Laporan Kajian Penyelidikan Gerakan Tanah Di Kec. Salaman, Kab. Magelang

Menindaklanjuti kejadian bencana gerakan tanah di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan kajian, sebagai berikut:

A. Dusun Kranjang Lor, Desa Sidosari, Kecamatan Salaman.

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah 

Lokasi gerakan tanah terletak di Dusun Kranjang Lor, Desa Sidosari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Secara geografis Dusun Semen berada pada koordinat S7° 32' 05.3" E110° 07' 08.7” (Gambar 1). Gerakan tanah terjadi pada tanggal 5 Maret 2020 setelah dilanda hujan deras.

 

2. Kondisi daerah survey :

  • Morfologi, Secara umum morfologi sekitar lokasi bencana merupakan perbukitan agak terjal – terjal dengan kemiringan lereng antara 20° - 30°. Ketinggian lokasi bencana antara 300 – 350 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Batuan dasar pembentuk lereng berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa (Rahardjo, dkk, 1995) dan Lembar Magelang & Semarang, Jawa (Thaden dkk, 1975) merupakan Endapan Gunungapi Sumbing tua, yang terdiri dari breksi andesit, aglomerate dan tufa (Qsmo) (Gambar 2). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, batuan berupa breksi andesit, dengan fragmen berupa kerikil – bongkah andesit dan sebagian mengalami pelapukan menjadi tanah yang bersifat lempungan.
  • Keairan, Kondisi keairan di Desa Sidosari masyarakat memanfaatkan mata air untuk kehidupan sehari hari.
  • Tata guna lahan, Tata Guna Lahan berupa kebun campuran dan sawah di lereng bagian bawah, Sedangkan pemukiman berada di lereng bagian atas.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Maret 2020 di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) (Gambar 3), daerah gerakan tanah terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya zona berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah berupa longsoran di tebing jalan dusun (Foto 1,2). Panjang landaan mencapai 30 m dengan Lebar mahkota 30 m. Tinggi longsor 15 m. Longsoran berarah N 60° E. Selain itu dijumpai gerakan tanah tipe lambat yaitu rayapan dan nendatan yang berarah relatif utara selatan. Retakan tersebut ditemukan di beberapa tempat (Gambar 4) pada lembah di sebelah timur perbukitan. Rayapan tersebut telah berlangsung sejak lama yang membuat retakan di pemukiman secara berulang (Foto 3,4). LEWS sudah terpasang sebelumnya namun mengalami kerusakan (Foto 5).

Dampak Gerakan Tanah :

  • Longsor menutup akses jalan kampung
  • 8 rumah rusak sedang akibat retakan
  • Talud penahan jalan rusak (Foto 6)

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah di Desa Sidosari tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang lereng yang sangat terjal menyebabkan batuan mudah bergerak;
  • Sifat fisik batuan endapan vulkanik yang kurang padu (tidak kompak) serta tanah pelapukan  yang tebal (lebih dari 3 m), rapuh dan sarang dan mudah longsor.
  • Adanya kontak tanah pelapukan dengan batuan kedap sebagai bidang gelincir (munculnya rembesan air).
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga seluruh air  terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi longsor
  • Adanya kemungkinan pengaruh patahan lokal berarah utara – selatan.
  • Curah hujan dengan intensitas yang tinggi dan lama 3 hari secara terus menerus.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

 

Mekanisme longsoran di sekitar Dusun Krajan Lor diawali oleh infiltrasi air pada retakan dan drainase yang buruk di sekitar tebing atas jalan. Peresapan air yang terus menerus seiring curah hujan yang tinggi, mengakibatkan penjenuhan dan akumulasi air. Kondisi ini mengakibatkan tanah mengalami peningkatan tekanan air pori, bobot massa, dan pelunakan sehingga gaya penahan lereng berkurang. Terbentuknya akumulasi air pada lereng terjal dan terjadinya penurunan gaya penahan, mengakibatkan tanah bergerak ke arah luar lereng dengan bidang gelincir pada batuan yang lebih kedap air. Akibatnya terjadi longsor di tebing jalan.

