Laporan Kajian Penyelidikan Gerakan Tanah Di Kec. Bandongan, Kab. Magelang

Menindaklanjuti kejadian bencana gerakan tanah dan banjir bandang di Desa Salam Kanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan kajian, sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah

 

Lokasi gerakan tanah terletak di Dusun Semen dan Dusun Mudan, Desa Salam Kanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Secara geografis Dusun Semen berada pada koordinat S7° 29' 30.2" E110° 10' 11.9" dan Dusun Mudan berada pada S7° 29' 22.6" E110° 10' 17.0" (Gambar 1). Gerakan tanah dan banjir bandang terjadi pada tanggal 29 Februari 2020 setelah dilanda hujan selama 3 hari. Menurut informasi penduduk setempat dan BPBD, daerah tersebut pernah mengalami kejadian banjir bandang pada tahun 1928 dengan jumlah korban 4 orang meninggal.

 

2. Kondisi daerah survey :

 

  • Morfologi, Secara umum morfologi sekitar lokasi bencana merupakan perbukitan agak terjal – terjal dengan kemiringan lereng antara 20° - 40°. Ketinggian lokasi bencana antara 350 – 525 meter di atas permukaan laut. Dusun Semen berada pada cekungan lembah yang merupakan area tangkapan aliran air permukaan pada lereng selatan G. Payung dengan kemiringan lereng 10° - 20°. Sedangkan Dusun Mudan berada pada lereng sebelah barat G. Payung dengan kemiringan lereng 20° - 30°.
  • Geologi, Batuan dasar pembentuk lereng berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa (Rahardjo, dkk, 1995) dan Lembar Magelang & Semarang, Jawa (Thaden dkk, 1975) merupakan Endapan Gunungapi Sumbing tua, yang terdiri dari breksi andesit, aglomerate dan tufa (Qsmo) (Gambar 2). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, batuan berupa breksi andesit, dengan fragmen berupa kerikil – bongkah andesit. Sebagian besar sudah mengalami pelapukan menjadi tanah dengan tebal mencapai lebih dari 3 m.
  • Keairan, Dusun Semen dialiri oleh Sungai Bandongan yang mengalir sepanjang tahun. Sungai tersebut meluap pada malam tanggal 29 Februari 2020 setelah terjadi longsor di hulu dan menyebabkan terjadinya banjir bandang.
  • Tata guna lahan, Tata Guna Lahan berupa kebun campuran di lereng bagian atas serta hutan (Perhutani). Sedangkan lereng bagian bawah digunakan untuk pemukiman, sawah, dan juga lading.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan Februari 2020 di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) (Gambar 3), daerah gerakan tanah terletak pada zona kerentanan gerakan tanah Menengah sampai Tinggi, artinya zona berpotensi menengah sampai tinggi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

3. Kondisi dan Dampak Gerakan Tanah

a.  Dusun Semen

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan yang diikuti dengan terjadinya debris flow/banjir bandang. Debris flow/banjir bandang  berawal  dengan  terjadinya  longsoran  bahan rombakan pada lereng di bagian hulu sungai Bandongan (Foto 1, 2, 3) yang mempunyai kemiringan lereng umumnya curam. Longsor juga terjadi di beberapa titik di lereng barat bagian atas dari Dusun Semen (Gambar 4) (Foto 4). Longsoran yang memicu banjir bandang mempunyai lebar mencapai 75 m dengan panjang landaan aliran material hingga 490 m mencapai Dusun Semen. Longsoran  terjadi pada lereng bagian atas dan beberapa material longsoran menutup  aliran  alur  sungai  di  bagian  hulu  dan  tengah  (tanggul  alam), sehingga terbentuk genangan (akumulasi air) dengan volume cukup besar dan makin tertambah akibat curah hujan yang tinggi. Akibat jebolnya tanggul alam  tersebut  menyebabkan  terjadinya  debris  flow/banjir  bandang  yang mengalir pada kaki lereng, material longsoran yang terdiri dari campuran air, bongkahan batu,  kayu, kerikil,  pasir,  dan lumpur meluncur ke Dusun Semen,  Kecamatan  Bandongan,  Kabupaten Magelang.

