Ancaman Berulang Gerakan Tanah Rayapan Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak- Banten

Menanggapi berita kompas (https://regional.kompas.com/read/2021/02/03/21330011/tanah-bergerak-di-lebak-warga-satu-kampung-diminta-tinggalkan-rumah), 3 Februari 2021 terkait laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Cimarga dan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sebagai berikut:

 A. Kecamatan Cimarga

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi pada areal permukiman di kampung Jampang RT 02/RW 09 Desa Sudamanik yang secara geografis berada pada koordinat 106° 13' 47,4” ; -6° 27' 30,7" dan di Kampung Jampang Neglasari RT 02/RW 09 Desa Sudamanik pada koordinat 106° 13' 44,8“ ; -6° 27' 24,8 “ (Gambar 1). Lokasi ini berada pada lahan yang yang berada pada punggungan di atas lembah Sungai Cisimeut. Gerakan tanah terjadi di areal permukiman dan kebun campuran dengan diselingi oleh pohon besar berakar dalam dan kuat yang cukup baik.

Menurut keterangan penduduk dan aparat setempat, gerakan tanah ini terjadi sejak hari Jumat 25 Januari 2019  saat  turun hujan.

 2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi di daerah bencana secara umum merupakan perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng landai sampai agak terjal. Gerakan tanah terjadi pada lereng dengan kemiringan antara 50 di pedataran punggungan sampai 200 pada lahan yang berbatasan dengan lembah sungai Cisimeut. Ketinggian lokasi gerakan tanah berada di antara 50-60 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Serang, Jawa (Rusmana drr., P3G, 1991), daerah bencana tersusun oleh tufa batuapung, batupasir tufaan, dan napal glaukonitan dari Formasi Cipacar (Tpc) (Gambar 3). Hasil pengamatan lapangan, lokasi gerakan tanah disusun oleh tanah lapukan dari batupasir tufan berwarna coklat dengan ketebalan antara 1 – 3 meter. Batupasir tufan berwarna abu-abu tersingkap di sungai Cisimeut yang berada di lembah pada kaki lereng di mana permukiman yang mengalami gerakan tanah berada (Foto 1). Di bawah batupasir tufan ini dijumpai lapisan lempung berwana abu-abu tua. Lapisan batuan ini tersingkap dengan arah pelamparan N280°E dan kemiringan 20°. Lahan permukiman yang mengalami gerakan tanah terletak pada bagian atas punggungan dengan kemiringan searah bidang perlapisan. Struktur geologi yang berkembang dan dekat dengan lokasi gerakan tanah adalah berupa sesar yang berarah tenggara-barat laut. Selain itu terdapat juga antiklin dengan jarak antara 500 sampai 600 meter di sebelah timur. Lokasi gerakan tanah berada pada zona yang terpengaruh oleh sesar yang berkembang di lokasi ini (Foto 1).
  • Keairan, Kondisi air permukaan di sekitar lokasi gerakan tanah baik dengan kedalaman muka air tanah antara 7 – 12 meter.  Di sebelah barat permukiman mengalir sungai Cisimeut yang berair sepanjang tahun. Sebagian masyarakat memanfaatkan sungai untuk sarana cuci kakus dan sebagian lainnya membuat sarana mandi cuci kakus di rumah. Saluran pembuangan limbah rumah tangga tidak tertata dengan baik dan tidak dibuat kedap air.
  • Tata guna lahan, Lahan di sekitar lokasi gerakan tanah dimanfaatkan sebagai permukiman dan kebun campuran pada pedataran di punggungan. Kebun campuran diselingi oleh jenis pohon besar dengan akar kuat dan dalam.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak Provinsi Banten pada bulan Februari 2019 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cimarga termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Menengah – Tinggi (Gambar 5 dan Tabel 1). Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Desa Sudamanik, di mana gerakan tanah terjadi berada pada zona potensi terjadi gerakan tanah rendah sampai menengah. Zona potensi terjadi gerakan tanah rendah artinya di daerah ini secara umum jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng, gerakan tanah dengan dimensi kecil mungkin dapat terjadi terutama pada tebing lembah (alur) sungai, dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali.
3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi adalah tipe rayapan (lambat) berupa retakan dan nendatan pada permukaan tanah. Retakan yang terjadi memiliki lebar antara 2 cm sampai mencapai 40 cm. Nendatan dijumpai di sekitar permukiman dan lembah dekat sungai dengan ketinggian antara 50 cm sampai lebih dari 1 meter. Arah umum retakan antara N310°E sampai N350°E.  Retakan dan nendatan terjadi di sekitar permukiman dan jalan poros desa serta lahan kebun campuran (Foto 2).