Sedangkan gerakan tanah tipe rayapan terjadi akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan kandungan air dan tekanan air pori meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, sehingga menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil maka terjadi gerakan tanah berjenis rayapan. Karena akumulasi air yang berlebihan sementara batuan dasarnya tidak meloloskan air sehingga kontak batuan dasar dan tanah pelapukan merupakan bidang gelincir gerakan tanah dan terjadilah gerakan tanah tipe rayapan dan retakan.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Untuk meningkatan kestabilan lereng yang terganggu akibat gerakan tanah dan melindungi badan jalan di bagian atasnya agar dilakukan perkuatan lereng di tebing bawah jalan. Perkuatan lereng agar dilakukan dengan memperhitungkan aspek-aspek keteknikan tanah dan kestabilan lerengnya dengan membuat tembok penahan tanah dan batuan pada tebing pinggir jalan. Pondasi tembok penahan disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan pipa pengering untuk membuang air permukaan; Untuk pembangunan dinding penahan tebing ke depan, perlu dibuat berjenjang untuk menambah kekuatan penahan lereng pada badan jalan dengan disertai penataan saluran drainase yang kedap air;
  • Masyarakat agar memantau munculnya retakan baru di bagian atas mahkota longsoran dan area pemukiman serta rembesan yang mungkin muncul di kaki/tekuk lereng. Retakan yang muncul sebaiknya segera di tutup dan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah,
  • Menata sistem aliran air permukaan/drainase di sekitar lokasi gerakan tanah dengan mengalirkannya menjauh dari retakan dan area terdampak. Selain itu perlu menata dan membuat saluran air untuk rembesan air yang muncul di pemukiman.
  • Pengaktifan kembali Sistem Peringatan Dini Gerakan tanah (LEWS)
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran terutama rumah yang berbatasan langsung dengan gawir/mahkota longsoran.
  • Jika muncul retakan diatas lereng atau adanya air keruh pada rembesan dibawah lereng sebaiknya masyarakat yang terancam mengungsi ke tempat yang aman.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam.
  • Pembangunan rumah pada area rayapan disarankan berupa rumah semi permanen.
  • Memasang rambu – rambu peringatan rawan gerakan tanah di sekitar lokasi bencana.
  • Untuk memastikan adanya patahan aktif atau tidak, disarankan untuk melakukan penyelidikan lanjutan mengenai kegempaan di daerah tersebut.
  • Memelihara dan menanam tanaman berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya ikat tanah, terutama di lereng bagian bawah jalan.

 

B. Dusun Basongan, Desa Kalisalak, Salaman

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

Lokasi gerakan tanah terletak di Dusun Gorangan Kidul dan Dusun Basongan, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Secara geografis Dusun Gorangan Kidul berada pada koordinat S7° 35' 13.8" E110° 06' 34.6” dan Dusun Basongan pada koordinat S7° 34' 43.7" E110° 06' 30.2". Gerakan tanah terjadi pada tanggal 5 Maret 2020 setelah dilanda hujan deras.

 

2. Kondisi daerah survey :

  • Morfologi, Secara umum morfologi sekitar lokasi bencana merupakan perbukitan agak terjal dengan kemiringan lereng antara 20° - 25°. Ketinggian lokasi bencana antara 350 – 400 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Batuan dasar pembentuk lereng berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa (Rahardjo, dkk, 1995) merupakan Formasi Kebo Butak yang terdiri dari breksi andesit, agglomerate, tuf, tuf lapilli, dan sisipan lava andesit. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, batuan sudah mengalami pelapukan lanjut menjadi tanah.
  • Keairan, Kondisi keairan di Desa Kalisalak masyarakat memanfaatkan mata air untuk kehidupan sehari hari.
  • Tata guna lahan, Tata Guna Lahan berupa kebun campuran dan Pemukiman.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Maret 2020 di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah gerakan tanah terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya zona berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah
a. Dusun Gorangan Kidul

Gerakan tanah berupa rayapan/nendatan di sebuah rumah yang terletak pada lereng bukit (Foto 7). Retakan searah dengan lereng bukit yaitu berarah barat laut. Retakan sudah berlangsung cukup lama dan membuat rumah rusak sedang. Retakan berada di belakang rumah dan di belakang rumah berdekatan dengan gawir lereng.

b. Dusun Basongan

Gerakan tanah berupa longsoran pada talud penahan tebing yang berada di belakang rumah (Foto 8). Dijumpai beberapa retakan dan nendatan di bagian atas mahkota longsor yang masih berpotensi bergerak (Gambar 6). Mahkota longsoran mempunyai lebar 20 m dengan panjang landaan mencapai 30 m dan merusak 1 rumah.

Dampak Gerakan Tanah :

  • Talud rusak dan menimbun 1 rumah di bagian belakang

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah di Kalisalak tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang lereng yang sangat terjal menyebabkan batuan mudah bergerak;
  • Sifat fisik batuan endapan vulkanik yang kurang padu (tidak kompak) serta tanah pelapukan  yang tebal (lebih dari 3 m), rapuh dan sarang dan mudah longsor.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik terutama
  • Nendatan di Dusun Basongan mengakibatkan lubang keluaran air pada Talud tertutup sehingga menyebabkan aliran tersendat.
  • Jarak rumah dengan talud terlalu dekat (kurang dari 1 m)
  • Curah hujan dengan intensitas yang tinggi dan lama 3 hari secara terus menerus.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Gerakan tanah tipe rayapan (Dusun Garongan Kidul) terjadi akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan kandungan air dan tekanan air pori meningkat, bobot masa tanah menjadi bertambah, daya ikat antar butiran tanah (kohesi) berkurang disamping sistem drainase yang kurang baik sehingga menyebabkan lereng kehilangan kekuatannya dan menjadi tidak stabil maka terjadi gerakan tanah berjenis rayapan. Karena akumulasi air yang berlebihan sementara batuan dasarnya tidak meloloskan air sehingga kontak batuan dasar dan tanah pelapukan merupakan bidang gelincir gerakan tanah dan terjadilah gerakan tanah tipe rayapan dan retakan.

