Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Banjir Bandang Di Kecamatan Masamba Dan Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan

Hasil kaji cepat kegiatan Tanggap Darurat bencana banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.

1. Lokasi dan waktu kejadian

Banjir bandang terjadi di Kota Masamba dan lima kota lainnya meliputi Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara. Banjir Bandang terjadi pada hari Senin, 13 Juli 2020 malam  pukul 21.00 WITA. Informasi dari  lokasi kejadian bencana yang  berada di tepi S. Kula,  Desa Kemiri, luapan banjir yang membawa material pasir pernah terjadi pada pertengahan Mei 2020 dan pada hari Minggu malam tanggal 12 Juli 2020

 

2. Jenis bencana

Bencana yang terjadi berupa banjir bandang/aliran bahan rombakan akibat longsoran bagian hulu sungai Radda dan sungai Kula yang menyatu menjadi Sungai Massamba di  Kota Massamba serta longsoran akibat  erosi lateral sepanjang alur yang dilaluinya serta dipicuh  curah hujan tinggi dengan intensitas lama.

 

3. Dampak dan potensi dampak kedepan  gerakan tanah dan banjir bandang/aliran bahan rombakan:
1) Dampak korban  Banjir Bandang berdasarkan Data Resmi Pemerintah Daerah Kab. Luwu Utara tertanggal 23 Juli 2020 
  • Korban yang terdiri dari korban hilang 10 orang; korban luka /dirawat 106 orang dan korban meninggal dunia 38 orang 
  • Pemukiman terdiri 2827 unit rusak ; distribusi transimisi listrik, jaringan air minum , jembatan terputus 
2) Kondisi alur sungai  pasca banjir bandang  :  
  • Terbukanya lahan hutan akibat kejadian gerakan tanah  di bagian hulu sungai  yang merupakan daerah tangkapan hujan. Gerakan tanah dan banjir bandang berpotensi terulang Kembali 
  • Pendangkalan sungai, dan setempat – setempat terjadi juga pendalaman dasar sungai seperti di Desa Meli.  
  • Perluasan limpasan material pada alur sungai terutama pada pertemuan jembatan dan pada kelokan sungai.

 

4. Kondisi daerah bencana :
1) Karakteristik  morfologi pada  aliran sungai banjir bandang :

  • Hulu sungai banjir bandang berada di kawasan  pegunungan yang berhutan lebat dan  merupakan area tangkapan hujan. Wilayah tersebut  membuka  ke arah tenggara. Pada wilayah pedataran, alur sungai Radda berbelok ke arah selatan dan aliran sungai Kula menyatu dengan Sungai Massamba  yang melewati Kota Massamba.  
  • Perbukitan bergelombang tinggi dengan  kemiringan lereng terjal (lebih dari 30°) dengan elevasi puncaknya di zona tangkapan hujan  berkisar dari 175 – 1400 m dpl). Buttu Lero  (1220 m .dpl) merupakan  puncak  tertinggi di Area Tangkapan hujan  S. Radda  yaitu . Sedangkan  titik tertinggi di Area Tangkapan Hujan di S. Kula adalah  puncak Buttu Magandang (lk 1453 m dpl). Lembah sungainya dicirikan lembah sungai sempit berbentuk V . Bagian tengah merupakan wilayah perbukitan bergelombang rendah sampai sedang  ( 5° - 20° ) dengan ketinggian 50 – 175 m dpl. Pada wilayah pedataran berkemiringan   lereng 0 – 5 ° dengan ketinggian < 50 m dpl. Pada bagian tengah dan pedataran, morfologi lembah sungai  di bagian hilirnya berubah bentuk menjadi  lembah lebar   berbentuk U.
  • Perluasan lateral dataran banjir bandang  alur sungai akibat gerusan / erosi lateral aliran dan limpasan endapan banjir bandang.
2) Geologi daerah aliran sungai terlanda banjir bandang  :
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malili, Sulawesi (Simandjuntak, drr, 1991). Batuan penyusun pada wilayah dataran dan  bantaran sungai  berupa endapan alluvium (Qal) yang terdiri dari lumpur, lempung, pasir, kerikil dan kerakal. Pada bagian utara yang tersusun oleh Formasi Granit Kambuno (Tpkg) yang terdiri dari batuan beku Granit dan Granodiorit . Dan endapan lava basalt dan andesit, breksi gunungapi dan tuf dari Formasi Batuan Gunungapi Lamas (Tplv). Pada Formasi Granit Kambuno banyak ditemukan indikasi patahan/sesar   geser  lama
  • Pengamatan lapangan  sepanjang  sungai Radda dan Kula :
 
