Laporan Pemeriksaan Lahan Relokasi Di Kecamatan Sukajaya Dan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan lahan untuk relokasi di Kabupaten Bogor, sebagai berikut:

A. DESA SUKARAKSA, KECAMATAN CIGUDEG

1. Lokasi calon lahan relokasi 

Lahan untuk relokasi terletak di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di wilayah Desa Sukaraksa, Kec. Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 106° 32' 15,5112" BT dan 6° 34' 39,9792" LS, dengan luas lahan yang diusulkan mencapai 3,8 hektar.

2.   Kondisi daerah lahan relokasi

  • Morfologi

Morfologi lahan untuk relokasi merupakan pedataran dan perbukitan dengan kemiringan lereng antara 0º - 3º pada pedataran hingga 10º pada daerah yang bergelombang. Setempat terdapat lahan dengan kemiringan lereng mencapai 14º yang menempati sebagian kecil lahan. Lahan untuk relokasi ini berada pada ketinggian 400 - 408 meter di atas permukaan laut (Gambar 2).

  • Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi, drr., 1998), secara regional lahan untuk relokasi ini berada pada daerah yang disusun oleh Batuan Gunungapi Tak Terpisahkan (Qvu) dengan penyusun terdiri dari breksi dan aliran lava di bagian atas. Di bawah batuan ini secara tidak selaras terendapkan Tuff dan Breksi (Tmtb) dengan batuan penyusun tuf batuapung, breksi tufan bersusunan andesit, batupasir tuf, lempung tufan dengan kayu terkersikan dan sisa tumbuhan, serta batupasir berlapis silang. Batuan lebih tua lagi berasal dari Formasi Bojongmanik (Tmb) yang tersusun oleh batupasir, tuf batuapung, napal dengan moluska, batugamping, batulempung dengan lempung bitumen, dan sisipan lignit serta sisa damar yang terendapkan menjemari dengan Anggota Batugamping Formasi Bojong Manik (Tmbl) yang tersusun oleh batugamping mengandung molusca.

Lokasi ini jauh dari pengaruh struktur geologi. Struktur geologi terdekat yang berkembang adalah sesar geser diperkirakan yang berjarak sekitar 2 km ke arah barat. Struktur geologi lainnya adalah perlipatan berupa sinklin dan antiklin yang berkembang di sebelah timur dengan jarak sekitar 4,5 km (Gambar 3).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan penyusun adalah tanah pelapukan dari breksi berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat hingga coklat kemerahan dengan ketebalan antara 1 sampai lebih dari 3 meter.

  • Keairan

Di sekitar lokasi tidak terdapat alur sungai sedangkan sungai terdekat adalah Sungai Ci Durian yang berjarak sekitar 1,7 km di sebelah barat dan Sungai Ci Kaniki di sebelah timur dengan jarak 1,3 km. Kedalaman muka air tanah antara 12 – 13 meter (keterangan penduduk setempat).

  • Tata guna lahan

Lahan untuk relokasi ini merupakan kebun sawit milik PTPN VIII Perkebunan Cikasungka.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), secara regional lahan untuk relokasi terletak pada zona gerakan tanah menengah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali (Gambar 4). Meskipun secara regional lahan utuk relokasi berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah, hasil pengecekan lapangan lokasi ini berada pada daerah pedataran dan landaian dengan potensi ancaman gerakan tanah rendah.

3. Kondisi gerakan tanah

Pada saat pemeriksaan tidak dijumpai gerakan tanah maupun gawir longsoran dan menurut informasi penduduk tidak pernah terjadi gerakan tanah di sekitar lahan relokasi ini (Gambar 5).

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan pengamatan lapangan, kondisi geologi, morfologi, dan kerentanan gerakan tanah, disimpulkan sebagai berikut:

  1. Lahan untuk relokasi di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di wilayah Desa Sukaraksa, Kec. Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas 3,8 hektar LAYAK untuk dijadikan permukiman (Gambar 5).
  2. Pada lokasi ini dapat dijadikan lahan permukiman dengan pengembangan menjauh dari tebing yang mengarah ke lembah dengan kemiringan terjal.