Sedangkan mekanisme longsoran di sekitar Dusun Basongan diawali oleh munculnya retakan di atas talud akibat perubahan musim (kemarau). Peresapan air yang terus menerus seiring curah hujan yang tinggi, mengakibatkan penjenuhan dan akumulasi air. Akibatnya retakan bergerak dan terjadi nendatan. Nendatan mengakibatkan saluran air pada talud tertutup, sehingga aliran tersendat. Kondisi ini mengakibatkan tanah pada talud mengalami peningkatan tekanan air pori, bobot massa, dan pelunakan sehingga gaya penahan lereng berkurang. Karena talud semakin berat dan tidak mampu menahan beban akibat peresapan air sehingga terjadilah longsor.

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

a.  Dusun Garongan Kidul

  • Satu rumah di Dusun Garongan Kidul yang terdampak sebaiknya direlokasi karena berada di area lereng yang cukup terjal pergerakan tanah terus terjadi dan berpotensi longsor.
  • Masyarakat agar memantau retakan jika retakan bertambah lebar segera mengungsi dan melaporkan ke Pemerintah Daerah
  • Menata sistem aliran air permukaan/drainase di sekitar lokasi gerakan tanah dengan mengalirkannya menjauh dari retakan dan area terdampak.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam.
  • Memelihara dan menanam tanaman berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya ikat tanah, terutama di lereng bagian bawah jalan.

b. Dusun Basongan

  • Memperbaiki Talud yang rusak. Perbaikan Talud agar dilakukan dengan memperhitungkan aspek-aspek keteknikan tanah; Untuk pembangunan dinding penahan tebing ke depan, perlu dibuat berjenjang untuk menambah kekuatan penahan lereng, dengan disertai penataan saluran drainase yang kedap air;
  • Menata sistem aliran air permukaan/drainase di sekitar lokasi gerakan tanah dengan mengalirkannya menjauh dari retakan dan area terdampak.
  • Meningkatkan kesiapsiagaan pada saat dan setelah turun hujan karena masih berpotensi terjadi longsoran terutama rumah yang berbatasan langsung dengan gawir/mahkota longsoran.
  • Jika muncul retakan diatas lereng atau adanya air keruh pada rembesan dibawah lereng sebaiknya masyarakat yang terancam mengungsi ke tempat yang aman.
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah seperti pemotongan lereng secara sembarangan dan penebangan pohon besar berakar kuat dan dalam.
  • Tidak mendirikan bangunan dengan jarak terlalu dekat dengan tebing.

 

LAMPIRAN

Salaman 1 (180320)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Salaman 2 (180320)

Gambar 2. Peta geologi regional lokasi kajian di Kecamatan Salaman dan sekitarnya, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Salaman 3 (180320)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Gerakan Tanah Bulan Maret 2020 Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

BULAN MARET 2020

Salaman 4 (180320)

Keterangan :

Salaman 5 (180320)

 

Salaman 6 (180320)

Gambar 4.  Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Sidosari, Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Salaman 7 (180320)

Gambar 5.  Sketsa penampang A – B lokasi kajian di Desa Sidosari, Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Salaman 8 (180320)

Gambar 6.  Peta Situasi Gerakan Tanah di Dusun Basongan, Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Salaman 9 (180320)

Gambar 7.  Penampang Gerakan Tanah di Dusun Basongan, Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Salaman 10 (180320)

Foto 1. Sebuah rumah nyaris tertimbun material longsor akibat longsornya tebing jalan bagian bawah, di Dsn. Kranjang Lor, Ds. Sidosari, Kec. Salaman

 

Salaman 11 (180320)

Foto 2. Beberapa rumah terancam longsoran, karena posisinya berada dekat dengan tebing yang terjal, di Dsn. Kranjang Lor, Ds. Sidosari, Kec. Salaman

 

Salaman 12 (180320)

Foto 3. Beberapa rumah dindingnya sudah mengalami retak-retak, karena posisinya berada dekat dengan lereng yang terjal, di Dsn. Kranjang Lor, Ds. Sidosari, Kec. Salaman

 

Salaman 13 (180320)

Foto 4. Beberapa rekahan dan retakan, serta amblesan di sekitar Dsn. Kranjang Lor, Ds. Sidosari, Kec. Salaman

 

Salaman 14 (180320)

 

Salaman 15 (180320)

Foto 6. Longsoran pada bagian atas dan bagian bawah tebing jalan, dimana tebing bagian bawahnya sudah diperkuat dengan Talud, namun ikut longsor pula, di Dsn. Kranjang Lor, Ds. Sidosari, Kec. Salaman

 

Salaman 16 (180320)

Foto 7. Salah satu rumah penduduk di Dsn. Gorangan Kidul, Ds. Kalisak, Kec. Salaman dindingnya sudah mengalami retak-retak, karena posisinya berada dekat dengan lereng yang terjal.

 

Salaman 17 (180320)

Foto 8. Salah satu rumah penduduk di Dsn. Basongan, Ds. Kalisak, Kec. Salaman, bagian belakang rumahnya tertimbun material longsor, akibat talud penahan tebingnya runtuh.