  •  
    • Dibangun oleh  jenis batuan beku granodirit (bagian dari Formasi Granit – Kambuno) banyak dijumpai  retakan pada batuan akibat patahan masa lalu. Bagian atasnya telah mengalami proses lapukan semi lanjut  (berwarna putih kelabu ) sampai lanjut  (membentuk soil/tanah kuning – kemerahan). Pelapukannya   jika terkena air dan tekanan bersifat urai. Sepanjang alur sungai, batuan granodiorit ditutupi secara tidak selaras endapan alluvium. Endapan alluvium berukuran pasir hingga fragmen berukuran boulder (> 2 m)  merupakan  salah satu indikator endapan banjir bandang masa lalu.
    • Endapan banjir badang pada 13 Juli 2020 merupakan percampuran kayu dan batuan berbagai ukuran dari  lumpur, pasir, kerikil dan kerakal hingga boulder batuan berdiameter mencapai 2 – 3 meter. Bentuk fragment batuan bervariasi  dari  menyudut yang merupakan indikasi material baru hingga membulat yang merupakan material batuan lama. Sumber endapan  berasal dari batu dan pelapukan batuan granodiorit baik di S. Radda maupun S. Kula.
    • Estimasi minimal volume endapan banjir bandang di Sungai Radda 5.352.919 m3 (Luasan landaan dari deliniasi drone : 3.167.408 m2 dengan estimasi tebal rata- rata 1,69 m
    • Estimasi minimal volume endapan banjir bandang di Sungai Kula 6.189.330 m3 (Luasan landaan dari deliniasi drone : 4.126. 220 m2 dengan estimasi tebal rata- rata 1,5 m).
3) Tata Guna Lahan  :

Lahan pada  alur sungai banjir dandang secara umum dapat dibagi dalam dua kategori :1.  Lahan Hutan diatas alur sungai banjir bandang pada  elevasi  > 125 m dpl di Desa Meli dan pada ketinggian lebih dari >175 m dpl di Desa Maipi.  2. Lahan   pemukiman, perkebunan serta persawahan   pada elevasi  < 125  m dpl di Desa Meli dan pada ketinggian < 175 m dpl di Desa Maipi   

 

4) Keairan /Curah hujan :

  • Prakiraan curah hujan dari BMKG sejak yanggal 11 Juli – sampai tanggal 13 Juli 2020 : pada tanggal 11 Juli  hingga 12 Juli 2020 , prakiraan  curah hujan sedang  berlangsung antara pukul 14:00 – 17 :00 WITA. Pada tanggal 13 Juli 2020, menunjukan parkiraan curah hujan rintik rintik
  • Sumber lokal masyarakat menyebutkan  bahwa :
    • Peningkatan debit air sungai,  meluap ke pemukiman dan taman kota. Kejadian tersebut  pada minggu ke dua bulan Mei  2020,  pada malam Senin 12 Juli 2020 dan diakhiri oleh 13 Juli 2020 pukul 21:30 WITA
    • Hujan lebat  menerus dari siang  dan berhenti menjelang magrib pada tanggal 13  Juli 2020 (Sumber: Bapak Jamal warga Desa Kemiri yang berbatasan dengan tepian S. Kula)

5. Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada :
  • Bulan Juli 2020 di Sulawesi Selatan (Badan Geologi), daerah alur sungai banjir Bandang terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya  pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
  • Sejak bulan Desember  2019 hingga Mei 2020, Wilayah hulu alur sungai banjir bandang  merupakan wilayah potensi tinggi gerakan tanah sebagai implikasi potensi curah hujan tinggi. Indikasi proses penjenuhan tanah  telah  berlangsung lama.   

6. Faktor penyebab terjadinya bencana diperkirakan  :
  • Pola curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama beberapa bulan sebelumnya  serta kejadian curah hujan lokal sebelum terjadi  banjir bandang menjadi pemicu utama terjadinya bencana.
  • Hulu sungai merupakan morfologi tangkapan hujan (Catchment Area) dengan  morfologi berupa lembah sempit di hulu sungai ( berbentuk V) menjadi lembah melebar ke arah hilir  ( berbentuk U).
  • Material penyusun  lembah sungai berupa batuan rentan terjadinya longsor terdiri dari  batuan beku granodiorit banyak mengandung retakan akibat patahan lama   dan  sifat tanah pelapukannya  sarang dan mudah luruh jika terkena air
  • Longsoran pada tubuh  lereng yang  terbawa oleh aliran  air permukaan melalui alur-alur air.
  • Pengerosian secara lateral sepanjang alur sungai yang dilalui menambah volume sedimen yang  bercampur kayu dan pohon tumbang meningkatkan  daya rusak.
  • Pembentukan tanggul alam di sepanjang alur sungai  sebagai dampak akumulasi longsoran di hulu sungai dan  erosi sepanjang alur sungai 
  • Aliran sungai yang mengandung sedimen berbagai ukuran dan batang kayu, dapat tersendat saat  melewati Infrastruktur jembatan dan terjadi     akumulasi energi air yang berkembang cepat serta  daya dorongnya dapat  merobohkan jembatan .
  • Pemukiman  berada dalam bantaran alur sungai yang dilalui oleh banjir bandang lama dan baru