B. DESA SUKAMAJU, KECAMATAN CIGUDEG  

1. Lokasi calon lahan relokasi 

Lahan untuk relokasi terletak di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di Kampung Tamansari, wilayah Desa Sukamaju, Kec. Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 106° 31' 8,0004" BT dan 6° 33' 33,9984" LS, dengan luas lahan yang diusulkan mencapai 3,4 hektar.

2.   Kondisi daerah lahan relokasi

  • Morfologi

Morfologi lahan untuk relokasi merupakan pedataran dan perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng antara 3º - 5º pada bagian landaian. Terdapat lahan dengan kemiringan lereng mencapai 14º - 20º, dan sisi timur lahan di bagian timur laut kemiringan lereng lebih dari 20º. Lahan untuk relokasi ini berada pada ketinggian 290 – 320 meter di atas permukaan laut (Gambar 2).

  • Geologi

Seperti halnya lahan untuk relokasi di Desa Sukaraksa, berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi, drr., 1998), secara regional lahan untuk relokasi di Desa Sukamaju disusun oleh Batuan Gunungapi Tak Terpisahkan (Qvu) dengan penyusun terdiri dari breksi dan aliran lava di bagian atas. Di bawah batuan ini secara tidak selaras terendapkan Tuff dan Breksi (Tmtb) dengan batuan penyusun tuf batuapung, breksi tufan bersusunan andesit, batupasir tuf, lempung tufan dengan kayu terkersikan dan sisa tumbuhan, serta batupasir berlapis silang. Batuan lebih tua lagi berasal dari Formasi Bojongmanik (Tmb) yang tersusun oleh batupasir, tuf batuapung, napal dengan moluska, batugamping, batulempung dengan lempung bitumen, dan sisipan lignit serta sisa damar yang terendapkan menjemari dengan Anggota Batugamping Formasi Bojong Manik (Tmbl) yang tersusun batugamping mengandung molusca.

Lokasi ini jauh dari pengaruh struktur geologi. Struktur geologi terdekat yang berkembang adalah sesar geser diperkirakan yang berjarak sekitar 1 km di selatan. Struktur geologi lainnya adalah perlipatan berupa sinklin dan antiklin yang berkembang di sebelah timur dengan jarak sekitar 4,5 km (Gambar 3).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan penyusun adalah tanah pelapukan dari breksi berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat hingga coklat kemerahan dengan ketebalan antara 1 sampai lebih dari 4 meter dan di bagian bawahnya terdapat endapan lahar.

  • Keairan

Di sekitar lokasi terdapat alur sungai kecil (sungai Ci Kekes) yang mengalir relatif utara selatan di bagian tengah lahan untuk relokasi dan sungai Ci Teureup (sungai Ci Sigung; menurut penduduk setempat) di timur laut. Sungai besar terdekat adalah Sungai Ci Durian yang berjarak sekitar 0,5 km di sebelah barat. Terdapat sumber mata air berupa sumur-sumur dangkal dengan kedalaman muka air tanah antara 1 – 1,5 meter.

  • Tata guna lahan

Lahan untuk relokasi ini merupakan kebun sawit milik PTPN VIII Perkebunan Cikasungka yang berbatasan dengan permukiman Kampung Tamansari di sebelah timur.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional lahan untuk relokasi ini terletak pada zona gerakan tanah menengah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali (Gambar 4).

3. Kondisi gerakan tanah

Pada saat pemeriksaan dijumpai beberapa titik gerakan tanah dan gawir gerakan tanah baru pada lereng sebelah barat yang berjarak antara 10 – 20 meter dari batas lahan relokasi yang diusulkan (Gambar 6).

