Laporan Survey Lahan Relokasi Di Kec. Talegong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari BPBD Kabupaten Garut nomor 380/77/Sekre/ BPBP tanggal 21 Februari 2020 perihal permohonan pengkajian area relokasi, bersama ini kami sampaikan laporan hasil kajian rencana tempat relokasi untuk 29 warga terdampak dan terancam longsor di Kecamatan Talegong yang akan direlokasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi Area Relokasi:

Lokasi rencana tempat relokasi secara administrasi terletak di Kp. Legok Bintuni, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Secara geografis berada pada koordinat 107°31'37,6" BT dan 7°19'13,0" LS dengan luas area yang diusulkan sekitar 6600 m2.

 

2. Kondisi daerah survey :
 

  • Morfologi, Morfologi di daerah gerakan tanah secara umum merupakan area perbukitan. Hampir semua area di Desa Sukamaju mempunyai lereng yang terjal dan rata-rata mempunyai kelerengan >25⁰). Daerahnya banyak dijumpai perbukitan dan lembahan sehingga mempunyai potensi longsor.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (Alzwar dkk., 1992), secara regional lokasi lahan relokasi berada pada litologi lava andesit, andesit-basalan dari Gunung Huyung (Qhl). Berdasarkan pengamatan lapangan daerah rencana relokasi tersusun oleh lava dan pada bagian atas bersifat lapuk sehingga lunak dan mudah ditoreh, berwarna abu kehitaman, diatas endapan lava tersebut menumpang tanah pelapukan dengan ketebalan 1 - 4 meter dengan ukuran butur pasir lempungan. Longsoran kecil terjadi sekitar 260 meter dari daerah rencana relokasi. Longsoran ini terjadi pada tanah pelapukan dengan bidang gelincir yang tipis atau shallow landslide.
  • Keaira, Sumber air yang dipergunakan penduduk dari mata air yang disalurkan melalui selang maupun pralon. Sumur penduduk juga dibuat penduduk namun ada airnya jika musim hujan, jika musim kemarau sumur tersebut kering. Kedalaman muka air tanah atau sumur pada kedalaman 4 - 5 m. Artinya akumulasi air tersebut terjadi pada kontak antara tanah pelapukan dan lava andesit.
  • Tata guna lahan, Lahan di lokasi gerakan tanah ini didominasi berupa kebun campuran di bagian atas hingga tengah lereng dan pada punggungan bukit setempat-setempat didirikan pemukiman warga. Sawah umumnya berupa sawah tadah hujan dan areanya tidak terlalu luas hanya setempat setempat.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Garut (PVMBG-Badan Geologi), daerah gerakan tanah termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah/ Longsor Menengah - Tinggi. Artinya, di daerah ini dapat - sering terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dan baru dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat.

 

4. Analisis Kondisi Rencana Tempat Relokasi

Menentukan tempat yang benar-benar layak untuk pemukiman di daerah ini agak susah, karena hampir semua daerah di Legok Bintuni berlereng terjal, sehingga diperlukan beberapa batasan dan penguatan lereng.

  • Berdasarkan hasil analisis kelerengan, kondisi geologi dan keairan dapat disi Calon lahan untuk relokasi di wilayah Kp. Legok Bintuni, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut yang layak untuk dijadikan lahan relokasi seluas 3000 m2 dari luas lahan 6600 m2 (Gambar). Hal ini karena pada beberapa tempat dijumpai gawir dan kelerengan yang lebih dari 20⁰.
  • Lahan yang dapat dipergunakan adalah bagian daerah landai pada bagian yang berdekatan dengan sawah tadah hujan. Jika memungkinkan sebaiknya lahan sawah tadah hujan atau selatannya tempat relokasi sebaiknya digunakan untuk area tempat relokasi karena relative lebih aman dari gerakan tanah/ longsor tengah.
  • Pembangunan tempat relokasi harap menjauh dari tebing/gawir dengan kemiringan terjal di sisi utara dan timur laut;
  • Saluran air dibagian atas sebaiknya tidak difungsikan lagi mengingat bagian bawah akan dijadikan tempat pemukiman/ area relokasi. Hal ini untuk menghindari rembesan air yang bisa memicu longsoran.