7. Mekanisme

 1) Wilayah hulu sungai merupakan wilayah tangkapan hujan dengan potensi curah hujan tinggi.  Air hujan meresap kedalam tanah meningkatkan  kandungan air dalam retakan batuan dan pelapukannya. Infiltasi air menerus menyebabkan tanah pelapukan yang bersifat urai, berat massanya  bertambah,   tahanan geser tanah pelapukan dan daya ikatnya  menurun  serta  meningkatnya  daya dorong pada lereng. Daya dorong bertambah juga dikontrol kemiringan lereng, proses erosi saat  aliran air  bergerak diantara rekahan/retakan  batuan, dipermukaan lereng dan pada batas tanah pelapukan dengan batuan granodirit dibawahnya. Kombinasi dari faktor pengontrol geologi setempat   dan intensitas curah hujan mengakibatkan vegetasi hutan tidak mampu lagi  menjaga kestabilan lereng yang telah berlangsung dalam waktu yang  lama  dan terjadilah gerakan tanah/longsoran.

2) Bahan rombahan akibat  gerakan tanah/longsoran  tersebut   terakumulasi  dengan sedimen lama  di sungai dan  menambah volume  sedimen sungai. Akumulasi  sedimen berdampak pada terbentuknya  tanggul – tanggul alam sepanjang alur sungai. Saat hujan, debit air meningkat, memicuh  akumulasi air pada tanggul tanggul alam tersebut. Daya dorong bertambah dan akhirnya mampu menjebol tanggul alam   

3) Aliran  banjir bandang berupa   percampuran  sedimen berukuran dapat lebih dari  lebih dari 2 m, sedimen  lama di dasar sungai  dan erosi sepanjang sungai serta pohon yang tumbang bergerak cepat mengikuti alur sungai. Pelepasan energi air yang besar  dan cepat melabrak sepanjang alur sungai baru dan lama . Setempat – setempat pergerakan air yang membawa sedimen  dan kayu tersendat  saat melewati kelokan sungai dan jembatan. Jebolnya  jembatan akibat tidak mampu menahan debit air yang terus meningkat.  Menjelang  jembatan poros utama Luwu – Luwu Utara,  air aliran  dari bagian lebih hulu  dari jembatan langsung  bergerak mengikuti kelurusan sungai dan sebagian  melimpas  aliran ke kiri dan ke kanan alur sungai. 

8. Kesimpulan

  • Kejadian Banjir Bandang di Luwu Utara dikontrol kondisi alamnya.   Kejadian ini dikontrol oleh kombinasi  kondisi geologi setempat , kejadian gerakan tanah  di hulu sungai , terbangunnya dan jebolnya   tanggul – tanggul alam serta dipicu oleh akumulasi curah hujan
  • Terbukanya  lahan hutan akibat gerakan tanah meningkatkan ketidakstabilan lereng dan berpotensi terulang kejadian gerakan tanah dan banjir bandang di masa dating
  • Wilayah terdampak banjir bandang umumnya berada pada alur sungai di bagian hilir,  wilayah pedataran, kelok sungai serta pemukiman berbatasan dengan jembatan
  • Pendangkalan sungai yang tidak dikendalikan akan berdampak potensi bencana  susulan. Dengan kondisi ini maka   saat terjadinya curah hujan tinggi dapat memicu limpasan air sungai berpotensi  terjadinya banjir lumpur
  • Pembelajaran terpenting dari kejadian ini adalah dengan kondisi hutan pada hulu sungai masih lestari dapat memicuh  bencana apalagi jika terjadi alih fungsi lahan yang tidak dikendalikan akan berdampak yang sangat merugikan semua pihak dalam jangka Panjang
  • Sehingga perlu penataan kawasan ulang di alur sungai banjir bandang dengan mempertimbangan mitigasi bencana geologi untuk mengurangi dampak bencana di masa datang
9. Rekomendasi Teknis:

