Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kec. Cilawu, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan gerakan tanah di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Cipager RT 01/04, Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu. Secara geografis berada pada koordinat 107° 54' 48,8” BT dan 7° 17' 12,1" LS (Gambar 1). Menurut keterangan penduduk setempat, gerakan tanah telah terjadi sejak lebih dari setahun lalu dan pada bulan Februari lalu berkembang dan mulai mengancam permukiman penduduk.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi di daerah gerakan tanah secara umum merupakan punggungan kaki gunungapi. Puncak punggungan relatif datar namun pada kemiringan lereng pada lembahnya terjal hingga sangat terjal. Gerakan tanah terjadi pada tepian punggungan yang berbatasan langsung dengan lembah curam dan dalam, pada elevasi 990-1000 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (Alzwar drr., P3G, 1992), daerah gerakan tanah tersusun dari Batuan Gunungapi Muda dari Gunung Cikuray (Qyc). Batuan ini berupa eflata dan lava aliran bersusunan andesit-basalan (Gambar 2). Hasil pengamatan lapangan, batuan pada lokasi gerakan tanah adalah batuan gunungapi yang telah lapuk. Tanah pelapukan berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat kemerahan dengan tebal lapisan tanah pelapukan lebih dari 5 meter. Batuan lava tersingkap di dasar lembah dalam kondisi sangat lapuk.
  • Keairan, Untuk kebutuhan air bersih di lokasi gerakan tanah, penduduk memanfaatkan mata air dari perbukitan yang disalurkan melalui pipa dan selang. Menurut keterangan penduduk, airtanah di lokasi bencana rata-rata berada pada kedalaman di atas 20 meter (ketika dilakukan pembuatan sumur gali). Air pada sumur menjadi keruh jika turun hujan dengan intensitas tinggi.  Terdapat juga saluran drainase dengan konstruksi permanen di antara permukiman dan tepi lereng, sedangkan di dasar lembah terdapat saluran air alami dengan sumber air yang berasal dari mata air yang merembes keluar di kaki lereng. Mata air tersebut juga keruh saat hujan deras turun.
  • Tata guna lahan, Gerakan tanah terjadi pada area rumpun bambu yang menjadi buffer antara permukiman dengan lereng terjal. Rumpun bambu tersebar dari bagian atas hingga kaki lereng, sedangkan di dasar lembahnya terdapat sawah dan kolam pemancingan. Permukiman berada di atas lereng dan berjarak sekitar 10 meter dari tepi lereng.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Kabupaten Garut pada Bulan Maret 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Cilawu termasuk ke dalam zona gerakan tanah Menengah – Tinggi (Gambar 3). Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi Gerakan Tanah dan Dampak Bencana

Jenis gerakan tanah

Jenis gerakan tanah berupa rayapan yang ditandai oleh retakan melengkung sepanjang 100 meter. Retakan pada tanah dan saluran air merekah selebar 0,2 – 0,6 meter dengan kedalaman rekahan lebih dari 10 meter (pengukuran dilakukan penduduk dengan menggunakan bambu). Secara visual di lapangan terlihat bahwa retakan terbentuk tanpa disertai adanya gerakan lateral (nendatan) pada bagian permukaan tanah yang letaknya mendekat ke lereng. Di beberapa titik, terbentuk lubang-lubang di sepanjang jalur rekahan yang dapat membahayakan warga sekitar. Lubang pada saluran drainase menjadi jalur masuk air terutama limpasan air hujan namun belum diketahui air yang masuk lubang tersebut keluar di mana. Potensi yang mungkin dari hal tersebut adalah longsor karena daerah tersebut berdekatan dengan gawir longsoran. Ketika hujan deras dan air masuk ke area yang mengalami retak tersebut berdasrkan informasi sumur-sumur menjadi keruh dan informasi dari pak RT yang turun di bawah gawir menyebutkan mata air yang dibawah lereng juga keruh. Sehingga kemungkinan  air hilang menuju auifer dan mata air pada tekuk lereng.

