Laporan Dan Rekomendasi Gerakan Tanah Kec. Ngetos, Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur

Laporan dan Rekomendasi bencana gerakan tanah di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, sebagai berikut:

1) Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos,

 

Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Bencana gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 14 Februari 2021, pukul 18.00 WIB.

 

2) Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa longsoran tanah pada lereng atas yang menimpa pemukiman yang berada di bawahnya.

 

3) Dampak dan Potensi Dampak Gerakan Tanah
 

  • Dampak Gerakan Tanah / Tanah longsor ( berdasarkan informasi dari BPBD, Senin, 15 Februari 2021, update pukul 08.00 WIB):
    • 21 korban tertimbun longsoran tanah dengan 2 orang selamat dan 19 lainnya meninggal dunia. 
    • 147 jiwa mengungsi,
    • 8 (delapan) rumah rusak berat.
  • Gerakan Tanah dan Potensi Dampak
 
  •  
    • Kondisi Lereng terdampak Gerakan Tanah  :
      • Mahkota Longsoran berarah N 35° E dengan Panjang 20 meter dengan batas bidang longsor mahkora mengikuti batas jalan dan tebing  longsor dengan arah longsoran N 125° E
      • Dimensi Longsoran dengan lebar bidang longsor 60 m ; ketebalan material longsor 5 – 10 m  Panjang landaan 164, luas bidang terlanda 8.400 m2; volume total longsoran 42.000 m3,
    • Potensi Dampak Longsor :
      • volume material longsoran yang belum turun volumenya diperkirakan 26.000 m3
      • Luasan 5.200 m2 (Tapal kuda)

 

 

4) Kondisi daerah bencana  (Kontrol Kejadian Gerakan Tanah);
  • Morfologi : Lokasi Bencana berada  merupakan merupakan daerah lereng perbukitan dengan kemiringan lereng agak curam sampai curam, dengan ketinggian 102,5 – 170 mdpl. Lereng atas yang berada diatas mahkota longsoran merupakan lereng dengan lereng kurang dari 20º Lokasi Gerakan Tanah di Desa Ngetos,berada di puncak bukit dengan kelerengan 20º - 30º. Kemiringan lereng bagian tengah merupakan lereng didominasi dengan kemiringan lereng 20º - 30º. Sedang lereng bagian bawah merupakan lereng landai kurang dari  10º dan dibatasi oleh aliran sungai berarus deras dengan lebar 15 meter.
  • Geologi Daerah Bencana: Berdasarkan Peta Geologi Lembar Madiun, Jawa (U. Hartono, dkk., P3G, 1992), daerah bencana tersusun oleh Morfoset Pawonsewu (Qp) yang terdiri dari breksi gunungapi, tuf aglomerat, dan lava andesit. Pengamatan lapangan, lokasi bencana  merupakan lereng selatan kaki dari Kompleks Gunungapi Wilis. Stratigrafi vulkanik menunjukan bagian atas yang lerengnya dibangun  endapan  dari longsoran vulkanik terpilah buruk 9porositas tinggi) yang terdiri dari pencampuran fragmen batuan lava, piroklastik/tufa  dengan dengan diameter  mencapai fragmen  dapat mencapai > 1m dalam masa dasar tanah pelapukan  lempungan dari pelapukan endapan vulkanik terdiri dari lava , tufa/piroklastik dan longsoran vulkanik. Karakter pelapukan endapan  vulkanik saat kering mudah luruh dan saat basah bersifat kedap air.  Longsoran vulkanik lama  dengan ketebalan mencapai lk 10 meter dijumpai pada pada tubuh  mahkota longsoran  menutupi tidak selaras pelapukan dari material vulkanik berupa lava dan tufa yang bersifat kedap air . Kontrol  kondisi geologi tersebut merupakan faktor lokal terbentuknya bidang gelincir dangkal. Informasi Warga, pernah ditemukan retakan pada tubuh badan jalan (sebelum diaspal, lk 8 tahun lalu) yang berbatasan pada tebing yang menjadi mahkota longsor saat ini, sepanjang lk.15 meter dan lebar retakan selebar lk. 30 cm
  • Tata Guna Lahan : Secara umum tata guna lahan kebun campuran dengan tanaman sengon, rambutan, durian, cengkeh.  Lereng atas yang berada diatas  mahkota longsor merupakan kebun rambutan dan merupakan batas  jalan aspal yang merupakan batas kebun rambutan pada lereng atas dan tengah. Lereng tengah merupakan pemukiman, jalan dan kebun campur.Lereng bawah merupakan daerah pemukiman dan persawahan yang dibatasi oleh aliran sungai deras dengan lebar lk 15 meter
  • Keairan : Kondisi hidrogeologi daerah bencana merupakan daerah lereng bukit  dengan air berasal dari  air tadah hujan . Kebutuhan air masyarakat  berasal dari sumber mata air diwilayah sekitarnya  yang dihubungkan dengan selang. Pasca kejadian longsor, dialur longsor banyak ditemukan mata air baru, dengan debitnya meningkat saat turun hujan  
  • Potensi Terjadinya Gerakan Tanah : Berdasarkan Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah Bulan Februari 2021 di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Ngetos termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Menengah - Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5) Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Kemiringan lereng yang curam > 20º  
  • Tanah pelapukan dari endapan vulkanik (lava dan piroklastik /tufa serta longsoran vulkanik )  yang gembur, sarang dan mudah luruh kena air. 
  • Longsoran vulkanik  pada bagian atas terjadi pada tanah pelapukan (terpilah buruk dari batuan lava dan tanah)  dan kontak dengan lapisan di bawahnya yang merupakan lapisan kedap air (tanah pelapukan dan pelapukan lava dan piroklastik) yang berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Diperkirakan adanya alur infiltrasi air pada retakan pada batas jalan dengan tebing lereng (kebun rambutan) serta erosi dari alur air pada batas jalan dengan tembok pembatas jalan ditebing.
  • Sistem penataan air permukaan (drainase) yang kurang baik dan tidak kedap air yang mengarah dan terakumulasi secara lokal pada tubuh jalan diatas  lereng pada mahkota longsoran  dan mengalir ke lembah di jalur longsor.
  • Hujan yang turun dengan intensitas tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.