Mengingat wilayah di hulu sungai telah hutan terbuka, terdapat potensi  bencana  berulang terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang,  maka direkomendasikan :

  • Peningkatan kewaspadaan masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana dan pada alur sungai terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama untuk mengantisipasi terjadinya gerakan tanah susulan yang berkembang kembali menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang;
  • Mejaga aliran air sungai tetap lancar dan mengalir pada alur sungai yang terbentuk sekarang dan perlu kegiatan normalisasi alur sungai dengan  agenda rutin pengerukan sedimentasi di  alur sungai yang mendangkal
  • Pengurangan potensi dampak bencana  melalui penataan kawasan terdampak gerakan tanah dan banjir bandang sepanjang alur sungai dari hulu hingga  ke hilir sungai dengan:
    • Lestarikan hutan yang ada dan tidak mengalih fungsikan  lahan hutan hulu sungai minimal  wilaya tangkapan hujan pada batas Desa Meli dan Maipi
    • Pemindahan  pemukiman pada daerah terdampak.
    • Tidak mengembangkan infrastruktur vital strategis,  pemukiman atau sarana publik di sekitar aliran sungai terdampak banjir bandang  terutama yang berhulu di daerah perbukitan yang rawan longsor dan alur sungai terdampak banjir bandang.
    • Pengendalian alih fungsi lahan disepanjang alur terdampak bencana mulai dari desa Meli dan Maipi ke arah wilayah hilir sungai
    • Pembuatan  buffer antara  wilayah pemukiman dengan alur lembah sungai dengan  menanam  pohon berakar kuat, cepat tumbuh, bermanfaat yang diproyeksikan tidak akan perna di tebang dan atau   membangun tembok penahan tebing/talud pada lereng terjal di sepanjang alur sungai dan  pada kelokan sungai.
    • Pembuatan rambu,  jalur  dan lokasi evakuasi
  • Pembangunan sabo dam pada bagian atas Desa Meli dan Desa Maipi untuk mengendalikan aliran sedimentasi dari hulu sungai.
  • Penanaman  vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menahan lereng pada bekas longsor serta untuk menahan laju erosi dan aliran bahan rombakan
  • Pemantauan mandiri pada aliran sungai dan disseminasi informasinya  dengan melibatkan peran serta masyarakat terutama yang  bermukim di sepanjang alur sungai untuk antisipasi  ;
    • Curah hujan lokal di hulu sungai, untuk peningkatan kewaspadaan terhadap banjir bandang susulan dan potensi banjir luapan sungai
    • Menjadikan Desa Meli di hulu sungai Radda dan Desa Maipi, serta  Desa lainnya yang berbatasan dengan hutan sebagai titik kendali pemantauan
    • Jika ditemukan material longsor yang menghambat aliran sungai, segera normalisasi aliran sungai tersebut karena berpotensi berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang
    • Jika ditemukan retakan pada tebing atas, maka segera menutup retakan dengan tanah liat atau material kedap  dan dipadatkan
  • Peningkatan kapasitas adaptasi ancaman bencana melalui   sosialisasi untuk  kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Masamba 1 (120820)

Gambar  1 : Tumpang susun Peta Rupa Bumi (RBI) dengan deliniasi peta  aliran dan dampak  Banjir Bandang  menunjukan lokasi  kejadian bencana. Desa Maipi dan Desa  Meli merupakan pemukiman terakhir  pada batas Hutan di luar Area tangkapan hujan  (Catchment area)

 

Masamba 2 (120820)

Gambar 2 : Tumpang susun Peta Morfologi dan Landaan Banjir Bandang (Drone ). Hulu alira banjir bandang merupakan morfologi yang membentuk Area tangkapan hujan (Catchment area)

 

Masamba 3 (120820)

Gambar 3 : Tumpang susun Peta Geologi dan Landaan Banjir Bandang (Drone). Menunjukan kontrol geologi dari karakter batuan dan pelapukannya serta wilayah yang terindikasi patahan / sesar

 

Masamba 4 (120820)

Gambar 4 : Tumpang susun peta prakiraan potensi terjadinya gerakan tanah dengan delianiasi aliran banjir bandang (Drone) : Wilayah sumber bencana di wilayah tangkapan hujan di potensi terjadinya gerakan tanah menengah dengan lereng terjal

 

Masamba 5 (120820)

 

Masamba 6 (120820)

 

Masamba 7 (120820)

 

Masamba 8 (120820)

 

Masamba 9 (120820)

 

Masamba 10 (120820)

 

Masamba 11 (120820)