Dampak gerakan tanah:

  1. Sejumlah rumah terutama yang letaknya dengan lembah sungai mengalami kerusakan pada dinding dan lantai rumah.
  2. Penduduk yang menempati 102 rumah terdampak gerakan tanah di mana empat rumah di antaranya mengalami rusak berat dan yang lainnya rusak ringan.
  3. Fasilitas umum berupa dua unit bangunan mushola mengalami rusak ringan.
  4. Jalan poros desa mengalami kerusakan.
  5. Penduduk khawatir akan terjadinya perkembangan gerakan tanah

Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan masih terdapatnya potensi gerakan tanah susulan, mengingat masih terdapatnya retakan-retakan, baik pada lahan kebun maupun pada permukaan tanah dan  jalan. Menurut keterangan penduduk, retakan mengalami perkembangan atau melebar jika turun hujan.

Lahan Relokasi

Untuk menangani bencana gerakan tanah ini, pemerintah Kabupaten Lebak telah menyiapkan lahan untuk relokasi korban terdampak gerakan tanah. Lahan untuk relokasi ini berada di desa Margaluyu pada koordinat 106° 14' 30“ ; -6° 27' 8 “, memanfaatkan  lahan pemerintah kabupaten yang belum dimanfaatkan untuk permukiman. Berdasarkan pemeriksaan lapangan, lahan ini tidak memadai untuk dijadikan lahan relokasi mengingat:

  • Lokasi lahan yang tersedia di belakang permukiman yang sudah terbangun letaknya mendekat ke arah lereng dengan kemiringan yang sangat terjal.
  • Terdapatnya sungai di bawah lereng tersebut yang berpotensi akan berpengaruh terhadap kekuatan lereng jika di atas lahan tersebut dibangun perumahan. Tanah penyusun berupa pasir tufan yang mudah meloloskan air dan lunak ketika terjadi akumulasi air.
4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah di lokasi ini disebabkan oleh interaksi kondisi geologi, sistem drainase dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Secara umum faktor penyebab gerakan tanah adalah:

  • Batuan penyusun dan tanah pelapukan yang bersifat mudah meloloskan air di atas batuan yang bersifat kedap.
  • Bidang lemah berupa kontak antara batuan bagian atas yang bersifat meloloskan air (pasir tufan) dan bagian bawahnya yang bersifat kedap (lempung/napal) yang berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Struktur patahan barat laut – tenggara yang terdapat dekat dengan lokasi,
  • Letak lahan permukiman yang searah dengan bidang perlapisan batuan penyusun yang mengarah ke lembah sungai Cisimeut.
  • Erosi secara dan pelunakan oleh aliran sungai Cisimeut.
  • Sistem pembuangan limbah rumah tangga dan air permukaan (drainase) yang tidak tertata dengan baik dan tidak kedap air.
  • Curah hujan yang tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Hujan yang turun menyebabkan terjadi peresapan air melalui tanah dan pasir tufan yang mudah meloloskan air. Peresapan yang terus menerus seiring curah hujan yang tinggi, mengakibatkan penjenuhan dan akumulasi air pada kontak dengan lapisan lempung yang kedap. Peningkatan volume air seiring dengan curah hujan yang tinggi,  juga menyebabkan erosi oleh aliran sungai Cisimeut pada bagian kaki lereng semakin intensif dan mengakibatkan kekuatan tanah mengalami pelemahan akibat berkurangnya gaya penahan pada bagian bawah lereng. Terbentuknya akumulasi air pada kontak batuan dan penurunan gaya penahan akibat erosi pada kaki lereng, mengakibatkan tanah bergerak ke arah luar lereng dengan bidang gelincir pada kontak batuan tersebut. Letak lahan yang sejajar dengan bidang perlapisan semakin mempermudah tanah untuk bergerak ke arah lembah sungai. Kemiringan lereng yang landai mengakibatkan tanah bergerak dengan lambat dan menimbulkan retakan dan nendatan yang berkembang ke arah permukiman.

