Laporan Dan Rekomendasi Gerakan Tanah Kec. Cimanggung , Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat

Laporan dan rekomendasi bencana gerakan tanah yang terjadi di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi pada zona pemukiman Parakan Muncang di sisi timur alur longsor  dan  Dusun Bojongkondang pada sisi barat alur longsor, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 6° 57' 20,1096" LS dan 107° 49' 3,81" BT. Menurut keterangan warga setempat, kejadian gerakan tanah pertama diperkirakan terjadi pada hari Sabtu, 9 Januari 2021 sekitar 16:00 WIB dan  gerakan tanah susulan pada pukul 19.00 WIB.

2. Jenis gerakan tanah:

Jenis gerakan tanah merupakan tipe  longsoran dari atas  lereng  yang berubah jadi aliran bahan rombakan.

3. Dampak  dan Potensi Dampak yang Ditimbulkan

a. Berdasarkan informasi dari BPBD  pada hari Rabu tanggal  13 Januari 2021. Jumlah korban 65 orang, dengan meninggal dunia 16 orang, 24 orang dalam pencarian. Sedangkan warga terdampak, mereka mengungsi secara tersebar di rumah penduduk. Sedangkan kerugian materiil, BPBD Kabupaten Sumedang menginformasikan rumah rusak berat 14 unit dan tempat ibadah 11 unit.
b. Dari landaan hasil pengamatan :
  • Luasan landaan  :  lk 4000 m2
  • Panjang landaan : lk 140 m
  • Volume material longsor diperkirakan  : lk 8000 m3

c. Wilayah potensi dampak berada pada  alur longsor yang berarah sekitar N 260° E  (Gambar 5), yaitu :
  • Wilayah hulu alur longsor pada permukiman diatas lereng. Untuk jarak wilayah penyangga (buffer zone) dengan jarak aman  minimal 2 x tinggi tebing di alur longsor dengan  alur airnya tidak mengarah ke lereng terjal;
  • Sepanjang tebing kiri dan kanan lembah alur longsor  yang diselaraskan dengan sudut kemiringan lereng. Untuk jarak wilayah penyangga (buffer zone) dengan jarak aman  minimal 2 x tinggi tebing di alur longsor serta mengikuti pola sebaran morfologi kipas longsor pada sudut lereng rendah ;
  • Ujung sebaran  alur gerakan tanah pada wilayah dengan bersudut lereng rendah hingga datar.  Diperkirakan pada  areal persawahan potensi gerakan tanah menurun.

4. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum lokasi bencana merupakan perbukitan bergelombang yang berada pada ketinggian antara 735 sampai dengan 778 meter di atas permukaan laut. Dengan sudut kelerengan berkisar antara 35° – 40° , daerah bencana  merupakan daerah perbukitan curam  yang membentuk morfologi tapal kuda  yang  berbentuk U atau V (Gambar 3)
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (P.H. Silitonga., P3G, 1973), daerah bencana tersusun oleh Hasil Gunungapi Muda Tak Teruraikan (Qyu) berupa pasir tufaan, lapilli, breksi, lava dan aglomerat. Pengamatan lapangan menunjukkan tubuh morfologi bukit di Desa Cihanjuang didominasi oleh batuan lava dengan tanah pelapukannya berwarna orange - coklat  dengan ketebalan pelapukan rata  rata  1,5 -2  meter dan menebal di alur lembah dan bercampur dengan material longsoran lokal maupun tanah urugan. Setempat ditemukan longsoran vulkanik yang terpilah buruk berupa  fragmen lava dengan material tanah.  Dijumpai juga pada lereng bawah lapisan aluvium yang berada diatas perlapukan lava. Karakteristik fisik batuan yang mengontrol kejadian gerakan tanah menunjukan perlapisan tanah pelapukan yang gembur dan di bawahnya merupakan unit satuan  dari pelapukan dari tubuh lava yang bersifat  lebih masif  dan  kedap air. (Gambar 2)
  • Tata Guna Lahan, Pemanfaaan kawasan bencana terbagi pada tubuh lereng atas merupakan lahan pemukiman; lereng tengah merupakan wilayah permukiman dan  kebun campuran. Pada lereng bagian bawah yang relatif landai merupakan lahan jalur jalan utama dan permukiman.
  • Keairan : Wilayah lokasi bencana berbentuk tapal kuda dengan sifat tanah pelapukan tebal bersifat gembur merupakan wilayah tangkapan air lokal dan alur air. Drainase air dari wilayah pemukiman di lereng bagian atas sebagian mengalir kearah alur air tebing longsor. Informasi BMKG, menunjukan intensitas curah hujan 100mm pada saat kejadian gerakan tanah di Desa Cihanjuang dan sekitarnya.
  • Potensi terjadinya Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat pada Bulan Januari 2021 (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM), Kecamatan Cimanggung termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Menengah - Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  • Wilayah bencana berbentuk morfologi tapal kuda dengan kemiringan lereng lebih curam dari tempat lainnya, menjadikan lokasi bencana merupakan wilayah tangkapan air lokal serta merupakan alur air; 
  • Tebalnya tanah bersifat lolos air dan mudah jenuh air serta dibagian bawahnya merupakan lapisan pelapukan dari tubuh lava yang relatif kedap air yang  berfungsi sebagai bidang gelincir; 
  • Lereng bukit merupakan lahan terbuka dengan kurangnya vegetasi berakar kuat dan tanpa perkuatan lereng;  
  • Drainase yang kurang baik sehingga aliran air permukaan terakumulasi di hulu alur air yang memiliki kemiringan terjal bergerak mengalir ke dalam lembah alur air dibawahnya; (Foto 2 dan 5) 
  • Hujan yang turun dengan intensitas tinggi dengan durasi yang cukup lama menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah/longsor . 