Dampak gerakan tanah:

  • 1 (satu) rumah mengalami kerusakan ringan namun masih layak huni.
  • Saluran drainase terputus dan merekah.
  • Timbul kekhawatiran penduduk akan berkembangnya retakan menjadi gerakan tanah yang lebih besar.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Berdasarkan pengamatan lapangan dan analisis foto udara, gerakan tanah di lokasi ini disebabkan oleh interaksi kondisi tanah dan batuan penyusun serta curah hujan tinggi sebagai pemicunya. Secara umum faktor penyebab gerakan tanah dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Daerah tersebut merupakan gawir dengan kelerengan terjal sehingga berpotensi terjadi longsor
  • Batuan penyusun dan tanah pelapukan yang bersifat poros dan lolos air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara lapisan tanah penutup yang lapuk dengan lapisan di bawahnya yang lebih kedap air.
  • Kondisi saluran drainase yang retak akibat gerakan tanah sebelumnya dan air dari saluran drainase mudah meresap ke tanah
  • Curah hujan tinggi dan saluran air yang meresap ke lereng gawir tersebut  sebagai pemicu gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Curah hujan tinggi membuat debit pada saluran drainase meningkat sehingga air yang meresap juga meningkat ketika melewati daerah retakan yang telah terjadi sebelumnya. Retakan semakin membesar hingga membentuk lubang-lubang yang semakin memudahkan air untuk meresap. Material lereng yang poros dan lolos air membuat air yang meresap mudah terdistribusi dalam lapisan tanah, sebagian dapat keluar sebagai rembesan atau mata air di kaki lereng.

Resapan air yang terus meningkat membuat tekanan pori meningkat sementara tegangan geser semakin berkurang. Akibatnya kestabilan lereng mulai berkurang dan pergerakan vertikal semakin tampak yang tercermin dari retakan yang semakin panjang dan melebar.

 

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang masih tinggi, maka direkomendasikan:

  • 1 (satu) rumah yang rusak agar meningkatkan kewaspadaan terutama saat dan setelah hujan deras turun.
  • Segera menutup retakan, memadatkannya, serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan untuk mengurangi peresapan air melalui retakan tersebut,
  • Masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan mandiri terhadap perkembangan retakan. Jika terjadi perkembangan yang cepat agar segera melaporkan kepada aparat yang berwenang,
  • Memindahkan saluran drainase dari area retakan atau memecah saluran drainase karena air yang masuk ke lokasi tersebut terlalu banyak berasal dari RW 1 dan 2 alternative lain memperbaikinya dengan konstruksi yang lebih kuat, kedap dan tertutup,
  • Tidak membuat kolam-kolam penampungan air dan lahan basah pada bagian bawah dan atas yang mendekat ke lereng,
  • Ketika hujan turun dan sesaat setelahnya agar tidak beraktifitas di bawah lereng terjal atau di sekitar area retakan terutama dekat lubang-lubang yang berada di sepanjang jalur retakan.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam,
  • Memelihara dan menanam tanaman berakar dalam dan kuat,
  • Ke depannya agar tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng terjal,
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor,
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah setempat dalam penangan bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Cilawu 1 (200320)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan tanah di Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Cilawu 2 (200320)

Gambar 2. Peta geologi regional lokasi gerakan tanah di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Cilawu 3 (200320)

Gambar 3. Peta Prakiraan Gerakan Tanah Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN GARUT, PROVINSI JAWA BARAT

 PADA BULAN MARET 2020

Cilawu 4 (200320)

Keterangan :

Cilawu 5 (200320)

 

Cilawu 6 (200320)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan tanah di Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Cilawu 7 (200320)

Gambar 5. Sketsa penampang gerakan tanah di Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Cilawu 8 (200320)

Foto 1 Retakan (garis kuning) pada tanah dan saluran drainase. Di beberapa titik sepanjang jalur retakan terbentuk lubang-lubang yang dapat membahayakan penduduk dan menjadi jalur masuk limpasan air.

 

Cilawu 9 (200320)

Foto 2; (kiri) Retakan pada saluran drainase dengan lebar 20 cm – 60 cm, panjang retakan mencapai 100 m dan sudah turun. (Kanan) perbaikan saluran air memakai drum terlihat tidak efektif karena terjadi limpasan dan salauran menjadi rusak dan retakan bertambah lebar.

 

Cilawu 10 (200320)

Foto 3.  Retakan (garis kuning) juga mengancam permukiman penduduk. Akibatnya, 1 rumah retak-retak di bagian fondasinya.

 

Cilawu 11 (200320)

Foto 4. Tata guna lahan daerah gerakan tanah. Saluran drainase dan rumpun bambu di bagian atas lereng dan kolam di bagian bawah lereng.

 

Cilawu 12 (200320)

Foto 5. Morfologi daerah gerakan tanah berupa punggungan yang datar di bagian atas namun pada tepi lerengnya curam dan dalam dengan dasar lembah yang relatif lebar dan datar.

 

Cilawu 13 (200320)

Foto 8. Koordinasi dan sosialisasi dengan pihak BPBD Kabupaten Garut, Tagana, perwakilan Kecamatan Cilawu, dan aparat Desa Karyamekar di kantor BPBD Kabupaten Garut (kiri) dan lokasi gerakan tanah (kanan).