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi dan masih terdapatnya potensi gerakan tanah akibat terbentuknya retakan dan nendatan, direkomendasikan:

  • Masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan mendiri terhadap perkembangan retakan dan nendatan. Jika terjadi perkembangan yang cepat agar segera mengungsi,
  • Segera menutup retakan dan memadatkannya untuk mengurangi peresapan air ke dalam tanah serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan.
  • Melakukan penataan sistem drainase (pembuangan limbah rumah tangga) dengan sistem aliran yang kedap,
  • Merelokasi rumah-rumah yang mengalami kerusakan dan letaknya dekat dengan lereng sungai,
  • Kontruksi rumah yang cocok pada lokasi ini adalah kontruksi rumah panggung / sederhana terbuat dari kayu,
  • Membebaskan lahan sepanjang lereng yang berbatasan dengan sungai dari permukiman,
  • Untuk melindungi rumah-rumah yang masih berdiri di lokasi ini yang letaknya menjauh dari sungai dan menghindari berkembangnya retakan dan nendatan, agar dibuat perkuatan pada kaki lereng di sungai Cisimeut. Perkuatan agar dilakukan dengan mengikuti kaidah geologi teknik dengan pondasi yang menembus batuan dasar yang keras.
  • Tidak membuat kolam-kolam penampungan air dan lahan basah pada bagian bawah dan atas lereng.
  • Tidak beraktivitas di alur lembah dan  alur sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran dan banjir bandang, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam,
  • Memelihara dan menanam tanaman berakar tunggal sebagai pengikat tanah,
  • Ke depannya agar tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng dan membangun rumah dengan letak yang dekat dengan lereng.
  • Masyarakat  agar mengikuti arahan yang disampaikan oleh Tim Tanggap Darurat yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dan banjir bandang.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dalam penangan bencana gerakan tanah.

CALON LAHAN RELOKASI

  • Agar ditentukan lahan relokasi alternatif, mengingat lokasi yang diusulkan di Desa Margaluyu, tidak memenuhi syarat untuk dijadikan lahan relokasi.
  • Agar tidak dilakukan pengembangan di lahan untuk relokasi yang saat ini sudah terbangun permukiman, mengingat lahan yang tersedia mendekati lereng yang yang di bawahnya terdapat sungai.

 

B. Kecamatan Cibeber

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi pada areal permukiman di kampung Sukalaksana RT 01/RW 04 Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber yang secara geografis berada pada koordinat 106° 27' 00,2” ; -6° 48' 46,3" (Gambar 2).

Menurut keterangan penduduk dan aparat setempat, gerakan tanah ini terjadi pada hari Rabu 16 Januari 2019  saat  turun hujan.

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi di daerah bencana merupakan perbukitan dengan kemiringan lereng  agak terjal sampai sangat terjal. Lokasi gerakan tanah berada pada lereng yang berbatasan dengan sungai yang mengalir di sebelah timur.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa (Sujatmiko dan Santosa, P3G, 1992), lokasi gerakan tanah tersusun oleh Breksi Tapos (Qvb)yang terdiri dari breksi gunungapi dan aglomerat dari (Gambar 4). Hasil pengamatan lapangan, lokasi gerakan tanah disusun oleh tanah lapukan dari breksi berwarna coklat sampai coklat terang dengan ketebalan antara 1 –  2 meter, lunak mudah terurai (Foto 4). Struktur geologi yang berkembang dan terdekat dengan lokasi gerakan tanah adalah berupa sesar yang berarah tenggara-barat laut dengan jarak mencapai 4,8 km ke arah barat daya. Tidak ditemukan indikasi pengaruh sesar atau struktur geologi di lokasi gerakan tanah.
  • Keairan, Kondisi air permukaan di sekitar lokasi gerakan tanah baik dan terdapat sungai kecil yang mengalir di sebelah timur. Saluran pembuangan limbah rumah tangga dan aliran air permukaan tidak tertata dengan baik dan tidak dibuat kedap air.
  • Tata guna lahan, Lahan di sekitar lokasi gerakan tanah dimanfaatkan sebagai permukiman pada bagianatas punggungan. Di bagian lembah terdapat sungai dan kolam penampungan air. Lahan di luar permukiman dimanfaatkan sebagai lading dan sebagian lainnya berupa semak belukar.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak Provinsi Banten pada bulan Februari 2019 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cibeber termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Menengah – Tinggi (Gambar 5 dan Tabel 1). Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi adalah tipe rayapan (lambat) berupa retakan dan nendatan pada permukaan tanah. Retakan yang terjadi memiliki lebar antara 2 cm sampai mencapai 10 cm. Nendatan dan retakan dijumpai di sekitar permukiman dan mengakibatkan retakan pada dinding rumah permanen serta pada jalan poros desa (Foto 5). Permukiman yang terdampak berlokasi pada lahan dengan kemiringan lereng terjal. Rumah-rumah juga terbangun pada lahan yang sangat dekat dengan tebing lereng berkemiringan sangat terjal, bahkan tegak (Foto 6). Sitem pengaliran air permukaan dan limbah rumah tangga juga tidak tertata dengan baik dan tidak kedap air.