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan pengamatan lapangan, kondisi geologi, morfologi, dan kerentanan gerakan tanah disimpulkan sebagai berikut:

a.  Lahan untuk relokasi di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di wilayah Desa Sukamaju, Kec. Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sebagian LAYAK untuk dijadikan lahan relokasi dengan beberapa persyaratan.

b.  Lahan yang dapat dipergunakan adalah pedataran dan landaian di bagian tengah dengan pengembangan menjauh dari tebing yang mengarah ke lembah dengan kemiringan terjal di sisi barat.

  1. Lahan di bagian timur laut berupa perbukitan dengan kemiringan lebih dari 20º TIDAK LAYAK untuk dijadikan hunian.

d.  Dibuatkan buffer sebagai jarak aman terhadap lereng di sebelah barat yang terjal dan perkuatan lereng pada lahan yang berbatasan dengan gawir longsoran (Gambar 6). 

e.  Berdasarkan usulan, lahan yang diajukan terdiri dari dari dua bidang. Bidang pertama di sebelah barat hingga barat laut Kampung Tamansari memiliki luas sekitar 3,4 hektar dengan lahan yang LAYAK untuk permukiman seluas 2,59 hektar. Lahan kedua yang terletak di sebelah timur laut kampung Tamansari luasnya sekitar 2,2 hektar dan yang LAYAK untuk permukiman seluas 0,95 hektar.   Secara keseluruhan luas area lahan yang layak untuk dijadikan permukiman adalah sekitar 3,55 hektar (Gambar 6).

C. DESA URUG, KECAMATAN SUKAJAYA

 1. Lokasi calon lahan relokasi

 

Lahan untuk relokasi terletak di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di Kampung Urug, wilayah Desa Urug, Kec. Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 106° 29' 59,834" BT dan 6° 37' 7,7664" LS, dengan luas lahan yang diusulkan mencapai 6,8 hektar.

2.   Kondisi daerah lahan relokasi

  • Morfologi

Morfologi lahan untuk relokasi ini merupakan pedataran dan perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng antara 0º - 3º pada pedataran, 3º - 5º pada bagian landaian, dan terdapat lereng dengan kemiringan sangat terjal (> 30º) pada lahan yang berbatasan dengan alur sungai kecil di sebelah barat. Terdapat juga lahan dengan kemiringan lereng 14º - >20º di utara dan timur laut lahan untuk relokasi dan berbatasan dengan lereng curam serta gawir longsoran baru di bagian utaranya. Lahan ini berada pada ketinggian 570 - 600 meter di atas permukaan laut (Gambar 2).

  • Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa (Sujatmiko dan Santosa, 1992), secara regional lahan untuk relokasi di Desa Urug ini disusun oleh Batuan Gunungapi Quarter (Qv) dengan penyusun terdiri dari breksi gunungapi, lava, tuf, dan aglomerat di bagian atas. Di bawah batuan ini terendapkan breksi gunungapi, lava, dan tuf dari Batuan Gunungapi Endut (Qpv). Di bawahnya terdapat batuan lebih tua lagi yang berasal dari Formasi Tufa Cikasungka (Tmkt) yang tersusun oleh tuf, breksi tufan, batupasir tufan, batulempung tufan, dan kayu terkersikan atau sisa tumbuhan.

Lokasi ini jauh dari pengaruh struktur geologi. Struktur geologi terdekat yang berkembang adalah sesar geser diperkirakan yang berjarak sekitar 3,5 km di timur laut (Gambar 3).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan penyusun adalah tanah pelapukan dari breksi berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat terang hingga coklat kemerahan dengan ketebalan antara 1 sampai lebih dari 4 meter. Tersingkap breksi pada lereng yang berbatasan dengan aliran sungai pembuangan dari danau retensi.

  • Keairan

Di sekitar lokasi terdapat alur sungai kecil pembuangan dari danau retensi yang mengalir relatif barat daya – timur laut di sisi barat laut lahan untuk relokasi dan bermuara di sungai Ci Apus. Terdapat beberapa titik mata air pada tekuk lereng yang berbatasan dengan lembah sungai kecil.