6. Mekanisme

Morfologi wilayah bencana  yang berbentuk tapal kuda dibangun dengan kemiringan lereng curam berperan sebagai wilayah tangkapan air lokal dan alur air. Dengan Wilayah lereng terbuka dengan kurangnya vegetasi berakar kuat dengan karakter tanah dan pelapukan lava, menjadikan  air yang terus mengalir dan terinfiltrasi kedalam tanah dalam waktu lama meningkatkan kejenuhan airnya dan tekanan pori tanah. Dampaknya bobot tanah menjadi meningkat. Peningkatan curah hujan pada alur air tersebut mempercepat proses penjenuhan dan peningkatan bobot. Sehingga memicu terjadinya gerakan tanah tipe longsoran dan yang berubah menjadi aliran bahan rombakan. 

7. Rekomendasi

Mengingat telah terbangun jalur longsor, tebalnya tanah pelapukan dan  curah hujan yang masih tinggi , maka  untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda yang lebih besar, direkomendasikan upaya adaptasi terhadap kondisi geologi setempat sebagai berikut: 

a. Peningkatan Kewaspadaan saat bencana:
  • Warga, aparat maupun tim yang bertugas untuk evakuasi harus mengantisipasi potensi longsoran susulan mengingat daerah tersebut masih rawan longsor serta potensi curah hujan yang tinggi;
  • Masyarakat disekitar lokasi bencana/bahaya sebaiknya diungsikan dulu ketempat yang lebih aman;
  • Jika turun hujan sebaiknya aktifitas disekitar lokasi bencana dihentikan dan penduduk/warga diungsikan untuk sementara;
  • Evakuasi dan membersihkan tumpukan material longsor  pada lereng pemukiman terdampak  menghindari terbendungnya aliran dari atas lereng  yang berpotensi terjadinya longsor susulan dan atau potensi banjir bandang

b. Penataan ulang kawasan di alur terdampak gerakan tanah / longsor

  • Wilayah bencana telah menjadi wilayah alur air dengan tebing alur air merupakan tanah bersifat gembur dan mudah dijenuhi air serta tereksposnya bidang glincir  maka sebaiknya wilayah dikosongkan dan dihutankan kembali;
  • Dan pemukiman wilayah pemukiman yang masuk dalam alur gerakan tanah/longsor  yang telah terbentuk tersebut agar direlokasi;

c. Upaya mitigasi untuk menjaga kestabilan lereng pasca terjadinya gerakan tanah / longsor

