321)

Foto 1. Amblasan di jalan di depan rumah warga Kp. Ciherang

 

Nyalindung 16 (140321)

Foto 2. Amblasan di pemukiman peduduk Di Kp. Ciherang

 

Nyalindung 17 (140321)

Foto 3. Longsoran dan amblesan pada kebun dan persawahan di Kp.Ciherang

 

Nyalindung 18 (140321)

Foto 4. Breksi dan tanah pelapukan yang terdapat di lokasi Kp.Ciherang

 

Nyalindung 19 (140321)

Foto 5. Pemeriksaan lokasi didampingi pemerintah daerah setempat di Kp.Ciherang

 

DESA MEKARSARI

Nyalindung 20 (140321)

Foto 1. Pemukiman penduduk di Kp. Jati yang berada pada lereng yang terjal

 

Nyalindung 21 (140321)

Nyalindung 22 (140321)

Nyalindung 23 (140321)

Foto 2. Retakan serta amblesan pada beberapa bangunan di Kp. Jati

 

Nyalindung 24 (140321)

Foto 3. Tata guna lahan berupa kebun campuran dan sawah di Kp. Jati, Desa Mekarsari

 

DESA CISITU

Nyalindung 25 (140321)

Foto 1. Lokasi gerakan tanah di Kp. Gunungsari, Desa Cisitu yang memiliki kemiringan terjal dan sudah dilandaikan kembali

 

Nyalindung 26 (140321)

Foto 2. Tanah pelapukan di lokasi gerakan tanah yang cukup tebal

 

Nyalindung 27 (140321)

Foto 3. Nendatan di kebun teh yang terjadi di Kp. Gunungsari, Desa Cisitu

 

Nyalindung 28 (140321)

Foto 4. Pemukiman disekitar lokasi longsoran

 

Nyalindung 29 (140321)

Foto 5. Pemeriksaan gerakan tanah di Kp. Gunungsari, Desa Cisitu, didampingi oleh aparat desa dan kecamatan setempat

 

DESA NYALINDUNG

Nyalindung 30 (140321)

Foto 1. Retakan di rumah warga di Kp.Cikupa, Desa Nyalindung

 

Nyalindung 31 (140321)

Foto. 3. Tanah pelapukan dan breksi vulkanik yang tersingkap di lapangan