  • Tata guna lahan

Calon lahan relokasi ini merupakan lahan kebun sawit milik PTPN VIII Perkebunan Cikasungka.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah lahan untuk relokasi terletak pada zona gerakan tanah menengah hingga tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali (Gambar 4). Meskipun secara regional lokasi ini berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi, berdasarkan pengamatan lapangan, terdapat lahan yang relatif datar hingga landai dengan potensi ancaman gerakan tanah rendah.

3. Kondisi gerakan tanah

Pada saat pemeriksaan dijumpai beberapa titik gerakan tanah dan gawir gerakan tanah baru terutama pada lereng sebelah utara hingga timur laut lahan untuk relokasi yang diusulkan (Gambar 7).

4. Kesimpulan dan Rekomendasi  

Berdasarkan pengamatan lapangan, kondisi geologi, morfologi, dan kerentanan gerakan tanah disimpulkan sebagai berikut:

a.  Lahan untuk relokasi di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di wilayah Desa Urug, Kec. Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat secara umum LAYAK untuk dijadikan lahan relokasi dengan pengurangan luas pada beberapa area lahan yang diusulkan.

b.  Lahan di sebelah utara jalan yang dapat dipergunakan untuk permukiman adalah bagian pedataran dan landaian di bagian tengah dengan pengembangan menjauh dari tebing yang mengarah ke lembah sungai kecil dengan kemiringan terjal di sisi barat hingga barat laut lahan.

Lahan di bagian utara hingga timur laut TIDAK LAYAK untuk permukiman karena lerengya yang terjal dan keberadaan gerakan tanah/longsoran di sisi timur laut lahan yang diusulkan (Gambar 7).

d.  Dibuatkan buffer sebagai jarak aman terhadap lereng di sebelah barat hingga barat laut yang terjal (Gambar 7). 

e.  Lahan di sebelah selatan jalan LAYAK untuk dijadikan hunian dengan pengembangan menjauh dari lereng dan landaian yang berhadapan langsung dengan danau retensi di sebelah barat (Gambar 7).

Luas lahan yang diajukan terdiri dari dari dua bidang yang dipisahkan oleh jalan raya. Bidang pertama di sebelah utara hingga timur laut jalan memiliki luas sekitar 8,27 hektar dengan lahan yang LAYAK untuk permukiman seluas 5,8 hektar. Lahan kedua yang terletak di sebelah barat daya luasnya sekitar 1,56 hektar dan luas lahan yang LAYAK untuk permukiman sekitar 1,27 hektar.   Secara keseluruhan luas area lahan yang layak untuk dijadikan permukiman adalah sekitar 7,05 hektar (Gambar 7).

D. DESA KIARAPANDAK, KECAMATAN SUKAJAYA

1. Lokasi calon lahan relokasi 

Calon lahan relokasi pertama terletak di perkebunan sawit Cikasungka milik PTPN VIII yang berada di wilayah Desa Kiarapandak, Kec. Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 106° 29' 44,19996"BT dan 6° 37' 10,552836" LS, dengan luas lahan yang diusulkan mencapai 4 hektar.

Lahan kedua berada pada lahan Perkebunan Cikasungka milik PTPN VIII yang dimanfaatkan sebagai kebun palawija yang berada di wilayah Desa Kiarapandak, Kec. Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 106° 29' 37,87044" BT dan 6° 36' 53,373708" LS, dengan luas lahan yang diusulkan mencapai 4 hektar.

2.   Kondisi daerah lahan relokasi

  • Morfologi

Lahan untuk relokasi ini bentuknya memanjang dengan arah barat daya – timur laut dan berbatasan dengan lereng yang agak curam hingga curam di sisi barat laut dan tenggara. Morfologi calon lahan relokasi pertama merupakan perbukitan bergelombang dengan kemiringan antara 3º - 5º pada daerah landaian. Dijumpai lahan dengan kemiringan lebih dari 30º. Lahan berupa pedataran dengan kemiringan lereng < 3º menempati area yang tidak terlalu luas. Lahan landai dan pedataran berbatasan dengan lereng yang curam serta lahan yang di bagian bawahnya mengalami longsoran. Lahan untuk relokasi ini berada pada ketinggian 610 - 630 meter di atas permukaan laut.