  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng;
  • Membangun wilayah buffer/penyangga antara tebing dengan lahan pemukiman;
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan membangun sengkedan pada lereng,  pembuatan penahan lereng/retaining wall yang sesuai dengan kaidah keteknikan;
  • Penataan drainase (sistem aliran air permukaan dan buangan air limbah rumah tangga), sebagai berikut:
    • Menata ulang  alur drainase dari pemukiman diatas lereng untuk menjauhi lereng terjal ;
    • Saluran, agar dibangun dengan kedap air (ditembok dan pemipaan), untuk menghindari peresapan air langsung ketanah yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah;
    • Saluran air agar dibuat lebih dalam dan lebar untuk menampung debit air yang lebih banyak pada musim hujan;
    • Drainase jalur jalan agar dibuat kedap air.

d. Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah terutama pada saat musim hujan, agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan dan segera melaporkan kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat;

e. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami potensi bencana gerakan tanah

 

LAMPIRAN

Cimanggung 1 (130121)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

 

Cimanggung 2 (130121)

 

Cimanggung 3 (130121)

Gambar 3. Digital Elevation Model (DEM) yang meperlihatkan morfologi lokasi bencana berbentuk tapal kuda atau berbentuk U atau V merupakan salah satu indikator daerah bencana merupakan wilayah tangkapan hujan lokal dan alur air.

 

Cimanggung 4 (130121)

Gambar 4. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah menunjukan lokasi bencana masuk kedalam zona prakiraan Menengah (warna Kuning) – Tinggi (merah), Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat pada Bulan Januari 2021.


TABEL 1. WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN SUMEDANG, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN JANUARI 2021

Cimanggung 5 (130121)

Keterangan:

Cimanggung 6 (130121)

 

Cimanggung 7 (130121)

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat

 

Cimanggung 8 (130121)

Gambar 6. Sketsa penampang A – B gerakan tanah di Desa Cihanjunga, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

 

Cimanggung 9 (130121)

Gambar 7. Lokasi gerakan tanah di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang sebelum kejadian yang diambil dari Foto Citra Satelit Google Earth pada tanggal 26 Juli 2020 (atas) dan lokasi gerakan tanah setelah kejadian yang diambil menggunakan Drone PVMBG – Badan Geologi pada tanggal 10 Januari 2021 (bawah).

 

Cimanggung 10 (130121)

Foto 1. Wilayah terdampak gerakan tanah di Desa Cihanjuang, Kabupaten Sumedang

 

Cimanggung 11 (130121)

Foto 2. Mahkota longsoran yang berada di pemukiman bagian atas dan masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan. Saran untuk darinase (dilingkari) dialihkan menjauhi mahkota longsoran

 

Cimanggung 12 (130121)

Foto 3. Wilayah yang terdampak bencana dioverlay kedalam Citra Satelit Google Earth menunjukan banyak bangunan yang terdampak akibat bencana tersebut.

 

Cimanggung 13 (130121)

Foto 4. Infrastruktur yang rusak akibat gerakan tanah yang terjadi di sekitar lokasi bencana.

 

Cimanggung 14 (130121)

Foto 5. Drainase dan alur air pada jalan dengan kemiringan jalan kearah lembah (mahkota longsor), dipemukiman bagian atas. Saran untuk dialihkan menjauhi mahkota longsor/tebing terjal.

 

Cimanggung 15 (130121)

Foto 6. Terdapat longsoran-longsoran kecil di bagian Utara lokasi bencana yang berada di alur air, kedepannya berpotensi menjadi longsoran besar apabila tidak diatasi secepatnya.

 

Cimanggung 16 (130121)

Foto 7. Tim PVMBG, Badan Geologi Kementerian ESDM saat melakukan penyelidikan di lokasi bencana untuk mengetahui kondisi bencana.

 

Cimanggung 17 (130121)

Foto 8. Tim Tanggap Darurat PVMBG memberikan informasi terkait kondisi gerakan tanah yang terjadi di lokasi bencana kepada media.

 

Cimanggung 18 (130121)

Foto 9. Tim Tanggap Darurat PVMBG yang diwakili oleh Kepala Tim memberikan penjelasan terkait kondisi gerakan tanah yang terjadi termasuk potensi gerakan tanah kedepannya di depan Aparat Pemerintah Kabupaetn Sumedang yang dihadiri Wakil Bupati, Sekda, BNPB . Kalak Provinsi Jawa Barat, Kalak BPBD Kabupaten Sumedang, Kapolres Sumedang, Dandim 0610 Sumedang dan perwakilan relawan