Dampak Gerakan Tanah : Puluhan rumah terdampak banjir bandang dan sebanyak kurang lebih 64 KK mengungsi. Longsor masih mengancam Dusun Semen karena masih terdapat material longsoran pada aliran S. Bandongan.

b.  Dusun Mudan

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan. Longsor mempunyai dimensi yaitu lebar 22 m dengan panjang landaan 37 m. Longsor menyeret beberapa tanaman bambu serta menyebabkan 2 rumah rusak berat (Foto 5).

 

4. Faktor Penyebab Gerakan Tanah

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah di Desa Salam Kanci tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang lereng yang sangat terjal menyebabkan batuan mudah bergerak;
  • Sifat fisik batuan endapan vulkanik yang kurang padu (tidak kompak) serta tanah pelapukan  yang tebal (lebih dari 3 m), rapuh dan sarang dan mudah longsor.
  • Adanya  material   longsoran  yang  menimbun aliran  sungai  pada  lereng  di bagian hulu. Terjadinya  akumulasi  air  akibat  pembendungan  aliran  sungai  sehingga membentuk genangan (bendung alam) pada lereng bagian atas.
  • Jebolnya bendung alam akibat terus meningkatnya volume air genangan yang disebabkan curah hujan yang tinggi.
  • Adanya Penyempitan aliran sungai di bagian hilir di Dusun Semen.
  • Curah hujan dengan intensitas yang tinggi dan lama 3 hari secara terus menerus.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Curah  hujan  yang  tinggi  menyebabkan  longsoran  di  hulu  S.  Bandongan. Akumulasi material longsoran berupa bongkah-bongkah batuan bercampur kayu pohon-pohon membentuk bendungan alam. Karena lntensitas curah hujan yang tinggi dengan durasi  yang lama,   menyebabkan bendung alam yang terbentuk tidak kuat menahan volume air yang masuk, sehingga bendung alam tersebut jebol. Aliran massa air yang mengalir cepat (perbukitan dengan kemiringan terjal) dari bagian hulu mengikis tanah/batuan pembentuk tebing dan dasar sungai yang dilalui  sepanjang  aliran   sungai,  hal  ini  menyebabkan  viskositas  air  tersebut menjadi  tinggi/kental  bercampur  dengan  batu  dan  kayu,  mengalir  ke  hilir menerjang Dusun Semen, Desa Salam Kanci. 

 

6. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

a. Dusun Semen, Desa Salam Kanci, Kecamatan Bandongan
  • Daerah ini masih berpotensi terjadi debris flow/banjir bandang susulan, maka disarankan pada saat terjadi hujan deras di bagian hulu, masyarakat tidak diperbolehkan  berada dan  beraktivitas di daerah  bencana dan  sepanjang aliran sungai.
  • Menata air permukaan berupa normalisasi sungai dan pembenahan drainase di bagian hilir.
  • Membuat "Sabo  Dam" pada aliran sungai di lereng bagian atas dan "Cek Dam" pada aliran sungai bagian tengah
  • Tidak  membangun  permukiman  di   sepanjang   lembah/bantaran  sungai, terutama di kelokan sungai.
  • Apabila hujan turun terus menerus terutama di bagian hulu, maka masyarakat yang terancam (bermukim di bagian hilir aliran sungai) perlu segera diungsikan.
  • Tidak     melakukan      pemotongan      lereng     dengan      sudut    lebh    dari    40°   dengan tinggi     lereng     lebih   dari   25   meter.
  • Perlu   kontrol     aliran       sungai     untuk hulu    sungai (Monitoring) oleh masyarakat setempat untuk mengamati adanya pembendungan/akumulasi            air   di  bagian  hulu    sungai.
  • Masyarakat  yang  beraktivitas di  daerah bencana  perlu waspada dan     segera meninggalkan lembah sungai. Apabila aliran sungai mulai keruh     dan debitnya membesar.
  • Evaluasi penataan ruang sangat perlu dilakukan dan memperhatikan aspek bencana.
  • Melakukan  sosialisasi, kepada masyarakat  untuk  lebih mengenal  dan memahami  gerakan  tanah dan  debris flow/banjir  bandang  serta   gejala-gejala yang  mengawalinya  sebagai upaya mitigasi  bencana  gerakan tanah
  • Agar masyarakat mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah setempat