Dampak gerakan tanah:

  1. 21 rumah telah dikosongkan dan penduduk mengungsi di posko yang disediakan BPBD.
  2. Masyarakat khawatir akan terjadinya lonngsoran lebih besar seperti yang terjadi di perkampungan tetangga, Kampung Cimapag Kec. Cisolok, yang termasuk wilayah Kabupaten Sukabumi.
  3. Jalan poros desa mengalami kerusakan.

Lahan Relokasi

Untuk menangani bencana gerakan tanah ini, pemerintah Kabupaten Lebak telah menyiapkan lahan untuk relokasi. Lahan untuk relokasi ini berada di wilayah desa Gunungwnagun pada koordinat 106° 26' 34,76“ ; -6° 48' 41“ (Foto 7). Berdasarkan pemeriksaan lapangan, lahan ini tidak memadai untuk dijadikan lahan relokasi mengingat:

  • Lokasi lahan yang tersedia berupa punggungan memanjang yang di kedua sisinya berbatasan dengan lereng yang sangat terjal. Dengan lebar punggungan yang kecil, jika didirikan rumah di lokasi ini gletaknya akan dekat denga tebing, sehingga dikhawatirkan akan memicu terjadi gerakan tanah akibat terjadi gangguan pada lereng.
  • Luas lahan yang datar tidak mencukupi untuk menampung rumah-rumah yang akan direlokasi.
4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah di lokasi ini disebabkan oleh interaksi kondisi geologi, sistem drainase dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Secara umum faktor penyebab gerakan tanah adalah:

  • Tanah pelapukan yang bersifat mudah meloloskan air.
  • Kemiringan lereng yang terjal.
  • Erosi secara lateral dan pelunakan oleh aliran sungai pada bagian bawah lereng.
  • Kontak antara tanah pelapukan yang bersifat meloloskan air dan bagian bawahnya yang bersifat kedap sebagai bidang lemah.
  • Sistem pembuangan limbah rumah tangga dan air permukaan (drainase) yang tidak tertata dengan baik dan tidak kedap air.
  • Curah hujan yang tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

 Air hujan yang turun dalam durasi lama dan intensitas tinggi meresap ke dalam tanah pelapukan yang porous menyebabkan terjadi peningkatan beban massa tanah. Sementara itu pada bagian kaki lereng terdapat alur sungai yang mengerosi lereng dan pelunakan pada kaki lereng. Kondisi di atas ditambah dengan kemiringan pada kaki lereng di mana terdapat alur sungai yang terjal sampai sangat terjal, mengakibatkan tanah bergerak ke luar lereng. Pergerakan tanah pada bagian kaki lereng ini menyebabkan tanah di atasnya, di mana bangunan berdiri, mengalami pengurangan gaya penahan sehingga bergerak secara perlahan membentuk retakan dan nendatan.