 

 

6) Mekanisme

Kejadian gerakan tanah di wilaya ini  merupakan interaksi dari berbagai faktor pengontrol kondisi geologi lokal dan curah hujan.  Adanya informasi retakan pada tubuh jalan yang sudah berlangsung lama dan kontrol perlapisan endapan vulkanik yang bersifat lolos air yang dibatasi bagian bawahnya oleh pelapukan vulkanik bersifat lempungan  yang kedap air menjadikannya  zona potensi terbentuknya bidang gelincir. Retakan lama pada tubuh longsoran memudahkan infilitrasi  air masuk kedalam tanah dan meningkatkan bobot tanah. Seiring terjadinya  curah hujan  dan keberadaan alur air kedalam tubuh jalan rawan longsor, bobot tanah meningkat dan erosi tubuh jalan terus berlangsung menjadikan wilayah rawan longsor dan gangguan kestabilan lereng dalam jangka panjang. Intensitas hujan yang tinggi sebelum kejadian longsor  memicuh terjadinya gerakan tanah

 

7) Rekomendasi

Mengingat  telah telah terbentuknya bidang gelincir dan masih terdapat  material longsoran   di atas lereng  serta curah hujan yang masih tinggi , maka  untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda yang lebih besar, direkomendasikan sebagai berikut:

a) Menghindari potensi ancaman longsor susulan

  • Warga, aparat maupun tim yang bertugas untuk evakuasi harus mengantisipasi potensi longsoran susulan mengingat daerah tersebut masih rawan longsor serta material longsoran di hulu masih banyak terutama jika turuh hujan.
  • Masyarakat di sekitar lokasi bencana/bahaya sebaiknya diungsikan dulu ke tempat yang lebih aman
  • Jika turun hujan sebaiknya aktivitas di sekitar lokasi bencana dihentikan dan penduduk/warga diungsikan untuk sementara.
  • Agar masyarakat yang beraktivitas dan pengguna jalan di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Terbentuknya bidang gelincir dan masih terdapat material longsor berpotensi longsoran susulan, sebaiknya pasca evakuasi lokasi dihindari hingga curah hujan jauh menurun intensitasnya
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor di lokasi longsor dan daerah jalur jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.