Lokasi ke dua, merupakan pedataran dan bukit soliter pada punggungan yang relatif memanjang dengan arah barat daya – timur laut dan berbatasan dengan lereng agak curam hingga sangat curam di sisi barat. Terdapat lereng yang hampir tegak di sebelah barat dan pada gawir longsoran baru di utara. Lahan untuk relokasi ini berada pada ketinggian 590 - 650 meter di atas permukaan laut (Gambar 2).

  • Geologi

Secara geologi, dua lokasi lahan untuk relokasi di Desa Kiarapandak memiliki kondisi geologi yang sama dengan lokasi di Desa Urug. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa (Sujatmiko dan Santosa, 1992), secara regional calon lahan relokasi ini disusun oleh Batuan Gunungapi Quarter (Qv) dengan penyusun terdiri dari breksi gunungapi, lava, tuf, dan aglomerat di bagian atas. Di bawah batuan ini terendapkan breksi gunungapi, lava, dan tuf dari Batuan Gunungapi Endut (Qpv). Di bawahnya terdapat batuan lebih tua lagi yang berasal dari Formasi Tufa Cikasungka (Tmkt) yang tersusun oleh tuf, breksi tufan, batupasir tufan, batulempung tufan, dan kayu terkersikan atau sisa tumbuhan.

Lokasi ini jauh dari pengaruh struktur geologi. Struktur geologi terdekat yang berkembang adalah sesar geser diperkirakan yang berjarak sekitar 3,5 km di timur laut (Gambar 3).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan penyusun berupa tanah pelapukan dari breksi berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat terang hingga coklat kemerahan dengan ketebalan antara 1 sampai lebih dari 4 meter. Lokasi ke dua berada pada lahan yang tersusun oleh batuan dari Formasi Tuf Cikasungka dengan tanah pelapukan berupa lempung hingga lempung pasiran berwarna coklat terang hingga abu-abu terang kekuningan.

  • Keairan

Di sekitar lokasi tidak dijumpai alur atau aliran sungai. Sumber air terdekat berada pada lahan yang berbatasan dengan areal persawahan dan lembah.

  • Tata guna lahan

Lahan untuk relokasi pertama merupakan lahan kebun sawit milik PTPN VIII Perkebunan Cikasungka sedangkan lahan kedua merupakan kebun palawija.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional lahan relokasi ini terletak pada zona gerakan tanah menengah hingga tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali (Gambar 4).

3. Kondisi gerakan tanah

Pada saat pemeriksaan dijumpai beberapa titik gerakan tanah dan gawir gerakan tanah baru terutama pada lereng sebelah barat dan tenggara di lokasi pertama serta sisi barat dan utara di lokasi ke dua (Gambar 8 dan 9). Longsoran juga terlihat di selatan luar area lahan untuk relokasi ke dua yang dibatasi oleh jalan.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi  

Berdasarkan pengamatan lapangan, kondisi geologi, morfologi, dan kerentanan gerakan tanah disimpulkan sebagai berikut:

a.  Mengingat dimensi dua lokasi lahan yang diusulkan untuk relokasi yang memanjang dengan lebar yang terbatas dan dibatasi oleh gawir atau lereng pada kedua sisinya serta keterdapatan longsoran-longsoran yang masih baru, secara umum ke dua lokasi ini TIDAK LAYAK untuk dijadikan lahan relokasi (Gambar 8 dan 9).

b.  Mengingat kebutuhan lahan untuk hunian tetap bagi korban bencana longsor dan banjir bandang, agar ditentukan kembali lahan baru dengan memperhatikan hal-hal di bawah ini:

  1. Kelerengan yang tidak terlalu miring serta dimensi lahan yang masih memungkinkan dimanfaatkan jika diperlukan buffer pada sisi-sisi lahan yang diusulkan (tidak terlalu sempit dan memanjang).
  2. Lokasi yang dipilih hendaknya menjauh dari titik-titik longsoran yang telah terjadi.
  3. Lokasi yang dipilih hendaknya menjauh dari alur sungai atau lembah yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya aliran bahan rombakan jika terjadi longsor di bagian hulu atau perbukitan. 