 

5. Potensi Gerakan Tanah/Longsor yang mungkin terjadi :

Faktor penyebab gerakan tanah adalah interaksi kondisi geologi dan morfologi serta curah hujan tinggi, yang secara umum antara lain adalah:

  • Kemiringan tebing lereng yang terjal;
  • Longsoran mungkin terjadi pada tanah pelapukan dengan bidang gelincir batas antara lava (batuan segar) dengan tanah pelapukan (1 - 4 m)
  • Melimpasnya aliran permukaan atau drainase pada bagian saluran pembuangan sehingga mengerosi lereng dan terjadilah longsor.
  • Pemotongan lereng secara sembarangan dan timbunan tanah yang kurang padat serta tidak memperhatikan aspek keteknisan atau geoteknik;
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan rencana tempat relokasi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah/ longsoran direkomendasikan:

  • Mengingat hampir sebagian besar daerah ini rawan longsor dan susahnya mencari tempat yang benar benar ideal untuk relokasi, maka area yang layak untuk tempat relokasi hanya 3000 m2 dari total luas area 6600 m2 (Gambar 4);
  • Pada bagian utara dan timur laut dibuat buffer sebagai jarak aman terhadap rencana tempat relokasi dan vegetasi tetap dijaga untuk mengurangi erosi dan menjaga stabilitas lereng;
  • Pohon-pohon berakar kuat dan dalam sebaiknya tetap dijaga (seperti pohon aren) karena dapat memperkuat stabilitas lereng;
  • Pada bagian utara dilakukan penguatan lereng/retaining wall/tembok penahan;
  • Penataan aliran air permukaan atau sistem drainase dengan saluran yang kedap dengan pemipaan atau pembuatan saluran dengan konstruksi kedap air dan diarahkan ke saluran komunal.
  • Saluran air dibagain atas sebaiknya tidak difungsikan lagi karena bagian bawah akan dijadikan pemukiman dan mengurangi rembesan air;
  • Mengurangi sedikit mungkin timbunan, jika ada timbunan sebaiknya dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH);
  • Jika memungkinkan lahan sawah tadah hujan di bawah rencana tempat relokasi untuk dijadikan tempat relokasi mengingat tempat tersebut yang paling layak dibandingkan tempat lainnya

 

LAMPIRAN

Garut 1 (200320)

Gambar 1. Peta lokasi area relokasi di Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Garut 2 (200320)

Gambar 2.  Peta Geologi Regional Kecamatan Talegong dan sekitarnya, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Garut 3 (200320)

Gambar 3.  Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Garut 4 (200320)

Gambar 4.  Peta Area Relokasi dan Area yang disarankan di Kp. Legok Bintuni, Desa Sukamaju Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Garut 5 (200320)

Gambar 5.  Sketsa penampang area rencana tempat relokasi di Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

 

Garut 6 (200320)

Foto 1.  lokasi rencana tempat relokasi

 

Garut 7 (200320)

Foto 2. rencana lahan relokasi

 

Garut 8 (200320)

Foto 3. (kiri) Batuan dasar di lahan relokasi berupa lava andesitan;  (kanan) longsoran dangkal (Shallow Landslide) disebelah timur rencana lahan relokasi (sekitar 200 m) dengan bidang gelincir dangkal dan tanah pelapukan yang tipis sekitar 1 m

 

Garut 9 (200320)

Foto 4. Tipe longsoran dangkal yang terjadi di sebelah timur rencana lahan relokasi dengan bidang gelincir antara tanah pelapukan dan lava andesit (kedalaman tanah pelapukan sekitar 2,7 m).

 

Garut 10 (200320)

Foto 5. longsoran terjadi di sebelah timur rencana lahan relokasi

 

Garut 11 (200320)

Foto 6. Koordinasi dengan BPBD serta mobilisasi kendaraan menuju tempat relokasi