Tanggapan Kejadian Gerakan Tanah Dan Banjir Bandang Di Distrik Tembagapura,kabupaten Mimika, Provinsi Papua

Kejadian gerakan tanah di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, berdasarkan berita yang bersumber dari:

  1. https://www.liputan6.com/regional/read/4319603/waswas-longsor-susulan-warga-aroanop-tembagapura-mengungsi-ke-gunung, Jum’at 31 Jui 2020.
  2. https://sulsel.idntimes.com/news/indonesia/rochmanudin-wijaya/longsor-banjir-terjang-4-kampung-di-tembagapura-evakuasi-terganggu-regional-sulsel/1, Minggu, 2 Agustus 2020.
  3. https://seputarpapua.com/view/bpbd-pastikan-longsor-di-wilayah-aroanop-dan-sekitarnya-tidak-ada-korban-jiwa.html, Senin, 3 Agustus 2020.

 

1. Lokasi dan waktu kejadian :

Gerakan tanah/tanah longsor dan banjir bandang terjadi di lembah Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika pada hari Kamis, 30 Juli 2020 malam setelah pukul 22.00 WIT.

 

2. Jenis bencana :

Bencana yang terjadi adalah longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang yang dipicu oleh curah hujan tinggi dengan intensitas lama.

 

3. Dampak gerakan tanah dan banjir bandang/aliran bahan rombakan:
  • Sedikitnya 8 (delapan) rymah dan bangunan sekolah tertimbun.
  • 6 (enam) jembatan gantung terputus

 

4. Kondisi daerah bencana :
  • Secara umum topografi di lokasi bencana berupa dataran tinggi di wilayah perbukitan dengan aliran sungai pada bagian lembahnya. Lokasi bencana berada pada ketinggian 1250 mdpl.
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Timika, Irian Jaya (Rusmana, drr, 1995) secara regional batuan penyusun di daerah bencana adalah batulumpur berwarna merah, hijau, merah bata, batupasir berwarna kelabu, putih dan hijau, dan konglomerat kerakalan, feldsparan, dan tufan dari Formasi Tipuma. Di bagian bawahnya terendapkan batuan lebih tua dari Formasi Aiduna yang tersusun oleh batupasir litik, mikaan, feldsparan, berselingan dengan serpih karbonan, batulanau, dan konglomerat aneka bahan. Batuan lebih tua lagi berasal dari Formasi Modio yang tersusun oleh lapisan rijang, batugamping krinoid, batulumpur, batulanau, batupasir dan batugamping kaya fosil. Terdapat struktur geologi berupa sesar geser berarah relatif timur laut – barat daya.
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Juli 2020 di Provinsi Papua (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya  pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab terjadinya bencana diperkirakan karena :
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama sebelum terjadi gerakan tanah dan banjir bandang menjadi pemicu utama terjadinya bencana.
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena air.
  • Batuan penyusun yang telah dipengaruhi oleh struktur geologi sehingga terbentuk zona lemah berupa kekar (retakan-retakan).
  • Pengerosian secara lateral dan pelunakan pada alur sungai yang meningkat seiring peningkatan curah hujan.
  • Kemiringan lereng di wilayah perbukitan yang terjal memudahkan lereng longsor dan mengarah ke aliran sungai dan mengalir menjadi aliran bahan robakan/banjir bandang.

 

6. Rekomendasi Teknis:

  • Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana dan pada alur sungai agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras untuk mengantisipasi terjadinya gerakan tanah dan atau banjir bandang susulan;
  • Tidak membangun rumah atau tempat berkumpul warga di sekitar aliran sungai terutama yang berhulu di daerah perbukitan yang mengalami gerakan tanah dan atau banjir bandang;
  • Agar dilakukan pelestarian alam dan vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menahan lereng pada bekas longsor serta untuk menahan laju erosi dan aliran bahan rombakan;
  • Agar dilakukan pemantauan mandiri pada aliran sungai dengan melibatkan peran serta masyarakat. Jika ditemukan material longsor yang menghambat aliran sungai, segera normalisasi aliran sungai tersebut karena berpotensi berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang saat debit sungai meningkat;
  • Sebagai pencegahan jika ditemukan retakan pada tebing atas, maka segera menutup retakan dengan tanah liat dan dipadatkan;
  • Lokasi ini masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah dan atau banjir bandang susulan, sehingga perlu sosialisasi dan kewaspadaan bagi masyarakat di sekitar lokasi bencana;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Papua 1 (040820)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi bencana gerakan tanah dan banjir bandang di Kabupaten Mimika, Papua

 

Papua 2 (040820)

Gambar 2. Peta Geologi Aroanop dan sekitarnya, Kab. Mimika, Papua

 

Papua 3 (040820)

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah di Provinsi Papua pada

bulan Juli 2020.

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN MIMIKA, PROVINSI PAPUA

 BULAN JULI 2020

Papua 4 (040820)

Keterangan :

Papua 5 (040820)