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi dan masih terdapatnya potensi gerakan tanah akibat terbentuknya retakan dan nendatan, direkomendasikan:

  • Masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan mendiri terhadap perkembangan retakan dan nendatan. Jika terjadi perkembangan yang intensif dan cepat agar segera mengungsi,
  • Segera menutup retakan dan memadatkannya untuk mengurangi peresapan air ke dalam tanah serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan,
  • Melakukan penataan sistem drainase dengan sistem aliran yang kedap yang dibuang menjauhi lereng dan langsung ke sungai,
  • Merelokasi rumah-rumah yang rusak/retak ke lokasi yang aman dari ancaman pergerakan tanah,
  • Ke depannya agar tidak membuat kolam-kolam penampungan air dan lahan basah pada bagian bawah dan atas lereng,
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam.
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng dan membangun rumah dengan letak yang dekat dengan lereng.
  • Masyarakat  agar mengikuti arahan yang disampaikan oleh Tim Tanggap Darurat yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dan banjir bandang.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dalam penangan bencana gerakan tanah. 

CALON LAHAN RELOKASI: Agar ditentukan lahan relokasi alternatif, mengingat lokasi yang diusulkan di Desa Gunungwangun, tidak memenuhi syarat untuk dijadikan lahan relokasi karena lahan sempit untuk relokasi dan memiliki kelerengan yang terjal.

 

LAMPIRAN

Cimarga 1 (050221)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan tanah di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 2 (050221)

Gambar 2. Peta Lokasi Gerakan tanah di Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 3 (050221)

Gambar 3. Peta Geologi Daerah Sudamanik dan sekitarnya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 4 (050221)

Gambar 4. Peta daerah Sukamulya dan sekitarnya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 5 (050221)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan tanah di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 6 (050221)

Gambar 6. Penampang Situasi Gerakan tanah di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 7 (050221)

Gambar 7. Peta Situasi Calon Lahan Relokasi di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 8 (050221)

Gambar 8. Penampang Situasi Calon Lahan Relokasi di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 9 (050221)

Gambar 9. Peta Situasi Gerakan tanah di Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 10 (050221)

Gambar 10. Penampang Situasi Gerakan tanah di Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 11 (050221)

Gambar 11. Peta Situasi Gerakan tanah di Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 12 (050221)

Gambar 12. Penampang Situasi Gerakan tanah di Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten

 

Cimarga 13 (050221)

Gambar 13. Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Lebak bulan Februari 2019

 

TABEL 1. WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN

 BULAN FEBRUARI  2019

Cimarga 14 (050221)

 

Cimarga 15 (050221)

Foto 1 Batuan penyusun yang tersingkap pada kaki lereng di lembah sungai Cisimeut yang mengindikasikan juga terpengaruh oleh struktur geologi (kiri atas) . Singkapan pada lahan permukiman (kiri bawah). Susunan batuan ini memiliki arah bidang perlapisan ke arah lembah sungai. Foto kanan memperlihatkan lapisan lempung yang tersingkap pada dinding sungai yang berada di bawah lapisan pasir tufan.

 

Cimarga 16 (050221)

Foto 2. Retakan di sekitar permukiman dan areal kebun dengan vegetasi yang baik (atas). Kiri bawah memperlihatkan salah satu rumah yang mengalami kerusakan dan permukaan tanah nya mengalami nendatan sedalam 50 cm. Kanan bawah foto  lahan yang sebelumnya digunakan untuk rumah dan sarana umum mengalami nendatan sedalam lebih dari 1 meter dan terbentuk genangan air.  Lahan ini berada dekat dengan aliran sungai Cisimeut

 

Cimarga 17 (050221)

Foto 3.  Permukiman terbangun di bagian atas lahan untuk relokasi di desa  Margaluyu (kiri).  Foto kanan memperlihatkan bagian bawah lahan yang disediakan untuk relokasi yang berbatasan langsung dengan lahan basah dan sungai yang mengalir di lembahnya.

 

Cimarga 18 (050221)

Foto 4.  Tanah pelapukan yang lunak pada lereng dengan kemiringan lereng yang hampir tegak.

 

Cimarga 19 (050221)

Foto 5. Nendatan dan retakan pada bagunan rumah permanen dan permukaan tanah.

 

Cimarga 20 (050221)

Foto 6. Rumah-rumah yang terancam berlokasi pada lahan dengan kemiringan lereng yang terjal (kiri). Foto kanan memperlihatkan rumah yang letaknya sangat dekat dengan tebing yang terjal. Tanda panah memperlihatkan sitem pegaliran air permukaan yang tidak tertata dan tidak kedap air.

 

Cimarga 21 (050221)

Foto 7.  Lahan untuk relokasi di Pasir Inpres, Desa Gunungwangun, Kecamatan Cibeber.