E. DESA HARKAT JAYA, KECAMATAN SUKAJAYA

1. Lokasi calon lahan relokasi 

Calon lahan relokasi merupakan lahan milik masyarakat yang berada di wilayah Desa Harkatjaya, Kec. Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara geografis lokasi ini berada pada koordinat 106° 31' 12,5544" BT dan 6° 35' 46,4496" LS, dengan luas lahan yang diusulkan mencapai 3 hektar.

2.   Kondisi daerah lahan relokasi

  • Morfologi

Morfologi lahan ini merupakan pedataran yang dibatasi oleh perbukitan dengan kemiringan agak curam sampai curam dengan ketinggian kurang dari 5 meter pada batas antara dua bidang pedataran di bagian atas dan bawah. Lahan untuk relokasi ini berada pada ketinggian 320 - 350 meter di atas permukaan laut. (Gambar 2).

  • Geologi

Seperti halnya lokasi di Kecamatan Cigudeg, berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi, drr., 1998), secara regional calon lahan relokasi berada pada daerah yang disusun oleh Batuan Gunungapi Tak Terpisahkan (Qvu) dengan penyusun terdiri dari breksi dan aliran lava di bagian atas. Di bawah batuan ini secara tidak selaras terendapkan Tuff dan Breksi (Tmtb) dengan batuan penyusun tuf batuapung, breksi tufan bersusunan andesit, batupasir tuf, lempung tufan dengan kayu terkersikan dan sisa tumbuhan, serta batupasir berlapis silang. Batuan lebih tua lagi berasal dari Formasi Bojongmanik (Tmb) yang tersusun oleh batupasir, tuf batuapung, napal dengan moluska, batugamping, batulempung dengan lempung bitumen, dan sisipan lignit serta sisa damar yang terendapkan menjemari dengan Anggota Batugamping Formasi Bojong Manik (Tmbl) dengan batuan penyusun batugamping mengandung molusca.

Lokasi ini berada di sebelah barat struktur geologi berupa sesar geser yang diperkirakan. Struktur geologi lainnya adalah perlipatan berupa sinklin dan antiklin yang berkembang di sebelah timur dengan jarak sekitar 6-7 km (Gambar 3).

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, batuan penyusun adalah tanah pelapukan dari breksi berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat hingga coklat kemerahan dengan ketebalan antara 1 sampai lebih dari 3 meter. Batuan dari Formasi Bojongmanik tersingkap pada dasar dan dinding sungai Ci Durian di sebelah timur yang berada di luar lahan yang disusulkan untuk relokasi.

  • Keairan

Lokasi ini terletak dekat dengan sungai Ci Durian yang berair sepanjang tahun dengan muka air tanah yang dangkal.

  • Tata guna lahan

Lahan untuk relokasi merupakan lahan kebun dan tegalan. Permukiman terdekat berkembang di sebelah barat dan timur laut.

  • Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah calon lahan relokasi terletak pada zona gerakan tanah menengah hingga tinggi. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali (Gambar 4).

3. Kondisi gerakan tanah

Pada saat pemeriksaan tidak dijumpai gerakan tanah dan gawir gerakan tanah di sekitar lokasi lahan untuk relokasi. Gerakan tanah dijumpai pada gawir-gawir sungai yang berseberangan di luar lahan yang diusulkan dengan jarak yang cukup jauh dan dibatasi oleh sungai yang lebar (Gambar 10).

