Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Prov. Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari BPBD Kabupaten Bandung dengan Nomor 360/266/BPBD/2020 tanggal 25 Februari 2020, perihal Koordinasi Gerakan Tanah/Longsor di Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, kami sampaikan hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi pada tebing jalan di Kp. Legok Kole RT 03/RW 12, Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis berada pada koordinat 107° 30' 40,8" BT dan 07° 02’42,7" LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu, tanggal 19 Februari 2020, pukul 23.00 WIB.

 

2. Kondisi daerah bencana:
  • Morfologi, Morfologi pada daerah bencana secara umum berupa lereng perbukitan dengan kemiringan lereng curam - sangat curam 20 - >45o. Pada daerah bencana berada pada ketinggian 831 meter diatas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar, dkk., 1992), daerah bencana disusun oleh batuan Formasi Beser (Tmb) berupa breksi tufan dan lava bersusunan andesit sampai basal. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun daerah bencana berupa breksi tufan berwarna coklat.
  • Keairan, Kondisi keairan pada daerah bencana cukup melimpah dengan ditemukannya beberapa mata air di bagian atas lereng. Distribusi air dari mata air disalurkan melalui selang ke rumah-rumah penduduk.
  • Tataguna lahan, Tataguna lahan di daerah lokasi gerakan tanah pada umumnya berupa kebun campuran pada bagian atas. Permukiman yang cukup padat terdapat pada bagian tengah lereng, sedangkan pada lereng bagian bawah terdapat jalan desa dan perumahan penduduk.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta prakiraan terjadinya Gerakan Tanah bulan Maret 2020 dan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Bandung, Kecamatan Soreang terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi. Artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran, Panjang 25 meter, tinggi 7-8 meter dan lebar 10 meter, dengan arah longsoran N 15° E (utara-selatan) dan kemiringan lereng 56,8o. Longsoran menghancurkan 1 dapur rumah yang dihuni 4 orang. Retakan-retakan terlihat pada lereng di bagian atas. Lebar retakan berkisar 5 – 20 cm dengan panjang 1 – 15 meter.

Dampak:

  • 1 (satu) rumah yang berada di atas lereng terancam.
  • Merusak 1 dapur pada rumah di bagian bawah dan mengancam 4 rumah lainnya;

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah:

Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Morfologi dengan kemiringan lereng yang curam > 45o;
  • Kondisi geologi berupa tanah pelapukan yang bersifat porous dan tebal serta dibawahnya berupa lapisan kedap air dengan batuan breksi yang bersifat lebih kedap air sebagai bidang gelincir.
  • Sistem drainase/keairan tidak kedap air dan terjadi konsentrasi air berlebih karena adanya air yang mengalir tidak terkendali (saluran air pecah).
  • Dipicu oleh curah hujan yang tinggi sebelum kejadian gerakan tanah (longsor)

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Daerah bencana merupakan lahan permukiman dan kebun campuran. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan kandungan air dalam tanah meningkat, akumulasi air permukaan pada lahan perkebunan di bagian atas lereng yang melimpah dan menjadi jenuh air, bobot massa tanah bertambah,  mengakibatkan  lereng menjadi tidak stabil. Kemiringan lereng yang terjal dan adanya bidang gelincir gerakan tanah, mengakibatkan lereng mudah bergerak mencari keseimbangan baru.

 

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang masih tinggi, maka direkomendasikan:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat yang beraktivitas disekitar lokasi bencana terutama pada saat dan setelah terjadi hujan deras yang berlangsung lama.
  • Dilakukan perkuatan lereng terutama pada lereng undakan antar rumah dengan mengikuti kaidah keteknikan sehingga dapat meningkatkan gaya penahan pada lereng tersebut. Perkuatan hendaknya dibuat dengan pondasi yang menembus batuan keras.
  • Rumah yang terletak di tepi dan bawah tebing saat ini masih aman untuk digunakan, dengan tetap meningkatkan kewaspadaan dan memantau perkembangan retakan terutama saat hujan turun. Jika retakan bertambah lebar dan meluas dengan cepat, segera jauhi area retakan dan direlokasi ke tempat yang aman.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat dan pengguna jalan untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor pada wilayah-wilayah/jalan yang berpotensi terjadinya longsor.
  • Melakukan pemantauan menerus terhadap perkembangan retakan. Jika terjadi pekembangan yang menerus pada retakan agar segera melaporkan ke Pemerintah Daerah setempat.
  • Membuat sistem drainase yang kedap air  pada bagian atas lereng untuk melancarkan aliran air mengingat lokasi ini berada pada jalur dan akumulasi air.
  • Membuat bak penampungan yang kedap air.
  • Meningkatkan koordinasi baik masyarakat dan aparat desa serta BPBD Kab. Bandung.

 

LAMPIRAN

Soreang 1 (010420)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan tanah di Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Soreang 2 (010420)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Soreang 3 (010420)

Gambar 3. Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Soreang 4 (010420)

Gambar 4. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat

 

Wilayah Potensi Gerakan Tanah di Kabupaten Bandung

Provinsi Jawa Barat Bulan Maret 2020

Soreang 5 (010420)

Soreang 6 (010420)

 

Soreang 7 (010420)

Gambar 5. Peta situasi gerakan tanah di Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Soreang 8 (010420)

Gambar 6. Penampang gerakan tanah di Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

 

Foto-foto kegiatan lapangan di Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Soreang 9 (010420)

Foto 1 (A) Longsoran pada tebing yang mengancam permukiman, Desa Kramat Mulya, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (B) Longsoran dengan tinggi 7-8 m lebar 10 m yang merusak 1 dapur pada rumah dibawah tebing

 

Soreang 10 (010420)

Foto 2 (A) Bak pemapungan air dipenuhi oleh selang untuk mendistribusikan air ke rumah-rumah, (B) Longsoran yang merusak 1 dapur dan mengancam beberapa rumah

 

Soreang 11 (010420)

Foto 3 (A) Alur air dari atas lereng yang masuk ke rumah di dekat tebing yang longsor, (B) Selang-selang air yang beberapa dalam kondisi bocor

 

Soreang 12 (010420)

Foto 4 (A) Singkapan breksi yang berwarna kecoklatan dan sebagian sudah dalam kondisi lapuk, (B) Usaha yang telah dilakukan penduduk dengan memakai bambu untuk memperkuat lereng

 

Soreang 13 (010420)

Foto 5 (A) Drainage yang tidak kedap air, (B) Wawancara Tim dengan pemilik rumah yang longsor.