 

b) Penataan Kawasan :
  • Mengingat lereng telah terganggu kestabilan lerengnya ,
    • Pemukiman disekitar lokasi bencana agar di relokasi ke tempat  yang lebih aman. Dengan batas zona tidak aman  minimal  40 meter dari batas tebing longsor pada mahktota longsoran
    • Tidak mendirikan dan/atau mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan lereng yang terjal;
  • Menjaga kestabilan lereng untuk menghindari potensi dampak  longsoran susulan;
 

 

 

 
  •  
    • Wilayah ini segera ditanami tumbuhan berakar kuat dan cepat tumbuh.
    • Membangun sengkedan pada lereng untuk meminimalkan peningkatan  bobot tanah akibat erosi dan infiltrasi air dan mengurangi tekanan pada bidang gelincir
    • Membuat saluran drainase yang kedap air dan mengarahkan  alur air dari atas lereng untuk menjauhi mahkota longsor dan
    • Dalam jangka panjang perlu ditanami tumbuhan berakar kuat yang mampu menembus hingga melampaui bidang gelincir yang mampu mengikat material longsor di lereng. Dan penanaman tumbuhan berakar kuat,sesuai jenis tumbuhan berakar kuat yang tumbuh diseputaran lereng G. Wilis
    • Mata air yang merupakan salah satu indikasi jalur longsor, agar dijaga keberadaan  untuk tetap mengalir guna meminimalkan potensi akumulasi energi air pendorong terjadinya potensi longsor susulan
    • Material  longsoran tersisa jika terjadi longsoran susulan dan menutup alur sungai didepannya agar   segera dilakukan tindakan menghilangkan sumbatan di alur air/sungai untuk meminimalkan potensi terjadinya banjir bandang
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar melakukan pemantauan mandiri dan  selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah / tanah longsor seperti retakan pada tanah, bangunan, dan perubahan mata air  serta  segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dalam penangan bencana gerakan tanah.

 

Lampiran

Nganjuk 1 (100321)

Gambar 1 : Tubuh longsor merupakan bagian dari morfologi Kaki Kompleks G. Wilis yang dibangun dari endapan vulkanik

 

Nganjuk 2 (100321)

Gambar – 2 : Peta Geologi (Atas ) dan  karakteristik batuan (bawah) longsoran vul kanik lama (lolos air) dari produk erupsi kompleksG. Wilis berada diatas bidang gelincir pelapukan endapan vulkanik bersifat lempungan dan kedap air..a/retakan di makota longsoran;b/material longsoran lama di mahkota;c/endapan longsoran di tebing dan d/ material longsoran yang berpotensi longsor susulan pada lereng longsor.

 

Nganjuk 3 (100321)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur pada Bulan Februari 2021.

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN NGANJUK, PROVINSI JAWA TIMUR

 BULAN FEBRUARI 2021

Nganjuk 4 (100321)

 

Nganjuk 5 (100321)

Nganjuk 6 (100321)

Gambar 4 : Peta situasi gerakan tanah dengan menunjukan penampang (A- B) (atas) dan kenampakan virtual kejadian benca

 

Nganjuk 7 (100321)

Gambar  5 : Peta penampang dari situasi Gerakan tanah  menunjukan material longsoran  yang tiidak stabil pada bidang gelincir yang berimplikasi ke potensi longsoran susulan dan dapat menutup alur sungai  Mundeng serta berpotensi longsor susulan

 

Nganjuk 8 (100321)

Gambar 6. Aktifitas di wilayah jalur longsor selama berlangsungnya proses evakuasi. Keterlibatan Tim dalam diskusi pada rapat koordinasi yang dimpin oleh Dandim