 

b. Dusun Mudan, Desa Salam Kanci, Kecamatan Bandongan
  • 2 Rumah terdampak perlu direlokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat.
  • Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di lokasi bencana dan sekitarnya agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan yang berlangsung lama. Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Melakukan pemantauan retakan, genangan air, saluran irigasi yang berkelanjutan untuk memitigasi terjadinya pergerakan tanah,
  • Perlu dilakukan proteksi lereng mengingat kawasan di sekitar Dusun Mudan berlereng cukup curam
  • Tidak beraktivitas di sekitar lokasi gerakan tanah dan dekat dengan alur lembah sungai/alur curah anak sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran dan tebing yang curam pada saat atau setelah turun hujan dengan intensitas tinggi;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat dan mengurangi tanaman bambu terutama pada lereng bagian atas yang terjal.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur lembah atau aliran sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran;
  • Tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kestabilan lereng, seperti pemotongan lereng sembarangan, penebangan pohon-pohon besar dengan sembarangan  sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah;
  • Sosialisasi terhadap daerah rawan bencana harus intensif dilakukan mengingat banyaknya daerah rawan bencana gerakan tanah/longsor;
  • Mengontrol lereng bagian atas maupun bawah Dusun Mudan agar Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana agar waspada dan memantau munculnya retakan-retakan dan amblesan baru. Jika menemukan hal tersebut segera melapor ke BPBD;

 

LAMPIRAN

Bandongan 1 (180320)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kecamatan Bandongan, Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

Bandongan 2 (180320)

Gambar 2. Peta geologi regional lokasi kajian di Kecamatan Bandongan dan sekitarnya, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Bandongan 3 (180320)

Gambar 3.  Peta Prakiraan Gerakan Tanah Bulan Februari 2020 Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

BULAN FEBRUARI 2020

Bandongan 4 (180320)

Keterangan :

Bandongan 5 (180320)

 

Bandongan 6 (180320)

Gambar 4.  Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Salam Kanci, Kecamatan Bandongan, Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

Bandongan 7 (180320)

Gambar 5.  Sketsa penampang A – B lokasi kajian di Dusun Semen, Desa Salam Kanci , Kecamatan Bandongan, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

 

Bandongan 8 (180320)

Gambar 6.  Sketsa penampang C – D lokasi kajian di Dusun Mudan, Desa Salam Kanci , Kecamatan Bandongan, Kab. Magelang, Jawa Tengah

 

LAMPIRAN FOTO

Bandongan 9 (180320)

Foto 1. Dsn. Semen, Ds. Salam Kanci, Kec. Bandongan yang terlanda banjir bandang (kiri) dan kondisi S. Bandongan paska banjir bandang (kanan)

 

Bandongan 10 (180320)

Foto 2. Longsoran  tebing sungai  yang  membendung S. Bandongan, sehingga mengakibatkan terjadinya banjir bandang  di  Dsn. Semen, Ds. Salam Kanci, Kec. Bandongan, Kaupaten Magelang

 

Bandongan 11 (180320)

Foto 3. Longsoran  di hulu S. Bandongan yang menyebabkan banjir bandang di Dusun Semen. Terlihat longsoran masih mengancam pemukiman di Dusun Semen.

 

Bandongan 13 (180320)

Foto 4. Longsoran  lereng bukit (sisi selatan G. Payung) (kiri) dan retakan yang terjadi di sekitar mahkota longsoran (kanan), tapi sudah ditimbun oleh masyarakat, di Ds. Salam Kanci, Kec. Bandongan.

 

Bandongan 12 (180320)

Foto 5. Dua rumah rusak berat yang tertimbun material longsor (atas), longsoran yang menyeret rumpun bambu (kiri bawah) dan beberapa rumah terancam karena lokasi berada di pinggir tebing yang terjal (kanan bawah), di Dsn. Mudan, Ds. Salam Kanci, Kec. Bandongan