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan pengamatan lapangan, kondisi geologi, morfologi, kerentanan gerakan tanah, dan sejarah kejadian gerakan tanah, secara umum LAYAK untuk dijadikan lahan relokasi dengan pengurangan luas pada beberapa area lahan yang diusulkan.

a.  Lahan yang dapat dipergunakan adalah bagian pedataran dan landaian yang mengarah ke permukiman dan jalan serta pedataran di bagian bawah (Gambar 10).

b.  Dibuatkan buffer dengan disertai rekayasa teknis pada lereng yang membagi dua pedataran di   bagian atas dan bawah (bagian tengah lahan) dengan pelandaian dan perkuatan lereng (Gambar 10).

  1. Pengembangan permukiman menjauh dari lereng di bagian tengah lahan yang membatasi pedataran bagian atas dan bagian bawah (Gambar 10).

d.  Pengembangan permukiman menjauh dari lereng yang mendekat ke arah sungai dengan memberi jarak aman untuk sempadan dan jalur hijau pembatas permukiman.

e.  Secara keseluruhan luas area yang diusulkan untuk dijadikan lahan relokasi adalah 3,65 hektar. Mengingat terdapatnya lerengan pada bagian tengah dan batas aman aman ke arah lembah yang berbatasan dengan sungai Ci Durian, maka luas lahan yang layak untuk dijadikan permukiman adalah 3,39 hektar (Gambar 10).

Rekomendasi Umum Untuk Lahan Relokasi

Untuk menghindari terjadinya gerakan tanah dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  1. Lahan yang akan dijadikan pemukiman agar terletak pada pedataran yang kemiringannya <10°.
  2. Jika dilakukan pemotongan atau pengupasan lereng agar memperhatikan kaidah-kaidah kestabilan lereng. Lereng yang terbentuk akibat pengupasan/pengurugan agar diperkuat dengan dinding penahan (retaining wall) yang kokoh dan memenuhi syarat teknis kestabilan lereng. Dinding penahan disarankan menembus batuan dasar/keras dan dilengkapi dengan parit atau selokan kedap air untuk aliran air permukaan.
  3. c. Untuk mengetahui nilai faktor keamanan dalam desain lereng, perlu dilakukan pemodelan atau analisis kestabilan lereng berdasarkan sifat keteknikan tanah hasil pengujian sampel tanah di laboratorium mekanika tanah.
  4. Lahan dan undakan (tanah terbuka) akibat pengupasan/pengurugan perlu ditanami dengan rerumputan/pepohonan agar terhindar dari cuaca (panas matahari dan hujan)  agar tidak mudah lapuk dan tidak memicu longsor dan tidak mengganggu vegetasi yang sudah ada pada lahan yang tidak digunakan untuk permukiman.
  5. Tipe bangunan yang baik adalah dengan bahan konstruksi ringan untuk mengurangi pembebanan pada tanah. Pondasi agar mencapai batuan dasar/keras, jangan sampai menumpang pada lapisan lempung untuk menghindari rusaknya bangunan jika terjadi longsoran tipe lambat.
  6. Penataan drainase (sistem aliran air permukaan dan buangan air limbah rumah tangga) harus dikendalikan dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan. Pembuangan sebaiknya dilakukan dengan system Pembuangan Limbah Komunal atau diarahkan langsung ke sungai (jika memungkinkan), untuk menghindari peresapan air ke tanah yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  7. Harus dipertimbangkan jarak antara rumah beserta sarana penunjangnya, jangan terlalu dekat dan terlalu padat.
  8. Harus diperhatikan juga kesesuaian jumlah unit bangunan yang akan dibangun dengan luas lahan yang tersedia, hal ini untuk mengurangi pembebanan lereng dan pengembangan permukiman yang mendekat ke arah lereng.
  9. Pembangunan lahan relokasi ini agar menyesuaikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Bogor.

 

cigudeg

 

cigudeg 2

 

cigudeg 3

 

cigudeg 4

 

cigudeg 5

 

cigudeg 6

 

cigudeg 7

 

cigudeg 8

 

cigudeg 9

 

cigudeg 10

 

cigudeg 11