Laporan Kajian Penyelidikan Gerakan Tanah Di Kec. Tegalrejo, Kab. Magelang

Menindaklanjuti kejadian bencana gerakan tanah dan banjir bandang di Desa Tampingan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan kajian, sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

 

Lokasi gerakan tanah terletak di Dusun Tampingan II, Desa Tampingan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Secara geografis Dusun Tampingan II berada pada koordinat S7° 29' 10.0" E110° 14' 56.8" (Gambar 1). Gerakan tanah terjadi pada tanggal 6 Maret 2020 setelah pukul 03.00 dilanda hujan deras.

 

2. Kondisi daerah survey :

  • Morfologi, Secara umum morfologi sekitar lokasi bencana merupakan perbukitan agak terjal dengan kemiringan lereng antara 20° - 30°. Ketinggian lokasi bencana 300 – 350 m di atas permukaan laut.
  • Geologi,Batuan dasar pembentuk lereng berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa (Rahardjo, dkk, 1995) merupakan Endapan Gunungapi Merbabu, yang terdiri dari breksi gunungapi dan lava (Qme) (Gambar 2). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, batuan berupa breksi andesit, dengan fragmen berupa kerikil – bongkah andesit.
  • Keairan, Kondisi keairan di Desa Tampingan masyarakat memanfaatkan mata air dan sungai untuk kehidupan sehari hari. Di bagian bawah pemukiman terdapat jalur irigasi untuk persawahan.
  • Tata guna lahan, Tata Guna Lahan berupa kebun campuran dan sawah di lereng bagian bawah. Sedangkan pemukiman berada di lereng bagian atas.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Maret 2020 di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) (Gambar 3), daerah gerakan tanah terletak pada daerah potensi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya zona berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah berupa longsoran di bagian belakang pemukiman. Gerakan tanah terjadi pada saluran irigasi yang berada pada lereng di bawah pemukiman. Sedangkan saluran irigasi tersebut ternyata tidak dibuat kedap air. Lebar mahkota 26 m dengan panjang landaan mencapai 75 m.

Dampak Gerakan Tanah :

  • 2 rumah rusak
  • Saluran irigasi rusak dan terputus

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah di Desa Tampingan tersebut adalah:

  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik (saluran irigasi yang tidak kedap air) sehingga seluruh air  terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi longsor
  • Kemiringan lereng yang sangat terjal menyebabkan batuan mudah bergerak;
  • Retakan – retakan yang muncul pada jalur irigasi
  • Sifat fisik batuan endapan vulkanik yang kurang padu (tidak kompak) serta tanah pelapukan  yang tebal (lebih dari 3 m), rapuh dan sarang dan mudah longsor.
  • Curah hujan dengan intensitas yang tinggi

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Mekanisme gerakan tanah di sekitar Dusun Tampingan II diawali oleh peresapan air akibat drainase yang buruk (tidak kedap air) di lereng bagian bawah pemukiman melalui retakan – retakan yang muncul akibat perubahan musim. Peresapan air yang terus menerus seiring curah hujan yang tinggi, mengakibatkan penjenuhan dan akumulasi air. Kondisi ini mengakibatkan tanah mengalami peningkatan tekanan air pori, bobot massa, dan pelunakan sehingga gaya pendorong meningkat. Terbentuknya akumulasi air pada kontak batuan dan rembesan dari saluran irigasi, mengakibatkan tanah bergerak ke arah luar lereng dengan bidang gelincir pada kontak tersebut. Akibatnya terjadi longsor di bawah pemukiman dan menyebabkan saluran irigasi putus.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Untuk meningkatan kestabilan lereng agar dilakukan perkuatan lereng di bagian bawah pemukiman. Perkuatan lereng agar dilakukan dengan memperhitungkan aspek-aspek kestabilan lereng dengan membuat tembok penahan tanah dan batuan pada tebing yang longsor. Pondasi tembok penahan disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan lubang pembuangan air; Untuk pembangunan dinding penahan tebing ke depan, perlu dibuat berjenjang untuk menambah kekuatan penahan lereng.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran terutama rumah yang berjarak 4 meter dari gawir/mahkota longsoran.
  • Jika retakan dan longsoran semakin meluas dan melebar, 2 rumah terancam (di atas mahkota longsor) sebaiknya direlokasi.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing/saluran air.
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan baru di bagian atas mahkota longsoran, sebaiknya segera di tutup. Jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah
  • Menata sistem aliran air permukaan/drainase di sekitar lokasi gerakan tanah dengan mengalirkannya menjauh dari retakan dan area terdampak.
  • Perbaikan saluran irigasi dengan membuat saluran yang kedap air.
  • Tidak memfungsikan saluran irigasi sebelum seluruh jalur irigasi kedap air.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam.
  • Memasang rambu – rambu peringatan rawan gerakan tanah di sekitar lokasi bencana.
  • Memelihara dan menanam tanaman berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya ikat tanah, terutama di lereng bagian bawah pemukiman.

 

LAMPIRAN

Tegalrejo 1 (180320)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kecamatan Tegalrejo, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Tegalrejo 2 (180320)

Gambar 2. Peta geologi regional lokasi kajian di Kecamatan Tegalrejo dan sekitarnya, Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

Tegalrejo 3 (180320)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Gerakan Tanah Bulan Maret 2020 Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

BULAN MARET 2020

Tegalrejo 4 (180320)

Keterangan :

Tegalrejo 5 (180320)

 

Tegalrejo 6 (180320)

Gambar 4.  Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Tampingan, Kecamatan Tegalrejo, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

Tegalrejo 7 (180320)

Gambar 5.  Sketsa penampang A – B lokasi kajian di Dusun Tampingan II, Desa Tampingan , Kecamatan Tegalrejo, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Tegalrejo 8 (180320)

Foto 1. Sebuah rumah penduduk terancam, di Dsn. Tampingan II, Ds. Tampingan, Kec. Tegalrejo, karena tebing di bagian belakang rumahnya longsor.

 

Tegalrejo 9 (180320)

Foto 2. Saluran irigasi yang tidak kedap, menjadi salah satu faktor penyebabnya longsor di Dsn. Tampingan II, Ds. Tampingan, Kec. Tegalrejo, karena tebing di bagian belakang rumahnya longsor.

 

Tegalrejo 10 (180320)

Foto 3. Kenampakan longsor di Dusun Tampingan II melalui pengamatan drone